
Berkas-berkas terhampar di atas tempat tidur Kezia dan sedang ia coba rapikan. Setelah menyiapkan semua dokumen untuk pendaftaran, Angga mengajak Kezia dan Rana menuju taman belakang. Mereka akan bersiap untuk apply pendaftaran dan mengikuti test online tahap pertama.
Angga sengaja memilih taman belakang untuk tempat Kezia dan Rana mengikuti test tahap pertama, karena suasananya yang begitu tenang dan asri membuat mereka bisa lebih rileks dan dapat berfikir dengan tenang.
Kezia dan Rana menyalakan laptopnya masing-masing. Mereka mulai masuk ke portal pendaftaran. Mengisi data mereka dengan tenang dan mengupload beberapa file pendukung. Kezia menggeliat dan menyandarkan bahunya ke sandaran kursi, belum apa-apa bahunya sudah terasa pegal.
“Gimana lancar” tanya Angga yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Kepalanya berada di samping kezia dengan mata menatap ke layar monitor laptop.
“Astagaa,, kakak ngagetin aja!” reflex kezia memegangi dadanya. Angga menoleh ke arah Kezia dan tersenyum.
“Berkonsentrasilah, tahap selanjutnya psikotest…” tutur Angga sambil menjentikkan jari di dahi Kezia. Kezia segera menjauh saat sadar Angga akan menjahilinya.
“Ya udah sana, jangan ganggu!” cetus Kezia sambil mendorong sedikit wajah Angga yang terlalu dekat dengan wajahnya. Angga tersenyum di hadapan Kezia, ia segera bangkit setelah mengacak rambut Kezia sebelumnya. Kezia mendengus kesal.
Rana menatap Kezia dari samping dan menoleh ke arah berlalunya Angga.
“Apa mereka merasa hanya berdua di bumi ini?” gumam Rana sambil menggelengkan kepalanya.
Kezia mulai mengklik icon “Step 2” di layar monitornya. Uraian soal mulai muncul. Tepat sekali ucapan Angga, itu adalah soal psikotest. Dengan serius Kezia mulai mengerjakan soalnya. Angga memperhatikan Kezia dari kejauhan sambil memainkan laptop yang ada di hadapannya. Beberapa pekerjaan mengharuskannya tetap terhubung dengan kantor secara online.
Sesekali Kezia menggaruk kepalanya dan sesekali pula dia mencoret-coret kertas yang ada di hadapannya. Soal terbanyak adalah aritmatika selain logika dan deret gambar.
2 jam berlalu. Kezia masih berkutat dengan test psikotestnya. Tahap terakhir adalah test yang mencakup kepribadian dan kesehatan mentalnya. Selesai mengerjakan, Kezia menggigit jarinya dan dengan gugup menekan tombol submit. Ada timer yang berjalan dan kolom hasil yang akan menunjukkan nilai psikotestnya. Kezia melirik Rana yang juga focus dengan psikotestnya.
“Ah, Shit!” dengus Rana sambil memegangi kepalanya.
“Kenapa kak?” tanya Kezia yang terkejut.
“Hasil psikotest ku gag masuk key. Kurang dua point aja!” seru Rana dengan wajah putus asanya.
“Astaga!!!” Kezia pun mulai terlihat panik.
Waktu satu setengah menit terasa begitu lama. Kezia menggigiti jemarinya dan menghentak-hentakan kakinya perlahan. Dia benar-benar sangat gugup, apalagi saat tahu Rana gagal. Rana bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Kezia. Jantung Kezia berdebar tak karuan.
“GLUCKWUNSCH! WIR SEHEN UNS IN DER NACHSTEN PHASE!”
Tulisan tersebut terpampang di layar laptop Kezia.
“AAAAKKK!!!” Kezia berdiri seraya bersorak. Di peluknya Rana yang berada di sampingnya. Ekspresi spontan saat dia mengetahui telah lulus di tahap ini.
“Selamat key…” Lirih Rana sambil mengusap punggung kezia.
Angga segera menghampiri mendengar teriakan Kezia, lalu menatap layar laptop Kezia. Angga tersenyum puas. Kezia melepaskan pelukannya.
“Maaf kak, mungkin ekspresi aku berlebihan…” tutur Kezia yang merasa bersalah pada Rana.
“Hemmm gag pa-pa, itu wajar kok. Selamat yaaa…” Rana mengulang kalimatnya. Kezia mengangguk.
“Lalu, gimana dengan kak rana? Apa kakak akan mencoba test di universitas lain?” Kezia menggenggam erat tangan Rana yang terasa begitu dingin.
__ADS_1
Rana melirik Angga, namun Angga hanya terdiam dengan ekspresi datarnya. Sangat berbeda dengan saat menatap Kezia. Rana sedikit kecewa karena laki-laki yang dikaguminya tidak mengatakan apapun.
“Emm… mungkin aku sebaiknya pulang ke Indonesia. Karena aku juga gag terlalu menguasai bahasa jerman…” Keluh Rana sambil tertunduk.
