
Seusai bell pulang berbunyi, Kezia bergegas pulang. Di depan pintu gerbang tampak Arland yang sudah menunggunya. Kezia berusaha menghindar, namun tiba-tiba Arland menghampirinya.
"Aku pulang sendiri,“ tutur Kezia tanpa menoleh Arland.
"Naik sekarang! Ada yang harus kita omongin.” tegas Arland.
Dengan malas Kezia mengambil helm yang disodorkan Arland , lalu duduk di boncengan motor Arland. Tidak mungkin juga mereka harus berdebat di gerbang sekolah. Arland memutar gas nya dengan lumayan kuat hingga membuat Kezia tersentak.
"Kamu mau ngajak aku mati? Aku gag ikut! Berhenti di sini.” Teriak Kezia. Namun Arland mengabaikannya. Arland terus memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
"Arland, jangan kekanak-kanakan. Kamu berhenti atau aku lompat?” ancam Kezia.
Arland mulai mengurangi laju kendaraannya. Tanpa banyak bicara Arland berhenti di taman biasanya. Kezia
segera turun dan memberikan helm-nya pada Arland. Dia berjalan lebih dulu lalu duduk di bangku favoritnya. Arland menghampirinya dengan segera.
"Apa kamu merasa kamu masih bisa memenuhi permintaan papah?” Tanya Kezia dengan suara lebih tenang. Arland terdiam tidak berani menimpali. “ Kamu berjanji akan menjaga aku, tapi kamu malah mau kita celaka sama-sama. Apa menurut kamu itu sesuatu hal romantis yang bisa kamu banggakan?” Tanya Kezia dengan tatapan tajam.
"Apa kamu merasa aku gag bisa menjaga kamu makanya kamu meminta laki-laki itu untuk menjaga kamu?” Tanya Arland tanpa memandang Kezia.
"Siapa yang kamu maksud laki-laki itu?” Kezia mengalihkan pandangannya pada Arland.
" Apa kamu lupa tadi kamu sudah memamerkannya di hadapan aku dan teman-teman?” Arland balik menatap Kezia dengan tatapan penuh rasa cemburu. Kezia yang menyadari isi fikiran Arland tak kuat menahan tawanya.
"Kenapa kamu ketawa?” sengit Arland dengan kesal.
" Maksud kamu kak tyo?” Tanya Kezia yang berusaha menahan senyum. Arland tidak menjawabnya dan malah memalingkan wajahnya karena kesal. “Kamu mau nanya apa tentang aku sama dia?” Tanya Kezia sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku.
"Apa begitu banyak cerita di antara kalian sampai aku harus memilih bagian mana yang mau aku tau?” Tanya Arland masih dengan nada marah.
"Apa kamu se impulsive itu saat sedang cemburu sampai tidak menyapaku, sibuk dengan duniamu, bahkan tidak membelaku saat berhadapan dengan irene?” Tanya Kezia dengan santai. “ Aku tidak mempunyai perasaan apapun untuk kak Tyo. Apa itu tidak cukup jelas buat kamu?” lanjut Kezia.
"Apa aku selemah itu buat kamu key?” Tanya Arland sambil tertunduk.
"Aku tidak menyalahkan kamu tidak membelaku di depan irene. Karena aku tau, kalau kamu ikut bicara, akan membuatku terlihat makin lemah dan tidak lucu kamu berantem sama perempuan di depan orang banyak. Tapi bukan berarti juga kamu bisa nuduh aku seenaknya.” Terang Kezia.
Terbit rasa sesal di dada Arland atas apa yang telah ia lakukan. Tidak seharusnya ia melakukan hal-hal yang malah memperburuk hubungan mereka.
"Okey, aku percaya sama kamu.Terima kasih sudah berusaha memahami semuanya key…” tutur Arland sekali lalu menatap hangat Kezia. Kezia hanya mengangguk.
"Bisakah kita pulang sekarang?”
" Tolong tinggal lah sebentar lagi.” Pinta Arland sambil menggapai tangan kiri Kezia dan menggenggamnya dengan erat.
Disandarkannya tubuh Arland ke sandaran bangku, lalu perlahan menutup matanya. Kezia memandanginya dari
samping. Tersungging senyum manis di bibir tipisnya.
"Beban apa yang gag kamu ceritain sama aku land…” lirih Kezia dalam hati.
Arland memang terlihat berbeda siang ini. Walaupun Kezia tahu Arland sedang cemburu, tapi tidak mungkin Arland begitu impulsive seperti saat ini. Dahinya pun terus berkerut, seperti ada masalah besar yang sedang dipikirkannya.
****
"Nanti malam aku telpon kamu.” Ujar Arland sebelum kembali memacu sepeda motornya. Kezia hanya mengangguk sebagai respon kemudian masuk ke halaman rumahnya. Sebuah lambaian tangan menjadi akhir pertemuan mereka siang ini.
