My First Love Story

My First Love Story
Episode 159


__ADS_3

Pagi hari orang-orang hilir mudik di sekitar tempat pernikahan. Tempat akad masih tertutup, karena hanya keluarga terdekat saja yang diperbolehkan masuk. Sementara di area resepsi, sudah cukup banyak tetamu yang hadir termasuk ketiga sahabatnya. Mereka asyik berfoto dan menikmati dekorasi yang begitu indah. Beberapa kuntum bunga masih diselimuti embun pagi yang segar.


Kezia tengah bersiap di kamarnya. Seorang perias wajah terkenal tengah mendandaninya dengan lihai. Kezia menggunakan gaun putih dengan aksen brokat di bagian atas dan ekor baju yang menjuntai cukup panjang. Tubuh rampingnya sangat elok di pandang mata. Rambut panjangnya di tata dengan gaya half updo bridal, yang membuat rambut panjangnya tetap tergerai cantik.


“Astaga key….” seru Kania saat melihat Kezia yang sudah siap dengan dandanannya.


“Kenapa, jelek ya?” Kezia mengernyitkan dahinya melihat ketiga sahabatnya yang melotot di depannya.


“Cakep banget gila!!! Tante gimana sih bikinnya dulu bisa dapet anak cantik gini?” cetus Sherly dengan polosnya.


“Aahahha… Sherly bisa aja, masa tante harus cerita cara nguleninnya di sini…” sahut Eliana yang tersipu.


“Ini sih para ibu harus hati-hati dengan suaminya. Dipegangin terus kemana juga.” ujar Dena dengan kekehan kecil.


“Gue saranin, lo jangan dulu keluar. Tunggu akadnya selesai. Kalau enggak, si arland bakal gag konsen.” Kania menambahkan.


“Ah lebay kalian…” sahut Kezia. Pipinya terlihat memerah karena malu. “Ini mba periasnya yang hebat…” puji Kezia tanpa sungkan.


“Mba Kezia emang udah cantik dari sananya. Saya kasih make up dikit aja langsung panglingin…” puji sang perias yang merasa bangga dengan hasil karyanya. “Saya foto-foto dulu boleh…” lanjutnya sambil mengeluarkan kameranya.


“Boleh….” Sahut Kezia


“Hati-hati mba, dia gag bisa gaya. Ntar malah dapetnya foto candid semua.” ledek Sherly yang terkekeh.


“Dasar lo! Makanya bantuin arahin gaya dong.” Kezia menarik tangan Sherly yang jagonya berpose.


Mereka tertawa bersama. Sherly mulai mengaturkan gaya untuk Kezia. Sang fotograper pun dengan semangat mengambil foto Kezia. Entah berapa banyak foto yang di ambilnya.


Eliana melirik jam yang melingkar di tangannya. Akad akan segera dimulai. Sherly mengecek ke tempat akad dan membawa Kezia melalui pintu belakang vila agar tak ada orang lain yang melihatnya. Ia pun inisiatif menutup wajah Kezia dengan kain tipis agar tidak dilihat orang lain dan menjadi kejutan.


Kezia duduk di pinggiran tempat tidur yang akan menjadi kamar pengantinnya. Orang-orang tengah berkumpul karena akad akan di mulai. Di luar kamar terdengar suara Ricko dan Arland bergantian. Rasa gugup menyergap Kezia. Tangannya dingin dan sedikit basah. Eliana mengusap lengan Kezia untuk menenangkannya.


Sementara Dena menggenggam erat tangan Kezia yang gemetar. Sherly dan Kania, mereka bertugas untuk mengintip dari celah pintu.


Prosesi akad di mulai. Martin dan Arland saling menjabat tangan. Hanya dalam satu kali pengucapan seruan “SAH!” menjadi penanda Kezia menjadi milik Arland selamanya.


Sang MC mempersilakan pengantin wanita untuk keluar. Eliana dan Dena mendampingi Kezia di sisi kiri dan kananya. Sementara Sherly dan Kania berjalan di belakangnya.


