
Sore itu, sepulang dari keraton para siswa di berikan ke bebasan untuk pergi jalan-jalan atau bermain. Ricko dan Arland berencana akan main ke pantai untuk melepas penat. Setelah mendapat izin dari guru pembimbingnya, mereka kembali menyewa taksi online yang akan membawa mereka ke pantai.
“Kalian harus sampai sini maksimal jam 10 malam!” begitu seru guru pembimbing , meningatkan.
Ricko dan Arland menyanggupinya.
Perjalanan dimulai. Setelah Sekitar hampir satu jam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah kawasan wisata pantai. Tempatnya tidak terlalu ramai. Di tempat parkirpun hanya ada beberapa kendaraan dan sebuah bis. Ricko sudah menyewa sebuah vila di antara deretan vila sekitar kawasan pantai untuk mereka menyimpan barang-barang berharga atau beristirahat saat lelah walau mereka tidak menginap.
“Ceklek” seorang penjaga membuka pintu Vila. Setelah menyerahkan kuncinya pada Ricko, ia segera undur diri.
“Silakan Ladies… barangkali ada yang mau mandi dulu, atau ganti baju dulu, kamar kalian ada di lantai atas okey!” seru Ricko
“Yes! Thanks yang…” sambut Sherly sambil mengecup pipi kanan Ricko. Wajah Ricko terlihat sumeringah. “Yuk kita ke atas dulu..” lanjut sherly seraya menarik tangan Kezia.
Sementara menunggu para gadis siap-siap, Arland dan Ricko memilih untuk duduk-duduk di bangku yang ada di pinggir kolam renang. Beberapa cemilan dan soda ada di hadapan mereka. Makanan itu sudah di siapkan penjaga Vila sesuai pesanan Ricko.
“Gue gag nyangka walau dalam kondisi bukan liburan, lo bisa ngajak gue buat rileks dikit…” tutur Arland sambil meneguk soda dalam gelasnya.
“Yaa… kesempatan itu selalu ada Land, tinggal pinter-pinter kita manfaatinnya…” sahut Ricko seraya meneguk minumannya.
“Yaa itu lah kebebihan Lo, selalu bisa nyari peluang. Gue yakin, kedepannya Lo akan jadi penerus perusahaan yang bisa dibanggakan.” Puji Arland tulus.
“Ayolah Land,, ini gue ngajak Lo ke sini buat lepasin sedikit beban Lo. Nikmati moment ini, jangan mikir terlalu jauh… Lo butuh waktu buat diri Lo sendiri bro!” sahut Ricko sambil menepuk bahu Arland. Arland mengangguk mengiyakan.
Tak lama berselang, terdengar suara derap kaki menuruni anak tangga.
“The Girls coming…” seru Ricko sambil mengedipkan matanya pada Arland.
Mata Ricko dan Arland terbelalak saat melihat tampilan bidadari mereka. Sherly mengenakan tangtop warna putih dengan celana jeans setengah paha. Kania dan dena memakai celana kulot berwarna krem dengan baju yang memperlihatkan bahu mereka. Sementara Kezia memakai dress pantai bermotif bunga berwarna orange dengan panjang di atas lutut dan bagian bahu yang terbuka. Kezia menggulung ramburnya sembarang, namun terlihat manis.
“Yang, apa kita nikah besok aja?” Tanya Ricko yang langsung menarik tangan sherly.
“Ssttt.. pikiranmu jangan mesum yang, ini aku masih pake baju normal. Apalagi kalo pake bikini!” goda Sherly yang membuat imajinasi Ricko malah tambah berkembang.
“ Kalian kan biasanya liat kita pake seragam, liat yang seger dikit kali mumpung lagi mantai!” seru Kania sambil terkekeh.
Sementara mereka tertawa, Arland masih terpaku memperhatikan Kezia dengan tatapan kagumnya yang membuat Kezia salah tingkah dan beberapa kali mencoba memalingkan wajah dari pandangan Arland.
“Ya udah, yuk cabut! Biar keburu liat sunset.” Ajak Dena dengan semangat.
“Okeeyyy, let’s go ladies! “ Seru Ricko. Tapi sepertinya ajakan Ricko itu tidak terdengar oleh Arland. “Bro, lo mau ikut apa mau jaga vila aja?” bisik Ricko yang menyadarkan lamunan Arland. “Hahahaha…” Ricko tertawa puas melihat Arland yang gelagapan.
“Yuk cabut!” sahut Arland menyembunyikan rasa malunya.
Arland berjalan di samping kezia dengan tatapan mata yang begitu sering tertuju pada kezia. sementara Kezia pura-pura tidak menyadarinya.
****
“Key!!!” seseorang memanggil nama Kezia dari kejauhan.
