My First Love Story

My First Love Story
Episode 115


__ADS_3

“Schnucki.... schnucki...” suara Angga merdu mendayu mengusik Kezia yang tengah terlelap. Ia membelai rambut Kezia yang menutupi sebagian wajah cantiknya. Semalaman Kezia tertidur dengan menelungkup di kursi sebelah  tempat tidur Angga.


Kezia segera membuka matanya saat merasakan usapan lembut Angga di kepala dan wajahnya.


“Selamat pagi schnucki...” sapa Angga seraya tersenyum.


“Pagi kak. Ya ampun aku ketiduran...” Kezia mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Di belakangnya sudah ada meja yang terisi makanan untuk sarapan Angga. "Kakak mau sarapan?" tawarnya dengan cepat.


Angga hanya menggeleng. Ia masih memandangi wajah Kezia yang terlihat cantik walau baru bangun tidur. “Tenanglah schnucki, aku belum terlalu lapar tapi aku ingin ke kamar mandi, kamu bisa membantuku?”


“Tentu. Tapi infusan kakak udah mau habis. Aku minta perawat dulu buat lepas infusannya dulu supaya lebih leluasa.” Kezia memijit tombol ke ruang perawat dan tidak lama seorang perawat datang. Ia sudah membawa peralatannya, sepertinya ia tahu maksud Kezia memanggilnya.


Angga tampak meringis saat jarum infusan itu di cabut berganti dengan plester putih menutupi bekas lukanya.


Kezia memapah Angga ke kamar mandi dan mendudukannya di toilet.


“Aku tunggu di luar, kalau perlu apa-apa, kakak panggil aku.” Ujar Kezia. Angga mengangguk mengiyakan.


Tidak terlalu lama Angga berada di toilet. Ia pun keluar dengan sendirinya. Langkahnya masih tergopoh-gopoh dengan segera Kezia meraih tangan dan membantunya duduk di sofa.


“Kenapa gag panggil aku?”


“Aku bisa kok kalo jalan dikit doang.”


“Kakak mau sarapan?” tawar Kezia.


Angga mengiyakan. Kezia segera mengambil sarapan Angga dan di tempatkan di dekatnya. Satu sendok pertama Kezia suapkan ke mulut Angga dan dengan senang hati Angga membuka mulutnya.


“Sarapannya enak, aku suka...” aku Angga.


“Nanti di rumah aku masakin ini buat kakak...”


“O iya, kapan kamu mulai masuk kerja?” Angga menatap kezia dengan serius. “Aku udah pernah janji akan mendampingimu wisuda dan mengantarmu di hari kerja pertama. Aku udah gag sabar.” lanjut Angga dengan semangat.


“Mungkin lusa kak...” tutur Kezia dengan ragu.


“Rumah sakit mana?”


“Rumah sakit ini...”


“Akhirnyaaa... Schnucki ku akan mulai bekerja. Kamu pasti terlihat sangat cantik saat memakai jas dokter lengkap dengan name tagnya.” Angga tersenyum sendiri membayangkan Kezia yang ada dipikirannya.


Kezia hanya terpaku seraya tersenyum. Rasanya dirinyalah yang lebih bahagia karena bisa melihat Angga kembali tersenyum.


“Kakak habisin dulu makannya yaa... Udah ini minum obat.” timpal Kezia dan Angga mengangguk dengan semangat.


“Selamat pagi...” sapa dokter Albert dari mulut pintu.


“Pagi dok...” sahut Angga.


“Wah tuan ryan sepertinya sudah lebih segar. Bisa saya periksa sebentar?”


“Tentu dok!”

__ADS_1


Dengan semangat Angga berjalan sendiri ke tempat tidurnya kemudian berbaring.


Dokter Albert mulai memeriksa Angga dan tampak tersenyum.


“Apa saya bisa pulang dok?”


“Yaa tentu... Dokter kezia bisa merawat anda di rumah.” sahut dokter Albert seraya melirik Kezia.


“Terima kasih dok...” terlihat jelas wajah Angga yang begitu bahagia hanya karena mendengar bisa pulang. Sementara Kezia masih dengan kekhawatirannya yang tidak bisa ia ungkapkan.


*****


 


“Dadaaa.... dada udah pulang...” seru Sean yang melonjak kecil menyambut kedatangan Angga.


Segera ia menghambur ke pelukan Angga dan memeluknya dengan erat.


“Sean, dada masih sakit. Jangan membuatnya lelah...” tutur Indira sambil meraih tubuh Sean yang menempel pada Angga.


