
POV Rohani (Mak Iren).**
Jam 10 malam mereka langsung berangkat ke Medan untuk bertemu dengan pengacara yang bisa membantu mereka.
Tujuh jam lebih perjalanan, akhirnya Andri dan Mamaknya sudah sampai di terminal Medan tepat pukul 9 pagi. setelah sarapan disalah warung, mereka berdua langsung menemui pengacara itu di kantornya.
"Danu.... kentalkan ini Mamak Ku, dan ini surat panggilan cerai yang dilayangkan oleh pengadilan negeri, di ibukota kabupaten."
Andri mengutarakan Niatnya untuk menggugat balik Tiur, mulai dari hak asuh anak Sampai pembagian harta gono-gini.
Akan tetapi ada satu yang di sampaikan oleh Andri dan Mamaknya, yaitu tentang perjanjian pemisahan harta yang telah di mereka tandatangani.
Pengacara itu langsung membuat surat Kuasa, dan pengacara yang bernama Danu itu berjanji akan menemukan alamat Tiur di Medan ini.
Untuk mengantisipasi, Andri hanya memberikan 5 juta terlebih dahulu sebagai uang muka kepengurusan. harta gono-gini akan di dapatkan kelak nanti mampu membuat mereka bisa untung besar-besaran.
Danu mengatakan kalau Andri tidak perlu menghadiri sidang perceraiannya, dan itu tidak akan menyulitkan Proses jalan nya perceraiannya dengan Tiur sehingga bisa mengulur waktu.
Itu adalah penjelasan dari Danu sebagai pengacaranya, dalam Minggu ini Danu akan memberikan kabarnya kabar mengenai Tiur.**
Sudah hampir seminggu belum juga ada kabar dari Danu, rasa was-was dan penuh tanya saat menunggu kabar dari Danu.
Tapi yang datang adalah petugas Kantor pos yang memberikan surat keputusan Cerai dari pengadilan. yang artinya Andri sudah resmi bercerai secara Adat maupun hukum Negara.
drrrt.... Drrrt....drrrt.... Drrrt....
Handphone Andri berbunyi, setelah di lihatnya Danu yang menghubungi Nya.
' halo..... bagaimana Danu? Apakah ada kabar baik?"
'tenang.... saya sudah memberikan somasi kepada mantan Istrimu, yaitu mengenai hak asuh dan harta gono-gini, kapan kita bisa menemui mantan Istrimu itu?
'besok bisa?'
'bisa, kalau begitu silahkan datang ke kantor lagi. nanti dari sana kita berangkat ke kediaman mantan Istrimu."
Setelah selesai bicara dengan Danu, Andri langsung menoleh ke arah Mamaknya.
__ADS_1
"Mak..... ajak Tulang, suruh Tulang yang membayar ongkos kita ke Medan."
"tenang.... nanti Mamak atur."
Mamaknya Andri langsung menemui pak Tiur di sawah Nya.
Dengan segala kemampuan nya Mamaknya Andri, akhirnya Pak Tiur ikut ke Medan dan tentunya pak Tiur yang menanggung ongkos nya.
Sebenarnya tujuan pak Tiur ke Medan hanya ingin bertemu keluarga Nya. tapi beda dengan Andri dan Mamaknya, tujuan mereka adalah untuk negosiasi dengan Tiur.
Jam 10 malam mereka berangkat ke Medan dan sampailah jam 9 pagi di kantor Danu pengacaranya.
"selamat pagi Andri.... silahkan duduk." ujar Danu yang terlihat semangat melihat kedatangan Andri dan Mamaknya serta pak Tiur.
"bagaimana? apakah kita bisa langsung ke tempatnya Tiur?" ucap Andri yang tidak sabar ingin bertemu Tiur dan anaknya.
"Mohon maaf Andri, Tiur melalui pengacaranya berhalangan hari ini untuk bertemu. mereka meminta waktu besok jam 11 siang untuk bertemu."
"terus.. bagiamana dengan kami? tidak ada satupun keluarga kami di Medan ini, dimana kami akan menginap."
"tenang Andri, saya sudah menyiapkan tempat menginap Kalian, asal lunasi dulu yang 10 juta Rupiah lagi sesuai dengan kesepakatan kita."
