
Kini kami sudah di Medan dan mulai aktivitas yang baru, dan Minggu depan adalah pernikahan Rada dengan Binsar.
"gimana sayang, sudah tenang setelah melihat perubahan dari Andri."
Ujar bang Bastian disaat kami rebahan di ranjang ini.
"iya bang, setidaknya kelak nanti Elazer tidak melihat Bapaknya seperti dulu."
"iya benar sayang, dan itu tidak akan menjadi beban pikiran bagi anak kita Elazer nantinya."
Bang Bastian hanya mencium kening ku malam ini, itu karena kami kelelahan setelah pulang dari kampung.
Berada di pelukan bang Bastian dan akhirnya aku tertidur dengan lelap.**
Tanpa terasa waktu berjalan terus, dan usaha kian hari semakin ramai, renovasi yang membuat tempat usaha terlihat mewah tapi merakyat.
Tibalah hari pernikahan Rada dan Binsar dan semua itu berjalan dengan lancar, disela-sela acara adat terlihat Gabe begitu mesra dengan Roy yang merupakan pegawai tokonya.
Seperti ada cinta diantara mereka berdua, tapi itu adalah urusan cinta Gabe.
Berselang dua hari dari pernikahan Rada dan Binsar, kedua orang Roy dan keluarga besarnya mendatangi kediaman amangboru di mes karyawan.
Karena itu terlalu sempit akhirnya di pindahkan ke rumah bapak dan mamak dan ternyata mereka melamar Gabe untuk menjadi istri Roy.
Benar dugaan Ku, ternyata ada cinta diantara mereka berdua.
Selesai makan malam dan tiba saatnya membicarakan akan niat dan kedatangan keluarga besar Roy.
"terimakasih atas sambutan yang baik, adapun keinginan kami saat ini ialah untuk mempertanyakan hubungan Roy dengan Gabe."
Ujar bapak Roy dan sangat mirip sekali dengan Roy.
"bapak sudah melihat kedekatan kalian berdua, dan Roy adalah pria yang baik. kalau bapak setuju tapi semua tergantung terhadap Gabe saja."
"Gabe dan bang Roy saling mencintai dan menyayangi Pak, dan kami berdua sudah sepakat untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan."
"benar tulang, Roy sudah sangat yakin akan pilihan ku ini dan dengan percaya diri telah bercerita kepada kedua orang tua ku dan mengundang mereka datang ke sini untuk melamar Gabe menjadi istiku.
Roy sadar benar kalau Gabe lebih dari segalanya di atas ku, tapi kami berdua akhirnya saling meyakinkan satu sama lainnya.
__ADS_1
Selama ini roy telah menabung dan sudah membeli rumah sederhana untuk keluarga kami kelak nanti nya.
Tapi Roy tidak bisa memberikan Sinamot (mahar) yang besar untuk Gabe."
"menurut mamak ya mang, tidak perlu lah Sinamot yang besar. lebih baik Sinamot itu untuk membesarkan usaha kalian Nantinya."
"benar kata mamak dek, kan Roy bagian sawah dan kebun di kampung serta rumah yang di tempati mamak sekarang.
Berhubung kamu anak paling kecil dan tentunya rumah itu menjadi milik mu kelak nanti nya.
Bagaimana kalau sawah, kebun dan rumah itu Abang beli dan jadikan itu sebagai modal kalian berdua di sini.
Setidaknya ada dari kita yang berjaya di medan, Abang tetap di kampung dan tetap menjadi milik keluarga kita.
Abang punya rumah kok, dan tidak pernah sekalipun mengusir mamak dari rumah nya. harga jualnya akan di sesuaikan dengan harga tertinggi di kampung kita.
Inilah sekaligus dari Abang, selama kamu sudah membantu Abang dan saatnya Abang membantu mu, Abang sudah menyiapkan lebih dari setengah uangnya dan sisanya nanti dari bank, karena bank sudah mempercayai Abang untuk meminjam dalam jumlah yang besar dan itu berkat kamu Roy."
