My First Love Story

My First Love Story
Episode 135


__ADS_3

Terlihat mobil Kezia berhenti di depan gerbang rumahnya. Arland turun dari mobil dengan tampilan yang rapi. Rupanya ia datang untuk mengantarkan mobil Kezia yang menginap di parkiran apartemennya.


“Mima, itu ongkle arland..” seru Sean yang begitu semangat. Kezia hanya tersenyum saat melihat Arland datang setelah beberapa saat lalu mengiriminya pesan.


Arland berjalan ke arah kedai menyalami Eliana dan mencium punggung tangannya.


“Apa kabar nak?” sambut Eliana dengan ramah.


“Baik tante..” sahut Arland seraya tersenyum.


Eliana menyentuh bahu Arland yang tegap, di pandanginya wajah Arland yang terlihat lebih cerah tidak seperti terakhir kali mereka bertemu. Masih teringat jelas di benak Eliana saat Arland yang dulu begitu kurus dan dekil tepat beberapa saat setelah Kezia pergi. Rasanya ia tidak ingin mengingat masa kelam itu lagi.


“Tante seneng, liat kamu tumbuh jadi laki-laki dewasa.” ungkap Eliana dengan penuh kesungguhan. Terlihat mata Eliana  yang berkaca-kaca.


“Terima kasih tante….” sahut Arland.


“Ongkle…” seru Sean yang segera berlari menuju Arland.


“Hay jagoan, kamu lagi ngapain?” seraya mengajak Sean tos.


“Sean bantuin mima sama oma jaga kedai. Ayo onkle duduk sini. ” Sean menarik tangan Arland dan mengajaknya duduk di sebelah Kezia.


“Hay…” sapa Arland sambil mengacak rambut Kezia.


Kezia tersenyum menyambut Arland.


“Pagi banget nganterin mobilnya, kamu udah sarapan?” Arland hanya menggeleng. “Mau makan?” Kezia menunjuk ke arah etalase.


“Gag usah, aku mau ngajak kamu jalan. Bisa kan?” tawar Arland. Kezia menganggukinya.


“Aku mandi dulu..”


“Kamu belum mandi, kenapa udah cantik aja?” goda Arland yang berhasil membuat wajah Kezia merona.


“Gombal!” seru Kezia seraya berlalu.


Tersungging senyum di bibir Arland. Ia sangat bersyukur Kezia bisa kembali bersikap seperti semula.


Sambil menunggu Kezia bersiap, Arland berbincang dengan Sean. Mereka semakin akrab dan dekat. Eliana pun terlihat bahagia melihat kedekatan Arland dengan putrinya.


Arland sudah sangat berusaha keras dengan hidupnya menurut Eliana. Terselip harap di dada Eliana, kelak Arland menjadi pendamping bagi putri semata wayangnya.


Terlihat Kezia keluar dari rumahnya sudah berpakaian rapi. Ia mengenakan dress selutut berwarna biru muda. Rambut hitamnya di biarkan terurai. Sepatu cats warna putih menutup kakinya.


Arland berdecak kagum melihat kekasihnya yang terlihat begitu cantik. Setelah minta izin pada Eliana, Arland dan Kezia segera pergi.


Arland duduk di balik kemudi sementara Kezia duduk di sampingnya. Mobil melaju membelah jalanan yang terlihat ramai karena akhir pekan. Orang-orang berlalu lalang di sekitar mereka. Arland mengarahkan mobil menuju café langganannya dan memarkirkan mobilnya dengan rapi.


****


“Eemm, jadi ini alasan kamu belum sarapan?” tanya Kezia seraya tersenyum.

__ADS_1


Arland mengangguk.


Ia mendekatkan tubuhnya pada Kezia. Kezia terlihat begitu tegang karena jarak wajah Arland yang begitu dekat dengan wajahnya. Selalu, Arland berhasil membuat jantungnya berloncatan. Kezia memejamkan matanya saat Arland mengarahkan tangannya melingkari perut kezia dan..


“Klik!” Arland melepas seat belt yang melingkari tubuh kezia.


“Kamu kenapa, gag mau turun?” ujar Arland sambil tersenyum gemas melihat tingkah Kezia.


Kezia segera membuka matanya dan terlihat Arland yang sedang mengulum bibirnya menahan senyum. “Ya aku mau turun lah, kan tadi kamu yang ngalangin.” kilah Kezia yang salah tingkah gara-gara Arland.


“PPffttt…” Arland tidak bisa lagi menahan tawanya.


