
Malam itu, setelah mengantar Sean pulang ke rumahnya, Kezia kembali ke apartemen Arland untuk merawatnya. Ia menyiapkan semua kebutuhan Arland secara lengkap.
“Phiu, mau makan sekarang?” tawar Kezia setelah selesai membersihkan luka Arland dan mengganti balutan kasanya.
“Boleh…”
“Okey, tunggu bentar ya, aku ambilin dulu…”
“Hemm…”
Kezia mengambilkan nasi serta lauk yang dia taruh dalam satu piring di atas sebuah baki. Segelas air mineral juga ada disana. Kezia menaruh baki di meja samping tempat tidur Arland dengan piring di atas tangannya. Ia mulai menyendoki makanan dan menyuapkannya pada Arland.
“Aaaa…” ujarnya meminta Arland membuka mulut.
Arland menikmati suapan pertamanya, di susul dengan suapan-suapan selanjutnya.
“Apa makanannya enak?”
“Iya, sangat enak.” aku Arland dengan sesungguhnya.
“Hhmmm syukurlah….”
“Gag ada yang gag enak kalo kamu yang masak mhiu…” ujar Arland seraya menatap hangat Kezia.
“Iyaa , yang gag enaknya cuma 1, jarang masaknya.” timpal Kezia seraya terkekeh.
“Hahahaha gag pa-pa sayang, kan aku mau nikahin kamu bukan buat jadiin kamu tukang masak pribadi.” sahut Arland yang sempurna membuat wajah Kezia merona.
“Gombal!” Kezia mencubit lengan Arland.
“AAwww,, sakit sakit sakit.” Arland mengaduh dengan manja.
“Hah, aku kekencengan ya nyubitnya?”
“Iyaaa,,,” rengek Arland
“Maaf,, aku gag sengajaaa…”
“Gag ah, gag tulus minta maafnya.” Arland melipat tangannya di depan dada
“Ini tulus kok. Sumpah!”
“Cium dulu kalo tulus” Arland menunjuk pipi kanannya
Kezia mendekat hendak mencium pipi Arland dan diwaktu yang bersamaan Arland memalingkan wajahnya menghadap Kezia.
“Cup!” kecupan Kezia mendarat tepat di bibir Arland.
“Iisshh jail yaa…” Kezia segera bangkit dari duduknya dengan wajah merona menahan malu. Tiba-tiba Arland menarik tangan Kezia, membuatnya terjatuh di dada bidangnya. Di peluknya Kezia erat-erat.
“Jangan pernah berfikir untuk pergi lagi dari aku atau mungkin aku akan mati.” bisik Arland. Kezia bisa merasakan hembusan nafas sekaligus debaran jantung Arland bersamaan. Ia terpaku, hanya bisa menikmati perasaannya saat ini.
Sejak pembicaraan Kezia dengan teman-temannya tadi siang, Arland terus menerus di hinggapi rasa takut kalau Kezia benar-benar akan pergi meninggalkannya seperti dulu. Bahkan saat mengantar Sean pun, beberapa kali Arland menelpon Kezia, untuk memastikan bahwa Kezia pasti akan kembali.
“Aku bisa menerima kalau harus kehilangan apapun di hidup aku, tapi untuk kehilangan kamu, hidup aku mungkin akan berakhir seperti halnya kenangan kita yang terputus. Jadi jangan pernah tinggalin aku key. Aku gag bisa hidup tanpa kamu…” sambung Arland.
Kezia melepaskan pelukannya. Di tatapnya wajah Arland yang ada di hadapannya. Kezia mengusap pipi Arland dengan lembut.
__ADS_1
“Aku pernah pergi ninggalin kamu dan berharap bisa melihat kamu baik-baik saja tanpa aku. Tapi, itu tidak pernah terjadi. Semakin aku berusaha menjauh, semakin aku berusaha lupain kamu, pikiran dan hati aku tetap hanya tertuju sama kamu. Sekarang aku sadar, hal itulah yang bikin aku gag bisa membuka hati aku buat yang lain, selain kamu…” timpal Kezia dengan senyum tersungging.
“Maka kedepannya, jangan lagi kita menyakiti satu sama lain dengan saling menjauh, hem?” sambung Arland seraya menempelkan dahinya di dahi Kezia dan merasakan setiap hembusan nafas Kezia yang menerpa wajahnya.
Perlahan Arland mendekatkan wajahnya. Tanpa sadar, Kezia yang mulai mengecup bibir Arland. Kezia memejamkan matanya dengan erat. Meremas pundak Arland kuat-kuat untuk melampiaskan deguban jantungnya yang berpacu cepat karena mencium laki-laki yang dicintainya lebih dahulu.
