My First Love Story

My First Love Story
Episode 86


__ADS_3

Hari ini, adalah hari perpisahan siswa kelas 3 di sekolah Kezia. Pagi-pagi Kania, Sherly dan Dena sudah sampai di sekolah dengan memakai kebaya pilihan mereka. Semua siswa tampak berbahagia, kecuali ketiga sahabat Kezia.


“Gue kok rasanya malah pengen nangis yaa?” cetus Dena yang sejak tadi memintal-minta tissue yang ada di tangannya.


“Harusnya hari ini kita happy-happy, ketawa-ketawa…” sambung Kania yang ikut terbawa perasaan.


Mereka tengah duduk di aula menunggu acara perpisahan di mulai. Siswa lain yang juga sudah sampai tampak asyik berfoto dan mempostingnya di media sosial.


Tak lama berselang, Ricko datang bersama Arland. Ricko memakai jas rapi, memperlihatkan kharismanya sebagai Tuan muda dari keluarga kaya raya. Sementara Arland berjalan di belakangnya dengan wajah yang dingin dan tidak bersahabat, namun tetap terlihat tampan. Mereka bergabung dengan Sherly dan kedua sahabatnya.


Acara perpisahan pun di mulai. Kepala sekolah memberikan sambutan dan hanya lewat begitu saja karena masing-masing sibuk dengan pikirannya, seolah nyawa mereka tidak berada di sana.


“Baik hadirin yang berbahagia, tibalah kita untuk mengumumkan daftar siswa terbaik dan peraih Nilai UN tertinggi tahun ini.” Seketika suasana hening. “Peraih nilai tertinggi ketiga adalah Andini saputri dari kelas ipa 3.” Para siswa bertepuk tangan. Terlihat seorang gadis naik ke atas panggung. “Peraih nilai tertinggi kedua adalah, Arland Ardiansyah putra dari kelas IPS 1.”


“Bro, keren lo bro! selamat ya..!” ujar Ricko sambil memeluk Arland. Namun Arland tak bergeming. “Buruan naik ke panggung!” lanjut Ricko setengah menarik tangan Arland.


Arland mengikuti permintaan Ricko. Dengan malas ia menuju panggung dan berdiri di samping Andini. Raut wajahnya tak berubah, tetap dingin.


“Dia udah kayak mayat hidup yang…” lirih Ricko yang prihatin melihat kehidupan sahabatnya berubah begitu drastis.


“Kamu sahabat dia satu-satunya, kamu harus terus semangatin dia…” sahut Sherly sambil mengusap pipi Ricko yang terlihat begitu sedih.


Ricko meraih tangan sherly dan menciumnya dengan lembut.


“Dan peraih nilai tertinggi pertama tahun ini adalah…. Kezia Artiandinia Fashia..” tutup sang MC yang kemudian bertepuk tangan.


Arland terhenyak, Matanya melihat ke sekeliling ruangan. Ia berharap, Kezia akan datang dari pintu masuk dan berjalan ke arahnya, sayangnya harapan Arland tidak akan pernah terjadi.


“Wah gimana ini, siapa yang kedepan?” Tanya Dena yang celingukan.


Tampak seseorang berdiri dan berjalan ke arah panggung.


“Itu kan tante eliana…” cetus Sherly.


Semua mata tertuju pada Eliana. Dia berjalan dengan anggun dan berdiri di samping Arland.


“Tante …” sapa Arland yang refleks meraih tangan Eliana dan menciumnya.

__ADS_1


Hati Eliana berdesir. Ada rasa bersalah yang terselip di hatinya saat ia bertemu pandang dengan Arland. Eliana mengusap perlahan kepala Arland seraya tersenyum. Kepala sekolah segera memberikan hadiah kepada juara 1,2 dan 3, lalu mempersilakan mereka kembali duduk.


Arland mengekori Eliana yang berjalan keluar gedung. Eliana menyadari bahwa Arland ada dibelakangnya. Langkahnya terhenti kemudian berbalik. Wajah Arland terlihat sangat sendu. Ingin sekali Eliana memeluk Arland dan mengucapkan maaf, tapi ia tak bisa melakukannya.


