My First Love Story

My First Love Story
Episode 76


__ADS_3

Hampir dua minggu sudah Kezia mengikuti terapi untuk kakinya. Setiap terapi, Arland setia menemani walau terkadang Kezia menolaknya dan memintanya cukup menunggunya di kantin klinik. Namun diam-diam Arland mengikuti perkembangan kondisi Kezia dengan mengintipnya saat Kezia melakukan terapi. Setelah cukup lama terapi, terkadang saat dia tertidur, tiba-tiba ada rasa kesemutan yang menggelitik ujung kakinya, namun kemudian menghilang lagi.


Sekolah saat ini tengah mengadakkan ujian praktek dan melengkapi tugas yang kurang bagi para siswanya. Terkadang para siswapun di sibukkan dengan mencari informasi tentang universitas harapannya yang akan mereka pilih kelak dengan besar nilai yang mumpuni.


“Key, ke kantin yuk…” ajak Dena saat menghampiri Kezia di perpustakaan.


“”Hem boleh…. Udah lama juga gue gag ke kantin.” sahut Kezia seraya menutup kembali buku yang sedang di bacanya.


“Ökey, let’s go…”seru Dena sambil mendorong roda Kezia.


Tak lama mereka sampai di kantin. Suasana disana cukup ramai. Tampak Arland dan Ricko sudah lebih dulu ada di kantin. Melihat kedatangan Kezia, Arland segera menghampirinya.


“Gag bisa ya, lo duduk nunggu gitu, mesti aja nyamperin kayak magnet…” cetus Kania sambil mengerlingkan matanya.


“Gag usah rese, mending cari pacar…”sahut Arland sekali lalu merebut pegangan kursi roda Kezia dari tangan Dena.


“Sialan Lo!” seru Kania sambil mengepalkan tinjunya ke udara, namun Arland tidak memperdulikannya.


“Kamu jangan suka jail gitu sama temen-temen aku…” protes Kezia. Arland malah mencubit pipi Kezia yang gemas karena mengerucutkan bibirnya.


“Kamu mau makan apa?” Tanya Arland sambil berlutut di hadapan Kezia.


“Apa aja deh, belum tau juga mau makan apa…”


“Okey, kamu tunggu di sini aku pesen makanan dulu. Tapi, Nanti kamu aku tinggal bentar ya, aku sama Ricko belum ngambil tas, masih di kelas.” Terang Arland.


Kezia mengangguk mengiyakan. Dengan isengnya Arland mencubit hidung mancung kezia sebelum kemudian berlalu pergi meninggalkan Kezia yang kesakitan memegangi hidungnya.


“Isshh dasar iseng!!” dengus Kezia.


Kezia celingukan mencari ketiga sahabatnya. Rupanya mereka sedang memilih menu makanan langsung ke dapur kantin. Tinggallah Kezia yang duduk sendirian dengan ponsel di tangannya.


“Ehm!!!!...” Dehem seorang gadis yang datang menghampiri Kezia dengan beberapa temannya. Dia adalah Dara dengan ke empat anggota genks nakalnya. Mereka di kenal sebagai orang-orang kaya dengan gaya premannya di sekolah.


“Lo kezia kan?” tanya Dara yang berdiri dengan angkuh di hadapan Kezia.


“Iyaaa, ada apa ya?” Kezia menyambutnya dengan senyuman.


“Gimana kabar lo? Gue denger sekarang lo lumpuh ya?” tanya Dara yang menatap Kezia dari atas ke bawah dengan seringai sarkasnya.


“Seperti yang lo liat, tapi gue baik-baik aja… Ada perlu apa ya?” sahut Kezia dengan tenang.


“Gag ada apa-apa… gue cuma turut berduka cita aja…" timpal dara dengan gaya sok-nya. "Lo itu cantik, pinter, punya banyak temen, tapi sayang….. cacat!” tutur Dara dengan seringai jahat di wajahnya yang kemudian di susul gelakan tawa sahabat-sahabatnya.


Dada Kezia terasa mulai panas, ia mengepalkan tangannya, namun masih berusaha menahan amarahnya.


“Terus kalo emang sekarang gue cacat, lo mau apa? Gag nyusahin lo juga kan?” Kezia masih berusaha tenang.


“Emm.. Lo emang gag nyusahin, tapi gue gag suka liat lo yang terlalu sok menderita,sok baik, sok manis dan ngerebut semua perhatian di sekolah ini. Paham Lo!” gertak Dara dengan ekspresi wajah yang berubah mengintimidasi.

