
Akhirnya kami sudah tiba di medan dan bapak nya Andri ikut juga bersama kami. saat ini akan tinggal di mes karyawan.
Sebelum Rifan kembali ke kos Nya, terlebih dahulu Rifan menyiapkan segala keperluan Bapak nya Andri.
Cukup melelahkan dan akhirnya ku putuskan untuk istirahat, disela-sela rebahan ada satu hal yang mengganjal yaitu tentang perkataan Andri saat dikampung.
Andri berkata tidak akan melepaskan Ku begitu saja, sungguh aku masih bingung dengan maksud dari perkataan Nya.
Kemungkinan Andri akan menggugat hak Asuh anak dan harta gono-gini, tapi optimis saja. tapi aku harus mempertahankan Elazer, apapun caranya Elazer harus bersama Ku.
Tidak bisa Ku bayangkan, jika Elazer bersama bapak Nya.
Andri adalah pria manja yang tidak bisa membuat keputusan untuk dirinya sendiri, Aku tidak mau Elazer seperti Bapaknya. Elazer harus jauh lebih baik dari Bapaknya.
Semuanya bawa dalam saja, mudah-mudahan tidak ada masalah lagi.**
Pagi-pagi sekali kami semua bangun, dan kembali beraktivitas sebagaimana biasanya. setelah selesai persiapan langsung menuju tempat kerja.
Sebelum ada pelanggan saat nya upgrade model dan mencoba untuk berimajinasi, yah akhirnya ada beberapa model design yang baru.
"selamat pagi kakak cantik." ucap Saor yang masuk nyolong aja.
"selamat pagi juga Saor cantik, bahagia benar. kenapa? apa cerita?"
"kak kita kedatangan tamu istimewa, bentar ya.
kak Uli.... kak Maria..... mari masuk."
Uli dan Maria masuk ke ruangan Ku dan seketika itu juga, Saor langsung meninggalkan kami di ruangan ini.
"Eda Uli, Eda Maria silahkan duduk."
Akhirnya mereka berdua duduk, sementara aku terbengong melihat kedatangan mereka berdua.
Masih pertanyaan, dari mana mereka kalau aku tinggal disini.
(Eda adalah panggilan kepada saudara perempuan dari pihak suami, tanpa memandang usia.
panggilan Eda juga dipakai di kalangan wanita batak).
Sungguh aku tertegun melihat kedatangan mereka berdua yang masing-masing membawa anak kecil.
Anak laki-laki yang bersama Uli masih bayi, mungkin baru 5 bulan. sementara Maria bersama 1 anak perempuan sekitar berumur 3 tahun dan satu anak laki-laki yang berumur satu tahun.
"Eda Tiur apa kabar?" sapa Uli yang menyapa seraya tersenyum.
__ADS_1
"sehat Eda, ngomong-ngomong amangboru juga ada disini. kalau mau ketemu biar aku panggil?"
"loh... bapak kenapa kemari? trus kenapa panggil amangboru?"
(Maria dan Uli belum tahu kalau aku dan Adiknya Andri sudah cerai, itu sebabnya Maria heran karena Bapaknya aku panggil amangboru.
Dalam tradisi Batak, amangboru adalah panggilan ipar laki-laki dari pihak bapak atau suami saudara perempuan dari bapak.
Tradisi batak, jika saya masih Istrinya Andri. maka Bapak Nya saya panggil Amang Simatua (bapak mertua) dan jika sudah bercerai maka akan aku panggil dengan sebutan Amang Boru).
"panjang ceritanya Eda, ngomong-ngomong punya waktu luang?"
"iya Eda, dan kami berdua bersedia mendengarkan cerita yang panjang itu." jawab Uli seraya tersenyum.
"iya sudah, kita ke rumah aja."
Akhirnya kami berangkat ke rumah melalui pintu belakang, serta tidak lupa berpesan kepada Saor agar memanggil Bapaknya Andri ke rumah.
Mamak yang masih di rumah menyambut Uli dan Maria dengan pelukan.
"Sebentar ya biar aku buatkan kopi khas kampung kita."
Maria dan Uli hanya mengangguk dan aku langsung berlalu ke dapur, setelah membuat kopi empat gelas dan langsung menuju ruang tamu dimana Maria dan Uli menunggu Ku disana.