Sedangkan Arland, masih terpaku karena terkejut. Cukup lama ia mengembalikan kesadarannya dan membiarkan Kezia mengikuti nalurinya. Merasa kecupannya tak berbalas, Kezia segera mengakhirinya.
“Maafin aku…” tutur Kezia hendak beranjak dari hadapan Arland. Dengan serta merta Arland menarik kembali tubuh Kezia. Ia menangkup kedua sisi wajah Kezia. Kesadarannya telah kembali. Arland mengecup kecil-kecil bibir bawah Kezia, lalu menggigit lembut bagian atas secara bergantian. Kezia mengalungkan tangannya di leher Arland. Ciuman beralih menjadi lebih menuntut. Keduanya begitu menikmati bunyi kecupan yang membangkitkan gairah.
Kezia mendorong tubuh Arland sedikit menjauh, membuat ciuman itu terlepas. Ia tak ingin semuanya berlanjut menjadi terlalu jauh karena tidak mampu menahan hasratnya.
Arland memeluk Kezia dengan erat. Suara nafasnya masih menderu. Perlahan mereka mulai mengatur nafanya. Kezia membenamkan kepalanya di pelukan Arland, sementara Arland menghirup kuat-kuat wangi tubuh Kezia yang kini membuatnya semakin merasa kecanduan.
****
Kezia mulai membersihkan tubuhnya di kamar sebelah kamar Arland. Hari ini terasa cukup melelahkan baginya. Setelah memastikan Arland meminum obat dan tertidur, kali ini waktunya ia menikmati waktu untuk dirinya sendiri.
Kezia mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Sekujur tubuhnya telah basah. Rambut panjangnya di penuhi shampoo dengan sekujur tubuh dipenuhi busa sabun. Moment ini selalu menjadi moment favorit bagi Kezia, karena saat seperti ini ia bisa membersihkan sekaligus memanjakan tubuhnya yang lelah.
Deras air yang menghujani tubuhnya, membawa semua busa yang tadi menyelimuti tubuh rampingnya. Matanya terpejam. Dalam harapnya, semoga hal buruk yang terjadi hari ini, berlalu pergi dari hidupnya.
Setelah merasa tubuhnya cukup bersih, Kezia mengenakan baju handuk dengan rambut tertutup handuk kecil. Tenggorokannya terasa kering. Gelas yang ada di atas meja riasnya pun telah kosong. Diluar kamarnya Kezia mendengar suara kursi berderit. Kezia segera membuka pintu kamarnya, terlihat Arland berjalan tergopoh-gopoh dengan tangan memegangi perutnya.
“Phiu,, kamu mau kemana?” Kezia segera menghampiri Arland dan memegangi tangannya.
“Aku cuma mau ngambil minum.” sahut Arland.
Matanya terbelalak saat melihat tubuh Kezia yang masih berbalut handuk kimono dengan tetesan air yang masih mengalir di lehernya. Arland menelan ludahnya kasar, betapa pemandangan di hadapannya sangat menggoda imannya.
“Aku yang ambilin, kamu duduk dulu..” tukas Kezia sambil membantu Arland duduk.
Kezia tidak terlalu mendengar ucapan Arland. Ia mengambil dua gelas air untuk Arland dan untuknya. Arland meneguk habis isi gelas tersebut.
“Kamu haus banget yaaa, kenapa gag manggil aku aja…” ujar Kezia yang terus menatap wajah laki-laki yang dicintainya.
“Aku bisa ko sayang, jangan terlalu di manja, nanti sembuhnya lama…” cetus Arland sambil menggenggam tangan Kezia.
Wajah Arland terlihat memerah. Ada titik-titik keringat di dahinya. Kezia menyentuh dahi Arland dengan punggung tangannya.
“Kamu gag demam, tapi muka kamu merah banget ya?” ujar Kezia dengan wajah kebingungan. Arland hanya terkekeh melihat ekspresi Kezia. “Kok malah ketawa?” protes Kezia.
“Aku baik-baik aja sayang. Muka aku merah dan keringetan gara-gara kepanasan.”
“Oohh, tapi ini suhu ruangannya udah rendah sih, masa masih kepanasan.” Kezia mengangkat tangannya merasakan hembusan udara dari AC. Arland kembali tergelak.
“Aku kepanasan karena liat kamu yang hot banget.” bisik Arland di telinga Kezia.
“Ihh dasar! Mesum ya kamu…” Kezia mendorong pelan tubuh Arland.
“Kamu kok kasar sih mhiu, aku kan lagi sakit…” protes Arland.