“Kak Rana…” lirih Kezia yang mengenali gadis di hadapannya. “Hay kak…” seru Kezia sambil melambaikan tangan.
“Hay Gais… “ sapa Rana dengan ramah saat sudah berada di hadapan kezia.
“Kay Kak…” sambut teman-teman Kezia bersamaan.
Suasana terlihat sedikit canggung karena Rana datang bersama Tyo.
“Hay key, apa kabar?” sapa Tyo sambil tersenyum dengan mata bulat melihat wujud Kezia di hadapannya.
“Sial, gue salah pilih tempat!” dengus Ricko dalam hati.
“Hay kak, kabar baik.” Jawab Kezia dengan santai.
“Kalian kok bisa di sini juga kak?” Tanya Kania
“Iyaa,, kami juga di ajak ke sini sama panitia. Cuma bukan untuk karyawisata, melainkan hadiah karena menang olimpiade kemaren…” Rana menjeda kalimatnya dengan melirik Kezia. “Kezia juga sebenarnya di undang, cuma karena barengan sama karyawisata jadi dia gag ikut kami.” Lanjut Rana sambil tersenyum.
“Ooo gitu yaa…” sahut Dena dengan agak sinis.
“O iya, boleh gag aku pinjem Kezia bentar? Kami ada acara Exchange gift…” pinta Rana
“Tapi aku gag bawa hadiah apa-apa kak…”
“Gag masalah, aku bawa hadiah cadangan, bisa kamu pake…” terang Rana, seperti sudah mempersiapkannya.
Ada perasaan tidak enak kalau Kezia menolaknya.
“Okey ka, tapi aku cuma bisa gabung sebentar ya kak…” jawab kezia.
“Gag masalah ko key… Yuk!” ajak Rana sambil meraih tangan Kezia.
“Pergi bentar ya…” tutur Kezia kepada teman-temannya.
__ADS_1
“Okeyy… jangan lama-lama yaa…” sahut sherly.
Kezia mengangguk mengiyakan. Sekilas Kezia melirik Arland, terlihat wajah kesal terpampang di hadapannya. Kezia memberinya sebuah senyuman, namun tak lantas merubah air muka Arland.
Kezia mengikuti langkah Rana yang menarik tangannya. Mereka berjalan menuju teman-teman pejuang olimpiadenya yang sedang berkumpul. Sementara sahabat-sahabatnya mulai berjalan menuju bibir pantai dan bermain air. Ricko dan Arland masih duduk di kursi yang ada di pinggir pantai yang dilindungi payung besar. Pandangan Arland masih tertuju pada Kezia yang terus ia perhatikan dari kejauhan.
***
“Hay Gaiss… liat siapa yang gabung…” seru Rana pada teman-temannya yang sedang bersenda gurau.
Pandangan mereka langsung tertuju ke arah suara rana.
“Hay Key…” sapa mereka bersamaan.
“Hay… “ Kezia melambaikan tangannya dengan kaku.
Mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang foto-fotoan, ada yang main pasir ada juga yang sibuk makan.
“Duduk Key…” pinta Rana. Kezia duduk di samping Tyo yang sejak tadi hanya terdiam. “Aku ke Vila bentar yaa, ngambil hadiah nya…” imbuh Rana.
“Ya kak…”
Rana bergegas meninggalkan Kezia dan Tyo.
Hening mengambil alih suasana di antara Kezia dan Tyo. Keduanya terlihat canggung. Kezia teringat kata-kata Angga yang mengatakan, ucapan Kezia mungkin saja menyinggung Tyo.
“Kak..”
“Key…”
Mereka berbicara bersamaan. Keduanya tersenyum lalu saling memalingkan wajah.
“Kamu duluan key…” tutur Tyo dengan senyum yang masih terkembang di bibirnya.
“Emm… Aku mau minta maaf kak, kalo sebelumnya ada kata-kata aku yang nyinggung kakak…” terang Kezia dengan tulus.
Tyo terangguk, ia mengerti benar maksud ucapan Kezia. Ia memang merasa kecewa tapi tidak ada yang salah dengan pilihan Kezia. Mungkin mereka memang tidak di takdirkan bersama. “Aku juga mau minta maaf, kalau aku kadang suka berlebihan sama kamu..” sahut Tyo.
Kezia tersenyum. “Iya kak… jadi kedepannya kita bisa tetap berteman kan?” Rasa canggungnya sudah mulai hilang.
“Tentu saja, kita akan selalu berteman. Baik sekarang ataupun nanti.” Sahut Tyo dengan yakin. Keduanya saling melempar senyum.
“Key, Tyo, gabung sini…” seru Rana yang sudah akan memulai acara.
“Pluk..” tiba-tiba handphone Kezia jatuh. Kezia segera mengambilnya dan..
“Sreett!” sesuatu melukai tangan Kezia dan membuatnya berdarah.
