
Suara tawa terdengar dari seorang anak yang sedang berlari mengejar ayahnya. Anak yang berusia sekitar lima tahunan. Dia mengenakan baju pasien tapi sangat lincah dan semangat. Saat berhasil menangkap ayahnya, ia memeluk dan mencium ayahnya dengan gemas. Kezia ikut tersenyum melihat pemandangan tersebut.
“Kita duduk di sana yuk…” ajak Angga sambil menunjuk bangku dekat pohon cemara.
Kezia mengiyakan dan mendorong Angga menuju tempat tersebut. Mereka duduk berdampingan.
“Kak, aku ke kantin sana dulu yaaa, mau beli beberapa makanan…” tutur Kezia saat merasakan perutnya yang sedikit keroncongan.
“Pergilah, jangan lama-lama…” titah Angga.
Kezia segera menuruti dan masuk ke dalam kantin yang tertutup pintu kaca. Suasana kantin sangat bersih. Beberapa roti terpajang di etalase toko. Seorang pelayan dengan ramah menyambut kedatangan Kezia.
“Silakan mau pesan apa?” sapa pelayan wanita dengan dialek Jerman yang kental.
“Saya mau empat buah roti, dan cream soup. Air mineralnya 2.” pesan Kezia.
Pelayan tersebut segera membungkus empat buah roti yang terlihat berwarna kuning kecoklatan, sangat mengundang selera. Disiapkannya juga cream soup dan air mineral yang di masukkan kedalam paper bag. Kezia segera membayarnya dan mengambil pesanannya. Di tangan kirinya kezia memegang paper bag, dan di tangan kanannya memegang cream soup yang masih hangat. Kezia segera berbalik menuju keluar kantin.
****
“BUK!!” seseorang tak sengaja menabrak Kezia.
Laki-laki yang tersebut tampak sedang menelpon dan segera mengakhiri panggilannya sesaat setelah menabrak Kezia.
“Ya tuhan, maaf saya tidak sengaja.” Tutur laki-laki tersebut yang segera ikut berjongkok dengan kezia yang sedang mengambil makanannya yang terjatuh.
“Tidak apa-apa tuan.” Sahut Kezia sambil tersenyum dengan ramahnya.
Tangannya terkena cipratan cream soup yang terjatuh. Kezia segera mengusapnya dengan tissue dan menjilat punggung tangannya yang memerah.
Laki-laki tersebut begitu terpesona melihat senyuman Kezia. Ditatapnya Kezia lekat-lekat.
“Apa anda baik-baik saja? Saya akan mengganti makanannya yang sudah rusak.” Ujar laki-laki tersebut dengan ramah.
“Tidak apa-apa tuan.” Kezia mengulang ujarannya.
Seorang pelayan segera menghampiri Kezia dan membantu Kezia membersihkan makanan yang terjatuh. “Maaf sudah merepotkan.” Lanjut Kezia sambil mengangukkan kepala. Pelayan tersebut hanya tersenyum kemudian pergi. Laki-laki di hadapan Kezia masih belum bisa memalingkan pandangannya. “Saya permisi” pamit Kezia yang kembali ke meja kasir untuk memesan makanan yang sama.
“Tunggu, saya fritz,siapa nama anda…” tutur laki-laki tersebut seraya mengulurkan tangan. Mata birunya menatap Kezia dengan takjub.
“Kezia…” sambut Kezia membalas uluran tangan laki-laki gagah di hadapannya. Fritz menggenggam tangan Kezia dengan erat. Kezia segera menarik tangannya yang digenggam erat oleh Fritz.
“Ohh , maaf.” Fritz tersentak,
“Baik saya permisi.” Kezia segera berbalik dan memesan kembali makanan yang sama.
__ADS_1
Ternyata Fritz menghampirinya. Kezia mengeluarkan dompetnya, namun Fritz mencegah.
“Sebagai permintaan maaf, biar saya yang membayarnya…” tutur Fritz dengan tulus.
Kezia hanya mengangguk tersenyum. Setelah makanan tersedia, Kezia segera pamit dan kembali menghampiri Angga. Fritz masih mematung, melihat bahu Kezia menjauh.
“Dia gadis yang baik…” tutur pelayan toko yang sejak tadi memperhatikan ekspresi kagum Fritz. Fritz tersenyum menahan malunya.
****
“Tanganmu kenapa?” Tanya angga saat melihat tangan kezia sedikit kemerahan. Di raihnya tangan Kezia.
“Gag pa-pa kak, ini tadi kena cream soup sedikit.” Sahut Kezia sambil melepaskan genggaman tangan Angga. “Ayo kita makan cream soupnya dulu, mumpung masih hangat.” Lanjutnya. Kezia membuka tutup mangkuk cream soup, lalu mengambilnya sesendok. Karena masih panas, Kezia meniupinya dan perlahan menyuapkannya ke mulut Angga. Kezia kembali menyendoki cream soup dan memasukkannya ke mulutnya. “Eemm… enak yaa…” tutur Kezia.
Angga hanya terdiam menatap Kezia. Kezia kembali mengambil sesendok dan memasukkannya ke mulut Angga. Angga tampak tercengang.
“Apa ini ciuman pertama kita schnucki?” lirih Angga dalam hatinya. Melihat ekspresi Angga yang tak biasa, Kezia segera tersadar.
“Astaga, harusnya aku minta 2 sendok tadi, maaf kak aku lupa. Tapi aku gag lagi flu kok…” terang Kezia yang merasa bersalah karena menggunakan sendok yang sama dengan Angga.
