
Hari sudah sore dan kami berdua kembali ke Hotel, mandi dan kemudian turun ke bawah untuk makan malam.
Selesai makan malam, bang Bastian mengajakku ke kamar dan kini kami di balkon hotel ini minum teh hangat.
Kursi panjang ini dengan busa yang empuk dan beberapa bantal yang menjadi tempat duduk, bersandar di dada bang Bastian seraya menatap hamparan danau Toba dan sejauh mana mata ini bisa memandang Nya.
"sayang, inilah hidup yang Abang idam-idamkan. setelah melewati drama kehidupan yang hampir membuat Abang dalam ambang keputusasaan dan kemudian berakhir dengan kebahagiaan bersama mu sayang.
liku-liku perjalanan hidup Ku dan tekanan dari keluarga lainnya yang membuat Abang sempat terpuruk."
"maksud Abang gimana?"
aku mencoba untuk tidak bersandar lagi di dadanya, tapi bang Bastian menahannya dan akhirnya Aku masih tetap bersandar.
"Almarhum bapak Ku dua kali menikah, bapak bercerai dengan dari mamak karena mamak tidak sanggup menahan tekanan dari orang tua Bapak.
Setelah Abang lahir, rahim mamak diangkat karena komplikasi dan itu artinya mamak tidak bisa lagi melahirkan.
Oppung Boru terus-menerus menekan mamak karena mamak tidak bisa melahirkan anak, dan tidak ada pembelaan dari Bapak. sehingga mamak akhirnya menyerah dan meminta cerai dari Bapak.
Mamak membawa Abang dan tinggal di rumah peninggalan dari oppung, yaitu orang tua mamak.
Mama adalah anak satu-satunya dari oppung Boru dan seorang penjahit kebaya yang terkenal di masanya, mamak berjuang sendirian untuk membesarkan ku tanpa menikah lagi.
Mamak trauma dengan pernikahan, itulah membuat Abang sedikit menyerah ketika ingin mengejar mu lagi.
Trauma seorang perempuan itu sangat dalam, tapi setelah mendapatkan dukungan dari Rifan serta Fernando. semangat Abang untuk mengejar mu kembali bergairah lagi."
"apakah Rifan dan Fernando mendatangi Abang?"
"setelah Abang berkunjung ke rumah mu sayang, setelah pernikahan Lisa dan Pangeran dan kemudian kunjungan kedua dan ketiga.
Rifan bersama Fernando mengunjungi Abang di rumah.
Mereka berdua datang untuk memperjelas keinginan Abang.
Selama ini hanya kamu yang ada di dalam hati ini, beberapa gadis di perkenalkan oleh mamak tapi tidak satupun yang bisa memikat hati ini.
Di tambah lagi oppung Boru yaitu mamak nya bapak yang masih hidup, Abang takut Istriku kelak nanti nya akan di perlakukan seperti mamak.
Hatiku ini hanya untuk Mu ditambah lagi perlakuan buruk dari oppung Boru, Abang takut tidak bisa menjaga istriku kelak nanti.
setelah oppung Boru meninggal demikian juga dengan bapak, mamak mendatangi Ku.
__ADS_1
Mamak berkata, sekarang alasan mu sudah tiada, mau mamak kenalkan dengan anak gadis teman mamak?
Sudah di kenal kan tapi tetap saja, hati ini belum bisa menerimanya. begitu besarnya dan begitu dalam kamu masuk dalam hati ini.
Setelah mamak meninggal, Abang masih tetap dengan isi hati ini yaitu kamu sayang.
setelah melihat untuk pertama kalinya, hidup ini rasanya bahagia sekali. walaupun Abang tidak tahu akan status Mu.
Pertemuan pertama, kedua dan ketiga. dimana kamu menolak Abang dengan alasan yang sama dengan alasan mamak yaitu trauma pernikahan.
Nyali Abang ciut, dan setalah menceritakan kisah ku ke Rifan dan Fernando.
Mereka berdua mendukung Abang untuk mendapatkan cinta mu lagi.
Dan ketika adek memperkenalkan Abang ke inang Mak Simson sebagai calon suami kamu."
Muach.......
