
Waktu makan siang telah tiba. Hendra telah bersiap di depan ruangan Kezia yang tengah mengambil tas tangannya dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Seperti biasa ia menggunakan baju type turle neck berwarna cream dan rok payung setinggi lutut berwarna hijau botol dengan aksen belt melingkar di pinggangnya. Kali ini Kezia lebih berani menggunakan hells setinggi 7 cm yang membuat kakinya terlihat lebih jenjang.
Hendra melajukan mobilnya menuju sebuah resto terkenal yang tidak jauh dari perusahaannya. Di tangannya Kezia masih memegang desain yang diberikan oleh rekanannya dan terlihat begitu sesuai dengan harapannya.
Hendra menghentikan laju kendaraannya saat sampai di resto tujuannya. Terlihat seorang wanita melambaikan tangannya ke arah Hendra, sementara Kezia masih sibuk dengan handphonenya dan mengecek Sean di sekolahnya.
“Selamat siang, terima kasih atas kesediaannya memenuhi undangan kami.” tutur wanita tersebut dengan ramah.
Kezia mengangkat kepalanya dan menatap wanita yang ada di hadapannya. Ia tercengang saat melihat wanita yang sangat dikenalinya.
“Difa…” lirih Kezia.
Difa pun tak kalah kaget jika ternyata rekanan bisnisnya adalah Kezia. Dan siapa sangka, laki-laki yang berdiri di samping Difa, yang dia perkenalkan sebagai atasannya adalah Arland.
"Dub!" rasanya jantung Kezia berhenti berdetak saat sepasang mata coklat itu menatapnya dengan tajam. Pikirannya kosong tanpa ada kalimat yang bisa ia ucapkan dari mulutnya.
Hening mengambil alih suasana untuk beberapa saat. Mereka saling bersitatap. Arland terlihat lebih tampan namun terkesan dingin. Kacamata yang melindungi matanya membuatnya terlihat lebih serius.
Difa mengulurkan tangannya dan menyalami Kezia dan Hendra. Pun Arland melakukan hal yang sama, menyalami Hendra dan Kezia tentunya. Cukup lama Arland menatap Kezia dan mengenggam tangannya. Rasanya ia ingin meyakinkan bahwa yang dilihatnya adalah benar-benar gadis di masa lalunya.
“Silakan duduk…” Difa mencoba mencairkan suasana.
Kezia duduk berhadapan dengan Arland yang tak henti menatapnya membuatnya kikuk. Untuk pertama kalinya jantung Kezia kembali berdebar kencang seperti dulu. Bertemu dengan Arland sesuatu yang tidak pernah dihindari namun ia berharap tidak pernah terjadi.
Tak lama seorang pelayan membawakan buku menu dan memberikannya pada mereka berempat. Difa dan Hendra mulai memilih menu.
“Kalau anda nona?” tanya Hendra yang membuyarkan lamunan Kezia.
“Saya…” Kezia mengalihkan perhatiannya dengan membuka-buka buku menu. Sungguh ia perlu waktu untuk menghilangkan rasa gugupnya.
“Spageti dan orange jus. Menu pilihanmu masih sama?” tanya Arland dengan suara dalam dan rendah.
Kezia menatap Arland dan menganggukkan kepalanya. Mereka kembali saling bertatapan, seketika Kezia tersadar dan segera memalingkan wajahnya.
Setelah mencatat menu pesanan, pelayan tersebut bergegas pergi. Suasana kembali canggung. Hendra dan Difa mulai berbincang sementara Kezia menyibukkan dirinya dengan ponsel. Berbeda dengan Arland yang masih memandangi Kezia laman dan tampak tercekat saat melihat Cincin yang melingkar di jarinya. Arland menyandarkan tubuhnya dan bahunya ikut melorot. Sepertinya benar yang di katakan Ricko beberapa hari lalu bahwa Kezia sudah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki.
Arland tersenyum tipis menertawakan dirinya sendiri, ia ingin mengupat atas pikirannya yang menolak semua kenyataan yang diucapkan Ricko. Bodohnya ia yang masih berharap Kezia tetap menjaga hatinya untuknya dan ternyata semua harapannya salah.
“Key, gimana kabarmu? Lama ya kita gag ketemu” Difa berusaha mencairkan suasana.
“Seperti yang kamu liat, kabarku baik.” sahut Kezia seraya tersenyum. Tepatnya berusaha tersenyum.
Difa yang dilihatnya saat ini terlihat sangat berbeda dengan Difa yang dulu dikenalnya. Ia terlihat anggun dan percaya diri dengan tampilan khas executive mudanya. Ternyata benar, waktu bisa merubah banyak hal, mungkin termasuk perasaan.
“Kamu sudah menikah key?” tanya Difa dengan tatapan tajamnya, seolah sedang menelisik kehidupan prbadi Kezia.
