MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Koperasi dan Sang Rentenir.


__ADS_3

Sudah dua Minggu berlalu setelah bapak meminta uang kepada ku, dan bang Andri tidak pernah pulang ke rumah.


Saat di gereja, saya tidak melihat mertuaKu maupun bang Andri. apalagi Bapak yang sangat jarang ke Gereja.


Hari Senin yang cerah, sebelum menjahit kami semua minum kopi terlebih dahulu sambil bergosip.


"tahu ngak kak, kedua motor mertua kakak itu sudah di jual. dan kabar yang Ningsih dengar, Mertua Kakak menggadaikan kebun kopi si mare-Mare itu ke Oppung Tagor."


"oppung Tagor?..... mampus dia itu membayar bunganya. oppung Tagor itu memberi bunga pinjaman 35 persen. jika telat bayar, Agunan langsung di sita." timpal Nantulang Mak Rado.


"hari Jumat kemarin, Oppung Tagor menyita traktor Mak Sungguh tetangga Ku. karena ribut-ribut makanya warga lain tahu kalau Mak Sungguh pinjam uang ke Oppung Tagor." ujar Mak Pingky dengan semangat nan serius.


Iya Namanya juga ibu-ibu, tapi untungnya yang bicarakan ada buktinya. jadi nantinya tidak akan membayar denda karena fitnah.


"kakak mau pinjam uang ke Bank ya?" tanya Ningsih karena kami kedatangan tamu dua petugas Bank.


Kemudian datang bang Andri yang memakai dinas kerjanya. petugas bank dan bang Andri sudah berdiri di depan meja kerjaku.


"dek... kita ngomong di ruang tamu aja yuk?" pinta bang Andri.


"ngak usah, kita ngomong disini aja. Ningsih... tolong ambilkan kursi dek."


Akhirnya mereka duduk berhadapan Denganku, Ningsih yang hendak membuatkan minuman ku cegah dengan bahasa isyarat. aku tidak berlama-lama disini.


"bapak-bapak, ada urusan apa datang kemari?" pembicaraan ku mulai dengan bertanya.


"jadi begini ibu Tiur, suami ibu mengajukan aplikasi peminjaman sebesar 150 juta dengan Agunan Kebun kopi milik keluarga suami ibu yang sudah balik nama ke atas nama suami ibu.


Rencananya....


"sebentar pak, kebun kopi milik keluarga suamiku hanya dua. yang di si mare-mare dan Huta ginjang. agunannya yang mana ni pak?"


Aku bertanya demikian karena barusan Ningsih cerita kalau kebun kopi si mare-Mare sudah di agunkan ke Oppung Tagor.


"kalau dari dokumen yang kami terima, yang akan menjadi agunannya adalah kebun kopi si mare-Mare."


"okey.... lanjut pak." ujar Ku Kepada petugas bank Nya.


" baik ibu Tiur, rencana penggunaan dana adalah untuk memperluas usaha ibu Tiur, yaitu Tiurma jahit.


Pegawai bank kami yang perempuan adalah langganan ibu, dan menurut keterangan dari nasabah yang lainnya. bahwa pesanan ibu sangat banyak. dan suami ibu adalah pegawai honorer daerah berstatus surat keputusan.


Berdasarkan hal itu, atasan kami langsung menyetujui pinjaman tersebut. bahkan jika menaikkan pinjaman juga bisa sampai limit 300 juta.

__ADS_1


Maksud kedatangan kami kemari adalah untuk survey, dari yang saya lihat dari usaha ibu ini, hari ini juga bisa pencairan.


Ibu dan bapak bisa langsung ke kantor sekarang juga untuk penandatanganan persetujuan dan perjanjian peminjaman.


bagaimana ibu? apakah kita bisa berangkat ke Bank untuk tandatangan perjanjian?"


Ujar petugas Bank Nya seraya tersenyum begitu juga dengan Suamiku anak manja itu, aku yakin ini adalah akal-akalan dari Mamaknya.


"mohon maaf bapak-bapak, untuk saat ini saya belum membutuhkan dana untuk usaha Ku ini. lagian bapak mikir dong, kita itu tinggal di ibukota kecamatan bukan di ibukota kabupaten.


Usaha ini sudah lebih cukup, terkecuali usaha ku ini berada di ibukota kabupaten. yang artinya akan Lebih banyak calon pelanggan kami, Bapak....."


Wajah senyuman dari petugas bank-nya langsung berubah seketika.


"loh.... kata Suami ibu...


"itu kan kata Suamiku! emangnya bapak pernah berbicara Denganku? ngak kan?" pembicaraan petugas bank Nya langsung ku potong dan jadinya mereka terlihat bingung.


"gimana sih dek? kita kan sudah ngobrol kemarin malam." ucap Suamiku yang ganteng nan manja ini.


