
“ Bii… liat sepatu aku yang putih gag?” Tanya Kezia yang sedang sibuk mempacking bajunya.
" Kalo gag salah liat ada di belakang non… sebentar bibi ambilkan..” jawab bi ida dengan segera
“Makasih Bi…” sahut Kezia sambil tersenyum.
“Sama-sama non… Non kezia ada lagi yang bisa bibi bantuin?”
“Nggak bi, aku bisa sendiri kok…”
“Kalo gitu bibi permisi dulu non…” pamit Bi ida.
“Iya Bi… makasih yaa…”
Bi Ida mengangguk mengiyakan, lalu bayangannya menghilang di balik pintu. Kezia membereskan beberapa potong baju alat mandi dan sandal serta sepatu. Untuk masalah packing barang, Kezia memang jagonya. Dia bisa menata barang dengan rapi tanpa ada yang tertinggal.
“Tok Tok tok..”
“Zia, boleh mamah masuk nak?” suara Eliana terdengar dari luar kamar
“Boleh mah… masuk aja…” sahut Kezia.
Pintu kamar bergeret. Eliana berjalan memasuki kamar dan duduk di pinggiran tempat tidur Kezia.
“Anak mamah udah mau pergi lagi aja…” tutur Eliana sambil membelai rambut panjang Kezia.
“Iya mah, Cuma tiga hari kok. Lagian ini kan rame-rame sama temen sekolah, guru dan temen-temen olimpiade kemaren. O iy mah, ada salam dari Tante Anna, Om Mahesa sama Kak Indira juga kak angga.” Terang Kezia sambil menutup resleting tas ranselnya.
“Siapa mereka nak?” Eliana mengernyitkan dahinya.
"Mereka itu keluarga pemilik yayasan yang jadi penyelenggara olimpiade, sekaligus CEO perusahaannya papah.” Terang Kezia.
Kali ini kezia sudah duduk di samping mamahnya.
“OOhh…. Salam juga dari mamah buat mereka..” sahut Eliana. Kezia mengangguk mengiyakan. “Mamah bersyukur, anak gadis mamah di kelilingi orang yang sayang sama kamu.” Imbuh Eliana sambil mengusap pucuk kepala kezia. Matanya tampak berkaca-kaca.
“Zia sayang mamah…” tutur kezia yang mendekap erat tubuh Eliana. “Sebentar, Zia kenalin sama seseorang dulu…” lanjut Kezia sambil mengambil handphone yang tergeletak di sana.
Kezia membuat panggilan Video call. Tak lama berselang, seraut wajah tampan tampil mengisi layar handphone kezia.
“Hay kak!” seru Kezia sambil tersenyum
“Hay schnucki, apa kabar?” sahut angga dari sebrang sana.
“Kabar baik kak… kakak gimana kondisinya sekarang?”
“Aku sudah lebih baik. Ini sedang persiapan untuk pulang. Siapa itu key?” Tanya angga yang melihat bahu Eliana di samping Kezia.
“Oohh ini mamah Eliana, mamahku…” sahut Kezia sambil merangkul mamahnya dari samping.
“Salam kenal tante, saya Angga…” tutur Angga dengan sopan.
__ADS_1
“Iya nak angga salam kenal juga…” sahut Eliana sambil tersenyum hangat. “Terima kasih sudah menjadi teman Kezia… Zia ini anaknya memang gag terlalu ramah dan kadang suka ketus dan manja. Mohon maaf kalau dia merepotkan nak angga selama mengikuti olimpiade…” terang Eliana.
“Maahh,,, Jangan gitu laahh…Harga diri aku turun niihh..” sahut Kezia dengan kesal.
“Hahahaha… Nggak kok Tan… NKzia anak yang cerdas, tante pasti bangga punya kezia.” tutur angga dengan tulus. Eliana mengangguk mengiyakan, dirangkulnya kezia sambil mengusap bahu Kezia. “O iya tan, Kezia bilang, angga sudah seperti kakaknya sendiri, mungkin tante juga bisa menganggap Angga putra tante…” lanjut Angga.
Eliana hanya terdiam mendengar ucapan Angga. matanya berkaca-kaca dan bersiap melelehkan butiran mutiara di pipinya.
“Tante, apa saya menyinggung tante?” Tanya Angga yang gelagapan.
“Nggak kok nak angga, tante hanya terharu…” Jawab Eliana sambil terisak di bahu Kezia. Kezia mengerti perasaan mamahnya yang pasti teringat mendiang kakaknya.
“Kak, udah dulu yaa… nanti aku hubungin lagi…” tutup Kezia tanpa menunggu persetujuan Angga.
Kezia memeluk Eliana dengan erat. Eliana menangis sejadinya di pelukan Kezia.
“Mah, Zia juga rindu kakak… Tapi kita gag boleh terus bersedih begini, nanti kakak juga sedih di sana…” lirih kezia. Eliana terangguk, namun dia masih ingin meluapkan rasa sedihnya saat mengingat anak sulungnya.
****
Sementara itu, Angga masih kebingungan dengan sikap Kezia terlebih Eliana. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Pak Hendra…” Panggil Angga dari ruang perawatan.
“Ya Tuan Muda…” sahut Hendra yang tidak lama sudah ada di hadapan angga.
“Mana Data yang ku minta?”
“Hem..” sahutnya
Hendra mengeluarkan sebuah amplop coklat besar yang selalu berada di dalam tas kerjanya. Amplop tersebut
disodorkannya pada Angga.