“Tante maaf kalau saya lancang, saya hanya ingin bertanya apa kezia pergi atas keinginanya sendiri?”


Arland memberanikan diri memulai pembicaraan dengan menatap tajam Eliana. Eliana menarik nafas dalam dan perlahan menghembuskannya. Terbersit rasa bersalah di dada Eliana melihat laki-laki tampan yang kini seperti tidak memiliki semangat hidup.


“Nak arland, keputusan yang diambil kezia, sudah dia pertimbangkan dengan matang. Nak arland jaga diri baik-baik. Itu harapan kezia untuk nak arland…” jawab Eliana dengan tenang.


Arland hanya tertunduk. Dia tidak bisa menahan laju air matanya. Hatinya masih belum kuat menerima kenyataan bahwa Kezia benar-benar pergi meninggalkannya. Arland memalingkan wajahnya dari Eliana, berusaha menyembunyikan tetesan air mata yang tak bisa d tahannya. Ia memijit pangkal hidungnya yang terasa pening.


Arland mengambil handphone dari saku jas nya, mencoba menghubungi Kezia namun tidak tersambung.


“Key, apa semuanya memang sudah berakhir…”  lirih Arland dengan tangis di dada.


Eliana hanya mematung, menatap Arland yang begitu rapuh dihadapannya. Dengan segera ia meninggalkan Arland seorang diri.


****


Satu jam perjalanan, cukup membuat Kezia takjub dengan pemandangan kota Heidelberg. Bangunan klasik menjulang dengan arsitektur indah. Tata kota yang rapi dan resik dan udara yang masih bersih, membuat paru-paru Kezia bisa mengembang dengan leluasa.


“Iyaa,, kamu mau kuliah disana?” tanya Angga seraya menatap Kezia yang sedang terpesona. Hendra melambatkan laju kendaraannya, agar Kezia bisa lebih lama melihat bangunan yang ada di samping kanannya. Tak hanya Kezia, Rana pun dibuat perperangah melihat bangunan megah dihadapannya.


“Apa aku bisa masuk ke sana?” Kezia tampak ragu.


“Apa yang tidak bisa kalau kamu berusaha…” sahut Angga. Kezia mengalihkan pandangannya pada  Angga. Angga menatapnya seraya tersenyum.


Sejak Awal Kezia memang bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Tapi dia tidak pernah berfikir kalau dia akan kuliah kedokteran di luar negri dan itu Jerman, negara dengan banyak universitas unggulan dunia. Saat Ia tahu akan berkuliah di Jerman, salah satu universitas yang sering dia googling adalah Universitas Ruprecht Karl Heidelberg ini. Namun karena sulitnya masuk ke universitas ini, Kezia sempat mengurungkan niatnya dan mungkin akan memilih universitas lain sebagai alternative.


“Kak, apa beasiswaku juga bisa digunakan untuk kuliah di sini?” Kezia memikirkan berapa besar biaya yang harus dia keluarkan jika tanpa beasiswa.


“Tentu saja, tapi kamu tetap harus melewati test masuk universitas untuk calon mahasiswa asing.” Terang Angga.


Mata kezia membulat senang. Paling tidak untuk masalah biaya, ada beasiswa yang bisa dia gunakan. Di genggamnya tangan Rana yang sedari tadi duduk disampingnya.


“Kak, kita coba ikuti test nya ya,…” seru Kezia dengan penuh semangat.

__ADS_1


Rana mengganguk setuju. Mereka berpelukan saling menyemangati.


Ada perasaan gugup tapi juga senang di dada Kezia bisa menginjakan kaki di salah satu Negara terkuat di dunia. Pikirannya mulai melayang, membayangkan jika suatu saat dia bisa kuliah di sana.


“Kalau kalian sudah yakin akan memilih universitas ini, pak hendra akan mengurus pendaftarannya…” terang Angga. Senyum lebar kembali mengembang di bibir Kezia dan Rana.


“Iya kak, terima kasih…” sambut Kezia dengan semangat.


