My First Love Story

My First Love Story
Episode 120


__ADS_3

Pagi-pagi seorang perias sudah berada di kamar Kezia di temani Indira dan Eliana. Dengan lihai ia memoles wajah Kezia. Sapuan demi sapuan kuas memberikan warna yang indah di wajah Kezia yang berpadu dengan kecantikannya yang alami.


Kezia meminta agar riasannya tidak terlalu tebal dan sederhana saja, karena ia tidak terbiasa berdandan. Gaun putih yang sudah ia pilih sebelumnya telah ia kenakan. Rambut panjangnya di biarkan tergerai dengan pinggiran rambut yang terkepang kecil dan menyatu di bagian belakang. Headpiece tipe froral bertengger diikatan belakang rambut Kezia. Kezia meminta agar rambutnya tetap digerai namun tetap terlihat rapi dan trendi.


“Ya ampun… kamu cantik banget key…” puji Indira seraya menatap Kezia dengan takjubnya.


“Makasih kak…” sahut Kezia seraya tersenyum.


Ia menatap wajahnya yang terpantul di cermin. Setelah selesai merias Mrs Marlyn menatap Kezia dengan rasa puas melihat hasil karya tangannya.


“Saya akan meminta salah satu foto kalian untuk saya pajang di butik, boleh?”


“Silakan…” sahut Kezia. Mrs Marlyn terlihat begitu senang Kezia mengabulkan permintannya.


“Ya udah, kamu tunggu dulu di sini. Kami ke depan sebentar ya…” ujar Eliana yang sudah tak kuasa menahan air mata harunya melihat sang putri akan segera menikah.


“Iya mah…”


Indira, Eliana dan Mrs Marlyn meninggalkan Kezia di kamarnya. Kezia masih terpaku. Ia menatap kalung yang masih melingkar di lehernya. Sejenak ia menggenggam kalung tersebut dan perlahan melepasnya.


“Ini hari baruku, aku harus meninggalkan masa laluku agar tidak ada orang lain yang terluka.” gumam Kezia seraya memandangi wajahnya. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri sebelum benar-benar melangkah menuju gerbang baru kehidupannya.


Ia mengambil bucket bunga yang ada di tempat tidurnya. Kemudian menciumnya dengan lembut. Wanginya begitu memanjakan penciuman Kezia.


“Hay pengantinku…”


Terdengar suara dari arah pintu kamar Kezia. terlihat Angga berdiri di sana dan bayangannya memantul dari cermin di hadapan Kezia. Senyum tampan terlihat mengembang di bibir Angga.


“Kakak, kok ke sini?” kezia terlihat kaget mendapati Angga yang masuk ke kamarnya. Ia terlihat sangat tampan dengan jas pengantin bernuansa putih. Wajahnya pun terlihat bercahaya. Sungguh aura yang berbeda.


“Aku merindukanmu…” lirih Angga sambil menghampiri Kezia dan mencium pucuk kepalanya.


“Kakak udah sarapan dan minum obat?” Tanya Kezia seraya mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Angga yang berada di atasnya. Angga mengangguk mengiyakan.


“Istriku sangat cantik. Aku sangat beruntung.” puji angga. Matanya tak beralih sedikitpun  dari Kezia. Kezia hanya membalasnya dengan senyuman. “Baiklah, aku tunggu di luar ya… Sebentar lagi akadnya di mulai.” lanjut Angga.


“Iya kak…”


Angga keluar kamar Kezia dan menuju ruang tamu yang sudah di sulap menjadi tempat akad. Bunga-bunga di tata dengan rapi. Lampu-lampu menyala dengan indah. Para tamu sudah berdatangan dan menyalami keluarga Angga sebagai ungkapan selamat. Angga tersenyum bahagia melihat suasana rumahnya yang begitu ramai dan hangat.


“Hayoloh, dari kamar kezia ya?” sergap Indira yang melihat Angga diam-diam keluar dari kamar Kezia.


“Sstt jangan berisik kak..” tukas Angga sambil menaruh telunjuk di bibirnya.


“Kamu  gag denger mamah nyuruh kalian jangan ketemu dulu sebelum akad? Kebelet banget ya kayaknya?!” goda Indira.


“Gag usah di tanya kak..” cetus Angga dengan wajah memerah karena malu.


“Aku seneng kamu akhirnya nikah sama kezia…” ungkap tulus Indira. Ia tidak menyangka, waktu berjalan sangat cepat. Adik kecil yang dulu kerap mengganggunya, kini sudah dewasa dan akan meminang gadis yang paling dicintainya.  "Setelah ini, kamu harus selalu bahagia dengan wanita yang kamu cintai."

__ADS_1


“Thanks kak..” sahut Angga.


