
"PRANKK!!!"
Sebuah suara pecahan kaca terdengar jelas menggema di ruang keluarga rumah Arland. Arland segera berlari menghampiri arah datangnya suara.
"MIH!" teriak Arland saat melihat sosok wanita yang dicintainya tergeletak tidak sadarkan diri dengan pecahan kaca berserakan disekitarnya. "Mih, mamih kenapa?" Arland menepuk-nepuk pipi Linda, namun Linda benar-benar tidak sadarkan diri.
Dengan sekuat tenaga Arland mengangkat tubuh Linda yang cukup berisi lalu memindahkannya ke sofa. Ia segera Arland mengeluarkan mobil dan membawa Linda ke rumah sakit.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Arland tengah kalut dengan Linda yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
"Arrgggh!!!" teriak Arland menumpahkan amarahnya seraya memukul setir yang ada di genggamannya. Emosinya benar-benar menggebu tidak terkendali. Matanya memerah dengan air mata yang masih terkumpul membentuk pecahan kaca di matanya.
"Irene, kamu akan tahu akibatnya berurusan sama aku!" Bagi Arland saat ini, Irene adalah satu-satunya wanita yang paling ia benci. Ia telah menghancurkan hidupnya dan keluarganya.
20 menit berlalu, Arland telah sampai di UGD sebuah rumah sakit besar. Beberapa petugas kesehatan menyambutnya dan membawa Linda dengan blankar ke ruang pemeriksaan. Arland kalut tak tentu arah. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, tangannya mengepal dan dinding menjadi pelampiasannya mengelurkan semua amarahnya.
"Arrgghh!!!" dengus Arland.
Arland terduduk di ruang tunggu dengan kedua tangan menangkup kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. Lebih sakit lagi hatinnya yang kini tidak siap jika harus kehilangan satu-satunya wanita yang dicintainya.
Di tempat lain, Kezia tengah mondar-mandir di kamarnya. Pikirannya terus tertaut pada Arland. Janji Arland untuk menghubunginya tidak juga ia penuhi. Dengan segenap keberanian Kezia mencoba menghubungi Arland lebih dulu. Entahlah, perasaannya saat ini sangat tak enak, khawatir terjadi sesuatu pada Arland.
Kezia mulai menghubungi Arland. Dengan gusar ia menunggu Arland menjawab telponnya. Satu kali panggilan tidak ada jawaban. Perasaan Kezia semakin ketir. Kezia tahu, saat ini Arland sedang berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan terkait perusahaan orang tuanya.
Panggilan kedua Kezia lakukan. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja belajar yang ada di hadapannya.
"Halo.." sebuah suara membuat Kezia terhenyak. Suara Arland yang tak biasanya ia dengar.
"Land, kamu lagi dimana?"
Terdengar tarikan nafas kasar dari mulut Arland. "Rumah sakit." sahutnya seraya memejamkan mata.
"Hah? Siapa yang sakit?" Benar saja, mungkin inilah yang membuat perasaan Kezia tidak menentu.
"Mamih pingsan." sahut arland dengan suara bergetar.
Sekujur tubuh Kezia terasa begitu lemas. Bayangan Arland tengah sendirian dalam kesedihannya, tergambar jelas di pikiran Kezia.
"Kirim alamatnya, aku ke sana sama papah." tegas Kezia tanpa menunggu jawaban Arland. Tangan Arland terkulai begitu saja. Air mata menetes tanpa diminta. Ia coba menguatkan dirinya sendiri, namun ternyata sangat sulit karena butuh bahu untuk bersandar dan butuh teman untuk menenangkannya.
Kezia segara berganti pakaian. Diketuknya kamar Martin yang mungkin hampir terlelap.
"Pah, tolong anter zia ke rumah sakit! Mamih arland masuk rumah sakit!" Ujar Kezia dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Tanpa banyak bertanya, Martin segera keluar dan mengikuti permintaan Kezia.
****
Perjalanan yang tidak begitu jauh menuju rumah sakit, terasa begitu lama bagi Kezia. Martin mengerti benar kegundahan putrinya yang sejak tadi menghentak-hentakan kaki seraya menggigiti jari tangannya.
Begitu sampai di rumah sakit, Kezia segera turun dan berlari mencari Arland. Dari kejauhan terlihat Arland yang sedang tertunduk lesu di salah satu bangku ruang tunggu. Kezia berusaha menguasai emosinya sendiri sebelum menghampiri Arland. Ia ingin menguatkan Arland maka dirinya sendirilah yang harus lebih dahulu kuat.
"Land..." Kezia duduk di samping arland yang masih belum menyadari kedatangannya. Arland mengangkat wajahnya saat sadar suara Kezia mengusik lamunannya. Matanya terlihat merah dan berair.
"Key..." Arland terpekik seraya tertunduk. Ia masih berusaha menyembunyikan kesedihannya di hadapan Kezia.
"Kamu yang kuat, semua akan baik-baik aja..." lirih Kezia seraya mengusap lembut punggung arland. Arland terangguk dengan tangis yang masih di tahannya. Ia menekan sudut matanya tapi nyatanya itu tidak berhasil menahan laju air matanya. Untuk sekali ini saja ia menangis di hadapan seorang perempuan.
Kezia memeluk Arland dengan erat. bahunya yang membungkuk ia usap dengan lembut. Cukup lama Arland terisak dan menumpahkan semua keresahan dan kemarahannya.