__ADS_1


“Heh, maksud lo apa ngomong kayak gitu sama sahabat gue?” seru Kania yang segera menepis tangan Dara yang tertuju pada Kezia.


“Gue gag ada urusan sama lo ya , tuan putri yang hampir bangkrut!” seru Dara dengan nada meledek.


“Heh, jaga ya tuh bacot Lo! Lo sirik kan , karena kezia cantik , pinter dan popular, gag kayak lo , udah gag cantik, otak pas-pasan, kelakuan minus lagi!” Sherly tidak kalah surut.


“Heh, ngomong apa lo barusan?!” Tiba-tiba Dara menarik rambut rambut Sherly dengan cukup keras.


“Oh rupanya lo tuli juga ya!” kilah sherly yang berusaha melepaskan tangan Dara dari rambutnya.


“Lo jangan belagu! Lo gag ada apa-apanya depan gue!” Dara mendorong tubuh Sherly dengan tangan kanannya hingga mundur beberapa langkah dan menghantam meja.


Kania dan Dena pun berusaha menahan tubuh Sherly.


“Eh sialan lo ya!” Emosi Kania mulai terpancing, ia segera menghampiri Dara dan mencengkram kerah bajunya.


Kezia tak bisa tinggal diam dan membiarkannya begitu saja karena sekarang semua perhatian kini tertuju padanya dan sahabat-sahabatnya dan ia tak mau menjadi bahan tontonan tidak mendidik bagi siswa lainnya.


“Dara urusan lo sama gue, kenapa ganggun temen-temen gue!” seru Kezia.


“Lo mau apa cewek lumpuh? Udah duduk manis aja, nonton kita… hahahha” seru Dara dengan seringai merendahkan.


“Eh elu ya, gag bisa di ajak ngomong baik-baik!” Kania mendorong tubuh Dara lumayan kuat, namun teman-temannya segera memeganginya.


“Kania udah, jangan di lawan….” Dena memegangi kania.


“Eh sialan lo anjrit!” tiba-tiba Dara menghampiri dan berniat memukul Kania dengan botol minuman yang untungnya terbuat dari plastik, namun Dena menghalanginya dan malah mengenai Dena. Walaupun bukan botol kaca, pukulan di kepala Dena cukup keras dan membuatnya terhuyung. Sherly dan Kania lebih gila membalas dan teman-teman Dara tidak tinggal diam. Perkelahian pun tak terelakan. Mereka saling menjambak rambut, memukul bahkaan menendang.


Namun tidak ada satupun yang menanggapi. Kezia menjalankan rodanya dengan kedua tangannya. Ia berusaha mengambil handphone yang tergeletak di meja untuk meminta bantuan Arland.


“Mau kemana lo cewek cacat?” tanya salah seorang teman dara yang memegangi kursi roda Kezia.


“Lo apaan sih, cepet lepasin gue!” teriak Kezia yang mulai kesal.


“Buk!” terdengar suara pukulan dari Dara yang mengenai wajah Kania, Kania pun ikut terhuyung.


“Hey kalian udah keterlaluan!” teriak Kezia. “lepasin gue ga, lepasin!” lanjutnya dengan wajah kesal.


“Mau gue lepasin, okey, gue lepasin!”


“DUK!” gadis tersebut menggulingkan  kursi roda Kezia dan Kezia pun terjatuh. Kezia telungkup dilantai. Wajah memerah karena membentur lantai.


“Key!” teriak Dena yang melihat Kezia terjatuh.


Dena ingin menghampiri Kezia tapi kepalanya masih sangat pusing, karena pukulan tadi membuat Dena hilang keseimbangan.


“Hahahha… dramatis sekali ya persahabatan kalian…” teriak Dara sambil berkacang pinggang.


“Elo ya, emang minta di ajarin!” Sherly segera mendorong Dara, tapi ternyata Dara bisa menghalaunya.

__ADS_1


Kini berbalik kerah baju Sherly yang dipegangi Dara dengan tangan mengepal hendak memukul Sherly.


“Dara berhenti, jangan pukul sherly!” teriak Kezia.


“Kenapa, lo mau nolongin temen lo? Sini lo kalo berani cewek cacat!” tantang Dara sambil meludah ke samping kirinya.


“Key jangan kesini key, jangan…” teriak Sherly yang mulai merasa sesak karena lehernya mulai terasa tercekik oleh cengkraman Dara.


Namun Kezia tidak menghiraukannya. Dengan kedua tangannya Kezia menggusur tubuhnya sendiri nyaris merangkak di lantai.