“Waahh… Benarkah ini mempelai wanitanya? Cantik sekalii…” seru sang MC yang ikut terpukau.


Arland tak mampu berkata apa-apa. Seketika buliran air mata menetes di sudut matanya. Ricko merangkul Arland dan memeluknya dengan erat.


“Selamat, dia milik lo sekarang.” bisik Ricko dengan penuh haru.


Arland menyeka air matanya, membuat suasana haru seketika. Ia mengulurkan tangannya pada Kezia dan Kezia menyambutnya seraya tersenyum.


Mereka duduk bersama-sama menyelesaikan semua prosesi administrasi pernikahan.


Setelah berfoto dengan buku nikahnya, Kezia dan Arland diminta untuk menuju tempat resepsi. Para tetamu telah menunggunya di sana. Tepukan tangan yang gemuruh menjadi sambutan awal bagi mereka. Musik lembut mengalun indah, seirama langkah kaki keduanya.


Arland merasa begitu bahagia. Ia menggenggam tangan Kezia yang berjalan di sampingnya. Matanya tak lepas dari pandangannya pada Kezia.

__ADS_1


“Kamu cantik banget sayang…” puji Arland. Kezia hanya tersipu. Wajahnya terasa menghangat karena malu.


“Kamu juga ganteng banget pangeranku…” sahut Kezia yang menatap wajah Arland dengan hangat.


Hari itu, Arland terlihat sangat gagah dengan jas pengantin putih yang terlihat klasik dan elegan dengan dasi kupu-kupu putih di lehernya. Pandangan tetamu tertuju pada kedua mempelai yang terlihat menakjubkan hari ini.


****


Resepsi pernikahan pun berjalan dengan lancar. Ucapan selamat dan do’a menjadi kado terindah bagi kedua mempelai.


“Haayy, selamat atas pernikahan kalian.” ujar seorang laki-laki tampan yang tidak lain adalah Fritz.


“Astaga fritz, kamu datang…” seru Kezia yang merasa sangat senang melihat kehadiran Fritz.


“Tentu, pernikahan kalian adalah momen penting bagi saya.” sahut Fritz seraya mengulurkan tangannya pada Kezia.


Kezia membalasnya. “Terima kasih banyak. Semoga kamu juga segera menikah.” sahut Kezia seraya melirik Dena yang berdiri di samping Fritz.


Dena hanya tersipu. Dena sendiri pun tidak percaya kalau Fritz akan datang dan memberikannya kejutan.


“Selamat untukmu, dia sekarang milikmu. Jaga dia baik-baik.” tutur Fritz seraya merangkul Arland.


“Thanks fritz..” sahut Arland yang membalas pelukan Fritz.


Kezia tersenyum senang, akhirnya Arland dan Fritz bisa mulai berteman, seperti halnya Kezia dan Dena. Dan entah kenapa, Kezia berharap agar Dena lah yang kelak menjadi pendamping Fritz.


Dari kejauhan, tampak sepasang suami istri berjalan ke arah Kezia dan Arland.


Arland mengikuti arah pandangan Kezia. Rasanya ia mengenal laki-laki gagah yang berjalan ke arahnya.


“Sayang… selamat untuk pernikahan kamu. Mamah ikut senang. Semoga kalian selalu bahagia…” ujar Anna yang memeluk Kezia dengan hangat.


“Makasih mah, makasih untuk semua do’anya.” lirih Kezia yang tak dapat menahan air matanya.


Anna melepaskan pelukannya. “Hey lihat, pengantin cantik tidak boleh menangis. Kamu hanya harus tersenyum. Lihat, laki-laki di sampingmu ini akan menjagamu dan mencintaimu selalu. Benar kan nak?” ujar Anna seraya menatap Arland.


Arland terangguk. Saat ini ia tau, yang berdiri di hadapannya adalah tuan dan nyonya wibawa.


“Makasih mah…” sahut Kezia dengan penuh haru.


