
Suasana ruang guru terlihat tegang saat Kezia dan ketiga sahabatnya bergantian mendapatkan pemeriksaan dari dokter Irwan. Meski telah mendapat pertolongan pertama, Dena dan Kanua tetap di sarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena kerasnya pukulan yang menghantam tubuh mereka.
“Apa dia sempat mengalami cedera kepala dan tulang belakang sebelumnya?” tanya dokter Irwan saat tengah memeriksa Kezia yang belum sadarkan diri.
“Iya dok, sekitar satu bulan lalu dia ngalamin kecelakaan… Kezia sebelumnya gag bisa jalan, tapi tadi tiba-tiba aja dia berdiri karena mau menolong saya….” Sherly terisak saat mengingat kejadian beberapa menit lalu.
Ricko mengusap-usap punggung Sherly berusaha menenangkan sementara dokter irwan memeriksa Kezia lebih seksama, karena sudah 10 menit tapi ia belum juga siuman juga.
“Apa dia baik-baik saja dok?” Tanya Arland yang sejak tadi ada di samping Kezia, tidak pernah beranjak sedikitpun.
“Kita akan mengetahuinya saat dia sadar.” Terang dokter Irwan. “Terus berikan wangi-wangian aromatic ini, mudah-mudahan bisa segera merangsang kesadarannya.” Lanjut dokter Irwan seraya menyerahkan sebotol aromaterapi pada Arland.
Arland segera melakukan yang disarankan dokter Irwan. Dokter Irwan berjalan ke meja Amar dan berbicara dengan pelan menjelaskan kondisi Kezia.
“Ini salah gue, harusnya tadi kami ngalah, gag ngeladenin si dara gila itu dan pergi bawa kezia jauh-jauh…” pekik Sherly yang terisak di pelukan Ricko. Ia merasa sangat bersalah karena kondisi Kezia kembali seperti ini karena ingin menolongnya.
“Kenapa key gag bangun-bangun ke?” tanya Dena yang menatap Kania dengan sendu.
Kania yang sedang meneguk teh hangatnya, hanya bisa menggeleng tak berani menjawab. Dena kembali ikut tertunduk. Tak lama, Kezia tampak mengerjapkan matanya. Perlahan matanya terbuka dan menatap ke langit-langit ruangan guru.
“Key, kamu udah sadar?” dengan segera Arland mengeratkan genggaman tangannya. Kezia menoleh pada Arland, lalu tersenyum. “Syukurlah…” lirih Arland yang memenamkan kepalanya di sofa samping bahu kezia. Ia sangat senang akhirnya Kezia kembali membuka mata. Dokter Irwanpun segera menghampiri Kezia.
“Saya periksa sebentar ya…” tutur dokter Irwan sambil mengambil tangan Kezia yang sejak tadi di genggam Arland. Kezia mengangguk mengiyakan. Dokter irwan memeriksa denyut nadi Kezia, yang terasa mulai tenang dan stabil. “Apa kamu merasa pusing atau lainnya?” Tanya dokter Irwan.
“Tidak dok, saya hanya merasa kaki saya seperti kesemutan dan…” mengingat kakinya, Kezia segera bangun dan hendak beranjak.
“Kamu mau kemana?” tanya dokter Irwan yang segera menahannya.
“Dok, tadi saya bisa berdiri. Iya kan sher?” tanya Kezia yang baru teringat kejadian tadi. Sherly menganggukinya seraya tersenyum. “Saya bisa menunjukkannya dok” lanjut Kezia yang segera menurunkan kedua kakinya perlahan ke lantai. Terlihat senyum merekah saat ia bisa menurunkan kakinya sendiri.
“Astaga key..” lirih Dena yang melotot tak percaya. Kezia bisa kembali berdiri di atas kakinya. Perasaannya campur aduk antara terkejut dan tentu saja terharu. Sherly menggenggam tanga Ricko, ikut merasakan ketegangan melihat Kezia.
