
"untuk pembayaran denda Adat tersebut saya berikan waktu selama tiga hari, jika dalam waktu tiga Hari tidak dilunasi maka keluarga Mak Iren akan dikeluarkan dari punguan Adat (Kumpulan atau perkumpulan) yang kemungkinan bisa di usir dari kampung karena membuat ke onaran. jika Mak Iren tidak segera membayar kan denda adat, segera laporkan kepada saya.
Demikian untuk pembahasan Tutur Muccung, sekarang saya panggil kan untuk maju ke depan Inang Mak Tiur dan Pak Tiur."
Ujar Pemangku yang meminta Mamak dan Bapak untuk maju ke depan seperti bapak dan ibu mertuaku.
"Inang Mak Tiur, ceritakan apa terjadi?"
"Begini Amang Raja Huta (Bapak Pemangku Adat), sesuai kesepakatan tadi malam. bahwa setelah bercerai dengan pak Tiur, maka rumah, sawah dan kebun akan dikembalikan kepada keluarga Ku. karena itu adalah pemberian keluargaKu.
Akan tetapi Mak Iren datang untuk memerintah kan Ku untuk menjual sawah, kebun dan Rumah. dan kemudian dibagi dua dengan pak Tiur.
A.... mang Raja Huta, ini Persis seperti dulu. kedua orang tua Ku memberiKu kalung perhiasan, dan Mertua memaksaku untuk menjualnya demi keperluan upa-upa (upacara keselamatan) si Andri.
Anak si Jabir itu lahir tapi aku menjual kalung Ku untuk biaya acara Upah-upah Nya. dan saat ini terulang, itu rumah, sawah dan kebun adalah pemberian keluarga Ku.
Sejenak jidat si mulut Jabir itu untuk menyuruh menjualnya dan di bagi dua, dulu juga Mamak mereka mengatakan untuk keperluan Tiur dan keluarga kami. tapi apa? ternyata untuk si Andri itu. anak si mulut Jabir itu.
Saya yakin hasil penjualan nya kelak akan diberikan kepada kakaknya itu, agar terlihat kaya dan hebat.
Amang Raja Huta, jika di tanya kepada Natua-tua marga (para penatua Marga) siapa yang memberikan rumah, sawah dan kebun. pastinya akan di jawab itu semua dari keluarga Ku."
"eh Mak Tiur, wajar dong saya meminta hak Adikku. itu kan sudah termasuk harta gono-gini." sanggah mertuaku yang tiba-tiba nyolot.
"huuuuu......... ' teriak para hadirin yang mengejek ibu mertuaku.'
"tenang bapak-ibu, mohon tenang..... Mak Tiur lanjutkan."
"Amang Raja Huta, semua surat-suratnya masih atas almarhum bapak ku. dan seharusnya itu adalah bagian Ito (panggilan kepada saudara laki-laki maupun sebaliknya) pak Saor, karena aku sudah menerima bagian berupa 5 gelang perhiasan emas dan 3 kalung emas.
Tapi ito pak Saor kemudian memberikan tanah tapak rumah dan biayain untuk membangun rumah, sawah serta kebun karena kami tidak punya apa-apa.
Perhiasan yang diberikan orang tua Ku, harus ku jual atas desakan pak Tiur karena desakan dari Mamaknya.
Amang Raja Huta, dulu bapak mertuaku sudah memberikan sawah bagian pak Tiur. tapi sekarang di kuasai oleh Mak Iren. yang sudah disita pihak Bank. dan sawah itu sangat luas.
__ADS_1
Serta Rumah yang ditempati oleh Mak Iren adalah bagian dari pak Tiur. yang sudah disepakati dan Amang Raja Huta sendiri, yang ikut Andil saat pembagiannya.
Jika memang keluarga pak Tiur mengatakan harta pemberian dari keluarga itu harta bersama dan harus di jual, kemudian di bagi dua.
Saya juga mintak rumah dan sawah yang luas itu di jual kemudian di bagi dua, saya ngak perduli jika itu sita oleh Bank."
"itu beda Mak Tiur, bagian yang diberikan keluarga suami tidak berhak di miliki oleh istri. tapi bagian istri ada hak suami." kata mertuaku dengan sangat lantang.
"hoeeee ..... manusia rakus......
"huuuuu..........
Para warga menyoraki ibu mertuaku, karena perkataan yang di luar logika manusia yang waras.
"Mak Iren..... Mak Iren.... itu hukum dari mana Mak Iren jabarkan.
Pak Tiur..... sekarang berikan tanggapan Mu."
Kata Pemangku Adat dengan nada suara tinggi saat meminta tanggapan dari Bapak.
"saya mau seperti yang disampaikan ito Mak Iren. bagian Mak Tiur di jual dan bagi dua, bagian dari orang Tua Ku Mak Tiur ngak punya hak."
Itu suara Rifan, Adikku yang sudah jadi Polisi yang gagah. dia sudah tiba di Aula besar. kedua mata Mamak, terlihat berbinar-binar saat melihat kedatangan Rifan.