“Nak, selamat ya atas kalian. Papah ikut bahagia dan mohon maaf indira tidak bisa hadir. Dia menitipkan salamnya untukmu dan suamimu.” Sambung Mahesa seraya memeluk Kezia.


“Terima kasih pah, terima kasih banyak.” ungkap Kezia yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya.


Mahesa berganti memeluk Arland. “Jaga putri kami baik-baik. Sayangi dia selalu…” bisik Mahesa yang di sambut Arland dengan anggukan.


Arland tak menyangka, bahwa keluarga wibawa begitu menyayangi Kezia. Lalu, apa Angga Wibawa juga begitu besar menyayangi Kezia?


Dengan segera Arland menepis pikirannya yang tidak-tidak. Mengapa ia harus merasa cemburu pada laki-laki yang sudah tidak ada di hadapannya. Dalam hatinya ia berjanji, akan selalu menyayangi Kezia lebih dan lebih lagi.


*****

__ADS_1


Lembayung senja mulai menghibar. Sebagian besar tamu berangsur pulang hanya menyisakan sahabat dan keluarga terdekat. Mereka pun sudah bersiap untuk pulang.


“Sayang, mamah sama papah pulang dulu yaa…” ujar Eliana seraya memeluk Kezia.


“Mamah gag nginep lagi di sini? Nanti zia kesepian” rengek Kezia.


“Loh, kan sekarang udah ada suami, masa masih kesepian…” Eliana mencubit gemas pipi sang putri. Kezia melirik Arland yang sedang berbicara dengan papahnya.


“Tapi kalo udah sampe rumah, kabarin ya mah…” Kezia menggenggam tangan Eliana dengan erat seperti enggan untuk berpisah.


“Iya sayang…” sahut Eliana.


“Oma, sean mau nginap lagi d sini , boleh kan mima?” rengek Sean dengan tatapan polosnya.


Kezia berjongkok agar sejajar dengan Sean.


“Tentu boleh. Tapi besok kan sean sekolah. Bu guru akan nyari sean kalo sean gag sekolah.” ujar Kezia seraya menatap hangat Sean.


Namun sean malah cemberut. Arland yang menyaksikan hal tersebut segera mendekat.


“Hay boy, kenapa bersedih?” tanya Arland yang mencubit lembut pipi Sean.


“Sean mau menginap dada….” rengek sean.


“Sean, sean pulang sama oppa ya… Nanti kita ke sini lagi kalo sean libur.” Hibur Martin yang melihat kecanggungan Arland.


“Oppa janji?” Sean mengacungkan jari kelingkingnya pada Martin.


“Tentu!” sahut Martin yang segera mengaitkan kelingkingnya membalas Sean.


“Horeeee!!! Nanti kita nginep di sini lagii..” Sean melonjak gembira.


Setelah terbujuk, Sean pun akhirnya mau pulang bersama Martin dan Eliana.


“Gue pulang ya bro!” Ricko merangkul Arland dengan erat. “Selamat menikmati.” bisiknya, membuat Arland terkekeh sendiri.


Begitupun Sherly, ia merangkul Kezia dan berpamitan. “Habis lo malem ini key…” bisiknya dengan seringai yang tak bisa di jelaskan.


“Ngancam gue lo!” cetus Kezia yang tidak paham maksud Sherly.


Sherly malah tergelak. Begitupun Kania dan Dena.


“Jangan lupa, kado dari gue di buka.” seru kania yang ikut tertawa.


“Iya nanti gue buka.” sahut Kezia yang melambaikan tangannya pada sahabatnya.


Dalam beberapa saat, mereka pun bergegas pulang dan meninggalkan Kezia dan Arland berdua.


*****


Hay hay.... Udah mendekati ending nih... makasih buat yang masih bacaa... Jangan lupa dukung aku yaaa supaya tamabh semangaat nulisnya... cukup like, koment dan vote serta tambahkan sebagai favorit, aku sangat sangat berterima kasih...

__ADS_1


Love you semuaaa


__ADS_2