“Nggak kak, aku baik-baik aja kok...” sahut Angga seraya menggendong jagoan kesayangannya. “Apa kamu merindukan dada?” tanya Angga seraya mengusap pucuk kepala Sean.


“Tentu! Dada jangan sakit lagii, nanti sean juga sakit.” rengek Sean yang begitu menggemaskan.


“Dua hari ini sean gag mau makan, nunggu kamu pulang nak...” Anna menimpali dengan mata berkaca-kaca.


“Sean jangan sakit.. Kalau sean sakit, siapa yang nanti jagain Mima buat dada...” lirih Angga sambil tersenyum.


“Ya udah, sean mau makan sekarang bareng dada dan mima.” Sean segera turun dari gendongan Angga dan menarik tangan keduanya kuat-kuat.


“Soalnya mamih galak!” sahut Sean seraya menjulurkan lidahnya pada indira. Mereka tertawa mendengar jawaban polos Sean.


“Lain kali, baik-baik sama anak sendiri kak...” Angga menepuk bahu Indira dengan santai.


“Menyebalkan! “ dengus Indira yang tersenyum kemudian.


Kezia dan Angga segera menuju ruang makan karena Sean terus menariknya.


Sementara itu, Anna memandangi mereka dari kejauhan. Tanpa terasa buliran bening itu menetes di pelupuk matanya.


“Mamah kenapa?” tanya Indira.


Tiba-tiba saja Anna terisak.  Indira segera memeluknya seraya mengusap punggung Anna berusaha menenangkan.


“Apa mamah bisa melihat angga bersama istri dan anaknya kelak?” lirih Anna.


“Sstt... Mamah jangan mikir yang macam-macam... Saat ini angga membutukan support dan do’a kita. Mamah harus kuat...” Indira mencoba mengingatkan walau perasaannya sendiri belum tenang.


Anna segera menghapus air matanya. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Berkali-kali Anna melakukannya tapi nyatanya tidak lantas membuat perasaannya tenang. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, ia tak tega melihat putra kesayangannya menanggung sakit yang begitu berat.


****


Teras belakang menjadi tempat Angga menikmati sorenya. Ia duduk bersila di sofa dengan laptop menyala di pangkuannya. Jemarinya tampak sibuk menekan keyboards menjalin kata di layar perseginya. Kezia membawakan selimut dan memakaikannya pada angga. Salju yang terus turun dan membuat udara semakin dingin walau di hadapan mereka ada tungku perapian. Di taruhnya sepiring kue dan segelas susu yang Kezia buat sendiri.

__ADS_1


“Terima kasih schnucki...” lirih Angga seraya tersenyum menatap Kezia.


Kezia membalasnya dengan senyuman. Ia mengambil tempat di samping Angga dan sedikit menyelidik pekerjaan yang membuat Angga mengerutkan dahinya.


“Kakak lagi ngerjain apa, serius banget...”


“Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan...” sahut Angga sekali lalu menatap Kezia. Walau belum pulih benar, Angga tetap terlihat bersemangat.


“Kak, ada yang ingin aku bicarakan...” tutur Kezia dengan serius. Angga mengakhiri aktivitasnya lalu menutup laptopnya dan berbalik menghadap Kezia.


“Katakan...” kali ini Angga yang menatap Kezia dengan lekat.


“Ada seseorang yang bersedia mendonorkan sumsum nya untuk kakak. Tapi, ” Kezia menarik nafas dalam –dalam sebelum meneruskan kalimatnya. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri karena merasa mulai ragu.


“Tapi apa?” timpal Angga.


“Sebagai syarat, dia meminta kakak untuk menjadikan dia istrinya.” Kezia menggenapkan kalimatnya.


“Apa dia cellina ?” terka Angga. Kezia tersentak di tempatnya, bagaimana mungkin Angga mengetahuinya. “Aku tidak mau!” tegas Angga.


“Tapi kak, ini kesempatan yang baik. Kakak bisa melakukan operasi dan memiliki istri yang mencintai kakak...” bujuk Kezia


“Cinta macam yang meminta syarat kayak gitu? Lagi pula aku gag cinta sama cellina!” tentang Angga yang terlihat marah.


“Tapi kak, dulu kalian pernah saling cinta dan kakak bisa belajar mencintainya setelah kakak menikahinya.”


"Kenapa kamu terus memaksaku, aku gag mencintainya!" kali ini suara Angga terdengar lebih keras. Ia beranjak dari tempat duduknya dengan tangan mengepal.


