My First Love Story

My First Love Story
Episode 99


__ADS_3

Kezia duduk di salah satu anak tangga yang mengarah ke lantai 2 fakultas kedokteran. Dia duduk bersama mahasiswa lain yang juga menunggu kelas di mulai. Kezia membuka laptopnya dan menyambungkannya dengan koneksi internet. Dibukannya portal universitas dan memasukkan nomor mahasiswa yang berada di kartu tanda mahasiswanya. Datanya tentang dirinya muncul. Mulai dari identitas, foto hingga fakultas yang dipilihnya. Kezia mengklik menu silabus yang muncul di sana. Tampaklah rencana pembelajaran dan tab nilai yang harus dia isi setelah mengikuti ujian kelak. Ia juga bisa melihat di kelas mana dia akan mengikuti pembelajaran.


“Huft, kalau tau bisa semudah ini, aku tidak harus dapat masalah dengan laki-laki mesum itu!” dengus Kezia. Kezia kembali menutup laptopnya dan bergegas menuju kelasnya.


Suasana kelas belum terlalu ramai. Kezia memilih duduk di dekat jendela dan tidak terlalu belakang. Dia berfikir kalau duduk di belakang, dia akan jadi sasaran dosennya saat mengajar dan ia belum siap. Karena kelas belum di mulai, Kezia memasang earphone di kedua telinganya.


Menyendiri lebih baik baginya dari pada bertemu dengan masalah yang tidak bisa diduga. Sebenarnya Kezia tidak memutar lagu apapun, tapi memasang earphone lumayan mengurangi suara bising yang masuk ke telinganya. Kezia membuka kembali silabus (rencana belajar) yang sudah ia simpan di draft emailnya. Ia mencatat kemungkinan-kemungkinan waktu luang yang bisa dia gunakan untuk mencari pekerjaan sampingan.


Fikirannya benar-benar terfokus pada file pdf yang sedang dibukanya. Hingga tanpa ia sadari, seseorang sudah duduk di sampingnya. Memandangi Kezia yang begitu serius. Wajahnya semakin cantik saat dia terlihat sedang berfikir.


Perkuliahan segera di mulai. Mata kuliah pertama Kezia adalah mata kuliah umum yang diisi oleh Carolin. Kezia melepas earphonenya dan baru tersadar Fritz duduk di sampingnya dan menatapnya sambil tersenyum.


“Huft! Dia lagi,,,” Kezia mengerlingkan matanya malas.


“Hay…” sapa Fritz namun Kezia tidak menanggapi. Ia hanya menatap Fritz denga malas seraya mengeluarkan buku catatannya.


Carolin mulai melakukan absensi. Satu persatu siswa mengangkat tangannya termasuk Kezia. Carolin tersenyum saat melihat Kezia. Carollin pun  memanggil nama Fritz dan dengan malas Fritz mengangkat tangannya.


Perkuliahan berjalan dengan lancar dan menarik. Kezia sangat menyukai cara Carollin mengajar. Menurutnya materi yang disampaikan sangat relevan dan mudah di mengerti. Hingga tanpa terasa waktu 2 jam berlalu begitu saja.


****


“Schnucki… gimana kuliahnya? Udah makan?”_Kak Angga


“Hay kak… Lancar-lancar aja… Ini aku lagi di kantin kampus… kakak jangan lupa makan yaa…”_Kezia.


Kezia tersenyum melihat pesan yang di kirim Angga lalu kembali memasukkan benda persegi dalam genggamannya ke dalam saku coatsnya.


“Siapa yang mengirimimu pesan?” tanya Fritz yang sejak tadi ada di hadapannya.


“Bukan urusanmu!” cetus Kezia dengan ketus.


Seharian ini Fritz terus mengikuti Kezia kemana pun dia pergi. Walau Kezia terus menjutekinya tapi Fritz tidak ada bosan-bosannya. Bahkan beberapa kali dia mengatakan “Bertemanlah denganku, bertemanlah denganku, bertemanlah denganku” sampai Kezia merasa muak dan akhirnya membiarkan saja Fritz mengikutinya. Lebih tepatnya tidak peduli mau Fritz ada di depannya atau tidak.


“Kamu bilang kamu cuma mau belajar. Tapi terima pesan dari laki-laki aja langsung senyum-senyum.” terka Fritz.


