My First Love Story

My First Love Story
Episode 100


__ADS_3

“Kakak gimana bisa masuk ke flatku padahal kuncinya ada di aku?” tanya kezia sambil memandangi laptopnya.


Sementara Angga berbaring di samping Kezia dan menonton pertandingan bola. Mereka menikmati waktu malas-malasnya di karpet yang tadi digelar Angga.


“Aku minta duplikatnya lah sama pemilik apartemen.” jawab Angga dengan santai.


“Lah kok dia mau ngasih?” Kezia beralih memandang tajam Angga yang berbaring di sampingnya.


“Ya aku bilang aku kakakmu. Lagian sebentar lagi kita akan menjadi tetangga.” cetus Angga.


“Tetangga? Gimana bisa?”


“Aku menyewa flat sebelahmu.” sahut Angga sambil tersenyum manis.


“Hah, beneran? Kakak kan ada rumah yang bagus dan besar, kenapa malah milih sewa flat di sini?” Kezia merasa laki-laki di hadapannya benar-benar ajaib.


“Karena aku lebih nyaman di sini. Di rumah sepi. Yang aku lihat pak hendra lagi pak hendra lagi .” Jawab Angga sambil mengerucutkan bibirnya. Kezia hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Angga.


“Ya udah, sekarang kakak pulang dulu. Ini udah malem loh…”


“Pulang kemana?”


“Ya ke sebelah lah….”


“Aku belum membereskannya. Jadi malam ini aku menginap di sini. Boleh yaa….” Lagi-lagi Angga merengek.


“Astaga… apa kakak mau kita di grebek? Bisa-bisa aku di usir dari sini?”


“Hahahahha… Ini jerman non… Lagian kamu cuma di larang bawa minuman keras, narkoba dan berbuat keributan. Gag dilarang ngajak kakaknya menginap kan?” Angga tertawa dengan renyah. Ia bangkit dari baringnya tanpa memperdulikan kekesalan Kezia. “Aku mau mandi, kamu teruslah belajar yang rajin.” tutup Angga sambil mengacak rambut Kezia.


“Isshh seenaknya sekali.” sahut Kezia.


“Mana handuknya?”


Kezia berjalan menuju lemari dan mengambilkan handuk dengan kesal. Angga segera masuk ke kamar mandi. Tak lama guyuran air terdengar dari kamar mandi.


Kezia yang tahu Angga pasti tidak membawa baju, segera mengambil jaket gombor miliknya dan menaruhnya di pinggiran tempat tidur. Sementara celananya? Ah sudahlah pasti tidak akan ada yang muat.


*****


Sepuluh menit berlalu. Angga keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada. Handuknya melingkar di pinggang. Rambutnya basah dan tetesan air membuat tubuhnya berkilauan saat terkena cahaya. Kezia menutup matanya saat melihat pemandangan di depannya.


“Kakak ini udah bukan anak kecil tau. Cepet pake baju!” seru Kezia tanpa menoleh Angga. Angga hanya tersenyum. Di liriknya jaket yang ada di atas tempat tidur Kezia.

__ADS_1


“Ini buat aku?” tanya Angga seraya mengukurkan jaket ke tubuhnya.


“Hemm…” sahut Kezia tanpa melirik.


Angga memakai jaketnya, ternyata sangat pas di badan. Kezia melirik, lalu terkekeh geli melihat Angga dari sudut matanya. Bajunya benar-benar melekat ketat tanpa cela di tubuh angga dan tangannya sedikit kependekan karena tubuh Angga yang lebih jangkung dari Kezia.


“Jangan meledekku. Cepet mandi.” Ujar Angga sambil melemparkan handuk ke arah Kezia.


Kezia mengerucutkan bibirnya dan segera bangkit. Badannya memang sangat lengket karena keringat. Kezia mengambil baju ganti dari dalam lemari. Saat melewati angga, ia melihat laki-laki itu memakai boxer selutut dengan jaket kekecilan.


“Cocok!” seru Kezia perlahan sambil mengacungkan jempolnya ke arah Angga dengan senyum meledek.


“Kamu yaahhh…” Angga hendak menangkap Kezia namun Kezia segera berlari ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


Angga berjalan menuju sofa dan mengambil ponselnya lalu sibuk menghubungi seseorang.


“Besok pagi-pagi bawakan barang-barangku ke flat.” titahnya yang kembali menutup telponnya kemudian.


Angga membaringkan tubuhnya di sofa hingga akhirnya terlelap.


Tak lama, Kezia keluar dari kamar mandi sudah berpakaian rapi. Diliriknya Angga yang sudah terlelap. Kezia mengambil selimut dan menutupkannnya ke atas tubuh Angga hingga batas dada. Kezia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Di bawah selimut ia terlelap.


Angga yang mengetahui Kezia sudah terlelap, ia menghampirinya ke tempat tidur. Lalu membaringkan tubuhnya di samping kezia. Tidur di sofa membuat badannya pegal. Angga membuat batas antara Kezia dan dirinya. Bagaimanapun Angga laki-laki normal, walau Kezia menganggapnya seorang kakak dan mungkin tidak memikirkan hasratnya sebagai wanita, namun tidak begitu dengan Angga. Setiap melihat Kezia darahnya berdesir. Maka dia tertidur dengan memunggungi Kezia dan bertekad akan pindah ke sofa sebelum Kezia terbangun.