"Eda Tiur, apa yang terjadi? dan kenapa bisa tinggal disini?" tanya Uli yang terlihat penasaran.
"seperti ucapan dari Eda, ' selamat menderita ' dan itu benar-benar nyata."
"Boru ku (Putriku)....
Ujar amangboru yaitu bapak mereka berdua, yang datang bersama Bapak dan juga Tulang pak Saor serta Nantulang.
Amangboru langsung sujud di hadapan kedua Putrinya dengan tangisannya yang pecah, sungguh menyayat hati. seorang bapak bersujud di kaki putrinya.
"bapak..... "
Maria dan Uli langsung terduduk dilantai ketiak amangboru bersujud di kaki mereka berdua.
"bangun ya pak, bapak tidak pantas bersujud di kaki kami.
Kami berdua yang seharusnya bersujud ke bapak."
Ucap Maria yang perlahan menuntun Bapaknya untuk berdiri, Maria dan Uli bergantian memeluk bapak Nya itu.
"Ya Tuhan, kenapa bapak semakin kurus? apa karena bapak sakit?" Uli bertanya dengan nada suaranya yang bergetar karena menangis.
__ADS_1
"Bapak sehat kok Boru, bapak kangen kepada semua boru bapak."
Jawab bapaknya, dan itu benar-benar membuat suasana begitu haru.
"kenapa bapak bisa kemari? Andri kemana? Mamak gimana pak?"
Uli seperti tidak sabar ingin mendengarkan penjelasan dari Bapaknya, dia terus bertanya tanpa hentinya.
"Mamak kalian sakit dan sekarang masih dikampung bersama Andri, bapak di usir oleh Andri."
"loh.... kan sudah ku belikan rumah buat bapak? kok beraninya si andri mengusir bapak?"
"Maria, rumah Mu itu sudah di jual Mamak Mu. untuk membayar denda adat dan juga biaya hidupnya Andri."
"terus bapak diam aja?"
Pertanyaan dari Maria membuat suasana menjadi hening, bapak mereka berdua tidak mampu menatap mata putrinya.
"kak... kakak tahu kan sejak dulu bapak tidak pernah bisa melawan Mamak dan Andri, dan itulah jawaban dari pertanyaan kakak." jawab Uli yang mencoba untuk tenang.
"iya dek, kakak baru sadar. bapak... apa yang terjadi dengan Mamak?"
"entahlah, bapak juga ngak paham. setelah Eda mu Mak Elazer melawan Mamak kalian, bapak mulai sadar dan tidak lagi selalu membela Mamak mu dan Andri."
"Mak Elazer, siapa itu pak?" tanya Maria yang masih penasaran.
Nantulang mak Saor langsung berlalu untuk menemui Nindy yang menjaga Elazer, dan hanya beberapa saat nantulang mak Saor sudah tiba di hadapan kami dengan menggendong Elazer di kala kami semua terdiam.
"ini Elazer, bapak kalian berdua." ucap nantulang Mak Saor yang menimang Elazer.
"Ya Tuhanku, persis sekali seperti Andri waktu kecil ya pak." ucap Maria sembari menimang Elazer.
"iya boru, tapi Elazer ini sudah di sangkal Bapaknya?"
"maksudnya gimana pak?"
"si Andri tidak mengakui Elazer sebagai anaknya, Andri menuduh Eda mu hamil duluan."
"itu sebabnya Eda dan Andri Cerai?" Maria bertanya karena masih penasaran.
"bukan hanya itu boru, kalian semua aja pergi meninggalkan bapak dan mamak.
Kalian tahu sendiri sikap mamak dan Andri, bagaimana dengan Mak Elazer?
Andri tidak akan pernah berubah boru, iboto mu (panggilan saudara perempuan kepada saudara laki-lakinya, demikian juga dengan sebaliknya).* dialog Batak Toba. itu selalu menyudutkan Mak Elazer bersama mamak nya. persis seperti perlakuan mereka berdua kepada bapak."
__ADS_1
Jelas bapak nya, Maria dan Uli terdiam seketika seraya menghapus air matanya.
Entahlah yang ada dalam benak mereka berdua, tatapan Uli kepada Ku yang penuh arti dan tidak bisa ku pahami.