
Pagi ini tak seperti biasanya. Entah mengapa Kezia sangat malas membuka mata. Arland sudah terlebih dahulu bangun, bahkan sudah selesai membersihkan tubuhnya karena keringat yang banyak sisa semalam, sementara Kezia masih berada di bawah selimut tebalnya tanpa sehelai benang pun.
Terdengar alarm handphonenya berbunyi, dengan mata yang masih tertutup, iya mencarinya dengan meraba sisi tempat tidurnya. Setelah ia temukan, ia segera mematikannya. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan, menepuk pipinya perlahan agar segera terjaga.
Perlahan matanya mengerjap. Diliriknya tempat tidur di sampingnya, Arland sudah tidak ada di sana.
“Pagi sayang…” sapa Arland yang tengah mengeringkan rambutnya di depan cermin.
Dari pantulan cermin, Arland terlihat tampan dengan rambut terguyar berantakan.
“Duuhh aku kesiangan….” gerutu Kezia yang segera bangun dan mendudukan tubuhnya menyandar pada pinggiran tempat tidur.
Arland mendekatinya lalu duduk di samping Kezia. “Capek banget ya?” tanyanya seraya mengecup kening Kezia. Tentu saja, Arland tidak berhenti mengerjainya ia ia kelelahan sendiri. “Istriku cantik banget kalo bangun tidur gini…” lanjut Arland seraya mengusap rambut Kezia.
“Suami aku ganteng bangeettt…” cetus Kezia dengan suara serak yang menggoda. Tangannya mengusap lembut pipi Arland. Arland meraih tangan Kezia kemudian mengecupnya dengan lembut. “Adduuhh aku kok males banget yaa bangun pagi ini…” lanjut Kezia yang menyandarkan kepalanya ke bahu Arland.
“Salah aku juga kayaknya kebanyakan ngerjain kamu…” timpal Arland yang kini menatapnya dengan rasa bersalah. “Kamu mau istirahat dulu aja di rumah?”
“Enggak, aku kan harus nyiapin peresmian rumah sakit besok dan lagi ada beberapa pasien yang berencana kemo.” terang Kezia yang segera tersadar akan tugasnya.
Pembangunan rumah sakit telah selesai dan besok rencananya akan di resmikan. Hal ini seolah menjadi penambah semangat baru untuk Kezia.
“Oh iya yaa, tapi sayang aku ada rapat pagi ini. Paling baru bisa nyusul nanti siang…”
“Gag pa-pa, aku di temenin kak rana kok. Jadi kamu gag usah khawatir, hem?”
“Okey, tapi kalo ada apa-apa, kamu kasih tau aku. Nanti aku minta orang-orangku buat bantu kamu siap-siap di sana.”
“Siap…” Kezia melakukan hormat singkat yang mengundang Arland untuk mengacak rambutnya dengan gemas.
Mereka saling berpandangan dengan penuh cinta. “Morning kiss dulu boleh?” pinta Arland dengan wajah memelas.
“Tapi aku belum mandi, belum gosok…”
Tanpa menunggu kalimat Kezia selesai Arland segera membungkamnya dengan sebuah ciuman panas. Mereka kembali berpagutan. Rasanya yang terjadi kali ini bukan hanya morning kiss, karena Arland begitu bergairah pagi ini. Dalam sekejap ia sudah berbaring di samping Kezia dengan tangan yang sudah bergerak ke sana kemari. Penyatuan bersama Kezia selalu menjadi candu baginya.
“Sayang, nanti kamu terlambat…” Kezia mendorong tubuh Arland perlahan.
“Perusahaan aku ini, boleh dong telat dikit…” sahutnya seraya mengedipkan mata kananya dengan genit.
Kezia hanya bisa pasrah. Mana bisa ia menolak setiap sentuhan dan kecupan hangat Arland yang terasa bagai candu pula baginya. Dalam beberapa saat hanya gerakan selimut yang menutup tubuh polos keduanya di sertai lenguhan penuh kenikmatan.