****


 


Kezia menggeliat dengan nikmatnya. Angga yang melihatnya merasa gemas sendiri. Mata bulat itu perlahan terbuka.


“Kakak udah rapi ajaa….” tutur Kezia dengan suara serak khas bangun tidur. Angga hanya tersenyum.


“Ayo bangun, udah siang nih.” Sahut Angga sambil berjalan menuju sofa dan memainkan handphonenya.


Kezia pun bergegas bangun dan melakukan ritual mandinya. Setelah berpakaian rapi ia menuju dapur dan membuat sarapan, nasi goreng menu favoritnya.


2 piring nasi goreng tersaji di depan Angga dan Kezia dengan segelas susu coklat hangat untuk masing-masing. Mereka menikmati sarapannya.


“Nanti aku antar ke kampus ya…” tawar Angga di sela suapannya.


“Aku pake sepeda aja. Soalnya nanti susah kesana kesini kalau gag bawa sepeda.” sahut Kezia.


“Kamu semakin pintar membantah yaa…” cetus Angga. Kezia tak menjawabnya, malah tersenyum. “Makan siang bareng aku. Sekalian aku ada perlu ke fakultas matematika.” lanjutnya.

__ADS_1


Kali ini kezia mengangguk dan membuat Angga senang.


Mereka berangkat bersama-sama. Angga menuju kantor bersama Hendra sementara Kezia menuju kampus memakai sepedanya.


****


Sampai di kelas, kursi tempat Kezia sudah dikerumini para gadis. Ternyata mereka sedang menggoda Fritz dengan berbagai cara. Kezia menghembuskan nafasnya kasar lalu beralih ke deretan kursi di belakang. Melihat kedatangan Kezia, Fritz segera mengusir para gadis dan menghampiri Kezia yang tengah memakai earphonenya.


“Boleh aku duduk di sini?” sapa Fritz sambil tersenyum. Kezia hanya melirik tanpa menjawab. “Aku duduk disini yaa…” Fritz berbisik di telinga Kezia setelah sebelumnya mencobot earphone yang menutup lubang telinga Kezia.


“Terserah…” sahut Kezia yang segera mengambil paksa earphonenya.


Fritz memandangi Kezia laman seraya menopang dagunya dengan tangan kanan.


“Kenapa semakin di lihat kamu semakin cantiikk…” gumam Fritz yang tidak bisa memalingkan pandangannya dari Kezia.


Kezia tak memperdulikannya. Ia asyik dengan buku bacaan yang ia bawa.


“Hay fritz… Kamu mau gabung di acara kampus minggu depan?” suara seorang gadis membuyarkan lamunan Fritz.


“Ahh! Kau mengganggu sekali. Aku tidak tertarik. Aku hanya tertarik pada wanita cantik.” serunya sambil mengibaskan tangan gadis yang menyentuhnya. Gadis itu tampak kesal. Lalu menyodorkan selembar brosur.


“Barangkali temanmu mau ikutan…” tawar gadis itu. Dia belum menemukan satupun partisipan, sehingga sedikit memaksa. Kezia menoleh ke arah gadis itu dan menerima brosur yang disodorkan. “Kalau kamu berminat, hubungi nomorku…” lanjutnya sambil berlalu.


Kezia memperhatikan brosur yang diberikan gadis itu. Rupanya akan ada acara lumayan besar mingu depan. Acara amal, seminar kesehatan dan lomba menulis. Seminar kesehatan mencantumkan biaya pendaftaran yang cukup tinggi. Namun bisa diikuti secara gratis jika membuat sebuah artikel yang akan dinilai oleh tim dosen, Kezia mengernyitkan dahinya.


“Sepertinya menarik!” seru Kezia. Kezia melipat brosur itu dan memasukkannya ke dalam tas.


Tak berselang lama, dosen yang akan mengajarnya telah datang dan aura ruangan beralih hening. Tatapan dosen laki-laki yang sudah berumur itu seperti akan membunuh para mahasiswa satu per satu. Kezia mengecek silabus di handphonenya.


“Prof Clifton…” lirihnya.


Suasana belajar sangat mencekam. Tidak ada mahasiswa yang berani bersuara kecuali di suruh. Bahkan Fritz pun menyimaknya dengan baik. Waktu 2 jam terasa seperti bertahun-tahun. Penjelasannya sangat tegas dan menakutkan.


Dalam pandangannya, membiarkan pasien meninggal atau cacat adalah langkah akhir yang sama dengan menyerahkan kepala untuk di penggal. Benar-benar moto yang menakutkan. Namun dibalik itu, terselip pesan bahwa tugas menjadi dokter, bukan hal yang mudah dan mempertaruhkan nyawa yang tidak bisa kembali saat ia membiarkannya pergi.


****


 


Hay hay... Jangan lupa like dan komen nya yaaa...


Aku lagi kurang enak badan jadi up nya dikit-dikit. Semoga kalian gag kecewa.

__ADS_1


Happy reading...


__ADS_2