My First Love Story

My First Love Story
Episode 157


__ADS_3

Malam hari, Kezia dan kedua orangtuanya sampai di tempat pernikahan. Gemerlap lampu terlihat begitu indah menghadang gelapnya malam. Orang-orang terlihat hilir mudik memastikan semua persiapan telah selesai.


Kezia tinggal di vila lain yang telah mereka sewa sementara Arland menginap di rumah Umar. Mereka segera turun dari mobil yang dikemudikan Martin. Martin melihat ke sekelilingnya untuk memastikan Kezia tidak bertemu dengan Arland.


“Sayang, kamu masih di pingit, jangan dulu ketemu arland ya dan jangan telpon-telponan terus…” tutur Martin yang mendengar selama perjalanan Arland terus menelpon putrinya.


“Emang harus segitunya ya pah?”


“Iyaa,, mamah sama papah dulu malah gag boleh keluar rumah sama sekali. Mesti diem di kamar, gag boleh ketemu, gag boleh telponan. Cuma bisa kirim pesan aja.” kenang martin yang menatap Eliana.


“Iyaa,, gag kerasa ya pah. Rasanya baru kemaren kita di pingit kayak gitu. Sekarang anak kita yang lagi di pingit.” ungkap Eliana seraya mengusap kepala Kezia.


“Iyaaa, kita udah gag muda lagi mah.” Martin terkekeh sendiri. “Ya udah, kalian turun, papah gendong sean, kasian gag usah di bangunin.” lanjut Martin seraya menggendong Sean dalam pelukannya.


Dengan cepat mereka masuk ke vila di sebrang tempat resepsi.


Di tempat lain, Arland sedang berbincang dengan Ricko. Tapi tangannya tak lepas dari handphonenya.


“Udah nyampe belom katanya?” tanya Ricko yang melihat kegundahan di wajah Arland yang akhir-akhir ini sudah menjadi pemandangan tidak aneh bagi Ricko.


Arland hanya mengangkat bahunya. Ia menaruh benda ppipih tersebut di hadapannya, lalu menyeruput kopi hitam miliknya perlahan.


“Ko, bokap lo ke sini kapan?”


“Besok.. Bareng nyokapnya sherly.” Sahut ricko. “Land, keluarga nyokap bokap lo ada yang ke sini gag?” lanjut Ricko


Arland tampak menghela nafas. “Om sama tante gue. Gue gag ada keluarga lagi selain mereka” jawabnya dengan lemas.


Hati Ricko ikut bedesir mendengar jawaban Arland. “Kata siapa lo gag punya keluarga? Bokap gue, nyokap sherly, dan gue juga keluarga lo kali…” ujar Ricko berusaha menghibur Arland.


Arland menatap Ricko dan kemudian terangguk. “Thanks ko, kalian selalu menemin gue di saat-saat butuh kehadiran keluarga.” Timpal Arland. Ia sadar benar, Ricko bukan hanya sahabatnya melainkan juga keluarganya.


Ricko hanya tersenyum, seraya menepuk-nepuk bahu Arland. “Gue ke kamar dulu. Lo jangan begadang, besok lo mungkin gag bisa tidur.” cetus Ricko dengan seringai jenakanya.


Arland hanya tersenyum. Sepeninggal Ricko, Arland melamun sendirian. Pikirannya mengingat kedua orang tuanya yang kini sudah tak ada di sampingnya. “Mih, pih, besok arland nikah…” gumamnya seraya menangkup wajahnya dengan kedua tangan. “Mamih sama papih seneng kan liat arland sekarang?” lanjutnya yang kemudian bersandar di kursi dan menatap langit-langit ruangan tersebut.


Arland menyentuh dada kirinya. Perlahan memukulnya. Ada rasa sesak yang tak bisa ia utarakan. Arland terpekik sendirian. Air mata menetes dari kedua matanya. Entahlah, ia merasa sangat sedih. Perlahan Arland menutup kedua matanya. Bayangan kedua orang tuanya datang silih bergantian mengisi kolase kenangan mereka bertiga. Arland menangis lirih. Hatinya terasa pedih mengingat kedua orangtuanya tak bisa berdiri di sampingnya di hari bahagianya. Andai saja Arland bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuanya, ia sangat ingin berterima kasih karena memberinya kesempatan untuk hidup. Walau hanya dalam mimpi, ia berharap bisa bertemu.

__ADS_1


****


 


“Mah, malem  ini zia tidur sama mamah ya… Boleh kan pah?” rengek Kezia manja.


“Iya sayang…” sahut Eliana seraya tersenyum. Martin hanya terangguk.


Makan malam kali ini, perasaan Kezia tak karuan. Ada rasa senang yang bercampur dengan kegundahan. Ia menatap layar handphonenya. Ia sudah membalas pesan Arland, namun Arland belum membalasnya. Padahal biasanya hanya selisih beberapa detik saja.


“Papah ke depan dulu. Mau liat-liat tempat resepsi besok.” pamit Martin


“Iya pah, jangan malem-malem pulangnya. Anginnya dingin banget.” timpal Eliana yang di angguki Martin sebelum berlalu.


“Sayang, kita siapin baju kamu yuk, sama perlengkapan lainnya…” ajak Eliana yang sudah bangkit dari duduknya.


“Di kamar mamah ya…”


“Iyaaa….”


Eliana dan Kezia menarik koper besar ke kamar mereka. Mereka mulai membongkar peralatan yang akan di gunakan besok.


“Belum tentu juga zia bisa tidur mah…” sahut Kezia


“Ya harus tidur dong, masa besok matanya mata panda.” ledek Eliana sambil terkekeh.