Angga mulai membuka amplop tersebut. Isinya adalah semua data tentang Kezia dan keluarganya. Semua informasi yang ingin Angga ketahui, tinggal diminta pada hendra, dan dia akan mencari dengan senang hati. Awalnya angga ingin mengenal Kezia secara alami tanpa menyelidikinya dengan diam-diam. Namun ada hal janggal yang membuat Angga harus mencari tahu sendiri.
“Siapa ini?” Tanya angga sambil memperlihatkan sebuah foto dua anak kecil di tangannya.
“Itu Non Kezia dan mendiang Kakaknya…” jawab Hendra.
“Oooo jadi Kezia punya seorang Kakak?” Tanya Angga sambil meneliti foto yang ada
dalam genggamannya.
“Betul tuan Muda, Nona Kezia memiliki seorang kakak laki-laki. Beliau meninggal saat berusia delapan tahun, tepat di hari ulang tahun Nyonya Eliana, karena sebuah kecelakaan.” Terang Hendra dengan gamblang.
“Shit! Aku malah mengorek luka lama Kezia dan mamahnya…” cetus Angga yang kemudian hanya mematung memikirkan kebodohannya tadi. “Maafkan aku Schnucki… Apa ini yang membuatmu benar-benar menganggapku sebagai kakakmu dan tidak mungkin mengubahnya?” lirih Angga dalam hati.
******
Malam itu, jam 8 malam para siswa sudah berkumpul di lapangan yang tidak jauh dari sekolah mereka. Beberapa Bis sudah berbaris dengan rapi, bersiap berangkat mengantar para siswa untuk berkaryawisata. Setiap siswa sudah diberikan buku yang berisi tugas mereka selama di tempat yang akan mereka kunjungi. Tempat yang akan mereka kunjungi adalah salah satu keajaiban dunia. Perjalanan akan sekitar sebelas jam, dan dilakukan di malam hari agar kedatangan mereka di pagi hari.
__ADS_1
Beberapa siswa sudah duduk di jok masing-masing. Setiap kelas di sediakan 1 bis sementara tim olimpiade dan guru berada di bis terpisah.
“Keyy, kamu mau di bis mana? Sama aku apa sama temen-temen kamu?” Tanya Rana dengan semangat.
"Aku kayaknya sama temen sekelas deh kak, gag apa-apa kan?”
“Gag apa-apa dong… kan nanti juga kita ketemu di sana.” Sahut Rana sambil mengusap lengan Kezia. “Kalo gitu aku naik dulu yaa… takutnya udah di absen…” imbuh Rana
“Ya kak, nanti di cariin lagi…” sahut Kezia.
“Aku gag ada yang nyariin, kalo kamu emang di cariin…” rana menyenggol tangan Kezia
sengaja.
“Siapa juga yang nyariin aku, emang udah di absen?” kezia mengernyitkan dahinya.
“Tuh, yang nyariin kamu!” seru Rana sambil menunjuk ke arah Tyo. Tyo memalingkan wajahnya saat Rana menunjuk ke arahnya.
Memang sejak Kezia kembali ke sekolah, belum pernah sekalipun bertemu dengan Tyo. Tepatnya setelah kejadian mereka melakukan panggilan video.
“Kakak aja yang nemenin kak tyo yaa…” sahut kezia dengan yakin. “Aku juga mau ke bis dulu…” sahut Kezia. Rana mengangguk mengiyakan.
Kezia segera berjalan menuju bis kelasnya. Dia mencari namanya di antara banyak jok.
“Nah itu dia!” gumam kezia sambil berjalan ke tempat duduknya. Disana terlihat Difa yang sudah duduk dengan manis.
“Hay Fa!” sapa Kezia dengan hangat
“Keyy… aku kira kamu di bis satunya…” seru Difa yang kegirangan.
“Enggak lah,,, aku mending di sini aja…” jawab Kezia sambil menaruh tasnya di bagasi yang berada di atas kepalanya.
Kezia dan Dena mulai mengatur posisi duduknya.
Wali kelas kezia mulai mengabsen dan ternyata para siswa telah seluruhnya masuk. Para siswa di minta untuk istirahat selama perjalanan, agar besok dapat mengikuti kegiatan dengan baik.
Perjalanan sudah dimulai. Suasana di Bis mulai hening. Sesekali terdengar suara dengkuran di antara penumpang.
Kondektur menyalakan lampu dengan remang-remang agar penumpang bisa beristirahat. Kilatan cahaya membias dari lampu kendaraan lain. kezia melirik Difa yang ada disampingnya. Rupanya dia sudah terlelap.
Kezia mengeluarkan headset dari saku jaketnya dan memutar lagu-lagu favoritnya. Tak lama Kezia terlelap.
Difa membuka matanya saat seseorang mencoleknya dari belakang. Dia bangkit dari tempat duduknya kemudian bertukar duduk dengan seseorang, ya Dialah Arland. Arland mengibas-ibaskan tangannya di hadapan Kezia, sepertinya Kezia sudah terlelap. Arland mengambil headset sebelah kanan Kezia dan memakainya di telinga kiri. Kepala Kezia yang beberapa kali terbentur kaca Bis, disandarkannya pada bahunya yang kokoh.
Sejenak Arland tersenyum saat melihat wajah polos Kezia yang terlelap dengan pulas. Arland menyelipkan beberapa helai anak rambut yang menutupi wajah cantik Kezia dan menempatkannya di belakang telinga kezia.
“Tidurlah… Mimpi indah…” lirih Arland sambil mengusap pipi Kezia dengan lembut.
Arland menutup matanya yang mula terasa ngantuk dan ikut terlelap dalam tidur malamnya.
*****
__ADS_1