My First Love Story

My First Love Story
Episode 160


__ADS_3

"Akhirnyaaaa…..” ujar Arland yang menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia melempar jasnya sembarang. Tubuhnya terasa begitu lelah.


“Mau minum land?” tawar Kezia yang melihat raut lelah di wajah Arland.


Arland melirik Kezia yang berdiri di sampingnya. Tiba-tiba saja, Arland menarik tangan Kezia hingga terjatuh menimpa tubuhnya. Ia memeluk Kezia dengan erat.


“Aku mau gini aja…” lirih Arland yang membenamkan wajahnya di bahu Kezia.


Terasa hembusan nafas Arland menerpa leher Kezia, membuat bulu kuduknya meremang.


“Tapi aku mau mandi dulu. Gerah banget soalnya.” Kezia menggeliatkan tubuhnya, berusaha melepaskan kungkungan tangan kekar Arland.


Arland hanya tersenyum melihat wajah Kezia yang bersemu kemerahan. “Ya udah, ayo kita mandi.” sahutnya seraya menggendong tubuh Kezia.


“Aku bisa jalan sendiri kok. Lagian kamu capek kan…” bujuk Kezia, namun Arland malah menatapnya seraya tersenyum.


Ia terus berjalan menuju kamar mereka. “Bukain pintunya sayang…” tutur Arland dengan lembut.


Kezia memutar handle pintu dan mendorongnya sedikit. Terlihat kamar pengantin tertata dengan rapi. Kamar tidur yang telah di taburi bunga mawar merah menjadi tempat bagi Arland membaringkan tubuh Kezia.


Arland menatap wajah Kezia lekat-lekat semakin lama semakin dekat membuat jantung Kezia berdebar sangat kencang. Perlahan bibir Arland menekan lembut bibir Kezia membuat sang empunya memejamkan matanya. Kezia menikmati ritme permainan  Arland yang mulai mengecupi kecil-kecil bibir Kezia dan membuat Kezia membalasnya. Semakin lama semakin dalam kecupan Arland. Di gigitnya bibir kezia dengan lembut, membuat Kezia perlahan membuka mulutnya hingga dengan leluasa lidah Arland menjelajah seisi rongga mulut Kezia.


“Mmhhmm…” lenguhan Kezia membuat Arland semakin bergairah. Semakin lama semakin dalam, hingga dada keduanya terasa sesak karena kehabisan udara.


Arland melepaskan kecupannya. Ia tersenyum memandangi Kezia.


“Apa bisa sekarang?” lirih Arland.


“Mandi dulu boleh?” ujar Kezia dengan tatapan polosnya. Arland hanya tersenyum. Ia segera beranjak dari tubuh Kezia yang di tindihnya.


“Aku juga mau mandi dulu.” sahutnya seraya melepas bajunya dengan segera.


Kezia segera bangun. Ia tidak berani melihat Arland yang membuka satu per satu kancing bajunya dan mungkin akan menanggalkan setiap helai kain yang membungkus tubuhnya. Ia berlari menuju kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam. Arland hanya terkekeh melihat reaksi Kezia.


Kezia berdiam diri cukup lama di kamar mandi. Jantungnya berdegub kencang. In hale dan eks hale ia lakukan berulang seraya memegangi dada kirinya. Setelah berhasil menguasai dirinya, ia segera melepas gaun pengantin yang masih membungkus tubuhnya.


“Ah shit!” dengus Kezia, saat ia merasa resleting bajunya begitu sulit di buka.


Ia berjalan menuju cermin dan membelakanginya. Wajahnya menoleh ke arah cermin, berusaha membuka bajunya. Namun karena terburu-buru sebagian kain menghalangi laju resletingnya.


“Iisshh gimana sih…” Kezia kesal sendiri karena tidak bisa melepas resletingnya.


Terpaksa ia keluar kamar mandi untuk meminta bantuan Arland.


“Loh, katanya mau mandi?” tanya Arland yang sedang duduk di sofa dengan bertelanjang dada. Di tangannya ada segelas air putih yang baru selesai ia teguk.


Kezia segera membalikan tubuhnya. Ia tidak sanggup melihat pemandangan indah di hadapannya.


“Resletingnya ke sangkut.” lirih Kezia yang memejamkan matanya rapat-rapat.


Arland berjalan mendekati Kezia. Ia berdiri di belakang Kezia dan membantunya membuka resleting. Dari pantulan cermin, Kezia bisa melihat kekarnya tubuh Arland yang berdiri di belakangnya. Dengan segera ia memalingkan wajahnya karena Arland melihatnya di cermin. Arland tersenyum tipis, wajah kemerahan Kezia  dan sikapnya membuat Arland gemas sendiri.


“Kamu harus terbiasa, karena kamu akan melihatnya setiap hari.” bisik Arland yang membuat Kezia bergidik.


Kezia hanya terdiam. Terasa Arland mulai membuka resleting gaun kezia perlahan. Arland melihat kulit putih mulus Kezia yang begitu lembut saat di sentuhnya. “Sampe situ aja. Aku bisa nerusin sendiri.” ujar Kezia yang segera menjauh dari Arland. Namun dengan segera Arland menarik tangan Kezia dan membuatnya berbalik menghadap Arland.