“Darimana kamu tau aku terima pesan dari laki-laki?”


“Hemm….” Fritz mengacungkan telunjuknya ke arah kezia lalu menggoyang-goyangkannya.


“Apa pedulimu?” gertak Kezia


“Tentu aku peduli karena aku menyukaimu.” sahut Fritz seraya tersenyum. Terdengar sangat ringan dan menyebalkan.


“Dasar cowok mesum!” maki Kezia dalam bahasa indonesia. Namun Fritz malah tersenyum.

__ADS_1


Kezia melihat ke sekelilingnya. Tampak beberapa pasang mata melihat ke arah mereka.


“Kenapa mereka memandangi kita?” bisik Kezia.


“Karena kamu cantik dan aku tampan. Kita pasangan yang serasi.” sahut Fritz sambil mengedipkan mata kanannya pada Kezia.


“Gila!” dengus Kezia sambil berdiri dan bergegas meninggalkan Fritz.


“Hey kezia tunggu!!!” Fritz segera bangkit dan mengejar Kezia.


Kezia bergegas pergi ke toilet karena hanya tempat ini yang tidak diikuti Fritz. Tapi tentu saja ia dengan setia menunggui Kezia di pintu toilet. Beberapa gadis yang lewat di depan Fritz tersenyum padanya bahkan berani menyentuh pipinya. Fritz membalasnya dengan kedipan, membuat para wanita menjerit gemas.


“Ku dengar si tampan fritz punya mainan baru.” tutur seorang gadis.


Kezia yang baru selesai buang air kecil, tidak jadi keluar, ia mencoba mencuri dengar pembicaraan gadis yang ada di luar.


“Iyaa, perempuan asia. Tapi sepertinya dia tidak menyukai fritz…”sahut gadis satunya.


“Kalau dia mendekatiku, aku pasti langsung mengajaknya kencan. Menciumnya sesuka hati dan memeluknya dimana pun!” ujar sang gadis sambil tertawa manja.


Mendengar suara gadis itu rasanya Kezia ingin muntah, begitu menjijikan. Hal apa yang menarik dari laki-laki mesum itu, pikir kezia.


“Hahahaha kau begitu murahan. Tapi memang siapa yang bisa menahan diri dari pesona fritz. Tampan dan gagah, kaya lagi. Banyak sekali wanita yang mengejarnya. Berganti perempuan seperti berganti baju. Uuhhhh andaikan aku salah satu wanita itu, aku akan memberikan hidupku untuknya.” Kedua gadis bersahutan membayangkan Fritz ada di depannya.


Rasanya Kezia benar-benar akan muntah. Dia ingin segera keluar tapi malas berurusan dengan dua wanita yang ada di balik pintu toiletnya.


Kedua gadis pun keluar dan kembali bertemu dengan Fritz. Dia benar-benar memberikan nomor handphone dan nomor bra nya pada Fritz. Fritz tersenyum nakal seraya mengedipkan matanya genit.


Selama ini Fritz memang senang sekali bermain-main dengan wanita. Dia membuat semua wanita terbawa perasaan kemudian meninggalkannya begitu saja. Karena terlalu banyak main-main hingga membuatnya harus mengulang kuliah tahun pertamanya. Kalau anak SD bilangnya tinggal kelas. Karena hampir semua nilainya D dan sisanya C dan E. Tapi walau senakal apapun, dia tidak pernah melakukan hubungan yang terlalu intim dengan wanita yang mengejar-ngejarnya. Ia tidak ingin meninggalkan jejak yang akan membuat dirinya menyesal. Nyatanya, bagaimanapun tetap saja seisi fakultas mengenal si tampan Fritz sebagai sang don Juan.


****


“Key,, kezia tunggu!" seru Fritz. Tentu saja Kezia tidak memperdulikannya. Walau langkahnya setengah kali lebar langkah Fritz, ia bergerak dengan sangat cepat nyaris berlari. "Kenapa jalanmu cepat sekali?” lagi-lagi Fritz mengejar Kezia yang berjalan di sampingnya.


“Kamu kenapa sih ngejar-ngejar dan teriak-teriak terus?” protes Kezia


“Karena kamu selalu berlari meninggalkan aku. Makanya aku kejar.” sahut Fritz, sederhana


Di tangan Fritz ada selembar kertas yang di peganginya sedari tadi.