“Tapi kak, kakak harus semangat, pasti ada kesempatan di tempat lain.” tutur Kezia dengan tulus. Rana yang biasanya sangat percaya diri, kali ini sepertinya mentalnya mulai menciut.
“Iya key, akan ada kesempatan lain buat aku, tapi bukan di sini…” sahut Rana sambil melirik Angga.
Lagi-lagi Angga hanya terdiam. Kezia ikut melirik ke arah Angga, yang hanya terdiam tidak memberikan kata-kata motivasi apapun pada Rana. Kezia memeluk Rana dengan erat dan mengusap punggung Rana dengan lembut, berusaha mengalirkan semangat yang sama untuk Rana.
“Kak angga, mohon maaf sudah merepotkan. Mungkin saya akan pulang saja.” Dalam hati kecil Rana, berharap agar Angga memintanya untuk tetap kuliah di jerman.
“Baiklah, pak hendra akan mengurus tiket kepulanganmu.” Tegas Angga.
Ibarat petir, kata-kata angga berlalu begitu saja melewati rongga telinga Rana. Rana tertunduk kecewa.
“Apa yang kamu harapkan rana…. Dasar bodoh!” dengusnya sambil tersenyum kelu.
Kezia memandangi Rana dan Angga bergantian. Ada yang salah diantara mereka. Angga pergi mengambil handphonenya dan menghubungi Hendra.
“Kak rana, apa kakak suka sama kak angga?” terka Kezia dengan perlahan. Rana mengangkat wajahnya yang tampak memerah.
“Dia sudah lebih dulu tidak menyukai sikapku key…” sahut Rana yang berarti dia benar-benar menyukai Angga. Matanya berkaca-kaca.
“Kenapa kakak gag jujur aja? Aku tinggal sebentar ya, kakak bilang baik-baik sama kak angga…” tutur Kezia dengan polosnya.
“Apa kamu gag suka sama kak angga?” sela Rana
“Sudahlah, gag perlu key, fokusku sekarang adalah pendidikan, bukan masalah perasaan.” Tutup Rana. Kezia menghargai keputusan Rana dan tidak membantah pilihannya.
Sore itu juga, Rana di antar Hendra ke bandara. Sementara Angga pergi ke kantor karena ada rapat penting. Tinggalah Kezia seorang diri.
****
Malam mulai menjelang namun Angga masih belum juga pulang. Kezia yang sejak siang berdiam diri di kamarnya mulai merasa bosan. Seharian ia memonton film –film dengan bahasa Jerman, membuka kamus dan membaca beberapa artikel dalam bahasa Jerman. Bahkan dia membaca beberapa buku online yang berisi tips cepat belajar bahasa Jerman. Tapi ternyata tidak semudah yang tertulis di buku.
Kezia bangkit dari tempat tidurnya. Perutnya terasa lapar. Dia hanya makan nasi di pagi hari, itu pun nasi goreng. Sisanya dia makan roti atau pasta, sungguh tidak cukup untuk mengganjal perutnya. Kezia menggulung rambutnya yang terurai hingga ke atas kepala. Dia berjalan keluar kamar dan menuju meja makan. Hidangan makan malam sudah tersaji namun belum ada yang menyentuhnya. Kezia mengambil buah apel dan anggur yang ada di meja makan.
“Non kezia mau makan malam sekarang?” tawar Sarah yang segera menghampiri saat Kezia datang.
“Engga mba sarah. Mba sarah sedang sibuk gag?” Tanya Kezia sambil mengunyah anggur yang sudah masuk ke mulutnya.
“Tidak nona. Ada yang bisa saya bantu?”
“Hem,,, tunggu sebentar, aku ambil buku dulu.” Kezia berlari ke kamarnya dan mengambil beberapa buku lalu kembali ke ruang makan. “Ayo kita ke taman belakang dan temenin aku belajar bahasa jerman…” ajak Kezia sambil menarik tangan Sarah. Sarah mengikuti tanpa protes.
Kezia dan Sarah duduk bersama di Gazebo yang menghadap ke kolam renang. Semilir Angin terasa sangat sejuk. Kezia mulai melafalkan beberapa kata dan Sarah tanpa ragu mengoreksinya jika salah. Sesekali mereka tertawa saat ternyata yang dilafalkan Kezia jauh dari yang seharusnya.
Dari kejauhan, tampak Angga sudah sampai di rumah. Ia melonggarkan dasinya dan mengetuk pintu kamar Kezia, tapi tidak ada jawaban. Pelayan yang lain memberitahukan bahwa Kezia sedang berada di taman belakang bersama Sarah. Angga segera menuju taman belakang dan tampak Kezia sedang tertawa bersama Sarah. Sarah yang melihat kedatangan Angga, segera berdiri menyambut.
“Seru sekali…” tutur Angga sambil menyilangkan tangan di depan dada.