"mamak setuju, jika Abang mu nanti mengusir mamak dari kampung, iya mamak ke sini. mejadi pegawai Mu."
"tidak akan Mak, bila perlu kita buar perjanjian.
"betul ya, ingat janji mu bang."
"iya loh mak."
kami semua yang ada disini hanya bisa menahan tawa karena sifat dari mereka berdua, Abang dan mamak nya Roy yang lucu.
"begini Anggi ku, gadis yang di sukai Anakku.
Menantaku sudah ada dua, dan Hela ku ada satu.
Sinamot kedua parmean ku itu hanya bisa aku berikan sebesar 20 juta Rupiah, demikian yang bisa aku berikan saat ini.
Terlepas rencana Roy dan Abang nya itu di luar dari Sinamot yang sudah aku persiapkan, dan itu tentunya di luar kesepakatan antara Roy dan Abang."
"ngak masalah Bou, yang penting ada ongkos keluarga ku dan rombongan dari tempat ini serta membeli Ulos untuk kami berdua nantinya.
Jika memang benar seperti pembicaraan tadi, Gabe sangat setuju, biar Gabe dan bang Roy bisa mengembangkan usaha kami ini.
__ADS_1
Gabe juga tidak keberatan jika bou menjadi pegawai kami, karena bapak ku juga menjadi pegawai Gabe kok."
"cocok kali itu, eh Roy kok diam aja mang. kok malah nangis gimana sih?"
Roy terharu karena ucapan dari Gabe serta Abang Nya.
Gabe kemudian mendekati Roy dan tanpa merasa segan menghapus air matanya lalu berpelukan.
"uhmmm.... uhmmm....
belum jadi, ntar aja pelukannya. buat Baper aja."
Entah kenapa Saor dan Mamaknya Roy secara bersamaan memisahkan mereka berdua yang berpelukan dan itu membuat kami tertawa lepas sebab dari tadi menahan tawa akan sikap Mamaknya Roy yang kocak.
"Roy setuju dengan Abang, Roy dan Gabe akan memulai hidup baru di sini dan mamak bisa kapan pun tinggal bersama kami."
"jangan lah gitu Amang, Ternak mamak gimana? cabe, jahe dan padi mamak gimana? ntar mamak akan berkunjung sesekali ya."
lagi-lagi kami tertawa, ternyata bukan hanya mamak dan Bapak ku yang maniak kerja, demikian juga dengan kedua orang tua Roy.
Bapaknya Gabe terlihat menghapus air matanya karena Gabe dilamar oleh pria yang di cintai Nya.
"pak, Gabe sangat mencintai dan menyayangi bang Roy demikian dengan sebaliknya. kami berdua sama-sama saling mencintai dan kami belum melakukan hubungan terlarang sebelum waktunya.
Bang Roy selalu menjaga ku dan menjadi kepercayaan ku selama ini Pak, tolong Restui hubungan kami berdua."
Bapak Gabe kemudian meraih tangan dan tangan Roy dan mempersatukan dua tangan tersebut.
"bapak juga sudah melihat sendiri bagaimana Roy memperlakukan mu dengan sangat baik Boru, dan bapak yakin kalau Roy adalah suami yang tepat untuk Mu.
Bapak merestui hubungan kalian berdua dan semoga lancar sampai hari H dan terberkati pernikahan kalian."
Benar-benar suatu kebahagiaan, kami yang ada disini melangsungkan pernikahan di tahun ini dan inilah masa bahagia bagi kami.
Usah Semaki lancar dan kebahagiaan kami yang datang menghampiri kehidupan kami.
Rejeki, jodoh dan maut. kita tidak datang nya kapan saja.
Sebagai manusia kita hanya berdoa yang terbaik serta berusaha untuk melakukan yang terbaik dan sisanya adalah Kuasa dan Rahmat Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini.
__ADS_1