
"Abang janji akan berubah, Abang akan berusaha untuk menjadi suami yang lebih baik, dan akan berusaha untuk menjadi suami yang bertanggung jawab." ujar bang Andri dengan berurai air matanya.
"parmean (membantuKu), inang (untuk menyebutkan dirinya sendiri kepada menantunya, dalam tradisi Batak) mintak maaf dengan segala kesalahan Ku, inang tahu tidak mudah untuk memaafkan Ku, tapi Inang tidak mau rumah tangga kalian hancur. tolong kembalilah menjadi istri Andri." pinta ibu mertuaku yang datang kehadapan Ku.
"Maaf Inang (panggilan menantu kepada mertuanya, dalam tradisi Batak) , saya ngak bisa menerima bang Andri lagi menjadi Suamiku. karena Tiur yakin kalau bang Andri tidak akan pernah berubah."
"Boru (putriku) .... pikirkan lagi dengan baik-baik, dari mana kita mendapatkan uang untuk bayar denda adatnya." ujar bapak menyanggah pernyataan Ku.
"eh pak Tiur.... Sinamot Tiur (Mahar) masih tersisa 250 juta lagi, Saya dan Tiur akan membayar sisanya." Kata Mamak dengan begitu serius.
"Saya dan istriku sudah sepakat untuk membantu Itok Mak Tiur untuk membayar denda Nya, sesuai dengan kebijakan dari Raja Huta (Pemangku Adat) kalau denda nya sesuai yang di terima.
Sepasang anak kerbau sudah siap dan padi kami siap jual untuk biaya Adat pelepasan hutang." ungkap Tulang pak Saor dengan begitu percaya diri.
"Eda Mak Tiur, ini semua perhiasan Ku. pakailah. saya ngak tega melihat Tiur harus menderita lagi." sambung Nantulang Mak Saor sambil menyerahkan kalung dan gelang perhiasan ke Mamak.
Aku langsung berdiri untuk mengambil tas yang sudah ku siapkan kian yang berisi harta terakhir Ku yang masih cash.
"Mak.... ini Hasil dari menjahit sudah terkumpul 12 juta, sisa hasil penjualan perhiasan Ku 10 juta dan ini masih ada satu lagi cincin dan gelang perhiasan."
Mamak menemui Bapak yang duduk didekat kepala Desa dengan raut wajah yang penuh amarah.
"Pak Tiur.... sisa sinamot (Mahar) Tiur kemana?" Tanya Mamak ke Bapak.
"kan sudah kubilang, sisa sinamot itu untuk membangun tugu bapak dan Mamak dan sisanya lagi di pakai oleh Itok Mak Iren." jawab bapak dengan santainya.
Mamak kembali Duduk di dekat Ku, dan kemudian air matanya mengalir deras di pipinya.
__ADS_1
"memang jolma pamangus Doho pak Tiur, Sinamot ni Boru mu dibaen ho mambangung kuburan, sementara jabu ni hamu pe naeng maruppak. luar biasa do ho pak Tiur, jabu na mate dibaen ho Bagak, alai boru mu dibaen manaon nabarnit."
(memang kau manusia Biadab pak Tiur, mahar putri mu kau buat untuk mempercantik kuburan sementara rumah saja sudah hampir rubuh, dan Boru mu kau buat sengsara). ujar oppung Sanggap dengan begitu kecewa Nya.
"pak Tiur..... kemasi semua barang-barang Mu dari rumah, di depan Natua-tua (para penatua) Raja Huta, (Pemangku Adat), kepala desa dan tetangga. saya RUMINTANG, Mak Tiur meminta cerai dari Kau pak Tiur. HORAS PARGOMGOM.
Tiur.... ambil ulos dan sarung yang ada dekat dapur, dalam buntalan warna hijau itu." ujar Mamak.
Tapi Soar langsung berlalu ke dapur, tidak berapa lama kemudian datang dengan membawa buntalan tersebut dan menyerahkan nya kepada Mamak.
Mamak berjalan menuju tempat duduk Oppung Doli Sanggap, dan bapak terlihat cemas dan wajahnya terlihat merah.
"among Oppung Doli Sanggap, (panggilan kepada bapak mertua yang sudah mempunyai Cucu). Sejak dulu saya sudah mintak cerai dari pak Tiur, tapi karena aku menghargai among Oppung Doli Sanggap dan semua nasihat dari among, yang selalu saya pegang teguh.
