
“Selamat pagi bu eliana…” sapa ibu kompleks yang hari itu berbelanja lauk pauk di kedai milik Eliana.
“Selamat pagi bu… Ibu mah beli apa?” sambut Eliana dengan ramah.
“Ini bu, saya mau beli beberapa lauk pauk. Saya kerepotan ngurus cucu jadi gag sempet masak.” timpalnya seraya memperahatikan jejeran menu masakan yang dibuat Eliana.
“Oh boleh ibu mau beli apa aja?” Eliana membuka tirai tipis yang menutup etalase makanan dari dalam.
“Eemmm boleh deh itu ayam goreng, cobek ikan sama capcay nya…”
“Mau berapa porsi?”
“Ayamnya 3, cobek ikan 2 capcay nya 1 porsi aja…”
“Baik bu, sebentar saya bungkuskan.” Eliana segera menyiapkan pesanan ibu tetangga komplek yang menunggunya di depan etalase.
“Bu, kezia gimana kabarnya? Masih di luar negri?” tanya Mira tiba-tiba.
“Emm iya bu… Tahun ini mudah-mudahan kuliahnya selesai…” sahut Eliana seraya tersenyum
“Kuliah apa sih kok lama banget? Apa dia belum kepikiran nikah? Anak saya udah 2 loh anaknya, padahal mereka kan seumuran…” cerocos Mira membuat telinga Eliana terasa diisi air yang sangat banyak.
“Iya bu, do’akan saja. Semoga segera ketemu jodohnya. Ini bu makanannya…” Eliana menyodorkan pesanan yang telah di bungkus.
“Oh iya bu… ini uangnya. Eh iya bu, cepet-cepet di carikan jodoh buat kezia, umurnya kan udah gag muda lagi, udah mau 28 kan ya? Walaupun cantik tapi bisa kalah saingan loh sama anak yang lebih muda. Lagian ya bu, anak perempuan itu ujung-ujungnya di dapur. Yang penting bisa dapet suami yang kaya, kerja di kantoran, udah bagus itu.” cerocos Mira dengan semangat yang menggebu-gebu. Eliana hanya tersenyum ketir mendengar ujaran Mira yang begitu menyesakkan dadanya.
“Iya bu, terima kasih perhatiannya.” tukas Eliana tanpa menatap Mira.
“Ya udah bu, saya permisi dulu takut cucu saya nangis nyariin…” pamit Mira yang bergegas pergi.
Eliana kembali tersenyum namun perasaannya remuk redam. Putri yang selalu ia sayangi dan bangga-banggakan dicemooh begitu saja oleh orang lain, tentu hati ibu mana yang terima. Tanpa terasa air mata menetes di pelupuk mata Eliana. Di tatapnya foto Kezia yang ada di handphonenya. Rindu, hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.
“Mamah rindu nak, pulang lah….” lirih Eliana.
“Permisi…” suara seorang laki-laki membuyarkan lamunan Eliana. Ia segera menyeka air matanya dan menghampiri laki-laki tersebut. “Dengan bu eliana?” tanya laki-laki tersebut.
“Betul mas, dengan saya sendiri…” sahut Eliana.
“Ada paket bu… Silakan di tanda tangani dulu tanda terimanya.” Ujar laki-laki itu seraya menyerahkan paket yang berukuran sedang.
Eliana membaca nama pengirimnya dan ternyata Kezia. Eliana tersenyum dengan senangnya. Ia membubuhkan tanda tangannya di lembar tanda terima dan menyerahkan kembali buktinya pada kurir.
__ADS_1
“Mas, masnya dari ekspedisi XXX kan?” tanya Eliana dengan ragu.
“Benar bu. Ada apa ya?”
“Mas , ada karyawan namanya arland gag kerja di sana?” selidik Eliana.