“Gag pa-pa, aku akan baik-baik saja… ayo suapi aku lagi…” pinta Angga dengan semangat. Ia mulai mengganti panggilan dirinya sendiri. Bisakah ia mulai berharap dari perhatian tulus Kezia?
Kezia tak kalah semangat meniupi makanannya lalu menyuapkannya ke mulut Angga.
Dari kejauhan, Fritz memperhatikan Kezia dan Angga. Ada raut kecewa di wajahnya.
****
Pagi-pagi sekali Kezia sudah bangun dan pergi ke dapur menemui Sarah. Ia ingin membuatkan nasi goreng untuk sarapan. Sebenarnya dia bisa saja meminta Sarah untuk membuatkannya, tapi dia sangat merindukan mamahnya, sehingga melampiaskannya dengan membuat nasi goreng.
“Nona, saya dengar pak hendra sedang menjemput nyonya besar dan non Indira ke bandara. Mereka tiba pagi ini.” Tutur Sarah yang sedang membantu Kezia menyiapkan lauk nasi.
“Benarkah? Baiklah aku akan membuat lebih banyak nasi goreng. Supaya bisa sarapan sama-sama.” Sahut Kezia dengan semangat.
Dengan cepat Kezia menyelesaikan masakannya, lalu menghidangkannya di meja makan.
“Aku mandi dulu, nanti kita sarapan sama-sama.” Ujar Kezia sambil berlalu menuju kamarnya.
Kezia segera mandi dan merias wajahnya dengan sederhana. Bedak dan lip balm sudah cukup membuatnya terlihat lebih segar dan cantik. Dia memilih baju yang lebih formal karena ingin menyambut kedatangan Anna dan Indira.
Tak berselang lama, terdengar suara orang-orang yang sedang berbincang. Kezia segera keluar kamar dan tampaklah Anna dan Indira yang sudah masuk ke dalam rumah.
“Key!” panggil Indira dengan senangnya.
“Kak indiraaa…. Apa kabar?” Tanya kezia dengan bahasa Indonesia. Kezia memeluk Indira dengan erat.
“ Gute Nachrichten. Wie geth es dir? (Kabar baik, kamu apa kabar?)” Tanya Indira dengan bahasa Jerman. Kezia melepaskan pelukannya, lalu mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“Jangan bilang kak angga meminta kak Indira berbicara dengan bahasa Jerman saat ketemu aku?” selidik Kezia.
“Bukan Cuma memintaku, juga meminta mamah. Bahkan dia berjanji akan menghukum kami kalau kami melanggarnya…” tutur Indira seraya terkekeh. Kezia menepuk jidatnya sendiri.
“Tante apa kabar?” sapa Kezia pada anna.
Diraihnya tangan Anna dan mencium punggung tangannya dengan lembut. Anna segera memeluk Kezia.
“Kabar baik sayang, apa angga menjagamu dengan baik?” sahut Anna dengan bahasa Jerman.
“Ckckkck… kak angga ini yaa…” keluh Kezia. Anna membalasnnya dengan senyuman.
“Apa ada yang sedang membicarakanku?” ujar Angga yang baru menuruni anak tangga.
"Sayang,,, tidak ada yang membicarakanmu. Kamu apa kabar nak? “ dengan segera Anna memeluk putra kesayangannya.
“Kabar baik mah… Apa anak nakal ini mengadukanku yang tidak-tidak sama mamah?” Angga berbicara dengan sangat manja.
Ia menjulurkan lidahnya ke arah kezia. Kezia melotot kesal karena Angga mengatakan yang tidak-tidak.
“Mana mungkin gadis sebaik kezia menjelekkan anak mamah…” sahut Anna yang di sambut senyum kemenangan di wajah Kezia.
Setelah melepas rindu, Angga mengajak para wanita untuk menikmati sarapan pagi. Nasi goreng yang disajikan Kezia menjadi Favorit pengisi rumah.
“Wah pantesan kamu gemukan nak, Kezia memasakan makanan yang enak buat kamu…” seru Anna yang kembali menyendok nasi gorengnya. Angga tersenyum puas.
“Tante aku Cuma bisa masak tiga menu, gag lebih.” Tutur Kezia.
“3 menu, apa saja nak?” tante Anna mulai tertarik
“Nasi goreng, telor ceplok sama mie instan , “ terang Kezia sambil tersipu malu.
“Itu lebih mending, Indira masak air aja gosong!” sahut Anna yang di susul gelak tawa Angga.
“Okeeyy aku yang jadi objek sekarang yaa…” sindir Indira yang ikut tertawa.
“Aku mau ikut ketawa tapi takut dosa, soalnya aku juga bukan calon istri yang baik.” Kezia menimpali.
“Calon istri yang baik bukan berarti harus selalu pintar memasak key…” sahut Angga seraya tersenyum.
“Iya kah? Hahaha…” Kezia kembali tertawa dengan senangnya.
Anna dan Indira saling melirik. Anna tersenyum senang melihat Angga yang sudah berbeda jauh dengan Angga yang di kenalnya dulu. Dia bisa tertawa, tersenyum dan merajuk. Sebuah kebahagiaan yang selama ini hanya menjadi harapan keluarga wibawa.
“Terima kasih nak, sudah membawa harapan dalam hidup kami…” lirih Anna seraya memandangi Kezia yang masih tersenyum dengan cantiknya.
****
__ADS_1