“Sakit apanya, kalo udah bisa mesum begini berarti udah sembuh!” cetus Kezia sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
“Ya normal kali yang, kan aku laki-laki, lagian aku mesum sama kamu doang ko…” tukas Arland dengan seringai nakalnya.
“Ish dasar! Udah ah, kamu tunggu sini aku ganti baju dulu, nanti aku bantuin pindah ke kamar ya. Awas jangan kemana-mana.” ujar Kezia seraya berlari ke kamarnya. Arland hanya tertawa melihat tingkah kezia.
__ADS_1
****
Siang itu, seusai visit pasiennya, handphone Kezia terus berdering. Kezia melihat layar handphonenya, panggilan tersebut dari Rana.
“Ya kak…”
“Key, kamu lagi dimana?” suara Rana terdengar begitu tergesa-gesa.
“Aku di ruanganku kak, ada apa kok kayaknya ada yang urgent?”
“Key, kamu tau aku lagi nanganin siapa?” cetus Rana
“Siapa kak?”
“Difa! dia ngalamin perdarahan dan sekarang lagi di UGD. Tapi dia terus-terusan ngamuk, teriak-teriak. Padahal dia udah kehabisan banyak darah.” cerocos Rana.
“Ya ampun, kasian banget dia kak.”
“Apanya yang kasian? Dia hampir nyelakain kamu. Mending sekarang kamu pulang, aku gag mau kamu ketemu dia dan dia berusaha nyelakain kamu lagi.” tukas Rana dengan serius.
“Iya kak, makasih udah khawatirin aku…” Kezia segera menutup telponnya.
Perasaannya bercampur aduk. Ia kembali teringat akan Difa saat menjadi sahabatnya. Kezia tidak pernah menyangka bahwa kondisinya sekarang seperti ini. Kezia mengambil tas dan ponselnya. Ia memilih untuk melihat Difa. Bagaimanapun ia pernah sangat dekat dengan Difa.
Kezia menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah cepat. UGD adalah ruangan yang ia tuju.
“Kak, dimana difa?” tanya Kezia setibanya di hadapan Rana.
“Astaga key, kenapa kamu malah ke sini?! Udah aku bilang mending pulang aja.” seru Rana yang kaget melihat Kezia muncul di hadapannya.
“Aku cuma mau liat difa kak. Gag akan ada apa-apa kok..” ujar Kezia dengan yakin. Rana hanya menggelengkan kepalanya. “Gimana kondisi dia sekarang?” lanjut Kezia seraya menoleh Difa yang terbaring tak berdaya.
“Dia udah mulai tenang. Tapi dia kehilangan bayinya. Dia kayaknya stress berat. Sekarang kita lagi nunggu stok darah dari rumah sakit lain, soalnya dia harus transfusi.”
“Apa golongan darahnya?”
“AB positif.”
Kezia menarik nafasnya dalam, menghasilkan hembusan nafas lega. Ia menatap Difa yang terbaring lemah. Dengan mata yang tak henti mengalirkan butiran-butiran bening nan halus. Kedua tangannya terikat di kiri dan kanan tempat tidurnya. Bahkan untuk menyeka air matanya sendiri ia tak bisa. Entah mengapa, sudut hati Kezia ikut meringis, melihat raut sendu Difa.
Kezia mengepalkan tangannya. Lalu menggulung lengan bajunya hingga ke sikut.
“Ambil punya aku kak.” lirih Kezia dengan tatapan tegas pada Rana
“Key kamu yakin?” Rana nyaris tak percaya dengan yang di katakan Kezia. Kezia mengangguk yakin, bahkan sangat yakin.
Bagi kezia, selain Difa pernah menjadi sahabatnya, ia pun seorang pasien yang membutuhkan bantuannya. Apalagi mereka sama-sama perempuan. Sedikit banyak, Kezia bisa merasakan nelangsa yang kini melanda hati Difa.
Tanpa bertanya lagi, Rana segera mengikuti permintaan Kezia. Ia mempersilakan Kezia untuk berbaring di samping Difa, mereka hanya terhalang gorden namun tak bisa menatap satu sama lain.
“Fa, kamu harus sembuh. Kamu masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.” batin Kezia.
Terdengar suara isakan dari mulut Difa yang begitu pilu. Kezia memejamkan matanya. Tidak ada seorangpun yang menginginkan kondisi seperti ini, namun saat kita berdiri di persimpangan ini, pilihannya adalah memaafkan lalu hidup tenang atau mendendam dengan menyimpan segala kekesalan. Apapun yang pernah Kezia alami, ia yakin untuk memilih pilihan pertama.
****
__ADS_1