“Aw!” Kezia mengaduh saat jarinya terasa perih.
“Kenapa Key?” Tyo reflek meraih tangan Kezia yang berdarah.
“Kayaknya kena kulit kerang deh…” sahut Kezia sambil menekan jarinya yang berdarah lumayan banyak.
“Ya ampun….” tanpa di duga Tyo segera menghisapnya darah yang keluar dari jari telunjuk Kezia. Diludahkannya darah Kezia yang ada di mulut Tyo, kemudian di hisapnya kembali jari Kezia.
Tapi tiba-tiba..
“Buk!!!” seseorang mendorong tubuh Tyo dan mendaratkan pukulan tepat di pipi kanan Tyo.
Tyo terjatuh terlentang. Arland segera menghampiri Tyo dan mengangkat kerah bajunya hendak memukul Tyo kembali.
“Arland , berhenti!” seru Kezia yng berusahan melepaskan cengkraman tangan Arland dari Tyo.
“Bro, udah bro!” seru Ricko yang berada di belakang Arland. Semua mata tertuju pada Arland dan Tyo.
“Jangan Lo berani deketin kezia lagi, ato lo bakal tau akibatnya!” ancam Arland sambil mendorong tubuh Tyo hingga kembali jatuh telentang.
“Arland, kamu apa-apaan sih!” Kezia segera menghampiri Tyo dan membantunya berdiri. “kakak gag apa-apa kan?” Tanya Kezia seraya meraih tangan Tyo yang tidak berdaya. Tyo hanya menggeleng. Terlihat lelehan darah keluar dari sela bibir Tyo. “Ya ampun…” Kezia segara mengeluarkan tissue dari tasnya, lalu mengusap bibir Tyo.
Arland merasa jengah dengan pemandangan yang dilihatnya, ia kembali mengencangkan kepalannya dan rahangnya mulai mengeras.
“Ikut Aku!” seru Arland sambil menarik paksa tangan Kezia.
“Arland, berhenti. Kamu kenapa sih?” teriak Kezia. Tapi Arland tidak berhenti malah mempercepat langkahnya. “Arland, lepasin Aku!” teriak Kezia sambil mengibaskan tangan Arland.
Langkah Arland terhenti. Dilepaskannya tangan Kezia dengan kasar. Kezia memegangi pergelangan tangan kirinya yang terasa lumayan sakit karena cengkaram Arland.
“Oh, kamu lebih suka laki-laki itu memegang dan mencium tangan kamu, gitu?! Iya?!” seru Arland dengan nada tinggi.
“Plak!” tanpa sadar Kezia menampar pipi Arland.
__ADS_1
“Semurahan itu aku di mata kamu hah?!” teriak Kezia dengan air mata mengalir di pipinya.
Kezia segera berlari meninggalkan Arland. Sementara Ketiga sahabatnya yang melihat kejadian itu segera menghampiri kezia.
“Shit!” Dengus Arland menonjokan tangannya ke udara.
“Wah Lo kebangetan bro…” tutur Ricko.
Arland mengacak-acak rambutnya frustasi.
“Sial! Kenapa gue harus ngomong kayak gitu!” batin Arland.
Dilihatnya Kezia yang sedang menangis di pelukan Kania. Ricko berjalan menghampiri Kezia, dan mengajak para gadis untuk masuk ke vila. Sementara Arland masih berdiri mematung, melihat gadis yang dicintainya pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun. Arland menyesal, ya sangat menyesal.
****
Kezia segera lari ke kamarnya saat tiba di vila. Dena dan kedua sahabatnya mengekorinya. Kezia duduk di pinggiran tempat tidur dengan air mata yang masih berurai.
“Key… Gue tau arland kelewatan, dan lo pantes kok buat marah. Tapi jangan nangis terus kayak gini… gue gag bisa liat sahabat gue kayak gini…” lirih Kania yang memeluk Kezia dari samping.
“Iya key… Gue jadi ikut sedih gini…” tambah Dena sambil terduduk di lantai menghadap Kezia. Digenggamnya tangan Kezia dengan erat.
“Gue yakin itu cuma salah paham, dan gag seharunya sampe kayak gini…” Sherly ikut duduk di samping Kania.
Kezia menyeka air matanya. Setelah menangis perasaannya jadi sedikit lebih lega. Tak lama, Arland muncul di mulut pintu kamar Kezia bersama Ricko. Sherly segera menoleh. Ricko mengedipkan matanya ke arah Sherly dan Sherly mengerti maksudnya. Sherly berbisik di telinga Kania dan mengajaknya keluar.
“Key, kayaknya kalian perlu bicara, gue keluar dulu…” tutur Kania melepaskan pelukannya. Kezia masih terdiam.
Satu per satu sahabatnya keluar dari kamar Kezia dengan lirikan kesal pada Arland.