“Arland? Eemmm… Oh arland yang tinggi dan ganteng itu maksud ibu?” bayangan Arland muncul di ruang imajinasi pak kurir. Eliana mengangguk. “Wah, udah lama berenti bu… Kalo gag salah dia buka usaha sendiri dan usahanya maju.” lanjut pak kurir dengan pikiran yang masih membayangkan Arland.
“Apa dia sudah menikah?”
“Kurang tau sih bu… Tapi emang dari waktu kerja juga dia banyak cewek yang nyari, sekarang udah nikah kali bu. Gag mungkin orang cakep kayak begitu nunggu nikah lama-lama. Perempuan mana aja bisa dia dapet.”
Eliana hanya terpaku mendengar jawaban pak kurir hingga tanpa Eliana sadari laki-laki itu sudah pamit dan berlalu pergi dari hadapannya.
Eliana kembali dalam lamunannya. Memikirkan setiap perkataan yang diucapkan Mira tadi. Eliana mendudukkan tubuhnya dan memeluk paket yang dikirimkan Kezia.
“Harusnya , mamah gag ngizinin kamu pergi jauh-jauh nak… Mamah sangat rindu kamu….” lirih Eliana yang kembali terisak.
Semenjak tinggal di jerman, Kezia memang tidak pernah pulang. Eliana hanya pernah sekali ke Jerman yaitu saat Kezia wisuda S1 kedokteran. Itupun hanya 2 hari. Biaya ke sana tidaklah sedikit. Walau Kezia mengirimkan biaya untuk tiketnya, namun Eliana tidak sampai hati membuat putrinya terus menerus menanggung semua bebannya sendiri.
Apalagi sejak kuliah, tidak pernah sepeserpun Kezia meminta uang dari kedua orangtuanya. Setiap hari Eliana membayangkan makanan apa yang di makan putrinya. Apakah dia sakit atau sehat. Dan seperti apa perlakuan teman-temannya pada putrinya. “Aku baik-baik aja mah…” hanya kata-kata itu yang selalu Kezia ucapkan setiap kali bertelepon atau video call. Tapi perasaan seorang ibu tidak pernah bisa di bohongi.
Dan yang ada di pelukannya kini, entah paket ke berapa. Hampir setiap bulan kezia mengirimkan paket yang berisi barang-barang seperti baju untuk mamah dan papahnya, bahan makanan, alat make up, karena kezia tau, mamahnya adalah seorang yang sangat modis dan papahnya bekerja di perusahaan besar. Tapi kezia tidak tau, bahwa hanya baju daster yang sering membalut tubuh Eliana dan rasa rindu yang tidak pernah habis.
****
“Haloo…” sapa Kezia dengan suara khas bangun tidur. Laki-laki di sebrang sana tersenyum mendengar suara Kezia.
“Bangun lah nona, ayo kita jalan-jalan sebentar.” Suara Fritz mengisi ruang telinga Kezia.
“Ayolah fritz, aku sangat malas. Aku hanya ingin tiduran. Lagi pula udara sangat dingin…”
“Heey, besok kita sidang. Ayo kita cari baju yang cocok untuk besok. Kita buat dosen penguji terpesona sejak kita masuk ruangan.” seru Fritz dengan semangat.
“Heemm ya sudah, temui aku satu jam lagi di Shopping Mall XXX…” tukas Kezia yang segera mengakhiri panggilannya.
Kezia menggeliatkan tubuhnya yang terasa begitu pegal. Rasanya kelelahan sepulang dari Berlin tidak ada habisnya.
Ia menatap langit-langit kamarnya dan tiba-tiba kegirangan sendiri saat mengingat besok ia akan sidang terakhir. Ujian klinisnya di beberapa rumah sakit sudah dilalui dengan baik dan nilai yang cukup. Kezia segera bangkit dan menuju kamar mandi. Ia mengisi bath tube dengan sabun dan beberapa tetes aromaterapi, lalu merendam tubuhnya di sana.
