
"kakak sudah ingkar janji, lebih baik kakak pulang."
Ujar Uli yang mengusir Gabe Kakaknya, dan akhirnya si mulut Jabir itu pulang juga dan tinggal lah kami berdua.
"Edak Tiur.... kita berdua hampir sama, berkorban demi keluarga. edak menikah dengan Andri karena jebakan Adat yang tidak masuk akal itu."
Ucap Uli dengan raut wajahnya yang sedih, inilah sisi lain dari Uli. awalnya aku mengira dia sama dengan Mamaknya.
"bedalah lah Edak (panggilan sesama ipar perempuan). Edak masih bisa memilih pria yang Edak sukai sementara Aku ya.... Edak tahu lah..."
Mendengar perkataan Ku, Uli tarik napas dalam-dalam dan kemudian dihembuskannya, dari sorot matanya terlihat ada tekanan batin yang diterimanya.
"dulu Aku punya kekasih yang kenalan di Jakarta dan ternyata dia adalah pemuda dari kampung seberang.
Kami sudah pacaran selama 3 tahun lamanya, sudah nyaman dengannya. dan akhirnya sang pujaan melamar Ku, dan kabar bahagia tersebut ku beritahu kepada Mamak dan mamak mengancam bunuh diri jika aku menikah segera.
Aku harus menunggu sampai Andri menikah, para gadis di kampung ini dan juga gadis dari kampung seberang semua menolak Andri.
Alasannya karena Andri anak manja dan Mamak yang pegang kendali. akhirnya Mamak memaksa bapak untuk menagih hutang Adat yang dibuat dengan oppung. sehingga Andri bisa menikah denganmu.
Sementara pacar Ku sudah menikah dengan wanita lain, karena terlalu lama menunggu ku serta hinaan dari Mamak.
Edak... jika Mamak mengungkit masalah mahar dan biaya pernikahan, sampaikan aja seperti yang aku bilang tadi."
Kali ini Uli menangis saat menceritakan kisahnya, dan kuberikan tissue untuk menghapus air mata itu. dan aku langsung ke dapur untuk membuat Nya kopi.
Dua cangkir kopi sudah tersaji di depan kami, satu untuk Uli dan satu lagi untukku. Uli langsung meneguk kopi buatan ku itu.
"Edak... Andri itu suka menambah cerita atau mengarang cerita untuk menjelekkan orang lain, dulu waktu SMA. Andri mengadu ke Mamak karena Abang kelas ku ngobrol dengan Ku, tapi aduan Andri beda.
Andri berkata ke Mamak, kalau aku berhubungan badan dengan Abang kelas. padahal kami cuman belajar sama di perpustakaan, lagian mana ada anak-anak lainnya dan si Andri juga ada di perpustakaan itu.
Mamak menghajar Ku dengan sapu dan memaki aku habis-habisan, rasanya perih sekali hati ini. bahkan disekolah Aku cap sebagai wanita murahan.
__ADS_1
Kami anak perempuan berjumlah 6 orang, dan tidak satupun yang menikah. termasuk kak Iren anak pertama. umurnya sudah mencapai 40 puluan.
Nasib nya sama denganKu, calon nya kelamaan menunggu hingga akhirnya menikah dengan wanita lain.
Hanya kak Gabe yang bisa menerima kelakuan Mamak alias sama, itulah sebabnya kak Gabe tidak pernah punya pacar karena selera nya terlalu tinggi.
Semua kakak-kakak Ku pergi merantau untuk menghindari julid nya omongan tetangga dan juga untuk menghindari Mamak.
Aku pulang karena pesta pernikahan Ferdinan, dia adalah sahabatku sejak Kecil dan dia juga yang memperkenalkan Aku dengan mantan pacarku. setelah selesai pernikahannya Aku akan menghilang dari kampung ini untuk selamanya.
Jujur aku juga ngak tahu keadaan kakak-kakak Ku yang lainnya, mereka tidak pernah pulang kampung dan tidak pernah komunikasi Juga.
Semua karena Mamak, begitu Mamak tahu nomor handphone kami. Mamak langsung mintak uang untuk keperluan Andri.
