My First Love Story

My First Love Story
Episode 78


__ADS_3

Tiba di depan rumah kezia, Arland turun dari motornya yang sejak tadi mengikuti Kania dari belakang. Begitu mobil Kania berhenti, ia segera mengambil kursi roda dan menempatkannya di depan pintu mobil. Tak berselang lama Eliana segera keluar rumah dan menyambut Kezia.


“Sayang kok pulangnya sore banget?” tanya Eliana dengan wajah cemas.


“Iya mah tadi itu…” Kezia melirik ke Arland, kebingungan harus menjawab apa.


“Tadi kami nyari info soal universitas tante, sampe lupa waktu…” sahut Dena sambil mengedipkan matanya pada Kezia.


“Oo gitu… ya udah, ayo kita masuk.” ajak Eliana


“Maaf tante, kita langsung pulang deh kayaknya. Soalnya agak capek…” sahut Kania yang sebenarnya ingin segera memeriksakan dirinya ke dokter.


“Oohh okeey, terima kasih yaa udah nganter zia pulang. Kalian hati-hati di jalan."


“Iya tante…” jawab sahabat-sahabat Kezia bersamaan.


Mereka segera undur diri, Kezia melambaikan tangannya.


“Yuk sayang kita masuk. Mamah udah masakin makanan favorit kamu loh…” tutur Eliana sambil mendorong roda Kezia.


“Asyiikkk… makasih mah…” seru Kezia dengan sumeringah.


Sesampainya di depan pintu, Eliana melepaskan pegangannya. “Sebentar sayang, mamah panggil dulu papah buat gendong kamu.”


Eliana segera masuk ke rumah dan tak lama Martin mengekori keluar hendak menghampiri Kezia.


“Tunggu mah, pah!” Kezia menghentikan langkah kaki Eliana dan Martin.


“Kenapa sayang?” Martin keheranan.


“Tungguin zia d situ aja…” pinta Kezia.


Kezia menurunkan kakinya dari pijakan roda dengan bantuan kedua tangan. Perlahan mulai bangkit dari kursinya walau kakinya masih gemetar, namun sudah lebih kuat menopang tubuhnya. Martin dan Eliana tercengang melihat yang dilakukan Kezia.

__ADS_1


Perlahan dengan langkah kaku, Kezia melangkahkan kakinya bahkan menaiki anak tangga. Setelah beberapa langkah, Kezia berdiri tepat di hadapan orangtuanya dengan senyum manisnya. Eliana dan Martin tidak bisa berkata-kata, segera mereka memeluk kezia dan menciuminya. Air mata mengalir begitu saja di pipi Eliana.


“Sayang, sejak kapan nak?” Tanya Eliana dengan suara parau.


“Tadi mah, di sekolah…” jawab Kezia perlahan sambil menyeka air mata di pipi Eliana dan Martin.


Eliana dan Martin kembali memeluk kezia, memekikan tangisan haru atas apa yang dilihatnya


“Terima kasih dara, berkat lo gue bisa benar-benar berdiri…” tutur Kezia sambil tersenyum.


Meski begitu, rasa kesal yang sejak tadi di tahannyapun masih membekas, mengingat yang sudah Dara lakukan pada Dena dan Kania. Kezia hanya berharap semoga kedua sahabatnya baik-baik saja.


****


Flash Back on


Sebelum pulang, Arland lupa kalau tas nya masih berada di dalam kelas. Ia mengambilnya bersama-sama dengan Ricko dan meninggalkan Kezia di kantin sendirian.


“Land…” Ricko memperhatikan Arland yang sejak tadi menatap layar handphonenya.


“Lo beneran gag akan bilang ke Kezia kalau lo yang lunasin biaya rumah sakitnya?” Tanya Ricko yang lalu duduk di samping Arland.


“Gue udah bilang, kita gag usah omongin masalah ini lagi. Apalagi di tempat kayak gini…” sahut Arland dengan tatapan tajam.


“Tapi Land..”


“Ko, tolong jangan melewati batas. Gue sadar lo udah banyak bantu gue. Tapi ada hal-hal yang lo gag perlu ikut campur dalam hidup gue. Dan lagi, gue gag bisa terus-terusan ngerasa bersalah dan gag berguna saat disamping kezia.” dengus Arland sambil memukul meja yang ada di hadapannya.


“Kecelakaan itu bukan salah lo dan gag ada hubungannya sama lo, kenapa lo terus-terusan ngerasa bersalah?” kali ini Ricko yang menatap Arland dengan seksama.