__ADS_1
“Kakak udah pulang?” tanya Kezia dengan senangnya. Angga mengangguk. Sementara Sarah terlihat ketakutan karena berani duduk bersama majikannya.
“Buatkan saya coklat hangat!” seru Angga pada Sarah. Sarah segera mengiyakan dan pergi meninggalkan Angga dan Kezia. “Kamu ngapain malem-malem masih dii luar dengan pakaian minim begitu?” Tanya Angga dengan serius.
Saat itu Kezia memang hanya memakai celana kulot selutut dan baju kaos biasa. Rambutnya di ikat tinggi-tinggi memperlihatkan leher jenjangnya.
“Aku lagi belajar kak…” sahut Kezia yang salah tingkah. Kezia teringat perkataan Arland tentang rambut dan lehernya. Dia segera melepaskan ikatan rambutnya untuk menutup leher jenjangnya.
Angga memandang leher Kezia. ia memperhatikan kalung yang melingkar di leher putih Kezia dengan inisial AK. Angga memalingkan pandangannya saat sadar itu adalah inisial nama Kezia dan Arland.
“Belajar di dalam, nanti kamu masuk angin.” tutur Angga sambil berjalan masuk ke rumah. Kezia mengekorinya dari belakang. “Ikut aku!” seru angga yang mulai melangkahkan kakinya menapaki anak tangga.
“Kita mau kemana kak?” Tanya Kezia yang celingukan melihat lingkungan sekitar lantai 2.
Angga membuka pintu sebuah ruangan dan mengajaknya masuk ke sana. Tampak buku berderet rapi di lemari yang di tata dengan apik.
“Belajar di sini aja. Kamu bisa pilih buku apapun.” Seru Angga sambil mendudukan tubuhnya di sofa.
Rupanya ini adalah ruang baca Angga. Buku-buku tebal ada di sana. Mata Kezia mengeliling. Ia terpukau dengan jumlah buku yang begitu banyak. Angga memperhatikan Kezia sambil tersenyum.
“Aku mandi dulu, kamu pilihlah buku yang kamu perlu.” Lanjut Angga.
“Hem…” sahut Kezia.
Angga meninggalkan Kezia di ruang baca dan menuju kamarnya yang berada di sebelah ruang baca.
Kezia mulai terlarut. Ia melihat semua koleksi buku Angga. Di pojok dekat jendela, ada sebuat foto Albert Eistein dengan lemari kecil di bawahnya. Disana diisi oleh buku matematika yang Angga tulis sendiri. Kezia terpana. Dengan lincah tangannya membuka satu per satu buku yang sudah di tata rapi. Rupanya buku karangan Angga selain di tulis dalam bahasa Indonesia, juga ditulis dalam bahasa inggris dan Jerman. Kembali rasa kagum Kezia bertambah pada sosok Angga.
Tak lama kezia meraih buku syair berbahasa jerman terbitan tahun 1772 karya Johann Wolfgang von Goethe. Ia merasa tertarik dengan covernya. Kezia membawa buku tersebut ke sofa dan membacanya dengan posisi berbaring. Tak lama ia terlelap.
****
Angga sudah keluar dari kamar mandi. Badannya sudah terasa lebih segar. Meski tubuhnya sudah merasa sangat lelah, tapi sepertinya tugas dari kantor tidak bisa ia tinggalkan. Segera Angga memakai kaos oblong berwarna abu dengan celana selutut. Ia berjalan menuju ruang baca. Terlihat Kezia sudah tertidur dengan tangan memeluk buku. Sementara bibirnya masih bergumam.
“Entschuldigung, können Sie für eine Minute fragen? (maaf, bisa minta waktunya sebentar?)” gumam Kezia berulang-ulang.
Angga tersenyum memandangi Kezia yang sedang mengigau. Di tatapnya wajah Kezia lekat-lekat. Diselipkannya anak rambut yang menutupi wajah cantik Kezia.
“Ich liebe dich… (aku mencintaimu…)” tutur Angga perlahan seraya mengusap pipi Kezia.
Kezia hanya menggeliat kecil karena merasa ada yang sesuatu menyentuh wajahnya.
Cukup lama Angga memandangi wajah kezia yang terlelap seperti bayi. Kakinya mulai pegal karena lama duduk di lantai. Angga mengambil buku yang dipeluk kezia.
“Dasar ABG…” cetus Angga saat melihat buku yang diambil Kezia.
Angga meletakannya di atas meja kerja. Dengan hati-hati Angga membopong tubuh Kezia dan memindahkannya ke kamarnya. Angga membaringkan Kezia dengan perlahan agar tak membangunkannya. Diselimutinya tubuh Kezia hingga menutupi dadanya. Lalu kembali menuju sofa di kamarnya dan mulai melanjutkan sisa pekerjaannya dari kantor.
Dini hari, mata Angga mulai terasa perih. Ia mengambil selimut yang ada di dalam lemarinya, lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa dan terlelap begitu saja.
******
__ADS_1