"Karena aku mau kakak tetap hidup!" seru Kezia tidak kalah keras. Air mata yang sejak beberapa saat lalu di tahannya kali ini tumpah begitu saja. Ia berjalan mendekat Angga dan menatapnya dengan lekat. "Aku gag bisa ngeliat kakak kesakitan. Aku gag bisa ngeliat kakak mengatakan semuanya baik-baik saja dan aku gag bisa diam saja seraya mengulur waktu tanpa usaha apa-apa. Aku gag bisa kehilangan kakak. Aku gag bisa..." Kezia terisak di akhir kalimatnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kalimat yang ia coba tahan menguap begitu saja.


"Kamu memikirkan hidupku tapi kamu tidak memikirkan perasaanku key." suara Angga terdengar bergetar, membuat Kezia kembali menatapnya sendu.


“I love you, kata-kata yang begitu sulit aku ungkapkan bukan tertuju pada orang lain, itu untuk kamu." nafas Kezia tercekat mendengar potongan kalimat itu dari mulut Angga. Netra pekat itu begitu yakin menatapnya. Rasanya ia tidak salah dengar hanya saja masih tidak percaya.


Angga meraih tangan Kezia dan menatapnya dengan lekat. "Bukan pada orang lain dan tidak akan pernah ada orang lain. Kamu memintaku menikahi wanita ular itu supaya aku bisa hidup lebih lama, apa sebahagia itu kamu melihat aku hidup tapi dalam keadaan tersiksa, hah?! Jawab Aku!” Angga kembali meninggikan suaranya. Mata sendu itu kini terlihat merah dan berair.


Kezia hanya terdiam dengan sudut mata yang masih menyimpan buliran bening.


“Aku gag butuh operasi, aku gag butuh cellina dan aku gag butuh semua pemgobatan. Aku tidak butuh waktu yang lama untuk hidup, aku hanya butuh kamu tahu perasaanku. Kamu mengerti perasaanku. Jika itu hanya satu hari, satu jam atau bahkan satu menit, cukup kamu ada di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Sekali saja aku ingin egois, sekali saja aku ingin memaksa kamu. Jika kamu memang tidak akan pernah bisa mencintaiku, berpura-puralah sebentar saja. Temani aku menghabiskan waktuku tanpa rasa sesal. Aku mohon.....” ungkap Angga. Rasanya ia sudah tidak peduli dengan perasaan Kezia. Ya, sekali ini saja ia ingin egois, membuat kezia mendengarkan semua isi hatinya yang bertahun-tahun ia simpan.


Kezia tersenyum kelu, ia tak pernah menyangka Angga menyimpan perasaan untuknya. Katakan saja ia tidak peka atau lebih jahat lagi ia tidak mengerti perasaan Angga. Ia sendiri tidak habis pikir dengan apa yang di dengarnya dan lebih tidak habis pikir dengan perasaannya sendiri.


Berpura-pura, bisakah ia melakukannya?


Kezia mengusap wajahnya kasar. Ia menghela nafas panjang sesaat sebelum kembali menatap Angga yang tertunduk di hadapannya. “Sejak kapan?”


“Aku nggak tau. Yang aku tau, kamu selalu ada di pikiran dan hati aku setiap hari...” jawab Angga yang mulai melemahkan suaranya. Benar, Angga sendiri tidak pernah tau sejak kapan ia mulai berharap hanya Kezia yang akan mengisi hatinya. Dan entah sejak kapan ia merasa kalau hatinya hanya akan berlabuh di satu orang, ya gadis yang sedang menatapnya penuh tanya.


Kezia menyeka air matanya. Laki-laki yang ada dihadapannya yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, ternyata mencintainya sebagai seorang wanita, bukan sebagai adiknya. Kezia masih sangat bimbang. Ia belum bisa memutuskan harus seperti apa.


Ditatapnya wajah pucat Angga dengan sekelumit  perasaan yang tidak  menentu. Ia masih perlu berfikir. Ia tidak ingin salah melangkah.


“Udah malem, kakak istirahat dulu. Angin malam sangat tidak baik.” tutur Kezia sambil membereskan laptop Angga tanpa memandang Angga sedikitpun.

__ADS_1


Angga tak menyahuti, ia membiarkan waktu yang berharga baginya berlalu begitu saja. Suasana terasa menjadi sangat canggung di antara semilir angin malam yang meremangkan bulu kuduk..


****


__ADS_2