My First Love Story

My First Love Story
Tetap berteman


__ADS_3

Beberapa putaran mereka lewati. Wahana pun berhenti, mereka bergegas turun dari kudanya masing-masing.


"Hahahha, seneng gue… berasa jadi bocah lagii..” seru Rana dengan wajah sumeringahnya.


"Kemana lagi kita kak?” Tanya Kezia yang juga menikmati suasana malam ini.


"Hemm… gue pengen makan sosis bakar. Kalian mau kan?”


"ayok!” sahut Tyo dan Kezia bersamaan.


"Hahahha, kalian kompak banget…” tawa Rana mengudara, membuat wajah Kezia dan Tyo bersemu merah.


Mereka berjalan menuju penjual sosis bakar. Beberapa siswa lain juga membeli sosis di sana. Mereka menunggu pesanan sambil berbincang.


"Key, kira-kira besok gimana ya hasilnya?” Tanya Rana dengan wajah serius.


"Emm… besok ya biarin aja gimana besok kak. Yang penting kita nikmatin hari ini..” jawab Kezia dengan wajah polosnya.


"Hahahha, bener juga kamu!” seru Rana kembali bersemangat.


Tak lama Tyo datang menghampiri Kezia dan Rana.


"Nih sosisnya..” Tyo menyerahkan sosis masing-masing 1 pada kedua gadis di depannya.


"Makasih kak…” seru kezia dengan senang hati.


"Eemm… enak ya… food street emang juara!” seru Rana  yang dengan lahap menikmati sosis dalam genggamannya.


Kezia mengangguk mengiyakan. Tak sampai lima menit, sosis telah berpindah ke perut.


"Duh , gue ke toilet bentar ya…” tutur Rana sambil memegangi perutnya.


"Kamu gag apa-apa rana?” Tanya Tyo yang terlihat cemas.


"Gag apa-apa, gue ke toilet bentar. Kalian lanjut aja dulu, gag usah nungguin gue.” Terang Rana sambil berlalu.


Kezia tersenyum geli melihat tingkah rana.


"Mau kemana lagi kita key?” Tanya Tyo sambil melihat ke sekelilingnya. Kezia hanya menggeleng seraya mengangkat bahunya. Ia tak begitu familiar dengan taman bermain. "Kita naik bianglala yuk…” ajak Tyo sambil menarik tangan Kezia, tidak ingin ada penolakan.


"Kak, aku takut ah, ngeriii…” tutur kezia menghentikan langkahnya.


"Sekali aja, lawan ketakutan kamu…” pinta Tyo meyakinkan. “ Kamu percaya aku kan?” lanjut Tyo.


Kezia menghela nafas panjang, lalu mengiyakan ajakan Tyo. Mereka menaiki bianglala dengan ketinggian yang menantang adrenalin.


"Coba kamu liat, pemandangan di bawah bagus banget…” tutur Tyo


Sejak tadi Kezia memang duduk bersidekap, karena takut saat tau bianglala hampir berada di puncak tertingginya.


"Sini…” ajak Tyo sambil meraih Tangan Kezia.


Kezia berjalan perlahan mendekati jendela kaca dan melihat ke bawah. Memang ada semacam kengerian, tapi tiba-tiba menghilang saat melihat hamparan cahaya lampu di bawahnya. Taman bermain juga terlihat lebih indah saat mereka bisa melihatnya dari atas.


"Waahhh indah bangeetttt…” seru Kezia dengan wajah takjub


"Kamu yang lebih indah key…” batin Tyo yang memandangi Kezia dari tempat duduknya.

__ADS_1


“ Apa kakak juga nanti berencana membuat taman bermain seindah ini?” Tanya Kezia membuyarkan lamunan Tyo.


"Ya, akan aku buatkan 1 untuk mu…” jawab Tyo spontan.


Kezia sedikit tercengang dengan jawaban Tyo. Ada aura yang berbeda mengisi kapsul bianglala yang mereka


tempati.


"Key…” bisik Tyo yang berdiri di sampingnya.


"Yaa..” jawab kezia dengan suara serak. Entah mengapa ia merasa sedikit gugup melihat tatapan tajam Tyo. Tyo berdiri dengan jarak dekat dan perlahan mengikis ruang di antara mereka.


"Apa , kita bisa lebih dari sekedar kondisi sekarang?” Tanya Tyo sambil mengenggam tangan Kezia yang menempel di kaca bianglala.


Benar saja, mungkin alam bawah sadarnya sudah memperingatkan Kezia bahwa akan terjadi sesuatu di detik berikutnya. Kezia menghela nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan semua keberaniannya untuk sebuah penolakan.


"Aku, menikmati kondisi saat ini. Dan biarkan tetap seperti ini..” jawab Kezia dengan yakin seraya melepaskan genggaman tangan tyo. Terlihat gurat kecewa di wajah Tyo.


"Apa aku harus menunggu?”


"Aku tak akan meminta kak Tyo nunggu aku….” Jawab kezia tanpa menarik nafas, membuat tyo semakin kecewa bahwasannya, sedikitpun kezia tak ingin memikirkannya.


"Apa aku sudah di tolak?” Tyo mengalihkan pandangannya memandangi keindahan cahaya lampu di bawahnya.


Kezia hanya tersenyum dan ikut menikmati keindahan taman hiburan.


*****


Kezia dan Tyo berjalan beriringan melewati koridor hotel. Tak ada perbincangan berarti diantara keduanya. Setelah


kembali dari taman hiburan, Tyo lebih banyak terdiam.