Suasana mandi yang sangat ia rindukan karena belakangan ini ia mandi dengan sangat cepat dan terus berkejaran dengan waktu yang tak ada habisnya.
__ADS_1
Air mandi cepat sekali terasa dingin. Ia membersihkan tubuhnya dari busa sabun dan shampoo. Segera ia mengambil baju ganti dari lemari dan merias wajahnya dengan sederhana.
Rambutnya yang masih basah segera ia keringkan dan menutupnya dengan Beanie (kupluk). Coat yang cukup tebal ia gunakan untuk menghangatkan tubuhnya. Serta ankle boot yang melindungi kedua kakinya. Dompet dan handphone ia masukkan begitu saja ke saku coatnya yang sangat dalam. Ia sudah siap untuk pergi.
Di halaman apartemen ia memanggil taksi dan berangkatlah ia ke shopping mall tempat Fritz menunggu.
“Maaf membuatmu menunggu!” bisik Kezia yang tiba-tiba muncul di belakang Fritz.
Saat itu Fritz menunggu Kezia di café favorit mereka menghabiskan waktu.
“Kamu belum terlambat. Nikmatilah coklat hangatmu, di luar sangat dingin.” ujar Fritz yang sudah memesankan coklat hangat favorit Kezia.
“Kamu yang terbaik bro!” seru Kezia yang segera duduk di samping Fritz.
Kezia meneguk coklatnya yang masih hangat seraya memijat pelipisnya yang sedikit pusing.
“Bagaimana hibernasi mu 2 hari ini?” goda Fritz.
“Ah menyebalkan sekali. Kamu bahkan tau aku sakit kepala karena kebanyakan tidur.” Cetus Kezia.
“Tidak ada yang tidak aku tau dari kamu key…” ujar Fritz sambil mengacak rambut Kezia yang tertutup beanie.
“Ah kalian selalu seperti itu, memperlakukanku seperti anak kecil!” keluh Kezia sambil mengibaskan tangan Fritz dari atas kepalanya.
“Ya yang tidak punya pacar kan hanya anak kecil!” ledek Fritz.
“Oohh kamu menantangku, lihat lima belas menit ke depan aku akan menggandeng seorang laki-laki tampan!” ancam Kezia.
“Eitsss jangan berani-berani menggoda laki-laki atau kakakmu akan menghabisiku.” sahut Fritz yang segera memegangi tangan Kezia. Fritz begitu ketakutan padahal tidak mungkin wanita seperti Kezia menggoda laki-laki.
“Ah kalian sangat menyebalkan!” Kezia kembali meneguk coklat hangatnya sampai habis. “Ayo kita jalan!” ajak Kezia seraya beranjak. Fritz mengimbanginya disamping kanan Kezia.
Selama ini, Angga dan fritz memang lebih akur. Hal ini berkat kejadian saat Fritz menolong Kezia saat teman-teman kuliahnya mengerjai kezia dengan memberinya minuman beralkohol. Hasilnya Kezia mabuk dan meracau tak tentu.
Beberapa anak laki-laki mengajaknya berdansa dan Kezia mengikutinya. Untungnya Fritz datang di waktu yang tepat. Ia segera mengajak Kezia pulang dan mengurungnya di flat setelah sebelumnya ia memberitahu kejadian tersebut pada Angga.
Sejak saat itu, Angga mempercayakan Fritz untuk membantunya menjaga Kezia.
Fritz dan Kezia berjalan mengitari Mall yang tidak terlalu ramai. Mereka pergi ke beberapa toko baju dan mencari stelan yang pas untuk besok. Tidak butuh waktu yang lama untuk menemukan barang yang mereka cari. Fritz membawakan paperbag yang berisi barang belanjaan mereka dan membawanya masuk ke mobil.
Hari ini mereka habiskan untuk bersenang-senang, agar pikiran mereka lebih rileks. Hari yang menyenangkan mereka tutup dengan makan malam bersama.
__ADS_1
****