“Dada, nanti Sean tinggal sama dada dan mima kan?” tanya Sean kecil yang berada di ujung tangan ibunya.


Angga berjongkok mengimbangi tinggi Sean.


“Tentu saja! Nanti sean juga bantu dada jaga dan temenin mima yaa…” Angga mengusap pucuk kepala Sean dengan sayang. Anak kecil ini lebih mirip dengannya di banding kedua orang tuanya. Mungkin karena saat ngidam Angga sangat sering membelikan semua yang Indira minta.


“Asyiikkk… iya dada. Sean akan jaga dan temenin mima.” seru Sean dengan semangat.


“Ya udah sekarang kita ke depan. Para tamu udah dateng. Bentar lagi akad.”


“Ya kak…” Angga menyahuti.


Indira berlalu lebih dulu bersama Sean. Angga segera bangkit, namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Angga memegangi kepalanya dan bersandar ke dinding. Darah segar keluar dari hidungnya. Ia memandanginya dengan panik.


“Tuhan, tolong jangan sekarang…” lirih Angga seraya mengusap darah di hidungnya dengan sapu tangan yang ada di saku celananya.


Angga terlihat panik. Ia segera merapikan kembali penampilannya dan memastikan tidak ada darah yang tersisa di wajahnya.


*****


Akad akan segera dimulai. Angga tengah duduk di hadapan pemuka agama dan Martin. Di  belakangnya ada Mahesa dan keluarga. Suasana terdengar sedikit riuh saat terlihat Kezia datang dengan ditemani Eliana. Ia terlihat sangat cantik. Semua pasang mata tertuju pada gadis yang terlihat sangat anggun berjalan menuju Angga.


Langkahnya perlahan, senyum manis tersungging di bibirnya. Beberapa orang tampak berbisik mengagumi salah satu ciptaan tuhan. Angga memandanginya dengan perasaan bahagia luar biasa.


Kezia duduk di samping Angga. Angga menolehnya dan tersenyum. Kezia tertunduk malu. Selembar syal putih di tempatkan di atas kepala Kezia dan Angga. Setelah pemuka agama menyampaikan khutbah singkatnya ia meminta Angga menjabat tangan Martin.


“Kak…” lirih Kezia. Angga hanya meliriknya seraya tersenyum. Kezia mulai menyadari, ada yang tidak beres dengan Angga.


“Bisa kita mulai sekarang?” tanya pemuka agama.


Angga mengangguk seraya menjabat tangan Martin. Kezia terus memperhatikan Angga dengan tatapan cemas. Martin mulai mengucapkan awalan akad dan Angga bersiap menyahutinya.


“Sayaa…”


“Tess!” darah menetes di lengan Angga. Angga mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk namun..


“BRUG!” Angga terkulai di meja akad.


“Kak Angga!” teriak Kezia.


“Astaga Angga!!” seru Mahesa.


Kezia segara meraih tubuh Angga dan membaringkannya. Ia melihat mata Angga yang hampir terpejam. Kezia panik bukan kepalang di tambah suasana terdengar sangat riuh melihat mempelai laki-laki yang tiba-tiba jatuh pingsan. Kezia segera menaruh bunga yang ada di tangannya dan melepas kain putih yang ada di atas kepalanya. Ia memeriksa detak jantung Angga. Terasa begitu lemah.


“Tolong angkat kak angga ke kamar!” pinta Kezia dengan suara bergetar.


Beberapa orang mengangkat tubuh Angga dan membawanya ke kamar Kezia. Di baringkannya tubuh Angga dengan perlahan. Dokter Albert dan Fritz yang saat itu hadir segera menghampiri. Mereka memeriksa keadaan Angga.

__ADS_1


“Kak, bertahanlah…” tutur kezia dengan suara bergetar menahan tangis.


“Biar saya yang tangani.” tawar dokter Albert yang segera menghampiri Angga. Ia memeriksa nadi, nafas dan mata Angga. “Dia mulai bradi" tutur dokter Albert pelan.


"Kak, bertahan kak." panggil Kezia seraya menatap Angga dengan panik. Mata Angga tampak sedikit terbuka dengan kumpulan air mata yang juga pecah, ia menatap Kezia laman dan seolah tersenyum. Bibirnya bergerak tapi tidak ada suara yang terdengar. Kezia mendekatkan wajahnya berusaha mendengarkan ucapan Angga.


"Aku harus pergi schnucki, maafkan aku..." lirihnya terbata-bata.


"Nggak, kak angga tetap di sini. Kak angga gag boleh ninggalin aku." elak Kezia.


Ia segera membuka jas Angga dan kancing bajunya yang mungkin menyesakkan. Mata Angga sudah terpejam dengan lelehan air mata di kedua sudut matanya.