“Pelan-pelan key…” tutur Arland
“Okey, kamu pegangan ke sini..” pinta dokter Irwan sambil mengulurkan tangannya.
Kezia memegangi tangan dokter Irwan, lalu perlahan mengangkat tubuhnya dan berusaha berdiri. Dan benar saja, Kezia bisa berdiri, namun kakinya masih gemetar, walau tidak sekuat sebelumnya.
“Ee ee ehh…” tutur Kezia yang merasa posisi tubuhnya akan tumbang.
Arland segera menghampirinya dan memegangi tubuh Kezia.
“Duduklah dulu, kamu masih harus berlatih pelan-pelan. Khawatirnya nanti ototnya akan kaget dan sering kram.” Terang Dokter Irwan sambil tersenyum.
“Baik dok..” jawab Kezia yang kemudian kembali duduk.
__ADS_1
Kezia tersenyum lebar. Matanya berkaca-kaca karena rasa bahagia yang dirasakannya. Di tatapnya satu per satu wajah sahabatnya dengan penuh kebahagiaan.
“Aku bisa…” ucapnya dengan pelan seraya menatap Arland dengan mata berbinar.
Arland mengangguk, tak bisa berkata-kata.
“Key,, Lo bisa jalan lagi, gue seneng bangett…” lirih Sherly sambil memeluknya erat.
“Iyaa , kita harus cepet-cepet pulang dan kasih tau tante eliana kalo lo udah bisa jalan.” Sahut Dena tidak kalah antusias.
“Ya udah, ayo buruan kita pulang…” ajak Kania tanpa memperdulikan orang-orang disekitarnya.
“Ehem! Mau kemana kalian?” Tanya Amar
Amar berdiri di belakang mereka dengan perasaan senang dan kesal yang bercampur menjadi satu.
“Emm.. maaf pak, kami gag di hukum kan?” Tanya Kania dengan wajah ketakutannya.
“Siapa bilang gag ada hukuman? Kalian udah bikin citra sekolah rusak dengan gaya preman kalian tadi.” Gertak Amar.
“Ayolah pak,,, tadi kan kami cuma membela diri…” Kania mencoba merajuk.
Wajah Amar terlihat memerah saat Kania memegang tangannya tanpa Kania sadari.
“Sudah jangan merajuk! Tinggalin no telpon kamu di sini. Saya pikirkan dulu hukuman apa yang cocok buat kamu dan teman-teman kamu!” titah Amar sambil menunjuk kertas yang ada di sampingnya.
“Hey, mau di kemanakan kertasnya?” Tanya Amar sambil merebut kertas itu dari tangan Dena.
“Loh, teman-teman saya kan belum nulis nomor handphonenya di situ pak…” sahut Kania.
“Satu saja cukup. Ngapain saya simpan banyak-banyak nomor telpon siswa!” ketusnya.
Kania hanya mengangguk mengiyakan. Berbeda dengan Kania, Ricko dan Arland malah saling lirik, sepertinya ada sebuah trik yang dilakukan oleh Amar pada kania. Arland dan Ricko tersenyum tipis pada Amar. namun Amar malah memalingkan wajahnya.
“Kalian berdua,” tunjuk Amar pada Arland dan Ricko. “Jangan banyak-banyak mengganggu anak perempuan, sekolah dulu yang betul!” tuturnya dengan tegas.
Rupanya Amar sedikit tidak menerima saat Arland dan Ricko menertawakannya tadi.
“Loh, kan mumpung masih muda pak. Daripada pubernya telat, dan malah gangguin gadis dibawah umur?” sahut Ricko dengan senyum penuh kemenangan.
Arland ikut terkekeh dalam hati. Amar membelalakan matanya, bagaimana bisa Ricko dan Arland mengetahui triknya.
“Ya sudah, kalian cepet pulang sana. Inget pulang langsung ke rumah, jangan main-main dulu!” tutup Amar.