Kezia menatap balas tatapan Difa kemudian tertunduk, ia memandangi cncin yang masih melingkar di jarinya.
“Ehem..” Hendra berdehem, berusaha mencairkan suasana yang terasa memojokkan Kezia. “Baik tuan arland, mungkin sebaiknya kita kembali membicarakan masalah kontrak kerja kita.” Hendra sekali lalu melirik Kezia.
“Oh iya silakan.” sahut Arland yang berusaha santai.
“Baik nona, bisakah menjelaskan lebih terperinci desain yang perusahaan anda tawarkan?” ujar Hendra pada Difa.
__ADS_1
Difa mulai menjelaskan desain rumah sakit yang dibuatnya. Ia menjelaskan dengan terperinci dan Kezia pun menyimaknya. Sesekali Kezia tersenyum saat pandangan Difa tertuju kepadanya. Sementara Arland, ia terus asyik memandangi Kezia yang ada di hadapannya.
Hingga penjelasan Difa selesai, Arland tak henti memperhatikan Kezia.
Menu makanan telah tersaji. Mereka mulai menyantap makan siangnya. Kezia mulai bisa mengendalikan perasaannya dan menikmati spagetinya dengan santai.
“Apa kamu masih belum bisa makan spageti dengan benar?” tanya Arland seraya mengusap bibir dan pipi Kezia yang terkena Saus.
“Saya bisa melakukannya sendiri.” tutur Kezia seraya meraih tisu yang ada di depannya dan mengusap wajahnya. Sumpah demi apapun sentuhan halus tangan Arland membuat perasaannya kembali bergejolak. Bisakah ia berlari pergi dan tidak berhadapan lagi dengan Arland?
Kezia melirik Difa yang terlihat tidak senang dengan yang Arland lakukan. Namun Arland tidak memperdulikannya.
“Land, kamu mau coba saladnya, ini enak.” ucap Difa seraya mengarahkan salad ke mulut Arland.
“Saya tidak suka sayuran.” ketus Arland yang membuat wajah Difa memerah seketika.
Kezia pura-pura tidak melihatnya.
“Jadi, mulai kapan pembangunannya?” kali ini Kezia yang berusaha memecah kecanggungan. Bagaimanapun ia harus menghadapi orang-orang di hadapannya.
“Minggu depan.” tegas Arland.
“Em baiklah. Sepertinya proyek bisa di lanjutkan dan terima kasih telah bersedia bekerja sama dengan kami. Kebetulan saya ada agenda lain, mohon maaf saya pamit lebih dulu.” ucap Kezia seraya berdiri. Namun tiba-tiba Arland menahan tangan Kezia.
“Bisa saya minta nomor handphone anda, khawatir nanti ada yang perlu dibicarakan.” desak Arland yang tentu saja bukan sebenar-benarnya maksud hatinya.
“Untuk masalah pekerjaan, bisa langsung dengan pak hendra. Baik saya permisi, selamat siang.” timpal Kezia tanpa memperdulikan Arland.
Baginya ini lebih baik daripada berlama-lama satu meja dengan Arland dan Difa. Ia takut tidak bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya. Meski buku ceritanya dengan Arland telah ia tutup namun hati kecilnya masih tersenyum saat melihat Arland dalam kondisi baik-baik saja.
“Kamu masih mengingatnya, untuk tidak memperlihatkan lehermu pada laki-laki lain. Lalu apa kamu pun masih memakainya?” batin Arland.
“Kezia hebat ya sekarang? Bisa jadi istri dari penerus wibawa group.” puji Difa yang lebih tepatnya semacam sindiran.
“Maksudmu?” Arland menatap tajam pada Difa yang ada di sampingnya.
“Barusan aku tanya temenku yang kerja di wibawa group, ada seorang anak yang bersama kezia, tapi itu bukan anak tuan ryan. Hemmhh.. sepertinya dia terjerumus pergaulan bebas di dunia barat. Punya anak sama siapa, nikah sama siapa, aku gag nyangka kalo kezia yang punya prinsip kuatpun bisa ngalamin hal kayak gitu. Tapi hebat loh, bisa dapat laki-laki kaya. Iya kan land?” terang Difa seraya tersenyum pada Arland.
Arland terlihat sangat tidak suka dengan ucapan Difa. Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras menahan kesal. Entah pada siapa kemarahan ia tujukan.
“Difa, perhatikan bicaramu. Cukup bicarakan masalah pekerjaan saat kita bekerja, bukan mengurusi masalah pribadi klien.” sengit Arland dengan ketus.
“Tapi sekarang kita kan lagi istirahat.” Protes Difa seraya tersenyum manis pada Arland.
“Aku menganggapnya kita sedang bekerja.” tandas Arland yang segera bangkit dan meninggalkan Difa.
