
Kezia keluar dari kamar mandi dengan tubuh terbungkus handuk. Di hadapannya terlihat Arland yang tengah berada di tempat tidur dengan koran pagi di tangannya. Perhatiannya teralih saat ia mendengar suara pintu kamar mandi yang berderet terbuka. Terlihat tubuh kezia yang masih setengah basah dengan rambut digulung handuk kecil.
Arland menghampiri Kezia dengan seringai gemasnya. “Katanya lapar, kenapa malah godain aku?” bisik Arland yang memeluk Kezia dari belakang.
“Aku gag godain kok, orang aku baru selesai mandi.” sahut Kezia yang menggeliat berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Arland.
Arland hanya tersenyum. Ia begitu asyik mengecupi setiap inci leher Kezia.
“Land,, geliii…” lirih Kezia
“Sekali lagi boleh?” bisik Arland dengan suara berat.
“Tapi kita kan mau makan, aku lapeerr…”
“Hem… okey! Kali ini kamu selamat..” tutup Arland yang mengakhiri pelukannya dengan sebuah kecupan berbekas di leher Kezia.
“Laaannd….” Geram kezia yang segera menjauh dari Arland.
Kezia memperhatikan leher dan dada atasnya. Entah sudah berapa tanda kemerahan yang di buat Arland di permukaan kulitnya. Arland hanya terkekeh melihat ekspresi kesal Kezia. Rasanya hiburan tersendiri saat berhasil membuat Kezia mengeram kesal dan mengerucutkan bibirnya.
“Okey, okey.. Aku tunggu di luar aja yaa…” Arland tertawa ringan tanpa peduli kekesalan Kezia.
“Iisshh dasar ngeselin..” gerutu Kezia yang melihat Arland berlalu.
Melihat Arland yang sudah keluar kamar dengan segera Kezia memakai pakaiannya. Rambutnya yang basah segera ia keringkan. Ia ingin segera menyelesaikan rutinitasnya agar bisa segera mengisi perutnya yang keroncongan.
****
Di ruang makan, terlihat Arland tengah duduk dan menunggunya dengan beragam hidangan tersaji di sana. Kezia berlari kecil menghampiri Arland dengan wajah sumeringahnya.
“Waaahh… Banyak banget makanannya…” seru Kezia dengan mata membulat.
“Iya dong, ini sarapan pengantin, harus banyak dan bergizi.” Sahut Arland sambil menyuapkan sepotong udang sisanya pada Kezia.
“Eemm enak…”
Kezia segera mengambil tempat di samping Arland. Dengan cekatan Ia mengambil sebuah piring dan menyendok nasi dan lauk yang cukup banyak untuk Arland. Ini pertama kalinya ia melayani Arland di meja makan.
“Selamat makan suamiku..” ucapnya dengan senyum riang.
“Terima kasih istriku…” sahut Arland seraya mengecup kening Kezia sebagai bentuk terima kasih. Ia sangat bersyukur tidak hanya atas hidangan lezat di hadapannya melainkan karena ada seseorang yang berarti di sampingnya.
Kezia tersenyum manis sebagai balasan. Ia mengambil nasi untuknya, namun Arland menahannya. “Kenapa?” Kezia menghentikan kegiatannya dengan dahi berkerut.
“Makan sepiring berdua lebih enak sayang…”
“Iya gitu?”
“Cobain deh..…” Arland menyodorkan makanan di tangannya pada Kezia dan Kezia tanpa ragu melahapnya.
“Eemm iyaa beneran enak.” serunya dengan mulut penuh makanan. Arland tersenyum senang melihat ekspresi Kezia yang begitu menggemaskan baginya. “Giliran kamu, aaa….” Kezia membalas dengan memberikan suapan untuk Arland. “Enak?”
“Bangeett!” sahut Arland semangat.
Sarapan pagi ini terasa begitu nikmat dengan menu istimewa dan di temani orang istimewa bagi keduanya. Entah sarapannya memang enak atau karena mereka sudah kelaparan, yang jelas ini sarapan pertama mereka sebagai suami istri.