“Ayo mau turun gag?” seru Kezia yang segera menarik handle pintu mobil dan membuka pintu mobil lebar-lebar. Ia tidak memperdulikan Arland yang masih menertawakannya.


Arland hanya mengangguk dengan tangan yang masih memegangi perutnya yang berguncang karena tawa tertahan.


Kezia datang bersamaan dengan Arland. Di café sudah ramai dengan pengunjung café yang datang untuk sarapan.


“Hay bro!” sapa pemilik café pada Arland.


Diliriknya Kezia yang berdiri di samping Arland.


“Liat apa lo ger?” Arland terlihat kesal karena Gery melirik Kezia.


“Ahahahha sory, yang sebelah lo bikin gue silau.” cetus Gery sambil terkekeh.


Kezia memalingkan wajahnya pura-pura tidak mendengar.


“Sialan lo. Bikinin gue sarapan kayak biasa ya…” pinta Arland sambil menjabat uluran tangan Gery.


Tak lama menu sarapan datang. Bubur ayam lengkap favorit Arland. Mata Arland berbinar, Ia segera mencampurkan kecap dan bubuk merica di atas buburnya. Sementara Kezia lebih suka makan bubur tanpa di aduk.


“Tiap hari kamu sarapan di sini?” tanya Kezia yang melihat Arland begitu semangat sarapan.


“Kadang-kadang. Soalnya suka gag sempet sarapan di apartemen. Dulu sih waktu SMA ada yang bawain sarapan, tapi udah itu enggak lagi.” sindir Arland sambil menatap Kezia. Kezia hanya terdiam seraya mengingat saat ia membawakan bekal untuk Arland. Sudah sangat lama tapi rasanya baru kemarin. “Kapan kamu masakin sarapan lagi buat aku?”


“Nanti ya, suatu hari,,,” sahut Kezia seraya menyuap bubur yang sudah ada di sendoknya.


“Aku jadi gag sabar nunggu hari itu…”  gumam Arland yang sedikit terdengar oleh Kezia.


Setelah sarapan, Arland mengajak Kezia berjalan-jalan. Mereka menapaki jalan setapak menuju taman kenangan mereka.


Suasananya sudah banyak berubah. Bunga-bunga tertata dengan rapi di setiap sudut, ada track untuk bersepeda yang mengelilingi taman bahkan ada wahana bermain untuk anak-anak walaupun tidak terlalu besar. Namun ada yang tidak berubah, yaitu bangku tempat duduk favorit Kezia.


Kezia berjalan ke sana dan duduk dengan santai. Di hadapannya ada kolam kecil dengan air yang jernih. Ikan-ikan berenang ke sana kemari.


“Sherly bilang, taman ini kamu yang rapihin, sangat indah…” puji Kezia.


Mata Kezia tertuju pada anak-anak yang berlarian dengan riang gembira, membuat Kezia ikut tersenyum.


“Iyaa,, aku selalu berharap, suatu hari kamu akan pulang dan aku akan meminta maaf di tempat ini…” Arland menatap wajah Kezia yang duduk di sampingnya. Kezia menoleh dan menatap Arland dengan hangat. Rasanya ialah yang harus meminta maaf. Diraihnya tangan Kezia kemudian menggenggamnya dengan erat. “Maafin aku key, harusnya waktu itu aku gag ngomong hal-hal yang bikin kamu sakit.” lirih Arland dengan tatapan laman tertuju pada Kezia.

__ADS_1


“Ya , saat itupun aku sangat marah. Tapi aku selalu berharap, ada saatnya untuk memperbaiki semuanya…”


Arland menarik tubuh Kezia dan merangkulnya dari samping. Kezia menyandarkan kepalanya di bahu Arland yang selalu menjadi tempat ternyaman untuknya bersandar.


“Lain kali, saat kita bertengkar, cukup bertengkar saja. Kamu mau marah, marahlah tapi jangan pernah berfikir kalau kita harus berpisah, karena itu membuatku hidup tanpa nyawa.” aku Arland dengan sesungguhnya. Sebelum memutuskan untuk menemui Kezia di jerman, rasanya hidup Arland tidak karuan. Ia hanya ingin menumpahkan semua amarahnya tidak peduli pada siapapun itu tertuju. Yang akibatnya, ia menjadi seseorang yang brutal.


Kezia mendongakan wajahnya menatap Arland. Perlahan Arland mengecup kening Kezia dengan lembut. Mereka benar-benar menikmati masa-masa ini. Masa dimana hanya ada mereka berdua dengan desiran halus yang menelusur pembuluh darahnya. Terasa seperti ada kupu-kupu yang mengepakan sayapnya di perut Kezia, membuat dadanya berdebar sangat kencang.