****


Setelah menempuh perjalanan lumayan jauh, tibalah mereka di sebuah pelataran rumah yang begitu luas. Halamannya rindang dengan berbagai jenis pohon dan bunga yang di tata dengan rapi. Di bagian belakang rumah, terlihat bukit-bukit kecil yang masih kehijauan. Hendra turun lebih dulu, dan membukakan pintu untuk tuan mudanya. Disusul oleh Kezia, Rana dan Martin.


Kezia menarik nafas dalam-dalam. Merasakan udara yang begitu sejuk.


“Apa ini rumah kakak?” tanya Kezia yang masih mengagumi bangunan megah yang ada di hadapannya. Angga hanya tersenyum.


“Ayo kita masuk…” Angga berjalan di depan Kezia.


Beberapa pelayanan berdiri di depan pintu dan menyambut kedatangan sang tuan rumah. Mereka menundukkan kepala saat Angga melewatinya. Begitupun terhadap Kezia, Rana dan Martin. Mereka baru pergi setelah Angga melewati mereka.


Isi rumah begitu mewah. Rumah bercat cream dengan dekorasi bergaya eropa. Sebuah lampu besar tergantung di langit-langit ruang utama. Didepannya ada sebuah tangga yang cukup panjang yang tertutup karpet coklat keemasan, menuju ke lantai 2. Di ruang utama ada beberapa pintu, dan partisi yang memisahkan ruang utama dengan ruang keluarga dan ruang makan serta dapur yang berada di belakang.


Ada 4 kamar tamu di lantai bawah. Sepertinya Kezia perlu room tour, agar tidak tersesat di rumah ini. Para pelayanan telah menyiapkan kamar untuk Kezia, Rana dan Martin secara terpisah dan mempersilakan mereka untuk menaruh barang-barang di kamar masing-masing.


Masing-masing dari mereka menuju kamar yang telah disediakan, karena badan memang terasa begitu lelah. Sementara Angga menuju kamarnya yang berada di lantai atas dengan ditemani Hendra.


Kezia membuka pintu kamar perlahan. Matanya kembali melotot saat melihat kamar yang di tempati begitu luas dan indah, mungkin bisa sekitar dua kali lipat luas kamarnya. Kezia menutup pintu dan menyimpan kopernya di dekat pintu. Ia berjalan menuju tempat tidur dengan ranjang tipe minimalis dengan kasur yang luas dan empuk. Kezia merebahkan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit kamar yang berwarna putih dengan sebuah lampu bulat menempel di sana.


“Kamar tamu aja kayak gini, apa kabar kamar utama…” lirih Kezia. “Hah… nyaman sekali…” Kezia berguling-guling di atas tempat tidurnya.


Kezia merogoh saku coatnya dan mencari handphonenya. Tapi dia tak menemukan handphonenya. Di carinya di dalam koper, namun nihil tidak ada juga di sana. Sejenak Kezia berfikir, kapan terakhir kali ia menggunakan handphonennya.


“Di bandara…” cetus kezia sambil menjentikkan jarinya saat ia mulai ingat. “Astagaaa, jangan-jangan jatuhh lagi itu hp… duh sembarangan banget sih kamu ziaa….” Kezia merutuki dirinya sendiri. “Gimana aku hubungin temen-temen kalo kayak gini? Ceroboh, ceroboh, ceroboh!” dengus Kezia.


Sejenak pikiran Kezia teralih pada kalung yang melingkar di lehernya. Ia mengeluarkannya dari balik baju lalu menggenggamnya dengan erat. Ia memejamkan mata seraya tersenyum.


“Land, aku udah nyampe… Kenapa baru 1 hari aku udah kangen banget sama kamu?” gumamnya sambil membayangkan wajah Arland dalam pikirannya. Sejenak Kezia terhanyut dalam lamunannya, mengenang setiap kebersamaannya bersama Arland.

__ADS_1


Tak ingin terlarut lebih lama, Kezia segera menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Kezia melepas pakaiannya dan menyalakan keran untuk mengisi air dalam bath tub. Dimasukkannya beberapa tetes sabun cair dan aroma terapi. Lalu kezia merendam tubuhnya. Terasa nyaman dan rileks. Kezia menikmati prosesi mandi sambil sesekali memainkan buih yang menutupi tubuhnya. Hingga tak terasa waktu berlalu begitu saja.


****


__ADS_2