“Mah, dulu mamah gugup juga gag sih waktu mau nikah sama papah?” selidik Kezia yang mulai duduk di pinggir tempat tidur.


“Iya lah… Siapa juga yang gag gugup. Pernikahan kan gerbang kita menuju kehidupan baru.”


“Apa zia bisa ya mah, jadi istri yang baik buat arland?” Kezia menatap Eliana dengan penuh keraguan.


Eliana tersenyum mendengar pertanyaan Kezia. Ia segera duduk di samping sang putri, yang merebahkan tubuhnya dengan kepala di atas kedua pahanya.


“Sayang, menikah itu tidak mudah, tapi juga tidak sulit. Menikah tidak ada sekolahnya. Setiap pasangan memiliki pengalaman masing-masing dalam kehidupan pernikahannya. Tapi 2 hal yang sama-sama harus dimiliki oleh setiap pasangan yaitu komitmen dan cinta. Kalau kamu dan arland punya 2 hal itu, apapun masalahnya, bicarakanlah. Berkomunikasilah dengan baik dan semuanya akan selesai."


Eliana mengusap rambut kezia dengan lembut sebelum melanjutkan kalimatnya. Tidak di sangka putri kecilnya akan menjadi seorang istri. "Mamah pernah mengalami masa dimana mamah kehilangan kepercayaan sama papah, tapi mamah masih memiliki keyakinan kalau mamah cinta sama papah. Dari situ mamah belajar, berusaha memperbaiki semuanya adalah pilihan terbaik. Cinta lah yang membuat mamah bertahan. Dan kamu serta papah, adalah cintanya mamah. Maka mamah berjuang untuk kembali percaya dan membuka hati untuk papah.” Tutur Eliana seraya tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Kezia menatap wajah Eliana penuh Arti. Dalam pandangannya, wanita dihadapannya adalah wanita yang melakukan semuanya dengan penuh cinta. Dalam kondisi apapun, ia tak pernah menyerah untuk tetap mempertahankan keluarganya.


“Mah, I love you…” lirih Kezia.


Eliana menatap wajah sang putri penuh rasa haru. “I love you too nak…” balasnya.


****


Di luar vila, Martin tengah memandangi tempat putri dan menantunya kelak mengucap janji sehidup semati. Sebuah meja bundar dengan hiasan bunga berada di sana. Ia berjalan menyusuri seisi ruangan. Hingga langkahnya terhenti, saat melihat di luar vila, tempat resepsi telah di dekor dengan indahnya.


Ia membayangkan, besok anak dan menantunya akan berdiri di sana, menerima ucapan selamat dan do’a dari para tetamu. Seketika hati Martin terasa mencelos. Putri yang dulu ia gendong, ia beri susu, ia ajak bermain, akan segera menjadi milik suaminya. Mungkin ia tidak akan lagi melihat ekspresi Kezia saat merajuk meminta sesuatu padanya. Namun, seketika itu pula, ia merasakan kebahagiaan. Betapa sang putri akan hidup bersama laki-laki yang di cintainya.


“Selamat malam pah…” sapa sebuah suara berat di belakangnya.


Dengan segera Martin mengusap air mata yang meleleh tanpa permisi. Ia berbalik menatap sosok laki-laki yang ada di hadapannya.


“Eh, belum tidur land?” sahut Martin yang berusaha menyembunyikan air matanya di balik senyuman.


Arland menggeleng. “Belum pah…” sahutnya.


Mereka berjalan ke luar vila dan duduk di salah satu kursi di sana.


“Dekorasinya bagus. Kalian mengaturnya sendiri?” tanya Martin berusaha mencairkan suasana.


“Iya pah, ini pilihan zia.” Untuk pertama kalinya Arland memanggil putri Martin dengan panggilan khusus keluarganya.


Dada martin terasa menghangat. “Land, boleh papah minta sesuatu dari kamu?” Martin menatap lekat Arland yang ada di hadapannya.


“Iya pah, papah mau minta apa?”


Martin menghela nafas dalam. “Zia adalah satu-satunya milik papah. Kesayangan papah, harta papah. Papah minta, setelah kamu menjadi suaminya, tolong jangan pernah lepaskan genggaman tangan kalian. Zia mungkin masih manja, kalau marah dia akan terdiam tidak bicara sama sekali, kalau lagi dapet moodnya akan berantakan, kalau ingin sesuatu dia akan terus memikirkannya dan kalau sedang sakit, dia akan berusaha terlihat baik-baik saja. Papah minta, jangan pernah tinggalkan dia, seperti apapun kezia. Karena di balik semua sikapnya, dia sangat mencintai kamu. Papah mohon, jagalah dia selalu.” ungkap Martin dengan mata berkaca-kaca.


Arland terangguk paham. Ia mengerti benar kegundahan seorang ayah yang akan melepas putri kesayangannya. “Pah, zia adalah sumber kehidupan saya. Berharap bisa memberikan yang terbaik untuk zia adalah alasan saya berjuang dan bertahan hingga saat ini. Tidak ada alasan bagi saya untuk melepaskan kezia walau hanya sebentar. Dan izinkan saya, untuk membahagiakan dia.” sahut Arland dengan penuh keyakinan.


Martin terangguk. Ada kelegaan di lubuk hatinya. Dalam pikirannya, Arland telah berjuang melewati semuanya sendirian. Ia terpuruk tapi tak pernah menyerah. Tidak ada alasan untuk Martin tidak mempercayai Arland menjaga putrinya.


“Papah cuma punya satu putri, tapi papah harap, kalian bisa memberi papah cucu yang banyak.” tandas Martin.

__ADS_1


Arland hanya tersenyum. Betapa bahagianya hati Arland mendapatkan kepercayaan untuk menjaga wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya.


*****


__ADS_2