
"kita yang berusaha memberikan yang terbaik, tapi masih tetap sering dapat apes. konon lagi dengan kita yang berbuat hal-hal yang diluar nalar. Ampun deh.... " ujar kawan Nya Irma yang bernama Luffy.
"iya Benar, omong-omong ini kolak dan jus semangka nya enak banget...... dah dua mangkok ku makan kolak Nya. apa ngak makin melar ini badan." ucap Irma yang berhenti Makan.
"kak Irma... pulang aja yuk, Luffy mau ngurus ternak lagi."
Memang tidak terasa hari sudah petang, Irma dan kawan-kawan nya pamit pulang. sementara kami akan menyelesaikan pola untuk fitting untuk dua group sekaligus.
Setelah jam 8 malam akhirnya pola sudah terjahit untuk dua tim, dan kami langsung beres-beres agar istirahat.
Mamak sudah membuat bontot makanan untuk keluarga teman-teman yang lembur, dan Begitu selesai kami pun berpisah untuk istirahat.
Mandi secara gantian dan akhirnya kami bertiga kumpul di meja makan ini untuk makan Malam.
"Boru..... Tulang mu, besok akan pergi ke ibukota kabupaten untuk menerima pembayaran penjualan rumah, kebun dan sawah kita. "
"cepat juga ya Mak proses Nya?"
"Niat yang baik akan mendapatkan hasil yang baik kak."
"betul kata Ningsih.... " ujar Mamak dengan mantap.
Selesai makan dan cuci piring, kami beralih ke ruang tamu seperti biasa untuk menonton sinetron yang kejar tayang.
"nanti Inang, dua bulan lagi mau melahirkan. jangan menerima orderan lagi."
"pasti dong, karena kita harus beres-beres juga. dan menurut kata Pangeran calon menantu Mamak, bulan mei nanti sudah rampung semuanya. kita tinggal menyusun barang-barang."
"kak.... sudah ada rencana kak Lisa dan calonnya ke arah serius?"
"sudah Ning.... bulan Agustus tahun ini, adik perempuan nya Pangeran akan Wisuda, Lisa dan Calonnya akan melangsungkan marhata Sinamot (membicarakan Mahar dan penentuan hari pertunangan dan pernikahan) setelah kita sudah memulai bisnis kita kelak nanti."
"bou sangat berharap, setelah selesai pernikahannya Lisa. harapan bou selanjutnya adalah Rifan dan kamu."
"Amin......"
Dengan kompak nya Aku dan Ningsih berkata Amin dan kami bertiga akhirnya tertawa bersama.***
Pagi-pagi seperti biasa beraktivitas, dan setelah selesai lalu sarapan dan buka lapak jahit.
__ADS_1
Rekan-rekan semuanya sudah stay dan lanjut menjahit. yang lain mengerjakan jahitan seragam teman-temannya Saor, sementara Aku membuat pola pesanan Irma dan kawannya.
Tanpa terasa selesai juga dan sudah tiba waktunya untuk makan siang. setelah selesai makan siang kami kembali beraktivitas.
Dari kejauhan Sepasang Suami istri sangat sangat serasi dan ku sayangi yaitu Tulang Pak Saor dan Nantulang datang menghampiri kami dengan tersenyum.
"ito.... Bere..... semuanya berjalan lancar, bahkan kami berdua berhasil membujuk pembeli nya untuk menambah harganya, jadi totalnya 350 juta Rupiah. dan itu sudah bersih dan telah disetor ke rekening mu Bere."
Ujar Tulang pak Saor, Sembari memberikan bukti setor uang tersebut.
lagi-lagi Aku bersyukur tanpa hentinya, semuanya berjalan lancar. dukungan dan rejeki yang berlimpah dan menghampiri.
"Tulang.... Nantulang..... kalau nanti Saor sudah di Medan, Tulang dan Nantulang ikut ke Medan ya.....
Tiur ingin semua keluarga Ku, berada di dekatku."
"rencananya juga begitu bere, sudah mulai bosan Disini. lahir, nikah dan membesarkan anak disini. Tulang juga ingin membawa keluarga keluar dari kampung ini.
"Terimakasih Tulang dan terimakasih Nantulang....."
Hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Hari sudah semakin Sore, dan kami beres-beres untuk segera mengakhiri kerja agar bisa istirahat.
Semuanya selesai dan Tinggal makan Malam, di meja makan ini kami bertiga makan seperti biasanya dan setelah makan dan cuci piring kami bertiga ke ruang tamu untuk menonton televisi.
drrrt.... drrrt.... drrrt....
Handphone ku bergetar dan ku lihat nomor baru yang menghubungi Ku, dan ternyata itu adalah Petugas medis dari puskesmas yang memberitahu kalau Bapak sedang rawat inap disana.
Mamak tidak Sudi melihat Nya, dan bersama Ningsih kami berangkat ke puskesmas. sebelumnya saya mintak tolong ke Saor untuk menemani Mamak di rumah.
Sesampai di puskesmas, kulihat bapak yang terbaring lemah di kasur sederhana milik puskesmas. wajahnya begitu lusuh seperti menanggung banyak beban hidup.
"siapa yang bawa bapak kemari?"
"tetangga, karena bapak mintak tolong." jawab bapak dengan lemas.
"kakak mu itu kemana rupanya pak?"
__ADS_1
Bapak hanya terdiam, sebenarnya saya iba melihat kondisi Bapak seperti ini. tapi jika mengingat semua yang telah bapak lakukan aku benci melihat nya.
"bagaimana keadaan Bapak? kenapa bapak bisa sampai sakit begini?"
"ini semua gara-gara kamu boru, kamu dan Mamak mu begitu egois. kalian berdua tidak membantu inang Simatua yang mengalami kesulitan. jadinya bapak yang berpikir keras hingga sakit seperti ini."
Darah di dalam tubuh Ku sangat terasa mengalir di sekujur tubuhku. di saat seperti ini bapak masih tetap menyalahkan Ku, karena tidak mau membantu keluarga Mertua.
"Tiur..... kenapa kamu egois, lihat mertua Mu, kurus kering seperti itu karena memikirkan banyak hutang. dimana hati nurani kamu Tiur......
Bapak Uda Mu sekarang di penjara, karena Tiur tidak membantu melunasi hutang Nya. bapak mertua Mu sampai tinggal di kebun karena malu terhadap keluarga."
"Ningsih.... ayok kita pulang. .....
"loh...... siapa yang menemani bapak Kalian?"
Ujar Dokter jaga yang melihat kami mau pulang, ku tatap Dokter tersebut dengan derai air Mataku.
Dokter perempuan yang sebaya dengan Mamak yang bersama dua orang perawat.
"Bu dokter, saya tidak sanggup lagi melihat Bapak yang selalu menyalahkan Ku dan Mamak ku yang tidak membayar hutang keluarga kakaknya Bapak.
Dari dulu sampai sekarang, bapak tidak sekalipun memperhatikan kami. Kasih sayang dan nafkahnya diberikan kepada keluarga kakak Nya.
Sudah terkapar lemas seperti itu, bapak masih sanggup membela keluarga kakaknya. mungkin Bu dokter sudah melihat video yang beredar.
dimana Bere nya Sendiri, mengatai nya bodoh karena bisa dimanfaatkan oleh keluarga kakak Nya. dan sekarang Bapak ku itu itu, yang sudah terkapar lemas masih juga membela keluarga kakaknya.
Jika Bu Dokter di Posisi saya, apakah yang akan dilakukan Bu Dokter?"
"akan saya tinggalkan tentunya"
"fix..... jawaban Bu Dokter tepat, apapun yang terjadi dengan bapak yang terkapar lemas itu, tolong jangan hubungi saya. terimakasih Bu Dokter dan selamat Malam."
Aku dan Ningsih langsung meninggalkan ruangan itu dan ku hapus air mata Ku. aku tidak ingin Mamak mengetahui kalau Boru panggoaran (Putri pertama) bersedih lagi."
Kami berdua berjalan menelusuri malam dengan cahaya lampu jalan dan cahaya terang dari lampu depan rumah warga sekitar.
Rasanya sangat menyesal menemui Bapak di ruang rawat puskesmas itu, karena yang ku dapatkan adalah kesedihan yang tidak kunjung usai.
__ADS_1