"Makasih key, makasih udah ada buat aku." lirih Arland yang mulai bisa mengendalikan dirinya. Betapa ia sangat bersyukur gadis yang dicintainya menemaninya menhadapi saat tersulitnya.
Kezia terangguk seraya tersenyum. "kuatlah, tante linda butuh kamu land." lirih Kezia seraya menatap Arland dengan hangat.
Arland terangguk sebagai respon. Ia memandangi wajah yang begitu menenangkannya dengan damai. Sungguh ia sangat bersyukur.
"Keluarga bu Linda?" ujar seorang wanita yang keluar dari ruang perawatan.
"Pasien sudah sadar, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang perawatan namun, kondisi jantungnya memang kurang baik, diharapkan keluarga agar tetap bisa menjaga kesehatan mental pasien." terang dokter tersebut. Arland dan Kezia terangguk paham.
"Boleh saya liat sekarang dok?" pinta Arland.
"Silakan..." sahut wanita tersebut dengan ramah.
Arland segera masuk dan menghampiri Linda yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Bibirnya tersenyum melihat kedatangan Arland. Sementara itu, Kezia dan Martin memilih menunggu di ruang tunggu.
"Mih, gimana perasaan mamih? Apa yang sakit?" tanya Arland seraya menggenggam tangan Linda yang dingin.
"Mamih udah mendingan land, cuma agak sesek aja dikit." sahut Linda dengan pelan.
"Syukurlah, mamih harus sehat, harus kuat. Kita udah janji akan memulai semuanya dari nol." tutur Arland yang tersungkur di lengan Linda.
"Lihat jagoan mamih ini, udah dewasa, tampan dan sangat menyayangi mamih. Mamih bangga sama kamu nak." ujar Linda dengan penuh kesungguhan.
Arland mengecup kening Linda dengan penuh kasih sayang. Wanita yang melahirkannya, kini tidak semuda dulu, tidak sekuat dulu dan kewajibannyalah untuk menyayanginya.
"Mih, ada temen arland nengokin mamih, mamih mau ketemu?" tawar Arland.
__ADS_1
"Tentu sayang..." sahut Linda.
Arland segera keluar ruangan dan meminta Kezia untuk masuk. Setelah meminta izin pada Martin, Arland masuk bersama Kezia.
"Wah, siapa gadis cantik ini land?" tanya Linda saat melihat Kezia datang menghampirinya.
"Selamat malam tante, saya kezia..." ujar Kezia memperkenalkan dirinya.
"Oohh kezia... Duduk sini nak.." Ujar Linda seraya menepuk ruang kosong di sebelahnya.
Kezia mendekat. ia duduk di samping tempat tidur Linda.
"Tante gimana, udah enakan?"
"Udah enakan sayang, tinggal ada seseknya dikit lagi. Makasih udah tengokin tante dan temenin arland." tutur Linda dengan lembut. Sesekali ia menoleh Arland yang tak lepas pandangannya dari Kezia.
Obrolan demi obrolan berlalu begitu saja. Linda merasa memiliki teman untuk bercerita bahkan tertawa ringan. Untuk beberapa saat ia bisa melupakan rasa sakit di dadanya saat menghabiskan waktu bersama Kezia. Linda hanya memiliki Arland sebagai anak laki-lakinya, tentu saja berbeda jika dibandingkan bercerita dengan anak perempuan.
Tangan Linda menggenggam tangan Kezia dengan erat, sebuah tanda ia merasa sangat nyaman bisa berbagi cerita dengan gadis yang Arland perkenalkan.
"Key, makasih udah bikin mamih tersenyum lagi... Terima kasih udah mau berada di sisiku saat aku terpuruk." Batin Arland seraya memandangi Kezia dengan penuh kekaguman.
"Tante istirahat yaa, besok key main lagi ke sini." Ujar Kezia mengakhiri obrolan malam ini.
"Iya nak, terima kasih yaa... Besok-besok kita ngobrol lagi.." sahut Linda dengan penuh semangat.
Kezia pun bergegas pulang, karena malam sudah semakin larut. Arland mengantarkannya hingga ke tempat parkir, tempat dimana Martin menunggunya.
"Bisa jemput aku lebih pagi besok? Aku mau ketemu tante sebelum ke sekolah." ujar Kezia sesaat sebelum berpisah dengan Arland.
"Iya, aku jemput kamu besok. Makasih ya udah mau jadi temen mamih." ungkap Arland seraya mengusap lembut rambut Kezia. Kezia terangguk dengan segaris senyum di bibirnya.
"Ehm!" terdengar suara Martin dari dalam mobil. Kezia dan Arland tampak salah tingkah melihat tatapan sinis dari Martin.
Dengan segera mereka menghampiri Martin yang menatapnya dengan tajam.
"Om, makasih banyak... Mohon maaf arland udah ngerepotin om..." tutur Arland sambil mengangguk.
"Iya, sekarang masuk lah, kezia om bawa pulang dulu." Ujar Martin yang merasa tidak terima putrinya memikirkan laki-laki lain selain dirinya.
"Iya om, hati-hati di jalan." ungkap Arland seraya melambaikan tangan.
Kezia pun berlalu bersama Martin. Dari spion kanan, Martin masih bisa melihat senyum yang terukir di bibir Arland. Betapa ia merasa sangat cemburu pada anak muda tersebut.
__ADS_1
****