Sementara kami harus banting tulang untuk memenuhi ambisi Mamak dan rasa sayangnya yang berlebihan terhadap Andri.
Aku beranggapan Simamora (Mahar) dan biaya pesta pernikahan kalian itu adalah uang terakhir dariKu.
Kisah hidupnya ternyata begitu tragis, dan dress-nya serta kebaya langsung Ku berikan untuk fitting.
"loh.... kan aku cuman Mintak dress loh Edak."
Ujarnya sambil tersenyum dan tetap menggenggam dress dan Kebaya yang ku buat untuk fitting.
"panjar yang Edak berikan satu juta, dan ini semua dapatnya."
"ya ampun..... tapi Aku suka liatnya, bentar ya biar ku coba."
Ucapnya sambil berlalu ke balik tirai itu, satu persatu di cobanya dan bolak-balik ke hadapan Ku hingga akhirnya Uli kembali duduk di depanku dengan tersenyum sumringah.
"aku suka modelnya kak, ya sudah aku ambil semuanya. dua dress dan dua Kebaya, semua aku suka." ujarnya dengan bersemangat.
"Edak.... tadi Edak Gabe mau ngapain datang kemari?"
__ADS_1
Mendengar pernyataan dariku, Uli langsung berhenti tersenyum dan menatap ku dengan tatapan Sendu.
"mau buat dress atau kebaya, sebenarnya mulai dari semalam itu setelah aku pulang dari sini. oppung Boru Ruth menolak Nya untuk jahit kebaya.
Saor yang pamer Kebaya kepada kami dan melihat dress yang terpajang kemarin itu membuat ingin membuat kebaya dan dress sama Edak.
Sebenarnya aku ogah mengajak Nya, tapi aku kasihan juga. pakaian nya ngak ada yang bagus, tapi tingkahnya itu loh buat muak Persis seperti mamak.
Edak.... saya tidak akan pernah mintak maaf kepada Edak untuk mewakili keluarga, karena itu sia-sia. selama Edak menjadi istri Andri, Mamak dan anaknya yang manja itu tidak akan pernah berhenti membuat Edak menderita.
Keluarga mantan pacar Ku habis di maki-maki oleh Mamak karena anaknya berani melamar Ku, itu belum jadi loh aku menikah dengan sang mantan itu. bagaimana kalau sudah menikah? pastinya akan menjadi bulan-bulanan Mamak.
Edak... ini saran dariKu, Edak Tiur harus tetap menjadi diri sendiri. jangan pernah mau tunduk kepada Mamak dan Andri, lawan terus jika bertentangan dengan dengan hati nurani Edak.
Harus Andri yang menceraikan Edak, jangan sesekali Edak mintak cerai karena itu akan menjadi alasan Mamak untuk menyerang Edak dan keluarga.
Biarkan aja si anak manja itu lengket sama Mamak, pulang atau ngaknya ke rumah ini biarkan saja.
Satu lagi Edak, jangan pernah memberi uang kepada Andri. karena jika Edak memberi Nya uang, Andri akan merasa seperti di spesial kan. karena keinginan nya selalu terpenuhi."
Uli terdiam seketika tapi Penjelasannya mengenai Andri begitu tepat dan nasihat Nya sungguh sangat berarti.
"mulai dari kecil si Andri sudah di manjakan oleh Mamak, karena anak laki-laki. mulai dari kecil semua kebutuhan Nya selalu dipenuhi, bahkan makan pun harus diantar ke kamar dan di suapi.
Kami anak perempuan yang menjadi budaknya, sampai akhirnya kami melawan dan Mamak yang selalu melayani kebutuhan Nya.
Edak yang sabar ya menghadapi suami yang super manja dan ibu mertua yang sadis, dan semoga Andri bisa berubah menjadi lebih baik dan semoga Andri bisa menjadi suami yang bisa diandalkan."
"Amin......"
Saat aku Amin kan harapan Uli tapi dia malah tersenyum sinis dan Aku mengerti maksud dari senyuman sinis nya.
Bang Andri tidak akan pernah berubah, itulah arti dari senyuman sinis dari Uli. tapi apa salahnya berharap, mukjizat Tuhan ada. tidak ada yang mustahil bagiNya.
__ADS_1