Tampak mobil Martin sudah terparkir di sana. Kezia membuka pintu rumah dengan segera.
"Loh , papah sama mamah udah pulang?” Tanya Kezia pada kedua orangtuanya yang sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Iya nak, “ sahut Eliana sambil membalas ciuman pipi Kezia.
"Wah tumben nih. Apa mamah sama papah sengaja pulang cepet buat nemenin zia?” Tanya Kezia sambil duduk diantara Eliana dan Martin. Wajahnya terlihat sangat ceria.
"Yaa kedepannya waktu kami akan lebih banyak sama kamu nak..” jawab Martin sambil membuka-buka koran yang ada di hadapannya.
"Asyiiikkk…” seru Kezia sambil mencium pipi Eliana dan Martin bergantian. Eliana dan Martin hanya tersenyum melihat tingkah Kezia.
Martin mengambil pena yang ada di hadapannya lalu melingkari salah satu iklan lowongan pekerjaan.
"Papah nyariin pekerjaan buat siapa pah?” Kezia ikut memperhatikan apa yang dilakukan Martin.
"Buat papah sendiri nak.” Jawab Martin tanpa menoleh.
"Maksud papah?” Kezia masih belum bisa mencerna jawaban papahnya.
Martin menyimpan koran dan pena yang sejak tadi di pegangnya lalu menatap Kezia dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Zia, hari ini mamah sama papah diberhentikan dari tempat kerja kami.” Terang Martin dengan nafas tersengau.
"Loh kok bisa, mamah kan gag kerja di tempat yang sama dengan papah.” Tanya Kezia yang tampak terkejut.
"Papah tidak tau alasan pastinya apa, tapi menurut kantor mamah dan papah, kami sama-sama melakukan kesalahan dalam pekerjaan kami.” Jawab Martin dengan seraya melepas kacamata yang bertengger di atas dahinya. Terlihat raut lelah dan kecewa di wajahnya..
Kezia menoleh Eliana yang ada di sampingnya. Dan Eliana hanya mengangguk mengiyakan penuturan Martin.
"Tapi, kenapa bisa barengan?”
Martin hanya menggeleng karena semuanya terlalu aneh kalau sebatas kebetulan.
"Tenang sayang, kita akan melewati semuanya sama-sama…” tutur Eliana sambil memeluk Kezia.
"Iya pah, dia baik-baik aja. Emang kenapa papah nanyain arland?”
Martin mengeluarkan handphonenya lalu mengetik beberapa kata dan menunjukkannya pada Kezia.
"Pagi tadi, perusahaan ibunya dinyatakan bangkrut karena investornya menarik semua investasi dan sahamnya dari perusahaan ibunya arland.” terang Martin dengan perlahan.
Kezia masih belum percaya apa yang dikatakan Martin. Kezia membuka-buka berita yang terkait perusahaan Ibunya Arland di ponsel Martin.
"Ya tuhan, jadi ini yang bkin arland bersikap begitu impulsive terhadap masalah kecil?” batin Kezia.
Dipadanginya wajah Eliana dan Martin bergantian. Kezia masih tak habis fikir. Dia mencoba mengingat kembali isi
kalimat yang tadi siang di sampaikan oleh Irene. Apakah itu berarti Irene lah yang membuat perusahaan keluarga Arland bangkrut? Lalu, jangan-jangan Irene juga yang membuat Eliana dan Martin dipecat dari pekerjaannya.
" Ya tuhan… apa yang harus aku lakuin???” pekik Kezia dalam hatinya. Semuanya terdiam, hening, tanpa ada suara.
*****
Di rumah Arland.
"Mih…” sapa Arland pada mamihnya yang sedang berada di ruang baca. Linda hanya menoleh ke arah Arland. Ia tengah membereskan berkas-berkas dan membacanya beberapa. "Mih maafin Arland, Arland gag bisa berbuat apa-apa untuk mamih.” tutur Arland yang terduduk di hadapan Linda.
" Sudah lah nak, semua sudah berakhir. Mamih juga gag bisa berbuat apa-apa…” jawab Linda seraya menyeka air matanya.
"Mih, ayo kita bicara sekali lagi dengan tante dewi. Mana mungkin dia setega ini sama mamih cuma gara-gara arland nolak irene…” tutur Arland.
"Nak, buat seorang Ibu, kebahagian anaknya adalah segalanya. Jika kondisi seperti ini yang membuat bahagia anaknya, maka ini yang akan dia pilih.” Terang Linda.
__ADS_1
"Tapi Mih, sejak papih meninggal, perusahaan ini sudah susah payah mamih bangun kembali. Ayo kita berusaha sekali lagi.” Arland berusaha meyakinkan Linda.
