
“Sayang apa kamu mau makan siang sekarang?” tawar Eliana yang duduk di hadapannya.
Kezia terangguk. Eliana mengambilkan menu makan siang rumah sakit yang sejak tadi ada dihadapannya.
“Mah, setelah pulang, apa boleh zia makan ayam rica-rica buatan mamah lagi?” Tanya kezia sambil membuka mulutnya menerima suapan dari tangan Eliana. Walau sebenarnya Kezia sudah bisa makan sendiri, tapi entah mengapa, makan dari suapan tangan Eliana terasa lebih enak.
“Boleh sayang, tapi kita harus tanya dokter dulu ya… takutnya ada makanan yang di pantang.”
Kezia terangguk setuju.
“O iya mah, perawatan zia menghabiskan biaya berapa?” Tanya Kezia dengan wajah serius.
Eliana menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Kezia.
“Sayang, itu kewajiban papah dan mamah untuk mengurusnya. Kamu tidak perlu memikirkannya.” Sahut Eliana dengan berusaha tenang. Bibirnya tersenyum namun pikirannya entah berada dimana.
“Mah, zia tau, biaya perawatan di sini tidak murah. Dan mamah selalu memberikan yang terbaik untuk zia. Tapi, zia tidak mau berpangku tangan. Zia ada tabungan kok mah, walaupun tidak banyak tapi paling tidak bisa sedikit membantu.” Terang Kezia dengan penuh kesungguhan..
“Sayang, entah kebaikan apa yang dulu pernah mamah lakukan, hingga tuhan mengirimkan bidadari cantik di hidup mamah…” lirih Eliana sambil menggenggam tangan Kezia. Tanpa terasa tangisnya pecah.
“Mah….” Kezia mengusap bahu Eliana kemudian memeluknya dengan erat. “Lahir dari rahim mamah adalah salah satu berkah untuk zia…” lirih Kezia yang mengeratkan pelukannya.
“Terima kasih sayang… Terima kasih kamu selalu menjadi anak mamah yang kuat dan berani, itu sudah lebih dari cukup buat mamah.” Eliana menyeka air matanya. “Maafkan mamah, harusnya mamah tidak secengeng ini di depan kamu nak…” Eliana melepaskan pelukannya dan menatap mata Kezia lekat-lekat.
Kezia mengusap-usap punggung tangan Eliana sambil tersenyum, memberinya kesempatan meluapkan setiap rasa sesak yang selama ini di tahannya di depan Kezia.
“Mah, zia pengen ke toilet sebentar, bisa tolong bantu zia?” pinta Kezia.
“Tentu sayang, ayo mamah bantu…” Eliana segera mengambil kursi roda yang berasa di dekat pintu kamar perawatan Kezia, menempatkannya di samping tempat tidur dan perlahan memindahkan tubuh Kezia ke kursi seperti yang diajarkan perawat rumah sakit.
Kezia mengangkat dan memindahkan tungkai kakinya ke pinjakan yang ada di depannya. Eliana mulai mendorong Kezia mendekati kamar mandi.
“Zia bisa sendiri mah,…” tutur Kezia saat Eliana akan ikut masuk ke dalam kamar mandi.
“Baiklah…” Eliana membiarkan Kezia melakukannya sendiri.
Eliana tahu, jika Kezia mengatakan bisa, maka dia memang mampu. Lagi pula, Eliana tidak mau Kezia merasa dirinya begitu menyedihkan.
Kezia menutup pintu kamar mandi. Di kamar madi tersebut toiletnya memang bisa digunakan oleh pasien Difable seperti Kezia.
Sejenak Kezia menatap pantulan wajahnya di kaca besar yang ada di kamar mandi. Wajahnya memang terlihat lebih tirus. Perban luka masih menempel di dahi dan samping kepalanya, menutupi luka bekas operasi. Sebagian rambutnya dicukur, memang tidak terlalu banyak, tapi cukup terlihat. Hanya perban itu yang menutupinya. Kezia memandangi wajahnya lalu beralih memandangi kedua kakinya yang tidak merasakan apapun.
Tangis Kezia pecah. Kezia membekap mulutnya sendiri agar suara tangisnya tidak terdengar oleh Eliana. Bahunya bergetar seiring isakan tangisnya. Cukup lama Kezia menangis, hingga air matanya rasanya akan mengering.
Eliana bisa menebak, apa yang terjadi pada putrinya di dalam sana, namun Eliana membiarkannya. Mungkin Kezia butuh kesempatan untuk meluapkan kesedihannya. Tanpa terasa derai air mata pun menganak sungai di pipi Eliana. Tangis tak bersuara, memang terasa lebih pilu.
Diambilnya showercap untuk membungkus kepala dan lukanya. Perlahan Kezia melepaskan baju dan celana pasiennya. Dia melakukannya sendiri, karena kelak, dia tidak ingin merepotkan siapapun. Kezia mengarahkan kursi roda ke bawah shower. Dinyalakannya keran dan tetesan air mulai mengguyur tubuhnya yang terasa begitu kering. Kezia kembali menangis seraya berharap, dukanya bisa pergi seiring berlalunya air yang membasuh tubuhnya. Kezia membersihkan tubuhnya dengan teliti. Tubuh yang selama 10 hari ini tak dirawatnya. Saat merasa sudah bersih, Kezia meraih handuk dan memakai satu set pakaian pasien yang ada di sana.
__ADS_1
****
“Ceklek”
Pintu kamar mandi terbuka. Tampak kezia muncul dari balik pintu dengan wajah yang terlihat lebih segar. Eliana segera menghampiri kezia.