Keduanya saling terdiam dengan mata yang saling berpandangan. Jantung Kezia bertalu-talu melihat tatapan Arland. Perasaan yang tak bisa ia jelaskan kerap muncul saat Arland menatapnya.

__ADS_1


“Aku…”


Belum sempat Kezia mengucapkan kalimatnya, Arland sudah lebih dulu membungkamnya dengan sebuah ciuman hangat. Arland menyerang bibir Kezia tanpa kesiapan hingga membuat Kezia meraup udara dari mulutnya.


Tak ada lagi alasan bagi Arland untuk menahan gairah yang kini menguasainya. Kezia kini telah menjadi miliknya seutuhnya.


Perlahan Arland meneruskan untuk membuka resleting gaun Kezia, hingga gaun terjatuh dan tertanggal sempurna.


Dipeluknya tubuh polos kezia dan membawanya ke ranjang pengantin mereka. Arland melepaskan pagutannya. Ia membaringkan tubuh Kezia dengan lembut.


“Aku gag bisa menunggu lagi…” bisik Arland. Mata Kezia terbelalak. Benar kata sherly, habis lah ia malam ini.


Arland mengecup dahi Kezia dengan lembut. “Kamu udah siap kan? Aku janji gag akan sakit.” ujar Arland dengan terus terang.


Bisa terlihat gairah yang menggebu dari cara Arland menatapnya. Saat ini Arland adalah suaminya dan bukankah ia bisa mendapatkan haknya?


Untuk alasan itu kezia terangguk.


Tanpa menunggu lama, Arland menarik dirinya berdiri dengan tumpuan kedua lutut di atas tubuh Kezia. Arland kembali mencium bibir Kezia dengan lembut dan perlahan. Ia tak ingin tergesah-gesah hingga membuat Kezia takut. Ia ingin menikmati setiap detik memadu kasih bersama Kezia.


Hisapan, kecupan, lum*tan di atas bibir Kezia, membuatnya mencengkram pundak Arland erat-erat. Sesekali bibirnya mengeluarkan desahan yang tertahan terlebih saat Arland mengelus lembut punggung Kezia, seolah ia tengah menikmati permukaan kulitnya dengan penuh kekaguman.


Kezia hanya mengikuti nalurinya. Ia mulai membalas pagutan Arland dan belitan di dalam mulutnya. Tubuh Kezia bergetar hebat saat tangan Arland mengusap lembut perut rata Kezia. Sentuhannya semakin menggila saat Arland menemukan dua buah gundukan yang masih tertutup kain yang begitu pas dalam tangannya.


Arland mengusap lembut gundukan tersebut, sementara bibirnya mulai turun mengecupi leher, pundak dan kembali mengecupi telinga kezia yang sangat sensitif. Hembusan hangat nafas Arland membuat Kezia semakin merinding dan tak karuan. Keduanya tenggelam dalam sebuah gairah yang tidak bisa di tahan.


Lenguhan Kezia menjadi penyulut gairah Arland lebih besar. Lantas ia membuka semua penghalang yang menutupi tubuh Kezia. Kezia menyilangkan tangannya di dada. Untuk pertama kalinya seorang laki-laki melihat tubuh polos Kezia tanpa sehelai benangpun.


“Land…” lirih Kezia yang lebih terdengar seperti desahan.


Ia berusaha menarik selimut namun Arland menahannya. Kedua tangan Kezia di tahan ke atas lalu dengan rakusnya ia mengecupi kembali rahang Kezia, memberi jejak-jejak kepemilikannya. Kezia mendongak, membiarkan Arland lebih leluasa mengecupinya. Rasa itu begitu membuncah, membuat sesuatu dalam dirinya terasa menjerit nikmat.


Hingga sampai keintinya, Kezia melenguh sekaligus meringis, merasakan rasa perih di intinya. Arland segera membungkamnya kembali dengan lum*tan hangat.


Tubuh kezia berguncang saat Arland menghentakkan tubuhnya berkali-kali.


“Eemmhhh….” Kezia kembali melenguh.


“Arland….” lirih Kezia dengan nafas terengah dan meracau tak menentu, membuat Arland semakin bergairah.


Lenguhan keduanya terdengar saat pelepasan itu sampai pada puncaknya. Mereka terengah-engah, merasakan ledakan gairah panas menjalar dari pusat tubuhnya menuju sarafnya. Tubuhnya bergetar tanpa bisa di kendalikan. Keduanya terengah dengan senyum bahagia di bibirnya.


Arland menjatuhkan tubuhnya di samping Kezia. Mata Kezia yang terpejam kini terbuka lebar. Ia menatap Arland yang kini tengah menatapnya seraya tersenyum. Di kecupnya dahi Kezia dengan lembut. Ia begitu cantik dengan sisa-sisa keringat di dahinya.


Tangannya terangkat meraih selimut yang sedari tadi disingkirkannya. Ia membalut tubuhnya dan tubuh Kezia dengan selimut.