"Nak, dengan kejadian ini justru mamih bersyukur, mamih tidak memaksakan kamu untuk bersama irene. Karena bagi gadis itu, kamu hanya ambisinya dan mamih hanya propertinya yang kalau sudah tidak mereka butuhkan, bisa mereka buang begitu saja.” Terang Linda. “ Dan benar kata kamu, kita boleh memperjuangkan perusahaan kita tapi tidak dengan menjual harga diri kita. Sekarang, kita mulai lagi dari nol. Kamu adalah harapan mamih satu-satunya. Tolong bantu mamih…” lanjut Linda seraya menggenggam tangan putra semata wayangnya.
Tanpa terasa air mata meleleh di pipi Linda. Dadanya begitu sesak. Semua yang dia perjuangkan selama ini, hancur begitu saja. Ia begitu menghormati Dewi sebagai bos sekaligus sahabatnya tapi nyatanya Linda bukan siapa-siapa bagi Dewi. Persahabatan mereka selama bertahun-tahun tidak pernah ada artinya.
Arland mengusap air mata di wajah Linda lalu memeluknya dengan erat. Linda terisak di bahu Arland.
"Arland Janji, Arland akan bantu mamih sebisa arland.” Tutur Arland dengan lembut. Mereka saling menumpahkan kesedihan dan menguatkan dengan berangkulan.
****
Arland terbaring di atas tempat tidurnya. Tubuhnya terasa begitu lelah. Tulang-tulang yang menyangga tubuhnya
terasa rontok tidak bersisa. Pikirannya melayang entah kemana.
"Kamu membuat ibuku menangis. Kamu akan menyesal irene.” Tutur Arland dengan penuh emosi.
Arland mengambil handphone yang tergeletak di samping tubuhnya. Dibukanya gallery yang hanya menyimpan foto
Kezia dengan beragam ekspresi.
"Key , bagaimana bisa aku begitu merindukanmu…” tutur Arland dengan perlahan.
Arland beranjak dari tempat tidurnya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Disiramnya seluruh tubuhnya tanpa terlewat satu inci pun. Pikirannya mulai sedikit terbuka saat dinginnya air menurunkan sedikit emosinya. Arland segera keluar dari kamar mandi. Sepotong handuk membalut tubuh Atletisnya. Arland berjalan menuju lemari lalu mengambil beberapa potong baju dan memakainya.
Didekatinya lemari yang berisi berkas-berkas penting. Arland mengeluarkan surat-surat motor sportnya lalu
memasukkannya ke dalam sebuah amplop. Arland menekan-nekan layar ponselnya dan menghubungi seseorang. Tidak sampai 10 menit, bell depan rumah berbunyi. Seseorang datang dengan sebuah mobil pick up berdiri di depan rumahnya. Arland mempersilahkannya untuk masuk.
"Lo yakin mau jual motor lo bro?” Tanya laki-laki bernama Hendrik.
"Iya bang, gue yakin.” Jawab Arland dengan tegas.
"Ya udah uangnya gue minta orang buat transfer, motor lu gue bawa sekarang. Lu gag keberatan kan?” Tanya Hendrik kembali.
"Ya, boleh. Gue gag keberatan kok. Nih surat-suratnya.” Arland menyodorkan amplop berwarna coklat kepada Hendrik. Hendrik memeriksanya satu per satu.
"Okey, udah lengkap bro!” seru Hendrik. Tak lama sebuah notifikasi pesan saldo masuk menggetarkan handphone Arland. Arland membacanya sebentar lalu menutupnya kembali.
" Gue angkut ya bro!” tutur Hendrik sambil merangkul tubuh Arland.
"Thanks bro!” jawab Arland dengan segera.
Arland menutup kembali pintu rumahnya sesaat setelah Hendrik berlalu dari hadapannya. Untuk beberapa saat ia terpaku seraya memandangi jumlah uang yang ada di rekening tabungannya. Ia harap ini akan cukup untuk mencukupi kehidupannya bersama Linda dalam beberapa waktu ke depan.
Arland beralih pergi ke gudang belakang. Dibukanya sebuah kain penutup yang menutupi sebuah motor klasik buatan Jepang dengan desain motor gede yang garang. Motor tersebut adalah peninggalan papihnya. Arland membersihkan motor tersebut dan mencoba menyalakannya. Mesinnya masih berfungsi dengan baik. Dua digit belakang plat nomornya bertuliskan AK.
"Apa papih tau kalo motor ini kelak gue pake bareng kezia?” gumam Arland sambil tersenyum.
Arland mencoba menaikinya dan membayangkan Kezia duduk dibelakangnya.
"Kelak cuma kamu yang boleh duduk di boncenganku key.” Lirih Arland sambil mencoba menyalakan lampu dan klaksonnya.
Sejenak , tergambar jelas rangkaian kenangan saat Arland dan papihnya merawat motor ini.
" Thanks pih, udah ninggalin Arland kenangan yang indah..” lirih Arland dalam hati.
****
__ADS_1