****
Selesai dengan sarapannya, Arland mengajak Kezia untuk berjalan-jalan di taman belakang tempat mereka mengadakan resepsi. Kondisinya kini sudah kembali bersih. Hanya ada beberapa pita yang masih tergantung melambai-lambai di ranting pohon tepi danau.
Mereka jalan bersisihan dengan tangan saling menggenggam. Saat tiba di bibir danau, langkah keduanya terhenti. Mereka bersama-sama menatap riak air danau yang terlihat begitu tenang. Sinar matahari membuatnya berkilauan. Arland memeluk tubuh Kezia dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Kezia.
Terdengar Kezia menarik nafasnya dalam-dalam dengan mata terpejam dan lengkungan senyum di bibir tipisnya.
“Cantiikk…” lirih Arland yang menatap Kezia dari samping. Ia selalu merasa kalau Kezia adalah wanita paling cantik di dunia ini dan membuatnya enggan untuk memalingkan pandangannya ke arah lain. Ia begitu menikmati setiap pahatan indah itu berubah ekspresi dengan cepat.
__ADS_1
“Aku gag pernah nyangka hari ini bisa benar-benar ada, bisa memeluk kamu, melihat riak air, merasakan udara yang sejuk dan berharap kita akan selalu bersama hingga ujung usia.” ungkap Arland dengan penuh ke sungguhan
Kezia membuka matanya saat merasa rongga dadanya terasa begitu lega terisi udara segar. Ia menoleh wajah tampan yang berjarak beberapa centi saja dari wajahnya. “Aku juga gag pernah nyangka, kalau kamu yang akan menemani hidupku, berbagi cerita bersama dan kelak melewati setiap detik dengan penuh rasa syukur. Aku bahagia land, terima kasih. ” ungkap Kezia dengan penuh kesungguhan. Tanpa terasa, bulir hangat menetes di pelupuk matanya.
Arland melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Kezia menghadapnya. “Sayang, kenapa kamu nangis?” Dengan segera Arland mengusap air mata yang membasahi pipi Kezia.
“Aku terlalu bahagia land, teramat sangat bahagia bisa bersama kamu…” aku Kezia yang menggenggam tangan Arland yang menangkup wajahnya.
Arland tersenyum, ia mengerti benar yang dirasakan Kezia karena ia pun merasakannya. “Setelah ini, kamu hanya boleh menangis karena bahagia. Aku gag akan pernah biarin kamu menangis karena alasan lain. Tetaplah di sampingku zia, karena bersama kamu aku merasa benar-benar hidup…” tutur Arland dengan penuh kesungguhan.
Kezia terangguk pelan. Entah mengapa, air matanya benar-benar tidak tertahan. Meski ia tersenyum, air mata tetap menetes begitu saja.
“Aku cinta kamu…” lirih Kezia.
Arland mengusap lembut rambut Kezia. Perlahan tangannya menyelinap ke tengkuk kezia. Dalam sekian detik, bibir keduanya berpagutan menghasilkan bunyi decapan yang membangkitkan gairah. Keduanya terlarut dalam suasana penuh keintiman.
*****
Satu bulan berlalu begitu cepat bagi Kezia dan Arland, semuanya terasa begitu indah dan hangat. Hari ini , Kezia memiliki janji untuk bertemu dengan ketiga sahabatnya di café langganan mereka. Sudah cukup lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama.
“Lo kenapa sih sher, tuh muka kayak baju kagak di setrika?" tanya Kania saat melihat ekspresi Sherly yang tidak berubah sejak ia datang.
“Bete gue! Kesel sama Ricko!” cetusnya dengan wajah menelungkup di atas meja.
“Lo berantem sama suami lo?” Kezia yang tengah mengaduk minuman di depannya dengan sedotan ikut berkomentar.
“Enggak! Gag tau kenapa udah beberapa hari males banget gue ngomong sama deket-deket ricko.” sahut Sherly yang terlihat mengangkat wajahnya yang malas.
“Lah, mana ada begitu sama suami sher! Kasian tau dia.” timpal Dena yang ikut memperhatikan.
“Sok tau lo! Married aja belum.” cetus Sherly masih dengan wajah kesal.