“I love you…” bisiknya seraya memeluk tubuh Kezia dengan erat. Kezia tersenyum dengan rasa bahagia yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Dan malam terasa panjang bagi keduanya. Hanya beberapa menit saja mereka memejamkan mata, sisanya hanya desahan dan lenguhan halus yang memecah keheningan malam panjang itu.


****


Cahaya matahari masuk melalui celah gordin jendela kamar mereka. Kezia menggeliatkan tubuhnya yang terasa remuk redam. Semalaman Arland tidak henti mengerjainya seolah tenaganya tidak pernah habis.


Kezia mengerjapkan matanya, semakin lama semakin terbuka lebar. Tampak Arland yang sedang memandanginya dengan senyumnya yang tampan.


“Selamat pagi sayang…” lirih Arland.

__ADS_1


“Pagi…” suara Kezia terdengar serak membuat semangat Arland bangkit kembali.


“Kamu kok menggoda banget sih pagi-pagi gini?” Arland mendekatkan wajahnya pada Kezia.


“Sayang, ini masih pagi…” Kezia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dari tatapan Arland ia tahu benar apa yang akan terjadi selanjutnya.


Arland meraih tangan Kezia. “Morning kiss…” bisiknya yang segera melahap bibir Kezia dengan lembut. Kezia pun membalasnya , namun tak berlangsung lama seperti semalam. Namun ia tetap, merasakan hangat dari setiap sentuhan Arland.


“Aku mandi dulu yaa…” ujar Arland yang masih menempelkan dahinya di kening Kezia. Kezia terangguk seraya tersenyum.


Setelah mengecup singkat bibir Kezia, ia segera beranjak. Di raihnya celana boxer yang terserak. Kezia terkekeh melihat kelakuan Arland pagi ini. Entah mengapa ia begitu menggemaskan.


Tak lama Arland segera masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Kezia meraih handphone yang berada di samping lampu tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Pantas saja ia merasa perutnya sangat lapar. Terlebih semalam ia melewatkan makan malamnya karena Arland tak henti mengerjainya.


Kezia berusaha untuk bangkit. Kedua kakinya telah menyentuh lantai, namun saat hendak berdiri terasa perih yang terasa dari intinya.


“Aauuhhh…” Kezia meringis. Ia merasa selangkangannya sepertinya hancur. Ia hanya terduduk di pinggir tempat tidur, dengan selimut yang masih membalut tubuhnya.


Terdengar suara Arland membuka pintu kamar mandi. Kezia berusaha kembali untuk bangkit, namun rasanya sangat sulit.


“Kenapa sayang?” Arland dengan segera menghampiri Kezia.


Tubuhnya hanya terbungkus selembar handuk yang melingkar pinggangnya. Rambut dan tubuhnya yang basah terlihat begitu seksi pagi ini. Sejenak Kezia terpukau, dengan titik-titik air yang terlihat berkilauan di tubuh Arland.


Kezia menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir setiap pikiran aneh yang ada di kepalanya. Wajahnya memerah, ia hanya bisa tertunduk seraya tersipu.


“Aku gag bisa jalan…” lirih Kezia yang berusaha berdiri seraya meraih bahu Arland.


“Eemm ya udah kamu tiduran aja..” pinta Arland yang merasa bersalah. Kezia sampai ringkih karena kelakuannya semalam. “Apa masih sakit sayang?” lanjut Arland dengan tatapan bersalahnya.


Kezia mengangguk seraya tersenyum. “Mungkin agak siangan juga hilang…” tutur Kezia yang tak ingin melihat wajah suaminya di penuhi rasa bersalah.


“Kalau mau ke kamar mandi, aku gendong aja yaa…” tawar Arland


“Gag usah ah, malu. Aku ke kamar mandi sendiri aja.”


”Malu kenapa? Aku udah liat semuanya kok.”


“Iisshhh jangan di bahas dong…” protes Kezia dengan wajah kemerahan. Arland hanya tertawa.


“Kamu gemesin sih kalo malu-malu gitu. Aku makan lagi deh…” Arland mendekatkan tubuhnya pada Kezia.


“Jangaannn…” dengan cepat Kezia menahan dada Arland yang mendekatinya. “Aku lapeerr, mau makan …” lanjutnya.


“Oh iya, semalem kita gag makan. Ya udah aku anter dulu ke kamar mandi, nanti kita makan.”


“Gag usah, aku ke kamar mandi sendiri aja okey…” tolak Kezia.


Ia segera bangkit, menahan rasa sakit dan ngilu di tubuhnya. Meskipun begitu, ia tetap tak bisa berjalan dengan normal. Arland hanya terkekeh memandangi langkah Kezia yang perlahan. Kedua kakinya saling menempel.


“Berasa ada yang ganjel ya sayang.” goda Arland yang kini berada di samping kezia.


“Iisshh kamu apaan sih.” cetus kezia yang berusaha menyembunyikan rasa malunya. Arland hanya tertawa. Baginya, menggoda kezia bagian dari rutinitasnya mulai sekarang.


****

__ADS_1


Aheeyyy dapet gag siihh fell nyaa?


Ah entahlah, yang jelas selamat membaca yaaa 😆😆


__ADS_2