****
“Aku masuk dulu ya sayang. Jangan lupa sarapannya di habisin.” ujar Kezia sesaat setelah mengecup punggung tangan suaminya.
“Iyaa, sayang… Kabarin aku kalo ada apa-apa…” sahut Arland yang dengan segera mengecup kening Kezia.
__ADS_1
“Hem… Bye…” dengan segera Kezia turun dari mobil dan melambaikan tangannya.
Ia berjalan dengan cepat memasuki rumah sakit. Sementara Arland masih memandangi punggung Kezia yang semakin menjauh.
Masih terasa mimpi saat mengingat Kezia yang saat ini menjadi miliknya. Rasanya tidak ada lagi yang ia butuhkan selain menghabiskan waktu yang lama bersama istri tercintanya. “I love you zia…” lirihnya seraya tersenyum.
Entah berapa kali kalimat itu keluar dari mulutnya dalam satu hari. Perasaannya begitu bahagia tanpa tahu seperti apa ia harus menggambarkannya. Selama perjalanan menuju kantor pun, Arland senyum-senyum sendiri. Mengingat setiap waktu yang ia habiskan bersama Kezia yang selalu penuh kesan.
Sampai di ruangannya, Rana sudah menunggu Kezia.
“Pagi kak, udah lama?” sapa Kezia yang langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa.
“Pagii.. belom kok. Kenapa gag semangat gitu?” Rana duduk di samping Kezia yang tengah memijat-mijat pangkal hidungnya.
“Kepala aku agak pusing. Bawaannya ngantuk mulu…” sahut Kezia yang mulai memejamkan matanya.
“Kebanyakan lembur kamu ya key…” goda Rana dengan senyum gelinya.
“Ishhh kak rana, lembur apaan? Jam 2 siang juga aku udah di rumah.” kilah Kezia yang memang sedang tidak bersemangat.
“Lemburnya pengantin baru laahh…” Rana menyenggol lengan Kezia dengan sengaja. Kezia hanya tersipu karena tebakan Rana memang benar. “Gag usah malu kali, aku juga pernah ngalamin kok…” lanjut Rana yang melihat Kezia sedikit canggung.
“Kaakk, udah deh jangan di bahas…” Kezia segera beranjak dari tempatnya. Rana hanya tertawa geli melihat reaksi Kezia. “Aawww…” tiba-tiba Kezia terhuyung hingga berpegangan pada pinggiran meja kerjanya.
“Key kamu kenapa?” Rana segera berdiri dan memegangi Kezia.
“Gag tau nih, darah rendah kayaknya. Berdiri langsung pusing.” Kezia menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih terasa pening.
“Aku jadwal visit kak, kasian pasien ku nunggu.” Kezia segera mengambil jas putihnya dan mengenakannya.
“Ya udah, aku nunggu di UGD yaaa… Nanti kamu ke sana, kita ke tempat peresmian bareng.” tukas Rana, Kezia mengangguk mengiyakan.
Kezia mulai berkeliling ke ruang perawatan pasiennya dan mulai memeriksa satu per satu pasiennya dengan seksama. Sebagian besar kondisi pasiennya sangat baik. Mereka bisa mengikuti rawat jalan. Kezia menuliskan advice di masing-masing rekam medis pasiennya.
****
Selesai dengan pekerjaannya, Kezia segera menuju ruangan Rana. Rana masih memeriksa pasiennya dan Kezia menunggu di meja Rana dengan mata yang sangat mengantuk nyaris terlelap.
“Tukk tukk tukk…” Rana mengetuk beberapa kali meja kerjanya.
Kezia membuka matanya yang terasa begitu rapat. Melirik sedikit, Rana sudah berdiri di sampingnya.
“Aku tidur bentaran ya kak…” pinta Kezia yang merasa benar-benar sangat ngantuk.
Rana hanya menggelengkan kepala. Di hadapan Kezia, ia menulis beberapa catatan untuk acara peresmian rumah sakit milik Kezia.