Tak ada perasaan yang perlu ia pungkiri apalagi ingkari, karena jelas hanya bersama Arland lah suasana itu tercipta.


****


“Kak denaa, bangun kak… Katanya mau pergi ke pusat kota, kok masih tidur?” salah seorang anak panti memanggil Dena berulang dari luar kamarnya. Dena menggeliat kecil saat suara itu di rasa terlalu mengganggu lelapnya


“Iiisshh apaan sih, orang masih ngantuk juga.” Dena menutup kedua telinganya dengan bantal.


“Kakkkk, udah mau jam 8 tauuu, kesiangan llohhh…” lagi-lagi anak itu berteriak dengan lebih keras. Dena menaruh bantalnya dan perlahan matanya mulai terbuka.


“Astaga! Aku kan mau ke kantor redaktur!” seru Dena yang baru teringat janjinya hari ini. “Aahhh sial, udah mau jam 8 lagi!”


Dena segera mengambil handuk dan mandi dengan cepat. Tak sampai lima menit ia sudah keluar lagi. Di raihnya satu stel pakaian rapi dan menyisir rambutnya dengan sembarang. Bedak di taburkan begitu saja dengan lipstick yang memoles tipis bibirnya. Ia mengambil map plastik berwarna gelap berisi beberapa judul cerpen yang sudah di cetak dari semalam. Tak lupa tas selempang juga handphonenya. Ia keluar kamar dengan segera.


“Kenapa gag bangunin aku sih!” dengus Dena sambil menyambar roti di meja makan.


“Apanya yang gag bangunin, tenggorokan aku hampir putus manggil kak dena.” protes anak tersebut.


“Ya udah aku berangkat!” ujarnya seraya memakai sepatu dengan heels 3 cm nya.


“Na, sarapan dulu yang betul.” panggil Nia.


“Udah kesiangan bun, dah!!” teriak Dena yang segera berlari.


Nia hanya menggelengkan kepalanya melihat putrinya yang paling besar. Meski sudah bukan anak kecil lagi, terkadang tingkahnya melebihi tingkah para adiknya.


Hari ini Dena akan ke kantor majalah untuk wawancara tentang beberapa cerpen yang telah ia tulis. Dena hanya bisa bersekolah sampai jenjang SMA, selama ini waktunya ia habiskan untuk menulis membuat cerpen atau novel. Dan hari ini ia mendapat panggilan untuk wawancara sebagai penulis tetap di kolom cerpen anak. Namun karena semalam ia baru selesai mencetak cerpennya, akhirnya ia baru bisa tidur dini hari dan hasilnya seperti sekarang ini, ia kesiangan.


Dena berdiri mematung di depan panti menunggu angkot yang lewat. Ia terus memperhatikan jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Tapi hingga 5 menit berdiri tidak ada satupun angkot yang lewat. Akhirnya ia memutuskan untuk jalan kaki sebentar kemudian naik bis.


“Aduuhh sial banget sih hari ini.” dengus Dena sambil terus berjalan.


Tak lama sebuah bis melintas dan Dena segera melambaikan tangannya. Ia memilih tempat duduk yang berada di samping jendela. Bis berjalan dengan lamban karena usianya sudah tidak muda lagi. Dena menghentak-hentakan kakinya dengan tidak sabar.


Bis berhenti di salah satu tempat pemberhentian. Setelah menyerahkan uang ongkos Dena segera turun. Baru sebelah kakinya menginjak trotoar, tiba-tiba seorang laki-laki berlari dan menabrak Dena hingga Dena terjatuh. Dena baru sadar laki-laki itu mengambil tasnya.


“COPEETTTT!!! Tolong, saya di copeettt!!!” teriak Dena.


Beberapa orang berlari mengejar pencopet itu. Karena terkepung terpaksa pencopet itu berhenti. Ia tampak panik. Dena segera berlari menghampiri dengan langkah tertatih-tatih karena kakinya yang sakit.


“Awas lo, kalo ada yang berani deket-deket, gue tusuk!” ancam preman tersebut sambil mengacungkan pisau.


“Bang tolong balikin tas saya bang. Cuma itu harta saya, jangan di ambil…” rengek Dena.

__ADS_1


“Bodo amat. Awas lo ya kalo deket-deket!” ancam laki-laki tersebut sambil mencoba kabur.


*****


__ADS_2