“Lo salah! Gue jelas-jelas terlibat.” Tegas Arland sambil memberikan amplop coklat berukuran besar di hadapan Ricko. Ricko menatap Arland dengan wajah bingung. Dengan segera ia membuka amplop tersebut.


“Ini?” Ricko menatap nanar Arland.

__ADS_1


“Ya, gue udah nyelidikin semuanya. Mobil yang nabrak kezia adalah mobil sepupu Irene.” Ujar Arland sambil menarik nafas dalam. “Gue udah tau alamat rumahnya, tapi pas gue ke sana, ternyata seseorang udah lebih dulu melaporkannya ke polisi. Dan gue baru bisa ngumpulin bukti segini. Gue kalah cepet.” Arland menggaruk kepalanya frustasi.


“Apa om martin yang ngelaporin ke polisi?”


“Kayaknya belom. Kemaren gue ketemu tante eliana, coba pancing-pancing tapi sepertinya mereka gag tau apa-apa.”


“Bro, ini bukan masalah kalah cepet atau gimana, tapi emang kebetulan aja lo belum punya bukti yang cukup.” Ricko mencoba menenangkan.


“Ya berarti bener kata laki-laki itu gue emang gag bisa ngelakuin hal berguna, gue lamban bahkan ngejaga Kezia aja gue gag bisa. “ gertak Arland mengupati dirinya sendiri. “Mungkin kalo om martin udah tau kebenarannya, lambat laun dia bakal minta gue jauhin kezia.” lanjut Arland dengan tatapan nanar.


“Bro, lo berfikiran terlalu jauh. Sekarang mending kita fokus sama kesembuhan kezia dan nikmati waktu-waktu lo sama dia. Lo juga perlu menikmati hidup lo, jangan semuanya dipikirin. Lo punya masa depan yang harus lo raih…” Ricko menepuk bahu Arland, berusaha menyemangati sahabatnya.


Arland menoleh Ricko yang ada di sampingnya. “Thanks bro!” sahut Arland. “Ko, tentang tawaran bokap lo soal kuliah bareng lo di luar negri, gue rasa gue gag bisa. Gue mau ngambil tawaran beasiswa sekolah bisnis yang sebelumnya gue dapet. Bukan apa-apa, gue cuma gag mau terus-terusan ngerepotin bokap lo.” Lanjut Arland.


“Gue hargai keputusan lo bro. Tapi mesti lo inget, lo udah di anggap sebagai anak sendiri sama bokap gue. Jadi gag usah ngerasa ngerepotin ato apalah itu. Okey?!”


Arland mengangguk mengiyakan.


“Land, Arland!” seorang anak laki-laki tiba-tiba memanggilnya dari pintu.


“Kenapa bro, lo udah kayak ngeliat setan?” sahut Ricko yang segera menghampiri anak laki-laki tersebut.


“Itu,,, cewek lo, cewek lo lagi berantem sama genks nya si dara. Sampe di jatohin segala dari kursi roda!” seru anak laki-laki tersebut.


Tanpa berfikir panjang, Arland segera berlari menuju kantin dan di susul oleh Ricko di belakangnya. Sesampainya di kantin, alangkah terkejutnya Arland mendapati Kezia yang tengah menampar Dara dengan tiga kali tamparan. Matanya merah dan berair. Tidak seperti Kezia yang di kenalnya.


Namun seketika tubuhnya akan tumbang, Arland segera berlari untuk menangkap tubuh Kezia agar tidak membentur lantai. Kezia tak sadarkan diri dalam pelukannya. Jantungnya serasa berhenti berdetak melihat Kezia yang begitu pucat dan lemah. Bayangan-bayangan buruk yang sebelumnya Arland hadapi, kembali berputar di kepalanya. Tangannya mengepal kuat dan rahangnya mengeras. Namun, Dara yang menjadi incarannya sudah pergi dengan wajah merah dan bibir berdarah karena tamparan Kezia.


“Harusnya dia mendapatkan lebih dari itu!” gumam Arland dalam hatinya.


Kesadarannya segera kembali, saat Amar menghampirinya dan membawa Kezia ke ruang guru.


Tanpa sadar, Arland segera mengangkat tubuh Kezia dan membawanya menuju ruang guru. Langkahnya begitu lebar nyaris berlari hingga membuat orang-orang yang mengikutinya kewalahan.

__ADS_1


Flash Back Off


****


__ADS_2