Bang Bastian berhenti bicara lalu mencium kening Ku.
"bahagia dan sulit untuk mengungkap nya sayang, ingin rasanya mencium mu saat itu. tapi itu tidak mungkin.
Abang tidak mau merusak susana pernikahan sahabatku dan itu juga pernikahan adik mu.
Entah bagaimana Abang mengekspresikan nya, dan sulit untuk memilih kata-kata yang tepat untuk menjelaskan nya."
"terus kenapa Abang bisa menerima Elazer?"
Untuk kedua kalinya bang Bastian mencium kening lagi, dan ciuman itu begitu hangat di keningku ini.
"klop aja rasanya, lucu dan menggemaskan. Abang hanya ingin memberikan kasih sayang dan cinta.
Abang tidak ingin seorang anak itu terlahir tanpa cinta dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.
Ketika menggendong Elazer, seketika jiwa-jiwa seorang bapak tumbuh mekar di hati ini. senyuman Elazer dan ocehan adalah penyemangat Abang.
Abang hanya butuh waktu 1 jam untuk menjahit stelan jas untuk Elazer dan itu tanpa mengukur Badannya, dan pas di pakainya.
Hanya menggunakan firasat, Abang hanya mencoba membayangkan ukuran badannya dan ternyata itu sangat pas.
Menurut Abang ini buka suatu kebetulan, tapi kami berdua sudah di takdir kan untuk bersama dan tentunya dengan kamu cintaku."
Bang Bastian bukan tipe pria pengumbar gombalan, karena ucapan nya ini. aku membalikkan badan.
__ADS_1
Kini wajah ku sudah menghadap ke arah dadanya dan ....
muach.....
kedua bibir kami saling bertemu, senyuman Suamiku ini mampu menghangatkan tubuh ini.
"sayang, Abang boleh bertanya?"
Wajahnya yang tampan kini terlihat begitu serius dan tatapan yang Sendu membuat ku tenang.
"bisa bang sayang."
Lagi ciuman itu mendarat di bibir ku dan kemudian ke keningku.
"apa yang adek pikirkan ketika memutus semua kontak dengan Abang?"
Sejenak aku membenamkan wajah ku ke dadanya, seperti yang dilakukan Elazer kepada Nya ketika di rumah sakit kala itu.
"jika menghubungi Abang, takutnya Abang akan membawa Tiur dari kampung. dan tentunya tidak akan aku tolak. karena Tiur sangat mencintaimu bang.
Tapi adik-adik Ku dan mamak bagiamana? aku tidak mau meninggalkan beban untuk mereka.
Aku tidak kuasa saat melihat wajah mamak, dan mengingat adik-adik Ku.
Mau tidak mau, Tiur harus berkorban, cintaku yang tertinggal dan hidup bersama pria yang tidak punya pendirian.
Sakit sungguh sakit, tiap tengah malam. aku selalu terbangun karena rasa sakit di dada ini, yang telah mengkhianati cinta ku sendiri.
Berdoa dengan melipat tangan dan tanpa bersuara, ku sampaikan kepada pemilik Sang Khalid ini dan menyatakan inilah takdir yang aku terima.
berharap ada sedikit cahaya kebahagiaan untukku kelak Nantinya, ternyata doa di tengah malam itu terwujud.
Setelah semua yang aku alami dan akhirnya ada kebahagiaan yang tersirat untuk Ku.
Bertemu dengan Abang adalah mukjizat bagiKu, dan inilah kebahagiaan saat ini bersama Abang.
Terlepas dari belenggu penderitaan serta hinaan, dibarengi dengan doa dan kerja keras, akhirnya aku bisa berada di pelukan mu bang.
Cintaku yang selama ini tertinggal kini aku berada dalam dekapan Mu."
Senyuman dari Suamiku benar-benar membuat ku bahagia, senyuman yang ikhlas dan membuat benar-benar nyaman dalam dekapan di dadanya yang bidang ini.
Aku benar-benar tidak menyangka akan bebas dari penderitaan ku selama ini, seperti terperangkap di dalam jurang kehidupan yang gelap tanpa seberkas cahaya.
__ADS_1