“Ish! Menjijikan!” seru Kezia sambil menatap kertas yang di pegang Fritz.


“Apanya yang menjijikan?” Fritz kebingungan.


“Itu kertas berisi nomor handphone dan nomor bra kan?” terka Kezia.

__ADS_1


“Dari maka kamu tau?” Fritz kembali mengernyitkan keningnya.


“Itu jelas terlihat dari dahi mesum kamu!” seru kezia. “Aku mau pulang. Jangan ikuti lagi!” imbuhnya.


“Astaga! Harusnya aku tidak menerimanya!” dengus fritz yang mengira Kezia cemburu karena menerima kertas tersebut. Ia segera membuang kertas itu dan mengusap wajahnya dengan kasar.


****


Melihat Fritz yang tidak lagi mengikutinya, Kezia segera mengambil sepeda dan mengendarainya menuju super market untuk membeli bahan makanan. Kezia berharap Fritz tidak tahu tempat tinggalnya karena itu akan menjadi masalah baru baginya.


Banyak sekali bahan makanan yang Kezia beli. Ia menyimpannya di keranjang depan sepedanya. Uang tabungannya cukup banyak terkuras. Bahkan beberapa bahan makanan dan alat masak akan di kirim ke flatnya karena tidak mungkin membawanya dengan sepeda.


Kezia menghentikan laju sepedanya dan menyimpannya di parkiran flat. Saat itu hari sudah menjelang senja. Kezia menaiki tangga dengan kepayahan karena barang bawaannya cukup banyak. Petugas yang mengantar barang belanjaannya mengekor dari belakang. Setelah barang belanjaannya terkumpul, Kezia segera membuka pintu dan memasukannya ke dalam flat.


“Astaga!” Kezia hampir berteriak saat melihat Angga sudah ada di dalam flatnya dan berbaring di sofa dengan mata terpejam.


Kezia mendekati Angga dan mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Angga. Rupanya Angga benar-benar terlelap. Pelan-pelan Kezia membawa belanjaannya. Kakinya bahkan berjinjit agar tidak mengeluarkan suara.


Kezia melepaskan coatnya dan menaruh tas punggungnya. Lalu segera membereskan belanjaannya, menatanya di dalam kulkas. Setelah selesai, Kezia segera memasak beberapa menu, karena perutnya sudah keroncongan.


Wangi masakan yang dimasak Kezia rupanya terhirup juga oleh Angga. Angga mengerjapkan matanya. Dari sofa ia bisa melihat Kezia yang sedang asyik memasak di balkon kamarnya yang tentu saja atas seizin Rose. Angga bangkit dan melepaskan jasnya. Ia mendekati Kezia dan mencium aroma masakan dari belakang Kezia.


“Masih lama gag matengnya?” ujar Angga dari belakang Kezia.


“Isshh kakak ngagetin aja…” dengus Kezia.


Angga terkekeh, ia mengusap rambut Kezia dengan gemas. Kezia mengikat rambutnya tinggi-tinggi dengan leher yang tetap tertutup turtle neck nya.


“Ayolah schnucki aku sudah kelaparan…” rengek Angga.


“Iyaa ini sebentar lagi selesai. Kakak bisa nunggu di sofa.”


Alih-alih menyiapkan makanan di meja sofa, Angga malah memilih menggelar karpet berukuran sedang dan menaruh 2 piring serta 2 gelas di sana dan dengan tak sabar menunggu Kezia menghidangkan makannya.


“Duuhh duh duh… udah kayak lagi piknik aja yaaa tuan muda ini…” ledek Kezia yang membawa makanan di atas nampan.


“Sekali-kali kita lesehan , gag pa-pa kan?”


“Baik laahh… terserah tuan muda…” sahut Kezia seraya tersenyum.


Kezia melepas celemek yang melindungi tubuhnya. Segera duduk menyusul Angga dan menyendokkan nasi serta lauk ke piring Angga. “Kali ini makan malamnya nasi, kakak gag keberatan kan?”


Angga menggelengkan kepalanya. Tanpa menunggu lagi, mulutnya sudah terisi nasi dan lauknya.


“Emmm enak sekali…” puji Angga yang kembali menyendok makanannya. Kezia tersenyum senang. Mereka menikmati makan malamnya dengan lahap.

__ADS_1


****


__ADS_2