“Hahhaha… Kalian liat nik, cewek paling pinter di sekolah kita lagi atraksi!” gelak Dara dengan puas.


“Key jangan key…” Kania mencoba bangun, tapi pukulan Dara di perutnya sangat kuat dan membuatnya kesakitan, pantas saja dia dijuluki preman sekolah.


Kezia tidak menghiraukan ujaran sahabatnya. Kezia terus berusaha menggerakan tubuhnya menuju Dara. Tatapan siswa yang berada di kantin seluruhnya tertuju pada Kezia tanpa kecuali mereka merasa iba namun tidak bisa melakukan apapun. Keringat Kezia bercucuran, ada sedikit rasa kesemutan di ujung kakinya. Sejenak Kezia berhenti, karena kelelahan. Kezia berusaha mengatur nafanya yang masih memburu.


“Kenapa, lo mau nyerah? Lo mau liat temen lo gue habisin?” seru Dara dengan seringai jahatnya.


“Gue mohon jangan dara, gue mohon…” Kezia menyatukan kedua tangannya di depan dada.


“Ya udah, maju sini, tolongin sahabat resek lo ini!” sahut Dara yang tidak pernah puas.


Kezia berusaha berpegangan pada kursi yang ada di dekatnya, seperti saat dia melakukan terapi. Tapi teman Dara malah menendangnya membuat Kezia kembali terjatuh. Dara dan teman-temannya asyik tertawa terbahak-bahak.


“Kezia kamu lemah sekali, ayo bangun, jangan buat sherly merasakan pukulan dara…” rintih Kezia dalam hatinya.


Kezia segera bangkit dan menegakkan tubuhnya. Di raihnya meja yang juga tidak terlalu jauh dari tempatnya. Perlahan Kezia mulai mengangkat tubuhnya. Kakinya terasa seperti tersetrum beberapa kali, dengan meringis Kezia menahannya.


Dengan kuat Kezia mencengram kaki meja, tubuhnya semakin terangkat dan tiba-tiba saja, kakinya sudah berhasil menapak dan menopang tubuh kezia. Kakinya gemetar hebat, seperti akan tumbang kembali. Teman Dara yang sejak tadi menduduki kursi yang hendak di pakai topangan oleh Kezia, hanya bisa ternganga melihat Kezia bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Pun dara, ia hanya bisa terpaku di tempatnya, menatap tidak percaya pada Kezia.


"Key..." lirih ketiga sahabatnya nyaris bersamaan.


Perlahan Dara mengendurkan cengramannya dari kerah baju Sherly. Dengan langkah kaku, Kezia berjalan menuju Dara dan sedikit menyeret kakinya. Dia sudah tidak menghiraukan kakinya yang sakit. Dalam 4 langkah, Kezia sudah berada di hadapan Dara.


“PLAK!!!!!” Kezia menampar wajah Dara. Tidak hanya sekali, malah tiga kali. Dara reflex memegangi wajahnya.


“Sekali lagi lo berani nyentuh temen gue, urusan kita akan lebih dari ini!” Ancam kezia dengan penekanan kata-kata yang sangat jelas.


Mata Kezia merah dan berkaca-kaca. Kakinya masih gemetar hebat.


Tak berani berlama-lama, Dara dan komplotannya pun pergi meninggalkan Kezia dan sahabatnya. Arland dan Ricko yang baru datang dengan nafas terengah-engah begitu kaget saat melihat Kezia berdiri dan segera berlari menghampiri Kezia . Kezia memandangi tangannya sendiri yang terasa kebas karena menampar dara dengan sangat kuat. Tiba-tiba saja , tubuhnya terasa begitu lemas dan melayang seperti kapas. Pandangannya gelap seketika.


“BRUG!!!” Kezia terjatuh tak sadarkan diri untungnya dengan segera Arland menangkap tubuh kezia.


“Key!!” teriak sherly yang segera menghampiri Kezia yang tergolek tak berdaya.


“Ada apa ini?” Tanya Amar yang tiba-tiba datang dan memecah kerumunan. Tidak ada yang berani menjawab. Amar melihat Kezia berada di tangan Arland dan Arland hanya menatapnya tanpa tau harus melakukan apa. Pikirannya blank seketika. “Apa yang kamu lakukan, cepat bawa ke ruang guru!” teriak Amar.


Tanpa berfikir lagi, Arland segera mengangkat tubuh Kezia dan berlari membawanya ke ruang guru. Sementara Dena dan Kania, di bantu siswa lain untuk berdiri dan di antar ke ruang guru.

__ADS_1


****


__ADS_2