"Abang sayang..... kapan kita ngobrol?, bukan Abang selama dua Minggu ini tidur sama Mamak Mu?"


Petugas Bank Nya tersenyum kecut karena ucapan ku barusan terhadap bang Andri.


"oh.... kirain tidur bareng... mohon maaf bapak-bapak, kami mau lanjut lagi untuk kerja. tapi jika bapak-bapak mau nempah jas juga bisa disini kok."


"oh iya Bu, tutup jam berapa?" Hari Sabtu buka ngak?"


"kami tutup jam 4 sore, kalau hari Sabtu kami buka sampai jam 1 siang. emangnya kenapa pak?"


"dua bulan lagi kan mau natal dan tahun baru, jadi Istri dan putriku rencananya mau jahit pakaian Disini. ntar kasih diskon ya Bu."


"okey pak, bisa di atur. ada lagi yang bisa aku bantu?"


"tidak Bu, saya sudah dapat informasi yang istriku butuhkan. kalau begitu kami pamit ya Bu.


Wajah bang Andri terlihat begitu kecewa, tapi ya anggap saja angin lalu. cukuplah Bapak Ku yang bisa mereka perbudak.


Aktivitas lanjut lagi setelah bang Andri pergi, dan lagi-lagi kami kedatangan tamu laki-laki dua orang. kalau datangnya bersama pasangannya kami pasti bahagia karena jelas itu orderan tapi ini laki-laki.


"selamat siang, bisa saya bicara dengan ibu Tiur?" ujar salah laki-laki itu.


"iya saya, ada apa ya pak?"

__ADS_1


"Saya firman, dari bintang koperasi. Bapak dari ibu Tiur, yang bernama HORAS PARGOMGOM meminjam dana di bintang koperasi sebesar 120 juta Rupiah."


"bentar pak, di koperasi bisa pinjam uang sebanyak itu? trus itu pake agunan?"


"Bapaknya ibu salah satu anggota di bintang koperasi, selama ini sudah banyak memakai dana dan ini adalah peminjaman dana yang 20 kalinya.


kata bapaknya ibu, semua dananya di gunakan untuk membangun usaha ibu ini. dan kali ini juga di gunakan untuk mengembangkan usaha ibu. untuk mendapatkan dana pinjaman sebesar itu Bapak ibu mengagunkan rumah, atas HORAS PARGOMGOM."


'Puji Tuhan....... Mulia sekali hati bapak ku ini ya.'


"oh ya pak, sejak kapan bapakku menjadi anggota bintang koperasi?"


"kalau itu saya kurang tahu Bu, karena saya baru 4 bulan kerja di bintang koperasi. tapi dari pengalaman saya Bu, jika sudah minjam dana sebanyak 19 kali, itu berarti sudah menjadi anggota selama 7 atau 8 Tahun lah Bu.


Tapi kali ini sistem pembayarannya berbeda, akan di tagih per dua Minggu ibu. dan kata Bapak nya ibu, kalau ibu Tiur lah yang akan membayar cicilannya setiap per minggunya.


Cicilannya satu juta dua ratus tiga puluh ribu Rupiah, dan itu sudah dengan bunga pinjaman."


"mohon maaf ya pak, saya merasa tidak punya Bapak. Karena bapak ku sudah lama mati di Hatiku, dan usaha Ku ini adalah pemberian Tulang ku serta oppung Ku."


"loh kok gitu, jelas-jelas bapak ibu yang pinjam uang. dan kami harus menagihnya ke ibu."


"sekarang saya tanya sama Bapak, apakah ada persetujuan dariKu? apakah saya menandatangani perjanjian hutang piutang itu?"


"ngak tahu, pokoknya ibu harus bayar cicilan per dua minggunya, kalau ngak rumah akan kami sita."


"silahkan sita, dan sekarang bapak pergi dari sini sebelum bapak saya teriaki maling disini."


Akhirnya petugas koperasi itu pergi Juga, setelah petugas koperasi pergi, kini yang datang adalah oppung Togar sang rentenir.


"oppung Togar.... hutang siapa lagi yang harus Tiur bayar?"


oppung Tagor belum ku persilahkan duduk dan langsung bertanya kepadanya.


"Suami kau lah Tiur jadi siapa lagi." jawab oppung dengan raut wajahnya yang marah.


"oppung mintak sama suamiku, jangan sama ku oppung mintak."


"kek mana nya kau Tiur, gaji Suami mu kau yang pegang. tiba bayar hutang kau ingkar."


"oppung Tagor, silahkan pergi sebelum kupanggil Oppung Raja Huta."


Akhirnya Oppung Togar pergi juga, pusing sudah kepalaku ini. mulai dari suami, bapak sampai ibu mertua. semua membuat kepalaku mau pecah rasanya.

__ADS_1


__ADS_2