“Kamu mandi nak?” Tanya Eliana sambil mendorong kursi roda Kezia dan mengajaknya duduk di sofa.
“Iya mah… Mah bisa bantu zia mendekat ke jendela?” pinta Kezia. Eliana terangguk, mengikuti permintaan Kezia.
Dari jendela kaca, Kezia melihat sebuah taman yang cukup asri. Disana tampak beberapa pasien sedang berjalan-jalan dengan standar infus di sampingnya. Eliana mengambil sisir dan mulai menyisir rambut Kezia yang panjang sepinggang. Kezia tersenyum melihat pemandangan di hadapannya. Ada beberapa pasien yang juga datang ke taman dengan bantuan kursi roda. Mereka bercengkrama dan tertawa.
“Jangan bersedih key, kamu gag sendirian dan kamu pun masih bisa tertawa seperti mereka.” Gumam Kezia dalam hatinya.
“Tok.. tok.. tok…”
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Kezia.
“Silakan masuk…” jawab Eliana tanpa beranjak.
Seorang pria tampan yang dikenalnya muncul dari balik pintu.
“Nak Angga…” sapa Eliana.
Kezia yang mendengar sapaan Eliana segera menoleh ke arah pintu. Tampak Angga sudah berdiri di mulut pintu dengan senyum hangatnya. Dia menggunakan hoodie berwarna abu dan celana jeans hitam.
“Apa aku ganggu waktu kalian?” Tanya Angga yang belum beranjak dari tempatnya berdiri.
“Tidak nak, kemarilah….” Pinta Eliana.
Angga berjalan menghampiri Eliana dan Kezia. “Apa kabar tante?” Angga seraya meraih tangan Eliana dan mencium punggung tangannya.
Eliana memandangi laki-laki tampan yang sedang mencium tangannya. Hatinya merasa hangat, karena Kezia di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
“Baik nak…” sahut Eliana yang segera menyimpan sisir yang tadi dipakai untuk menyisir rambut Kezia.
“Hay schnucki…” sapa Angga sambil mengusap pucuk kepala Kezia.
“Hay kak…” Kezia tersenyum manis pada Angga.
“Tante tinggal sebentar yaa,, tante ada perlu dulu ke depan…” pamit Eliana sambil beranjak.
“Mamah mau kemana?” Kezia menahan tangan Eliana.
“Mamah mau belikan dulu makanan sama minum untuk nak angga. Kalian tunggu dulu ya…” terang Eliana.
Kezia mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
“Gag usah tante, jadi ngerepotin…”
“Gag pa-pa nak…” jawab Eliana sambil menepuk bahu Angga sebelum berlalu meninggalkan Kezia dan Angga.
Angga berdiri di hadapan Kezia seraya bersandar pada tembokan di samping jendela. “Gimana kabar kamu hari ini?”
“Aku udah lebih baik kak… besok aku udah dibolehin pulang.” Sahut Kezia dengan semangat. Lagi dada Angga berdebar kencang saat melihat senyum Kezia yang sudah beberapa hari ini dia rindukan. “Kakak kok bisa ke sini?” Imbuh Kezia sambil memincingkan matanya.
“Aku udah 3 hari di sini sambil ngecek anak perusahaan papah.…” terang Angga.
“Apa kakak gag chemo?”
“Sore ini aku pulang, karena besok akan chemo…”
“Kakak, harus jaga kesehatan.. Jangan memforsir tenaga kakak…”
“Aku tau bawel…” timpal Angga sembari menjawil hidung mancung Kezia. “Apa kamu baik-baik aja?” kali ini Angga menatap dua manik mata Kezia dengan serius.
“Apa yang kakak khawatirkan dari aku, aku baik-baik saja…” sahut Kezia sambil memalingkan wajahnya, kembali melihat ke arah jendela. Ada senyum kecil yang terlukis di wajahnya.
Entah mengapa, hati Angga terasa pedih. Tanpa Kezia sadari Angga mendekatinya dan memeluk Kezia dengan erat. Tidak ada suara di antara keduanya. Angga tau, ada banyak hal yang Kezia coba sembunyikan dan menguatkan dirinya sendiri dihadapan orang lain.
“Makanlah yang banyak, supaya kamu cepet sehat , hem?” Angga melepaskan pelukannya.
“Makan itu hoby-ku, kakak gag perlu khawatir…” sahut Kezia sambil mengacungkan jempolnya pada Angga.
“By the way, selamat ulang tahun schnucki… ini buat kamu…” Angga menyerahkan sebuah kotak pada Kezia.
“Thanks kak, apa ini?” Kezia menerimanya dengan mata berbinar.
“Buka lah…”
“Waahhh… favorit aku bangeettt… thanks kak!!!” seru Kezia dengan senangnya.
Angga memberikan satu set buku karangannya, yang baru akan dijual bebas bulan depan dan itu pun limited edition.
“Kamu suka?”
“Sangat suka!”
“Baguslah… aku pulang dulu, nanti sampe rumah aku hubungi ya… tolong aktifkan handphone mu…” tutur Angga sambil tersenyum dengan tampannya.
“Siap bos!” Kezia melakukan hormat singkat. “Salam untuk om, tante dan kak Indira ya…” lanjut Kezia.
“Yups schnucki! Bye!” sahut Angga sekali lalu berjalan mundur dan melambaikan tangannya pada Kezia. Kezia membalasnya sambil tersenyum manis.
“Aku akan sangat merindukanmu schnucki…” lirih Angga yang kemudian bayanganya menghilang di balik pintu.
__ADS_1
*****