Kezia hendak melakukan resusitasi namun seketika dokter Albert menahannya.


"Dok, saya harus memanggilnya." seru Kezia.


Dokter Albert menggeleng pelan. "Tuan ryan meminta untuk tidak dilakukan resusitasi saat dia anfal. Dia hanya ingin di temani." tuturnya, parau.


Rasanya seperti sebuah sambaran petir saat dokter Albert mengatakan kalimat itu pada Kezia. Ia menatap Angga tidak percaya. Kezia menarik nafasnya dalam-dalam dengan air mata yang tidak berhenti menets. Inikah pilihan yang diambil Angga. Benarkah ia ingin pergi sekarang?


Kezia  bersimpuh di samping tempat tidurnya. Ia menggenggam tangan Angga yang dingin. Dalam tangis yang dalam, Kezia mulai melantunkan do'a untuk Angga. Ini ucapan terakhirnya, ini salam perpisahannya dan ini saat terakhir Kezia menemani Angga di penghujung waktunya.


“Angga!! Sayang, kamu bangun nak,,, jangan tinggalkan mamah…” seru Anna seraya menghampiri Angga dan memeluknya dengan erat. “Sayang, kamu sangat ingin menikah dengan kezia, lihat nak, kezia sangat cantik. Dia duduk di samping kamu. Dia akan selalu menemani kamu. Kamu bangunlah sebentar nak, bertahanlah.. selesaikan akadnnya. Mamah mohon, kamu jangan pergi sekarang…” ratap anna dengan tangis yang pecah.


Namun Angga tak bergeming sedikitpun. Mahesa menghampiri Anna lalu memeluknya dengan erat.


“Sayang, ikhlaskan dia kalau dia memang memilih pergi. Jangan lagi membebaninya…” bisik Mahesa dengan tangis tertahan. Anna menangis sejadi-jadinya di pelukan Mahesa.


“Mamih,, dada kenapa? Kenapa malah tidur? Apa dada sakit?” suara polos Sean terdengar semakin menyesakkan. Ia mengusap-usap kaki Angga dengan lembut seperti yang biasa Angga lakukan saat Sean kecil sedang terbaring sakit.


Indira menarik tangan Sean dan memeluknya dengan erat. Tangisnya pecah , sudah tak terbendung lagi.


Kezia menatap wajah Angga yang terlihat sangat tampan. Ia mengusap kepalanya dan mencium pipi Angga dengan lembut. Bibirnya bergetar. Dadanya terasa seperti akan meledak, menahan tangis.


“Maafin aku kak… Aku sayang kakak…” bisik Kezia.


Namun Angga tidak memberi respon. Kezia semakin mendekatkan wajahnya dengan bibir bergumam melafalkan do’a-do’a di telinga Angga. Sesekali ia mengusap air mata yang menetes di pipinya dan berusaha menguatkan diri sendiri. Kezia masih merasakan denyut nadi Angga yang semakin lama semakin melemah dan lalu terhenti begitu saja. Tangannya terkulai tanpa bisa di tahan.


Kezia tak lagi merasakan detakan jantung Angga. Suara nafasnyapun berhenti. Waktu terasa berhenti untuk sesaat. Dadanya terasa sesak dan sakit seperti ada gada besar yang menghantamnya. Kezia melepaskan gengggamannya kemudian mencium pipi Angga dengan lembut. Angga telah benar-benar pergi, meninggalkannya sendirian.


“Pergilah kak, jika kakak memang sudah tidak kuat menahan semua sakitnya. Bahagialah di sana tanpa rasa sakit. Aku akan kuat, seperti permintaan kakak…” bisik Kezia, parau.


Kezia berusaha menguatkan dirinya dan berdiri dengan kaki yang terasa begitu lemah. Dokter Albert memeriksa Angga dan menggelengkan kepalanya. Ia mengumumkan waktu kematian Angga yang di sambut teriak histeris keluarga Mahesa. Suara tangisan pecah menggaung di kamar Kezia. keluarga Angga dan orangtuanya menangisi dan memeluk tubuh Angga.


Kezia berjalan perlahan meninggalkan Angga dengan tatapan  kosong dan lelehan air mata di kedua belah pipinya. Ini kah akhir kebersamaannya bersama Angga? Benarkah Angga telah pergi meninggalkannya? Semuanya seperti mimpi, mimpi buruk yang akan terus membekas di hati dan pikiran Kezia.


Kezia semakin tak tentu arah. Suara tangis seperti melodi yang paling ia benci. Kakinya mulai terasa berat. Penglihatannya mulai samar, semakin lama semakin gelap, gelap dan gelap.


“BRUG!” Kezia terjatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Key!!”


*****


__ADS_2