“Yaaa kalo setelah married hidup gue kayak lo, ya mending gue mikir-mikir dulu deh…” Dena menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sialan lo!” sengit Sherly yang di sambut tawa ketiga sahabatnya.
Sherly meraihnya. Namun terlihat hidungnya mengendus sesuatu. Di ambilnya sepotong bebek goreng yang ada di hadapannya lalu menciumnya.
“Isshh! Gag mau gue!” cetusnya yang segera mengembalikan bebek goreng tersebut ke tempatnya.
“Kenapa?!” tanya ketiga sahabatnya bersamaan. Tidak biasanya Sherly menolak makanan yang satu ini.
“Huweekkk…” tiba-tiba Sherly beranjak dari tempat duduknya, sambil menangkup mulutnya dengan tangan kanan.
“Jangan-jangan….” cetus ketiga sahabatnya yang saling bertatapan.
Tanpa melanjutkan kalimatnya Kezia dan Dena segera menyusul Sherly yang berlari ke dalam toilet.
“Sher, lo gag pa-pa kan?” Kezia segera menghampiri Sherly yang tengah tertunduk di depan wastafel. Ia memijat bahu Sherly yang semakin condong ke arah wastafel.
“Mual banget gue key, huuweekk…” keluh Sherly dengan wajah pucatnya.
“Astaga lo pucet banget sher. Kita ke rumah sakit ya…” bujuk Kezia yang mulai cemas.
Sherly hanya terdiam. Ia masih merasakan mual yang saat ini menyiksanya.
“Gue mau pulang aja pengen istirahat. Nanti gue ke rumah sakit bareng ricko aja…” sahut Sherly dengan lemas. Sarapan pagi yang hanya sedikit nyatanya keluar semua bersama cairan pengisi rongga perutnya.
Kezia dan Dena saling bertatapan, sepertinya sesuatu memang sedang terjadi pada tubuh Sherly. Mereka segera meraih tangan Sherly dan berdiri di kedua sisi tubuh Sherly.
“Ya udah, yuk kita pulang aja…” tukas Dena.
Dengan langkah perlahan mereka keluar dari toilet. Kania yang melihat kedatangan ketiga sahabatnya pun ikut cemas.
“Gimana?” tanya Kania
__ADS_1
“Pulang!” sahut Sherly.
Tanpa menunggu lama, mereka segera mengantar Sherly pulang. Sepanjang jalan, Sherly terlihat begitu lemas dan tak bertenaga. Wajah putihnya terlihat semakin pucat. Dena memberikan minyak angin untuk mengusir mual yang Sherly rasakan. Sedikit membantu memang tapi tidak mengurangi rengekan manja Sherly.
*****
“Sayaaang….” Ujar Arland saat melihat sosok cantik yang masuk ke ruang kerjanya.
“Selamat siang pak bos…” sahut Kezia yang tersenyum melihat suaminya yang tengah berjalan ke arahnya.
Sebuah kecupan mendarat di kening Kezia sebagai bentuk sambutan.
“Kok cepet banget makan siangnya?” Arland merangkul sang istri dengan hangat.
“Iya, kita buru-buru pulang, soalnya sherly gag enak badan.”
“Sherly? Kenapa dia?” Arland mengajak Kezia untuk duduk di sofa ruang kerja kantornya.
“Belum tau sih. Tapi kata kania, kemungkinan dia hamil.” cetus Kezia.
“Waaahhh cepet juga tuh ricko. Gimana kalo kita susul mereka?” Arland mendekatkan tubuhnya pada Kezia yang duduk di sampingnya. Terlihat seringai mengancam dari wajahnya.
“Nyusul kemana?” Kezia berusaha menjauh dari Arland yang semakin memepetnya.
“Kita susul bikin bayi…” bisik Arland yang dengan segera menarik tubuh Kezia hingga menimpa tubuhnya yang tengah terlentang.
“Tapi yang, ini di kantor. Kalo ada yang liat gimana?”
“Ikut aku…” Arland segera bangkit dan menarik tangan Kezia.
“Kemana?” Kezia kebingungan sendiri. Dan tanpa di sangka Arland malah menggendongnya.
