My First Love Story

My First Love Story
Episode 140


__ADS_3

Suara dering telpon terdengar nyaring saat Kezia tengah bermain dengan Sean di ruang keluarga. Kezia segera melihat handphone yang ada di saku dress nya.


“Haloo, ya fa…” sapa Kezia pada Difa.


“Keeyy… Kamu lagi dimana? Bisa kita ketemu sekarang gag? Tolong…” terdengar suara isakan dari sebrang sana


“Fa, kamu kenapa?” Kezia mulai cemas sendiri mendengar tangisan Difa.


“Key, kita harus ketemu dulu, ada yang perlu aku omongin…” tukas Difa masih dengan suara isakan. Kezia melirik jam di ruang keluarga dan masih cukup sore.


“Okey, kirim aku alamatnya, nanti aku ke situ…” sahut Kezia yang segera menutup telponnya.


“Kenapa mima?” tanya Sean yang ikut kebingungan.


“Gag pa-pa sayang, ini temen mima ada perlu, mima ke luar sebentar ya, kamu tunggu sama oma.” Terang Kezia seraya mengusap lembut kepala Sean. Sean mengangguk sebagai respon.


Kezia segera mengambil tas tangan dan kunci mobilnya. Eliana melihat Kezia begitu terburu-buru, hingga pertanyaan Eliana di abaikan begitu saja.


Kezia melihat kiriman alamat yang di kirim Difa, sebuah café di pusat kota. Ia segera menyalakan mesin mobil dan mengarahkannya menuju tempat yang di kirim Difa. Seingat kezia, Arland mengatakan bahwa Difa mengajukan pengunduran diri dari perusahaannya dengan alasan sering sakit-sakitan. Hal ini membuat Kezia semakin cemas, khawatir terjadi sesuatu pada Difa.


Dari tempat parkir café, Kezia bisa melihat Difa yang sedang duduk menunggunya dengan segelas minuman di hadapannya. Kezia segera menghampiri Difa. Melihat kedatangan Kezia, ia segera berdiri dan memeluk Kezia dengan erat. Ia terisak di bahu Kezia.


“Fa, kamu kenapa?” Kezia mengusap lembut punggung Difa dan mengajaknya untuk duduk.


Difa melepaskan pelukannya lalu menatap Kezia dengan mata sembabnya.


“Keeyy,, tolong bantu aku carikan dokter aborsi…” ujar Difa dengan terbata-bata.


“Dokter aborsi?” Kezia tercengang mendengar kalimat Difa. Difa hanya mengangguk seraya mengusap perutnya yang masih rata. “Fa, kenapa mau di gugurin, anak itu gag berdosa.”


“Tapi key, aku gag mungkin ngebesarin anak ini sendirian…..” Difa kembali tersedu.


“Kenapa harus ngebesarin anak ini sendirian? Kamu bisa bicarain ini sama ayahnya…” Kezia mengusap lengan Difa dengan lembut. Difa hanya menggelengkan kepalanya. “Apa ayah anak ini gag tau kalo kamu….” Kezia tak melanjutkan kalimatnya namun Difa sudah lebih dulu mengangguk mengiyakan ujaran Kezia.


“Aku gag berani bilang sama ayah anak ini key, aku takut. Aku udah milih ninggalin dia supaya dia hidup bahagia….” Terang Difa dengan air mata yang terus mengalir.


“Fa, gimana pun kamu harus bilang sama dia. Kalo kamu takut, ayo aku temenin kamu temuin dia…”


“Apa kamu beneran mau bantu aku bilang sama ayah anak ini key?”

__ADS_1


“Iyaa , ayo aku temenin. Siapa ayahnya, aku anter kamu temuin dia…” ujar Kezia dengan yakin.


Difa mengusap air matanya. Tangannya tergerak hendak mengambil handphone dan selembar hasil usg. Kezia melihat hasil usg tersebut, usia kandungannya kurang lebih 4 minggu.


“Ini ayah anak ini key…” Difa menyerahkan foto di handphonenya. Foto saat ia memeluk laki-laki yang tengah terlelap bersamanya.


Kezia terpaku di tempatnya melihat foto yang ada di hadapannya. Mulutnya yang terbuka tanpa bisa ia kontrol. Wajah yang ada di hadapannya adalah wajah yang ia kenal, wajah milik laki-laki yang dicintainya, yaitu Arland.


“Fa, ini….” Mata kezia seketika meneteskan bulir hangat saat menatap Difa.


“Maaf key,,, anak ini, anak aku sama Arland….”


Serasa ada kilatan petir yang menyambar Kezia. Pikirannya kosong, yang ada hanya rasa sakit yang menghantam dadanya. Pertahanan dan kepercayaannya pada Arland benar-benar telah runtuh. Hatinya remuk redam, tak bersisa apapun.


“Key, makanya aku mau gugurin kandunganku. Aku gag mau ngerusak kebahagiaan kamu sama arland. Aku akan pergi sejauh aku bisa…” tukas Difa.


“Enggak, kamu gag boleh gugurin anak ini. Anak ini gag berdosa. Arland harus tanggung jawab sama perbuatannya. Kamu gag boleh ngehadapin ini sendirian…” tutur Kezia dengan suara bergetar.


Dadanya terasa panas. Amarah berkumpul di puncak kepalanya. Arland yang selama ini selalu mengatakan bahwa hanya Kezia satu-satunya, ternyata membohonginya. Tidak ada pilihan lain, selain membuat Arland bertanggung jawab.


“Keyy maafin aku…” Difa memeluk Kezia dengan erat.