Difa mengeram kesal dalam hatinya. Ia masih tidak terima saat melihat tatapan Arland yang begitu dalam pada Kezia. Belum cukupkah usahanya untuk menyingkirkan Kezia dari hati dan pikiran Arland? Kapan ia akan berbalik dan kapan ia akan sadar bahwa Kezia sudah tidak mungkin ia miliki?
****
“Nona apa anda baik-baik saja?” tanya Hendra yang sedari tadi memperhatikan Kezia.
“Iya pak, saya baik-baik saja. Pak, bisa tolong antar ke kantor dulu, setelah itu saya mau menjemput Sean.” Kezia berusaha tersenyum di akhir kalimatnya padahal sebenarnya Hendra tetap bisa membaca raut wajah Kezia yang tidak biasa. Entah dipikirannya kini tentang cinta pertamanya ataukah tuan mudanya. Yang jelas, ia tak henti memutar cincin di jari manisnya.
__ADS_1
“Baik Nona…”
Hendra segera mengarahkan mobil menuju kantor. Kezia terus memperhatikan tulisan yang ada di kertas yang ia genggam. Tulisan ini adalah tulisan milik Arland. Ia terus mengingat, dimana lagi ia pernah melihat tulisan ini.
“Astaga!” cetus Kezia, rasanya ia ingat dimana ia pernah melihat tulisan ini. Tulisan ini adalah tulisan yang sama dengan yang ada dibuku catatannya dan puisi yang ia terima saat SMA. Jantung kezia kembali berdegub kencang. Ia kembali mengingat baris puisi yang di terimanya rasanya itu baru kemarin. Moment di saat Arland mungkin sedang berusaha mendekatinya namun raut wajahnya kembali berubah saat mengingat suara wanita di teponnya dan sikap Difa terhadap Arland, membuat Kezia menyimpulkan sesuatu.
****
“Mau jemput siapa mba?” tanya salah satu ibu yang sedang menunggu anaknya saat melihat Kezia yang duduk di sampingnya.
“Sean bu…” sahut Kezia, tersenyum ramah.
“Oohh yang bule itu ya?” lanjutnya. Kezia mengangguk. “Wah pantesan anaknya ganteng, mamahnya juga cantik. Katanya papahnya orang Jerman ya?” lanjut ibu tersebut.
“Iya bu…” jawab Kezia sekenanya.
Ibu-ibu pun saling berbisik dan sesekali melirik Kezia. Namun Kezia tak memperdulikannya. Bell pulang sekolah berbunyi. Terlihat Sean keluar kelas dengan membawa tas ranselnya.
“Seaann…” seru Kezia pada anak laki-lakinya.
“Mima… Hast du lange gewartet? (Mima, apa sudah menunggu lama?)” seru Sean.
“Noch kein sohn. Lass uns nach hause gehen… (Belum nak. Ayo kita pulang.)” sahut Kezia seraya meraih tangan Sean. Sean mengangguk mengiyakan.
“Ibu-ibu, saya permisi duluan…” pamit Kezia seraya tersenyum.
“Iyaa hati-hati di jalan…” seru ibu-ibu hampir bersamaan.
“Wah beneran yaa anaknya ganteng banget. Kalo aja anak saya perempuan, saya deketin mamahnya buat di jodohin.” Ujar salah satu ibu seraya tertawa
“Iyaaa… Mamahnya juga masih muda. Kayaknya nikah muda yaa…” timpal ibu satunya.
“Katanya suaminya tetep di jerman. Mereka tinggal di rumah mamahnya. Wah jangan-jangan cerai kali yaa…”
“Duh masa sih, masih muda udah di tinggal aja.”
“Tapi kan emang kalo di luar negri, pernikahan itu ya begitu seringnya.”
“Wah janda muda cantik dong yaa…”
Begitulah pergosipan ibu-ibu yang melihat Kezia dan Sean. Waktu yang senggang dan objek yang tepat adalah syarat utama adanya gossip. Namun hal itu tidak Kezia pikirkan dan menganggapnya sebagai angin lalu.
“Mima, aku mau makan ayam goreng, boleh?” pinta Sean seraya menatap wajah kezia
“Boleh sayang. Tapi kenapa tiba-tiba kamu mau makan ayam goreng?” Kezia tampak keheranan. Selama ini Sean hanya makan makanan rumahan baik itu saat di Jerman atau pun di rumahnya.
“Tadi dia makan ayam goreng dengan lahap dan aku ingin mencobanya.” cetus Sean dengan tatapan nanar.
“Dia?” selidik kezia.
“Iya mima, teman-temanku…” Sean mengklarifikasinya.
“Baiklah, ayo kita makan ayam goreng. Kita lihat, seenak apa ayam goreng yang “Dia” makan…” goda Kezia seraya tersenyum. Sean hanya menoleh sambil ikut tersenyum.
__ADS_1
“Sepertinya Seanku lagi naksir seseorang…” gumam Kezia.
****