
Setelah makan malam, Kezia mengurung dirinya di kamar. Ia duduk di atas tempat tidur sambil memeluk kedua lulutnya. Dihadapannya ponsel menyala dengan wajah Arland sebagai wallpapernya. Kezia membenamkan wajahnya dan terisak sendirian.
“Land, apa aku akan bisa jauh dari kamu? Mungkin tubuhku di sana, tapi tidak dengan hati dan pikiranku…” lirih Kezia yang merasa benar-benar putus asa. “Tuhan, kenapa semuanya terasa begitu berat?” Kezia menengadahkan wajahnya, menatap langit-langit kamar.
Diraihnya handphone yang sejak tadi di lihatnya. Ia mulai menekan-nekan keypadnya. Tak lama, ia menghubungi seseorang.
“Haloo…” ujar suara di sebrang sana.
Kezia berusaha menahan tangisnya, ia mengusap air mata yang tak henti menetes.
“Bun…” tutur Kezia dengan ragu.
“Key, ada apa sayang? Kamu sakit nak?” tanya Nia yang mendengar suara Kezia tidak seperti biasanya.
“Nggak kok bun, cuma agak flu aja.” Kilah Kezia yang terpaksa berbohong.
“Oohh… Tapi udah minum obat nak?”
“Udah bun…” sahut Kezia yang kemudian kembali terdiam.
“Key, kamu kenapa? Ada yang bisa bunda bantu?” Perasaan Nia tiba-tiba tidak enak, terlebih Kezia menelponnya selarut ini.
Terdengar tarikan nafas kasar dari mulut Kezia.
“Bun, kalau bunda di suruh milih antara kebahagiaan bunda dan kebahagiaan orang yang bunda sayang, bunda akan pilih siapa?” tanya Kezia dengan suara bergetar.
“Sayang, ada apa, kok kamu tiba-tiba nanya gini?”
“Bun, aku mohon bunda jawab…” lirih Kezia
Terdengar nafas berat dari Nia. Ia sadar, Kezia sedang tidak baik-baik saja, namun ia tak bisa memaksanya untuk bercerita.
“Sayang, tidak ada kebahagiaan yang harus di pilih. Dari pertanyaan kamu, hanya kamu sendiri yang tau kebahagiaan siapa yang penting buat kamu.” Tutur Nia dengan berat.
Kezia terdiam. Ia berusaha mencerna maksud Nia. Arland dan kedua orang tuanya sama-sama penting baginya. Namun, kebahagiaan kedua orang tuanya selalu menjadi dasar Kezia memilih setiap tindakan.
Bayangan Arland dan kedua orang tuanya berkelebat dalam pikiran Kezia. Ia tak bisa mengabaikan senyuman yang setiap saat selalu di lihatnya dan menjadi harapan baginya.
“Key…” suara Nia membuyarkan lamunan Kezia.
Tak ada lagi kesempatan untuknya untuk menyesal, pilihan harus segera di buat.
“Bun, makasih buat waktunya. Maaf aku udah ganggu bunda…” Kezia segera mengakhiri panggilannya. Ia tak ingin perasaannya semakin gamang.
Di sebrang sana, Nia mengernyitkan dahinya. Ia sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Kezia.
“Land, kita nikmati sisa waktu kita, yang mungkin tidak akan pernah kembali.” Batin Kezia seraya menatap Arland dengan tatapan nanarnya.
*****
Pagi ini Kezia sudah bersiap dari pagi. Ia sudah terlihat cantik dengan seragamnya dan memakai sweater berwarna merah muda. Ia membawa tas ransel yang berisi makanan, dompet dan handphone.
Saat keluar dari kamarnya, ia segera menuju dapur dan mengambil beberapa bahan makanan di kulkas yang dimasukkannya ke papper bag. Eliana yang masih di dalam kamar, sama sekali tidak mengetahui yang dilakukan putrinya. Setelah kezia merasa barang yang perlu di bawanya telah lengkap, ia berlari keluar rumah dan menaiki sebuah taksi online yang tengah menunggunya. Mobil itupun melaju dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Sekitar setengah jam berlalu, kezia sampai di apartemen Arland dan berlari masuk menuju lift, khawatir Arland keburu berangkat ke sekolah. Berulang kali ia memijit bell unit apartemen Arland namun sang empunya masih belum membukakan pintu. Kezia tak patah semangat, ia tetap berdiri di depan pintu menunggu Arland membukakan pintu untuknya.