Saya sudah tidak tahan among, dengan ini saya mintak cerai dari pak Tiur dan inilah saya kembali ulos dan sarung sebagai gandi Adat." ucap Mama dengan tegas.
"Oh... Mak Tiur, Sada dosa nabalga do pasirang ni jolma namangolu. alai tong do mar dosa ahu paida-paida ho Mak Tiur manaon nabarnit halani pak Tiur, na su hea mangadopi ho Inang, Sian pangalaho dahot pambahanen.
(dosa besar menceraikan yang telah dipersatukan, tapi akan jauh lebih berdosa jika melihat mu Mak Tiur menderita saat bersama dengan Suami Mu. Suami yang tidak pernah bertanggungjawab).
Sadarion sirang ma ho inang Sian bapak si Tiur marhite-hite adat na torop dohot marhite-hite Natua-tua ni pak Tiur namangolu, jala pauli ma sude na torop tu raham, jala hupasahat tu inang tu keluarga ni Inang.
(hari ini saya merestui Mu bercerai dari pak Tiur atas nama Adat yang bertindak sebagai orang tua dari pak Tiur, perbuat yang menurut Mu yang terbaik dan saat ini aku kembalikan engkau Mak Tiur ke keluarga Mu.)
Oppung Doli Sanggap berkata demikian untuk merestui perceraian yang diinginkan oleh Mamak, dan kemudian oppung Doli Sanggap menarik tangan mamak dan kemudian melepaskan tangannya.
Oppung Doli Sanggap kemudian menarik tangan Tulang pak Saor, Mamak dan Tulang pak Saor sudah berada di tengah-tengah kami.
__ADS_1
"pak Saor, hupaulak ma iboto Mon. Alana dang boi dijaga dahot dang di haholongi gelleng Nami, gabe asi rohakku mamereng jala dang tarbereng ahu.
(pak Saor, aku kembalikan saudara perempuan ini, karena tidak bisa di jaga dan tidak bisa di Bahagia kan oleh anak kami. saya tidak sanggup melihat penderitaan Nya.)
di jolo natorop on, ngak hupaulak parmean Nami tu keluarga na. jalo Ma pak Saor.
(di hadapan semua yang hadir disini, aku kembalikan menantaku kepada keluarganya. pak Saor terima saudara perempuan kembali).
Air mata Tulang pak Saor membasahi pipinya, raut wajahnya yang kecewa terlihat jelas di wajahnya.
"sampai kapanpun, Mak Tiur adalah kakakku. Apapun keadaannya akan aku terima. dengan i...n...i ......
Kakakku ini ku terima kembali, dan sayalah yang menjadi bapak perwalian sebagai anak laki-laki di dalam keluarga kami."
Ucap Tulang pak Saor dengan suara yang bergetar, dan kemudian menarik tangan Mamak untuk duduk kembali di sampingku.
(prosesi perceraian secara adat Batak, orang tua dari pihak laki-laki, atau perwakilan Nya. bisa menceraikan anaknya dengan menantunya, disini Mamak ku resmi bercerai secara adat. setelah oppung Doli Sanggap, yang bertindak sebagai orang tua bapak, mengembalikan Mamak ke Tulang pak Saor sebagai anak laki-laki dari Mamak, karena kedua orang tua mamak sudah meninggal.)
"saya sebagai Raja Huta (pemangku adat) telah melihat dan menyaksikan bahwa oppung Doli Sanggap telah mengembalikan Menantunya ke keluarganya, sekarang ini juga pak Tiur dan Mak Tiur resmi bercerai secara adat.
Kemudian saya kembali kepada perangkat Desa, pak Ferdinan. Mak Tiur dan pak Tiur tidak lagi menjadi suami Istri secara adat.
Bapak kepala desa harus tahu, jika mereka hidup satu rumah lagi, maka kami para warga berhak mengusir mereka dari kampung ini atas dugaan tindakan asusila." kata pemangku adat dengan tegas.
"Baik raja Huta, pemberitahuan Mu sudah saya terima. kepada pak Tiur dan Mak Tiur, kalian tidak bisa lagi hidup dalam satu rumah. akan ada konsekuensi jika kalian berdua melanggar Nya."
Kepala desa berkata dengan jelas saat menerima penyerahan dari Pemangku Adat, itu artinya bapak dan Mamak resmi bercerai secara Adat.
__ADS_1