"pak.... kenapa bapak selalu membela keluarga Bapak dan juga perempuan gila ini? kenapa harus mamak dan kak Tiur yang harus jadi korban? tidak sedikitpun bapak memperhatikan kami."
"Rifan.... kalau bukan karena bapak mu memberikan uang 20 juta agar kau masuk Akpol, kau sekarang bukan apa-apa?" Ucap ibu mertuaku yang lagi-lagi nyolot.
"biji mata kau 20 juta, bapak hanya memberi uang pegangan 5 juta. dan sisanya diberikan sama si Andri anak kau, untuk beli kreta (motor) dan uang 5 juta di tagih bapak ke kak Tiur.
Kau pak, Itok ini, dan mamak kau, semua nya tukang bohong, sok hebat dan sok kaya. kok ada manusia kek kau." ucapan Rifan begitu keras dan terlihat air matanya sudah mengalir.
"Rifan.... duduk disamping mamak mu oppung." ucap Pemangku Adat.
Mamak langsung memeluk Rifan, sangat terharu Rasanya. disaat-saat seperti ini, Rifan datang sebagai penolong kami.
__ADS_1
"Rifan.... kamu sudah dewasa, dan kamu adalah anak laki-laki yang paling besar dalam keluarga. saya sebagai Raja Huta, meminta Mu untuk memberikan solusi atas permasalahan ini."
"terimakasih Oppung Raja Huta, saya sudah mendengar dan mengetahui permasalahan dalam keluarga Ku. dan saya setujui, dan sebagai anak laki-laki yang paling besar dalam keluarga.
Saya meminta kepada Bapak, mulai detik ini jangan lagi tinggal di rumah pemberian Oppung dan Tulang Pak Saor.
Bapak punya rumah yang di tempati kakak mu yang Gilak itu, jika bapak masih meributkan harta dari keluarga Mamak. akan ku pecahan kepala kau dan juga Kepala kakak mu yang Gilak itu. dan akan ku bakar kalian hidup di rumah itu.
Saya pastikan dan pegang janjiku ini ya. satu hal bapak tahu, Saya Rifan anak laki-laki bapak yang paling Besar tidak akan pernah menuntut harta dari keluarga mu itu.
Tapi jangan kau coba-coba mengganggu Mamak ku lagi. ingat itu.....
"Kurang ajar kau sama bapak mu ya, kau ngak ada hak mengatur harta di keluarga Mamak Mu.
Krek... krek...
Suara pistol Rifan yang di todongan kan kepada Bapak, karena sanggahan nya.
"cukup Rifan, cukup.... sarung kan kembali senjata mu itu. jangan kotori nama baik mu karena bapak mu itu yang tidak berguna itu. Rifan..... duduk Amang....
Ucap bapak kepala Desa dengan tegas sambil berdiri. walaupun tegas tapi suara itu terdengar seperti bergetar. dan Rifan nurut akan perintah dari bapak kepala Desa.
"Amang Raja Huta, Natua-tua ni Huta, Kepala lingkungan dan juga para warga yang hadir disini.
Kita jelas tahu permasalahan yang terjadi saat ini, dan menurut saya pribadi. kedua kakak beradik ini yaitu, Mak Iren dan pak Tiur, yang sangat egois dan rakus. harta bawaan nya tidak mau disentuh tapi harta bawaan mantan istrinya di ungkit.
Secara akal sehat nan waras, Mak Iren dan pak Tiur jelas-jelas manusia yang tamak dan tidak tahu diri.
Dengan ini saya mengambil Sikap berdasarkan pernyataan dari Rifan, anak laki-laki yang paling besar di keluarga Pak Tiur dan Mak Tiur. harta bawaan dari Mak Tiur tetaplah harta Mak Tiur.
Pak Tiur dan Mak Iren, jangan pernah ganggu lagi harta bawaan Mak Iren. dan untuk pak Tiur, silahkan pergi dari rumah Mak Tiur. pak Tiur tidak punya hak lagi disana.
Pak Tiur.... saya sangat-sangat kecewa terhadap pak Tiur, semua harta bawaan dari keluarga mu, pak Tiur berikan kepada kakak mu, yang notabenenya sudah dibagikan oleh orang tua pak Tiur kepada semua anak-anaknya. saya bingung dan tidak tahu ngomong apa lagi. dan saya malu sebagai seorang bapak yang melihat Mu pak Tiur yang tidak membela keluarga mu sendiri.
Jika suatu saat nanti, anak-anak Mu pak Tiur. pergi meninggalkan kamu jangan pernah sesali, di hadapan para warga, raja Huta, pak Kepling. saya berjanji tidak akan mau membujuk anak-anak Mu untuk menghormati Mu pak Tiur. saya benar-benar kecewa.
__ADS_1
Benar kata bapak kepala Desa, Saya sebagai anak yang paling besar. atau sebutannya Boru panggoaran tidak pernah sekalipun membuatKu Bahagia dan saya tidak pernah merasakan kehadiran seorang bapak begitu dengan adik-adik ku.
Bapak terlalu perhatian kepada keluarganya dan juga Kakaknya.