Arland yang mendengar bell nya terus berbunyi, dengan malas segera bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan dengan mata yang masih setengah tertutup.
“Ish si ricko nih, aturan masuk aja sih!” dengus Arland sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Arland memutar handle pintu, kemudian menariknya lebar-lebar.
“Astaga!” teriak Kezia yang segera berbalik membelakangi Arland seraya menutup kedua matanya.
Pagi itu Arland hanya mengenakan bokser setengah paha dengan kaos dalam yang tipis dan memperlihatkan otot dada dan perutnya, rambutnya pun sangat berantakan.
“Key?!” Teriak Arland tak percaya Kezia sedang berdiri di hadapannya. Kezia masih tetap memunggunginya. “Tunggu bentar, aku pake baju dulu.” Ujar Arland yang segera menutup kembali pintu unit apartemennya.
“Huufftt dasar, ada-ada aja sih!” gumam Kezia seraya mengelus dadanya. Kezia tersenyum sendiri dengan wajah merona karena malu mengingat apa yang telah di lihatnya.
Di dalam kamar, Arland segera memakai baju olahraga yang tergantung di balik pintu. Ia benar-benar terburu-buru karena takut Kezia menunggu terlalu lama. Setelah merasa lebih tertutup, Arland kembali membukakan pintu untuk kezia.
“Key…” sapa Arland dengan malu-malu. Kezia membalik tubuhnya menghadap Arland. Ia masih tertunduk tak berani mengangkat wajahnya. “Aku udah pake baju kali, …” bisik Arland yang juga merasa canggung.
Kezia menengadahkan wajahnya menatap Arland yang berdiri di depannya.
“Ayo masuk…” Arland membuka pintunya lebar-lebar seraya menarik tangan Kezia yang mengikut di belakangnya.
“Maaf, aku ganggu kamu ya?” lirih Kezia yang merasa bersalah. Arland menghentikan langkahnya tiba-tiba dan membuat Kezia menabraknya. “Astaga! Kamu kok berenti tiba-tiba sih, kayak doraemon aja!” imbuh Kezia sambil melangkah mundur menjauhi Arland.
Arland berbalik lalu tersenyum.
“Eemm… aku…” Kezia gelagapan sendiri, tidak tau harus berbicara apa.
“Kenapa hem?” cetus Arland yang melangkah mendekati Kezia.
“Itu, aku mau ngajak kamu bolos, hehe…” sahut Keziia dengan malu-malu.
“Hah, bolos?” ujar Arland seraya tertawa. Ia tak menyangka seorang siswi teladan seperti Kezia mengajaknya untuk bolos sekolah.
“Iihh kok malah ketawa sih?! Aku lagi males ke sekolah, lagian kan kita masa bebas, jadi gag ke sekolah juga gag pa-pa kali.” Kilah Kezia
Arland menatap kezia yang tersipu di hadapannya. Sebuah hal langka kezia bersikap seperti ini padanya.
“Kamu mau ngajak aku kemana?”
“Kemana aja, yang penting seneng-seneng!” sahut Kezia dengan semangat.
“Okey, aku mandi dulu kalo gitu.” Arland mengacak rambut Kezia kemudian mengecup keningnya dengan lembut.
Kezia terangguk dengan semangat.
****
Arland pergi ke kamarnya untuk mandi, sementara Kezia bersiap untuk memasak sarapan pagi untuknya dan Arland. Tidak banyak waktu yang dihabiskan Arland untuk membersihkan tubuhnya dan mematut dirinya di depan cermin. Setelah selesai dan terlihat rapi ia duduk di kursi meja makannya seraya memandangi Kezia yang masih memasak di dapur kecilnya.
__ADS_1
“Perlu bantuan gag?” tanya Arland
“No thanks! Bentar lagi siap.” Sahut Kezia yang tengah memotong sayuran. Arland hanya tersenyum. Ia tak sabar menunggu sarapan yang di masak Kezia terhidang di hadapannya. “Awww!” teriak Kezia
“Kenapa?!” Arland segera menghampiri Kezia yang sedang memegangi telunjuknya. Jarinya terkena pisau dan menyisakan luka kecil di tangannya. Tetesan darah keluar dari telunjuk kezia. “Astaga! Kamu kok gag hati-hati key?!” seru Arland dengan wajah panik. Ia segera menghisap darah yang keluar dari telunjuk Kezia.