Kezia hanya terdiam. Bagaimanapun Kezia merasa sangat kecewa karena Difa telah mengkhianatinya bersama Arland. Namun anak yang ada dalam kandungannya benar-benar tidak berdosa dan ia memiliki hak untuk hidup. Tak ada pilihan lain, selain membiarkan keduanya dan menjauh dari Arland dengan segera.


Rasanya hati Kezia telah benar-benar hancur. Ia berjalan menuju mobilnya dengan langkah yang terasa begitu berat. Tetesan air mata membasahi wajah cantiknya yang ia usap dengan kasar. Beberapa pasang mata melihat ke arahnya, tapi kezia tak memperdulikannya. Yang ia inginkan saat ini hanya menjauh sejauh mungkin, tidak ada lagi Arland dalam hidupnya.


“Brug!!!” Kezia menutup pintu mobil dengan keras. Ia menelungkupkan wajahnya di atas setir. Tangisnya pecah. Jantungnya berdebar hebat, nafasnya terasa begitu sesak. Bayangan Arland berkelebat di kepalanya. Suara nafas Arland terdengar jelas di kedua telinganya. Kezia menutup kedua telinganya dengan kedua belah tangannya.


“Kamu jahat land, kamu jahat! Kamu hianatin aku, aku benci sama kamu, aku benci!!!” geram Kezia seraya memukul-mukul setir mobilnya. Tangisnya benar-benar pecah.


Kezia mengusap air mata yang menghalangin pandangannya. Dinyalakannya mesin mobil, lalu ia melajukan kendaraannya cukup kencang menuju rumah. Sepanjang perjalanan, hanya tangisan yang menemaninya dalam hiruk pikuk jalanan yang begitu ramai. Sakit, ya sangat menyakitkan.


****


Hingga tiba di rumah, mata dan hidung Kezia masih terlihat merah dan berair. Ia tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya dan berjalan dengan cepat menuju kamarnya.


Eliana melihat keanehan pada putrinya. Dengan cepat ia mengejar Kezia, namun bayangan Kezia sudah menghilang di balik pintu kamarnya.


Eliana terpaku di depan kamar Kezia. Sayup-sayup ia mendengar Kezia terisak. Suara tangis yang selama ini tidak pernah terdengar oleh Eliana. Perasaan Eliana mulai tak karuan. Ia berniat mengetuk pintu Kezia, namun mengurungkannya. Akhirnya ia memilih meninggalkan Kezia sendirian, mungkin putrinya butuh waktu untuk sendirian.

__ADS_1


Di dalam kamar, Kezia menangis sejadinya dadanya masih terasa sesak. Ia menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang dengan air mata yang menganak sungai. Perasaan yang berkecambuk di dadanya, bermuara pada satu amarah yang pasti, yaitu terkhianati. Ia memutuskan bahwa semuanya memang harus berakhir. Tak ada lagi kesempatan untuknya bersama Arland. Laki-laki yang selama ini selalu ada di hatinya, kini ia harus merelakannya pergi.


“Harusnya, memang semuanya sudah lama berakhir. Seperti apapun awalnya, pada akhirnya kita emang gag bisa sama-sama….” Lirih Kezia seraya memandangi wajah Arland yang ada di handphonenya. “Tapi, aku gag pernah berfikir, kalau semua akan berakhir seperti ini. “ Kezia kembali terisak.


Semuanya begitu tiba-tiba, hingga tak ada kesempatan untuknya melupakan semuanya. Kezia benar-benar terlarut dalam kesedihannya. Hingga ia terlelap dalam kesendiriannya.


*****


 


“Woy, lo kenapa sih bro, mondar-mandir mulu…” cetus Ricko pada Arland yang sedang berjalan mondar-mandir di apartemennya.


Wajahnya terlihat serius dan tangannya sibuk dengan handphone.


“Nih kezia kemana sih, gue telponin dari tadi gag di jawab-jawab…” sahut Arland dengan gusar.


“Tidur kali dia…” sahut Ricko sekena nya.


“Gag lah ini masih sore” Arland melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 7 malam.


“Lagi mandi kali. Lo makan dulu aja, tar lo telpon lagi.” Ricko menyodorkan makanan cepat saji untuk Arland yang di pesannya tadi.


Karena perutnya yang sudah keroncongan, akhirnya Arland pun ikut bergabung dengan Ricko di meja makan.


“Gimana persiapan lo, udah 100% kan?” tanya Arland sambil menggigit paha ayamnya.


“Heemm.. udah selesai. Calon bini gue yang ngurusin. Udah ada WO tetep aja dia yang ribet dan cerewet.” Ujar Ricko seraya tersenyum geli.


“Ya berarti lo tinggal siapin fisik yang kuat, jangan bikin sherly kecewa di malam pertama.” Goda Arland.


“Gag akan lah… Gue udah dapet banyak referensi. Di ronde pertama udah pasti jebol.” Seru Ricko dengan tawa jenakanya. “Lo kapan nyusul?”


“Secepatnya lah… Gag sabar juga gue pengen cepet nikah.” Sahut Arland seraya tersenyum.


“Iya lah, jangan sampe junior lo keburu beku.” Ricko tergelak.


“Sialan lo!” Arland melempar Ricko dengan tulang ayam. Keduanya tertawa puas.


Mereka menikmati makan malamnya dengan lahap. Terdengar candaan hangat yang menyelingi kedua bujang saat membicarakan kekasih masing-masing dengan imajinasi di benaknya.

__ADS_1


Heemhh, emang kayak gitu ya kalo cowok? ;D


****


__ADS_2