"bapak...ibu.... dan Andri, disinilah Kalian menginap malam ini. besok pagi saya akan menjemput kalian lagi dari sini." ucap Danu Sembari meninggalkan penginapan itu.
Mereka bertiga terduduk di kamar penginapan itu, ternyata satu kamar untuk mereka bertiga.
"Andri.... coba kamu tanya alamat Tiur dari pengacara mu itu?"
"iya... iya.... kenapa kita tidak terpikirkan mengenai itu." ujar Mamaknya Andri.
Andri langsung mengirimkan pesan kepada Danu pengacaranya, dan Danu dengan segera memberikan alamat Tiur kepada Andri.
Andri bertanya kepada salah petugas dari penginapan akan alamat yang diberikan oleh Danu kepadanya, tapi menurut penjelasan dari petugas penginapan tersebut. butuh waktu 1 jam perjalanan jika tidak macet menuju alamat Tiur.
Karena mereka tidak tahu arah jalan kesana, hingga mereka mengurungkan niatnya untuk ke alamatnya Tiur.
Mereka bertiga hanya pergi ke salah satu toko pakaian untuk membeli pakaian agar bisa di pakainya malam ini dan juga makanan untuk mereka bertiga.
__ADS_1
Mereka bertiga sudah selesai belanja di toko pakaian tersebut, dan mereka akhirnya makan siang di salah satu warung makan di dekat penginapan mereka.
"tujuan kalian berdua apa?" tanya pak Tiur Sembari minum air setelah selesai makan.
"apalagi Tulang, Andri gugat hak asuh anak dan harta gono-gini." ujar Andri dengan percaya diri di hadapan Bapaknya Tiur.
"tapi Tulang sangat pesimis akan nanti hasilnya nanti. sebaiknya jangan gugat harta gono-gini dan hak asuh. kita ngomongin baik-baik saja mengenai hak asuh.
laksanakan Tugas mu sebagai seorang bapak, dan Tiur akan melaksanakan tugas sebagai seorang ibu."
"Itok kenapa sih? Kenapa selalu mematahkan semangat Bere mu Sendiri. kalau Itok tujuannya apa datang kemari?"
"bukan mematahkan semangat Andri, tapi kita lihat kenyataannya aja, Andri sudah menyangkal Anaknya. dan kita tahu lah harta Tiur asal nya dari mana?
kalau saya datang kemari untuk mintak maaf ke Tiur dan Mamak Nya, Syukur bisa bertemu dengan Lisa, Rifan dan Fernando.
Saya tahu kalau mereka tidak memaafkan Ku, tapi setidaknya aku datang mintak maaf ke mereka semua."
"sudahlah ito pak Tiur, tidak perlu di pikirkan itu. bila perlu ito gugat akan penjualan rumah, sawah dan kebun yang telah di jual Istri mu itu?"
"tidak perlu Mak Iren, saya tidak butuh itu. saya hanya butuh bertemu dengan anak-anak Ku sebelum Aku mati." ujar pak Tiur dengan menyeka air matanya.
"sudah lah pak Tiur, kita pulang saja ke penginapan. nanti kita pikirkan bagaimana caranya Bertemu dengan anak-anak mu itu."
Mereka bertiga akhirnya pulang ke penginapan, Mak Iren semakin kesal kepada adiknya itu karena sudah mulai membela keluarga.
Selamat Pak Tiur ada dibawah kendalinya, semua kemauan Nya di penuhi oleh pak Tiur, Begitu mereka sampai di penginapan tersebut, tapi tidak langsung masuk ke kamar.
Mereka bertiga bengong di salah kursi taman kecil yang ada di penginapan itu.
"bagaimana ya nasibnya pak Simson? apakah mereka benar-benar memenjarakan Simson?" ujar pak Tiur disela-sela hayalan Nya.
"ngak mungkin, tidak mungkin mereka memenjarakan pak Simson."
Pak Tiur hanya bisa berharap kalau Adiknya itu tidak jadi di penjara oleh keluarga Nya sendiri.
Kalau Keluarga Nya tidak mungkin, tapi bisa saja mertuanya melakukannya. mertua dari pak Simson adalah mantan perwira polisi.
__ADS_1
Sebagai seorang Ayah yang waras, pasti akan melindungi putrinya.