Arland memberanikan diri untuk menghampiri Kezia. Ia duduk di tempat Dena berada tadi.
“Key…” lirih Arland sambil menatap Kezia yang tertunduk. “Aku minta maaf, harusnya aku gag ngomong kayak tadi….” Lanjutnya.
Kezia mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki di hadapannya. “Bukan cuma omongan kamu doang yang nyakitin, kelakuan kamu juga minus!” sahut Kezia dengan kesal.
“Key, aku cuma gag suka Tyo ganggu kamu, megang-megang kamu dan…”
“Masalahnya bukan di kak yyo. Tapi di isi kepala kamu!” Kezia memotong pembicaraan Arland. “Emang kamu fikir tadi itu Kak Tyo ngapain hah, ngapain?!” gertak Kezia masih dengan suara kesal.
“ Ya diaa…” Arland tidak sanggup mengatakannya, Karena emosinya kembali terpancing saat mengingat kejadian tadi.
“Yaa itu lah pikiran kamu, sangat negative!” seru kezia. “Kamu tau, tadi itu kak tyo nolongin aku karena tangan aku luka kena cangkang kerang. Tapi kamu malah seenaknya datang dan mukul Dia. Kamu kelewatan land!” terang Kezia masih dalam keadaan emosi.
“Astaga!!!” dengus Arland sambil mengacak rambutnya frustasi. Arland segera mengambil tangan Kezia dan terlihat ada luka terbuka yang cukup lebar di sana.
“Lepas! Aku bisa ngurus diriku sendiri!” Dengan segera Kezia mengibaskan tangan Arland.
“Tapi key… Okey, kamu boleh marah karena aku memang salah. Tapi aku mohon, biarin aku bantu obatin luka kamu…” Arland memohon dengan sangat. Raut wajah sangarnya berubah menjadi raut wajah anak kecil yang memohon pengampunan. Sangat polos. “Aku mohon ya key… setelah itu kamu mau maki aku, atau mau pukul aku lagi juga boleh.” Lanjut Arland sengan wajah memelasnya.
Kezia hanya terdiam, tidak menolak ataupun mengiyakan ucapan Arland. Ia masih merasa kesal pada tingkah kekanakan Arland.
Melihat Kezia yang hanya terdiam, ia segera mengambil inisiatif. “Tunggu bentar.” Tutur Arland sambil berjalan keluar kamar. Arland segara menuju dapur dan mengambil mangkuk kecil.
“Lo mau ngapain bro?” Tanya Ricko yang sejak tadi memperhatikan tingkah Arland.
“Bro ada kotak P3K gag, tangan kezia luka.” Seru Arland sambil mengambil air dari dispender.
“Ada, tuh!” tunjuk Ricko dengan santai. Ricko tersenyum geli melihat kelakuan Arland yang panik karena tangan Kezia terluka, padahal biasanya sahabatnya ini sangat acuh pada siapapun dan hal apapun.
Arland segera mengambil kotak obat yang ada di lemari. Dan segera kembali ke samping Kezia. Ketiga sahabat Kezia yang melihat kejadian itu pun berusaha menahan tawa.
“Aku bersihin sebentar ya…” tutur Arland sambil meraih tangan Kezia. Kezia hanya terdiam.
Arland mulai membersihkan luka Kezia dengan kasa yang telah di basahi air hangat. Arland menekan luka kezia takut ada sisa kulit kerang yang tertinggal. Sesekali dia meniupnya saat terdengar Kezia sedikit meringis. Setelah cukup bersih, Arland memberiikan obat anti infeksi cair di atas lukanya lalu menutupnya dengan kasa tipis dan mengikatnya berbentuk Pita.
“Selesaii..” tutur Arland sambil tersenyum. Kezia masih tak bergeming, namun dalam hatinya ia tersenyum melihat ikatan pita yang ada di jarinya.
“Lain kali, jangan sampai terluka lagi. Kalau tidak, aku akan menghancurkan segala hal yang membuat kamu luka.” Tutur Arland sambil mengenggam tangan Kezia.
“Lain kali, berfikirlah sebelum bertindak, atau kamu akan menyesal.” Kezia menimpali.
“Baik lah, apa kamu masih mukul aku?” Tanya Arland sambil memukulkan tangan kiri Kezia ke dadanya.
“Apa pipi kamu masih terasa sakit?” Tanya kezia sambil mengusap pipi Arland. Arland menggelengkan kepalanya.
“Maafkan aku…” lirih Arland yang tiba-tiba menempelkan keningnya di kening Kezia. Kezia mengangguk perlahan.
Entah mengapa, kelakuan Arland ini menjadi hal baru yang membuat Kezia nyaman. Pertemuan kening mereka, hah Gila! Begitu pikir Kezia.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan koment nya yaaa...
happy reading