Hingga 15 menit berlalu, Kezia masih terdengar mendengkur halus. Rana melirik jam di tangannya, sudah hampir jam 1 siang. Perutnya sudah keroncongan dan dengan terpaksa ia membangunkan Kezia.
__ADS_1
“Keyy.. Kamu gag laperr?” Rana mengusap punggung Kezia.
Mata bulat Kezia mengerjap beberapa kali dan mulai tersadar tapi sangat enggan untuk bangun.
“Enak banget kak di usapin kayak gitu…” ujar Kezia dengan suara berat.
“Kamu mau ngerjain aku?” Rana memukul lengan Kezia karena gemas.
“Iisshh kak ranaa, gag pa-pa lah sekali-kali lagian aku ngantuk bangeett…” rengek Kezia yang tidak ragu bermanja di depan Rana.
“Nih anak kenapa? Tumben gag ada jaim-jaimnya.” batin Rana yang memandangi Kezia dengan penuh tanya.
Melihat gelagat unik Kezia, Rana iseng bertanya. “Tanggal berapa sekarang key?” Kezia menarik kalender meja dan mendorongnya perlahan ke hadapan Rana.
"Hem, liat sendiri." sahutnya tanpa beranjak sedikit pun.
“Kamu udah dapet? Aku udah mau selesai loh… Biasanya kan kita mens bareng.” pancing Rana.
Reflex mata Kezia membulat sempurna. Dengan segera ia bangun dan melihat kalender yang ada di hadapannya.
Kezia menghitung angka di kalendernya. Dengan segera pandangannya teralih pada Rana. Rana tersenyum melihat ekspresi Kezia.
“Nih coba cek!” Rana menyerahkan sebuah test pack pada Kezia.
“You think what i think, kak?” Kezia membelalak melihat reaksi Rana yang begitu santai dengan senyum tenangnya.
Rana mengangguk membuat perasaan Kezia mulai tak menentu. Dengan gugup ia berjalan menuju toilet ruangan Rana dan menggunakan test pack yang kini ada di tangannya. Setelah mengambil sedikit urinnya, Kezia menunggu dengan gusar sambil mondar mandir tidak karuan. Waktu 3 menit terasa begitu lama baginya.
“Astaga!” mata Kezia membulat melihat hasil yang muncul di test pack tersebut. “Kak ranaaa!!!” teriak Kezia yang sontak membuat Rana berlari menghampirinya.
“Kenapa key?” Rana mengetuk pintu toilet dengan panik, ia khawatir Kezia terjatuh atau sebagainya.
Kezia membuka pintu. Matanya terlihat basah dan wajah pucat. Dengan tangan bergetar, ia memperlihatkan test pack yang ada di tangannya.
“Ya allah…. Keeyyy!!!” seru Rana yang dengan segera memeluk Kezia. “Selamaaatttt aku ikut bahagiaa…” lanjut Rana dengan penuh keharuan.
“Kak, aku gag salah liatkan, aku akan menjadi seorang ibuu…” lirih Kezia dengan tangis yang tak tertahan.
“Iyaaa, kamu akan menjadi seorang ibu…” Rana mengusap punggung Kezia dengan lembut. “Cepet kasih tau arland…” Rana terlihat begitu antusias.
Kezia mengangguk, dengan segera ia mengambil handphonenya. Tapi seketika itu juga ia mengurungkan niatnya.
“Kenapa?” Rana tampak penasaran.
“Aku mau ngasih dia kejutan.” cetus Kezia dengan senyum lebar. Otaknya mulai memikirkan dengan cara apa ia akan memberitahu Arland tentang kehamilannya.
“Heemm okeeyy, kalo gitu sekarang bumil ayo kita ketemu dokter syifa buat liat dede bayi. Udah itu, kita makan siang. Gimana?” tawar Rana.
__ADS_1
Dengan semangat Kezia mengangguki.
*****