"Kak tunggu…” Kezia menarik tangan Tyo perlahan.


"Kenapa?” Tyo menatap Kezia sesaat


"Sorry…” lirih kezia.


"Kenapa kamu harus minta maaf?”


"Maaf untuk hal yang tidak menyenangkan tadi. Aku harap, kita bisa tetap berteman seperti ini.” Tutur Kezia dengan tatapan nanar


"Istirahatlah… kamu berfikir terlalu banyak…” sahut Tyo sambil mengusap pucuk kepala Kezia. “Aku pergi dulu..” pamit Tyo sambil berlalu. Kezia mengangguk mengiyakan.


Tyo berlalu pergi meninggalkan Kezia yang masih mematung di depan pintu kamarnya. Bayangannya perlahan menjauh hingga tak terlihat lagi.


"Tidak ada pertemanan yang murni di antara laki-laki dan perempuan, terlebih perasaan ini sudah hadir lebih dulu.…” lirih Tyo dengan langkah gontai.


Setelah Tyo tak terlihat lagi, kezia celingukan di sekitar kamarnya. Rasanya ada yang memperhatikannya dari


kejauhan. Bulu kuduknya terasa berdiri. Kezia segera menempelkan kunci kamarnya dan masuk ke dalam kamar lalu menghilang di balik pintu.


"Ehmm!! Ada yang habis nolak niihh…” tutur Rana dari atas ranjangnya.


"Astagaaaa!!” seru Kezia yang terperanjat. Kezia segera menyalakan lampu kamarnya. “ Ya ampun kak rana… ngagetin aja…” keluh kezia sambil berjalan ke arah tempat tidurnya.


"Kamu nolak Tyo?” tanya Rana sambil menarik tangan Kezia hingga terduduk di  sampingnya. Kezia mengangguk. “ Aku fikir kamu juga suka sama Tyo…” lanjut rana

__ADS_1


"Emang aku keliatan kayak suka kak sama kak Tyo?” selidik kezia yang tidak menyadari sikapnya.


"Eemm nggak juga sih… Cuma Tyo itu kan banyak yang suka jadi aku pikir kamu juga akan suka.… Dan lagi tiap cewek yang suka sama dia, pasti mundur.”


"Emang kenapa?” Kezia mulai penasaran


"Kamu gag tau ya, Tyo itu dingin sama cewek. Tiap ngomong sama cewek pasti gag pernah liat matanya. Cuma sama kamu dia bisa ngasih tatapan hangat kayak gitu..” terang Rana


"Ah kakak lebay…” seru Kezia sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur Rana.


"Loh, aku serius key…” Rana Ikut berbaring di samping kezia. “ Tyo itu baik, ganteng, pinter, care banget… apa yang kurang dari dia key?” Tanya rana sambil menoleh ke arah Kezia.


"Punya pacar saat sekolah, gag ada dalam list aku kak…” Jawab Kezia sambil terus melihat ke langit-langit kamarnya.


"Heyy ayo lahh… ini masa SMA. Masa paling menyenangkan, gag bisa di ulang…. Punya mantan pacar banyak di masa depan gag akan aneh buat cewek kayak kamu…” cerocos Rana yang tiba-tiba duduk di samping kezia.


"Hahahaha… kak rana ngagetin tau…” gelak Kezia melihat wajah Rana yang begitu Ekspresif. “ Apa kak Rana suka sama kak Tyo?” Kezia balik bertanya dengan senyum di bibirnya.


"Gag ada cewek yang gag suka sama Tyo. Cuma kamu doang yang aneh!” sahut Rana sambil memalingkan wajah.


"Ooohh… I see….” Tutur kezia sambil tersenyum jenaka.


"Hey jangan liat aku kayak gitu Key…” protes Rana sambil menutup wajahnya yang merona. Kezia kembali tergelak melihat ekspresi Rana yang tidak bisa ditutupinya.


"Berjuanglah kak…” cetus kezia sambil menepuk-nepuk bahu Rana.


“IIsshhh kamu yaaa…” rana menggelitik Kezia hingga terpingkal-pingkal. Suara tawa mengisi ruang kamar mereka.


"Kriinggg.. Kring…” suara telpon kamar berdering lumayan keras.


"Siapa Nih malem-malem telpon?” Tanya Rana sambil mengangkat telponnya.


"Halo…”


“………………”


"Ya benar… tunggu sebentar..” Rana memberikan gagang telpon pada Kezia.


"Siapa kak?” isyarat Kezia tanpa suara. Rana hanya mengangkat bahunya tanda tidak


tahu. Diserahkannya gagang telpon pada Kezia.


"Halo…”


"Selamat Malam Non Kezia. saya dari reseptionis. Ada tamu yang menunggu nona di bawah.”


"Siapa ya mba?” Kezia terlihat ragu.


"Menurut tamunya, anda akan tau setelah anda turun.” tukas sang receptionist.


Sambungan terputus. Kezia kembali meletakkan gagang telponnya.


"Mau ku temenin key?” tawar Rana.


"Gag usah kak, aku ke bawah sendiri.” Kezia segera beranjak dan sedikit merapikan penampilannya yang berantakan.


"Kalo ada apa-apa, teriak ya..” pesan Rana sambil menyentuh bahu Kezia. Kezia hanya mengangguk kemudian berlalu.

__ADS_1


*****


__ADS_2