“Hu hu huuu…” tiba-tiba saja Kezia terisak, entah mengapa ia merasa sangat sedih. Ia tak dapat menahan luapan emosi yang menguasai dirinya.
Arland segera mengangkat kepalanya menatap kezia dan benar saja kezia sedang menangis. Semakin lama tangisannya semakin keras. Arland kebingungan sendiri, ia tak menyangka Kezia akan menangis seperti itu.
“Sayang apa sakit banget?” tanya Arland dengan wajah yang semakin panik.
Bukannya menjawab, tangis Kezia malah makin keras. Tangis yang selama ini di tahannya pecah begitu saja. Bukan karena sakit luka di tangannya tapi lebih sakit pada hatinya yang benar-benar tak siap jika harus menjauh dari Arland.
“Astaga key, ayo duduk dulu, aku obatin biar gag tambah sakit.” Ujar Arland yang semakin kalang kabut. Arland mendudukan Kezia di kursi meja makan. “Aku ambil obat dulu sebentar.” Lanjutnya.
Dengan segera ia berlari ke kamarnya dan mengambil kotak P3K. Kezia masih menangis di tempatnya. Tak lama Arland segera kembali. Membersihkan luka kezia dengan air dingin, memberinya obat dan membungkusnya dengan plester.
Arland menatap Kezia dengan penuh kekhawatiran. “Apa masih sakit?” Arland menggenggam tangan Kezia dengan erat.
Seketika Kezia memeluk Arland dan menangis di bahunya. Arland benar-benar kebingungan. Kezia yang biasanya terlihat tegar dan mandiri, tiba-tiba sangat lemah dengan tangis yang tak kunjung berhenti. Arland memeluknya dengan erat. Mengusap punggung Kezia dengan lembut agar ia merasa tenang.
Kezia mulai bisa menguasai dirinya. Tangisnya perlahan mulai berhenti dan menyisakan isakan kecil.
“Key, mau ke dokter aja?” Arland menangkup wajah Kezia dengan kedua tangannya.
Kezia menggeleng lalu mengusap air matanya dengan kasar. Pandangan mereka saling bertemu. Sepasang mata sembab itu kini menatap Arland dengan sendu.
Arland mendekatkan wajahnya pada Kezia, perlahan memiringkan kepalanya, namun tiba-tiba Kezia memalingkan wajahnya, berusaha menghindar dari kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya.
“Ehm! Okey, ayo kita sarapan.” Arland berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
Kezia mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduknya. Diambilnya masakan yang masih berada di atas wajan lalu menatanya di atas piring yang telah ia hias. Arland hanya memperhatikannya sambil sesekali tersenyum.
Tak lama ia membawa masakannya ke hadapan Arland dan menyendokan nasi untuk Arland.
“Makan dulu Land…” ujar Kezia seraya tersenyum.
“Makasih key…”
Dengan senang hati Arland menyantap makananya. “Eemmm enak bangeett..” seru Arland dengan mata membulat.
“Syukurlah kalo kamu suka.” Timpal Kezia.
“Pacarku ini calon istri yang baik. Udah cantik, pinter masak lagi.” Puji Arland dengan mulut penuh makanan.
“Lebay!” cetus Kezia seraya mengusap sisa makanan yang ada di sudut bibir Arland.
“Aku serius sayang… Cobain deh, aaa…..” Arland menyuapkan sesendok makanan ke mulut Kezia, dengan senang hati Kezia menyambutnya. Benar kata Arland, masakannya hari ini sangat enak. “Lain kali, boleh kan kalo aku minta kamu masakin lagi?” tanya Arland.
Kezia hanya terdiam. Ia tak yakin bisa memenuhinya jika ia berjanji saat ini. Hati kecilnya berbisik, agar ia tak berjanji saat ia bahagia karena mungkin suatu hari, ia tidak bisa menepatinya. Kezia hanya tersenyum seraya berharap suatu hari ia bisa memenuhi permintaan kecil Arland yang kini mulai terasa berat.
*****
__ADS_1