“Baik pak…” jawab Arland dan teman-teman bersamaan. Mereka mulai keluar dari ruang guru. Tiba-tiba Ricko kembali menghampiri Amar, “Ada apa lagi?” Tanya Amar mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“Kalo bapak berhasil, kita bakalan iparan pak!” bisik Ricko yang kemudian berlari karena melihat ekspresi kesal Amar.
“Jail lo, ngerjain guru!” cetus Arland yang ikut tertawa melihat ekpresi Amar.
****
“Ka…” panggil Sherly pada Kania yang sedang sibuk mengatur kemudi.
“Apaan?” sahut Kania
“Kayaknya pak amar suka deh sama lo!” tutur Sherly sambil terkekeh.
“Sotoy Lo! Udah jangan mikir aneh-aneh, mikir berat dikit perut gue sakit!” sahut Kania yang meringis menahan perutnya.
“Sumpah lo, beneran sakit?” Tanya Dena yang segera mencondongkan tubuhnya ke depan. Namun Kania malah tersenyum, usilannya berhasil.
“Sialan!” cetus Sherly sambil memukul tangan Kania.
“Oo jadi lo mau ngalihin pembicaraan ceritanya?”
“Berisik lo na! Gag liat apa gue lagi nyetir.” Sahut Kania dengan ketus.
“Ka, mungkin aja bener kalo pak amar suka sama Lo. Beberapa kali ketemu kan dia selalu ngeliatin Lo!” Kezia ikut berbicara sambil mengingat-ingat momen Kania bertemu dengan Amar. “Kalo gag salah, lo juga pernah ngobrol diem-diem kan sama pak amar?” terka Kezia dengan tepat.
“Iyaa, emang kenapa? Lagian gue ngobrol sama dia juga gara-gara dia nanyain no hape lo. Terus nanya juga lo pacar siapa. Yang ada dia pernah naksir lo key, tapi keduluan sama si arland.” terang Kania.
Kezia kembali memutar memorynya, selama ia belajar dengan Amar sebagai pembimbing, memang Amar baik. Tidak seperti tadi saat di ruang guru. Terlebih Amar memang masih lajang dengan label guru cerdas hanya saja sikapnya sangat kaku dan dingin. Dia adalah salah satu murid yang diberi beasiswa oleh sekolah bahkan sampai kuliah. Tapi sepertinya, Kezia hanya sebagai jalannya untuk mendekati seseorang.
“Woy, ngelamun apa lo key?” sergap Kania.
“Hem.. enggak ko… “ Kezia terperanjat mendengar suara kania yang membuyarkan lamunannya. “Tapi kayaknya beneran deh pak amar suka sama lo. Dia ngedeketin lo dengan minta nomor hape, tapi dengan gaya apa adanya dia. Gag dibuat-buat. Jadi kayaknya beneran ka!” lanjut Kezia sambil tersenyum lega berhasil menemukan benang merah antara Kania dan Amar.
“Sejak kapan lo merhatiin setiap sikap laki-laki? Sok peka! Sama arland aja lo gag peka-peka kalo gag kita ingetin.” Keluh Kania yang menatap Kezia dari spion tengah.
Kezia hanya tersenyum mendengar perkataan Kania yang memang benar. Ternyata memang lebih mudah menebak sikap orang lain dari pada sikap diri sendiri, pikir Kezia.
“Tapi gimana kalo pak amar beneran naksir sama lo ka?” selidik Dena.
“Gag ada kalo-kaloan dena! Udah deh, ngapain sih bahas pak amar segala. Inget, tugas kita belajar dulu yang bener. Itu pesen pak amar!” seru kania.
“Tumben lo dengerin omongan orang. Pak amar lagi!” seru Sherly sambil tergelak.
“Ah sialan! Kenapa gue salah ngomong!” gerutu Kania dalam hatinya.
“Ciieee pak amarrr…” seru ketiga sahabat Kania bersamaan. Namun Kania hanya membalasnya dengan kerlingan mata.
__ADS_1
“Pak amar suka sama gue? Gag mungkin! Gue suka sama pak amar? Non sense!” batin kania.
****