Sebuah kecupan, membungkam mulut Kezia dan Arland lah pelakunya. Ia membawa Kezia ke sebuah kamar berukuran sedang yang berada di dalam ruang kerjanya. Dengan hati-hati Arland membaringkan tubuh Kezia. Ia melepas jas yang membungkus tubuhnya dan menaruhnya sembarang. Dalam hitungan menit, tubuh Arland sudah berada di atas tubuh Kezia dengan kaki dan tangan sebagai tumpuan.
Arland kembali mendarat bibirnya dengan sempurna di bibir Kezia yang disambut hangat oleh sang empunya. Ia mengalungkan tangannya di leher Arland dan mulai membalas setiap kecupan yang diberikan Arland dengan ritme yang sama. Tangan Arland mulai bergriliya masuk ke dalam dress yang digunakan Kezia dan membuatnya mendesah halus saat tangan Arland meremas lembut gundukan sintal miliknya. Gairahnya semakin bertambah seiring dengan semakin intensnya sentuhan yang diberikan Arland.
Arland melepaskan pagutannya. Seraya tersenyum ia melucuti pakaian Kezia. Kezia pun tak tinggal diam, ia membuka satu per satu kancing kemeja Arland hingga tertanggal seluruhnya.
“Come to dada baby M…” bisik Arland seraya tersenyum
“M?” Kezia mengernyitkan dahinya.
Tanpa menjawab Arland kembali mengunci mulut Kezia dengan lum*tan lembutnya, menghasilkan suara-suara halus yang memanjakan telinga. Perlahan ia mulai turun ke telinga dan leher Kezia, memberikan tanda kepemilikan di tubuh putih Kezia. Ia begitu menikmati setiap desahan yang terdengar dari sela bibir wanita yang menjadi candunya.
Arland memulai dengan sangat lembut, mengusap inti Kezia yang kini tak tertutup apapun, membuat pergerakan yang mampu merangsang gadis itu hingga merasakan basah pada kewanitaannya. Pergerakan yang menenangkan sekaligus menggairahkan.
“Aahhh… sayaangg…” lenguhan Kezia terdengar sangat indah di telinga Arland.
Kezia menggigit bibirnya sendiri, menikmati ledak-ledakan hawa panas atas setiap sentuhan yang diberikan Arland. Arland membiarkan sejenak Kezia mengatur nafasnya seraya memandangi wajah cantik yang tengah terpejam di bawahnya.
“Aku mulai ya sayang…” lirih Arland dengan lembut.
Kezia terangguk dan menyambut Arland dengan kecupan hangat. Penyatuan itupun terjadi, terasa begitu lembut dan menggairahkan. Arland bergerak dengan tempo pelan, semakin lama semakin cepat. Beberapa hentakan kuat mengguncangkan tubuh Kezia yang tengah menggeliat tak menentu. Keduanya sampai pada puncak kenikmatan yang tak bisa di jelaskan. Hingga sampai pada saatnya, Kezia meremas kuat bahu bidang Arland yang tengah terpejam merasakan ledakan kenikmatan di dalam tubuh Kezia.
Sesaat Arland menjatuhkan tubuhnya menimpa Kezia. Deru nafas yang keluar dari bibir Arland sangat nyaring terdengar di telinga Kezia. Sesekali ia pun merasakan kecupan hangat di lehernya yang terasa begitu nikmat.
“Kamu suka sayang?” bisik Arland dengan nafas yang masih terengah.
“Suka….” Sahut kezia yang mulai membuka matanya.
Arland tersenyum, entah mengapa ia selalu suka memandangi wajah Kezia saat klimaks dan setelah penyatuan keduanya. Terlihat lebih seksi dengan tatapan sendu dan rambut yang terurai tak beraturan.
Tak lama ia menjatuhkan tubuhnya di samping Kezia. Dipeluknya tubuh kezia yang polos. Dikecupnya pula kening Kezia dengan lembut, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan sebelum dan sesudah melakukannya bersama Kezia.
“I love you…” bisik Arland yang masih terdengar bergairah
__ADS_1
“Love you more…” sahut kezia seraya mengusap wajah Arland yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya.
****