
Tapi tiba-tiba laki-laki berbadan besar menyerang preman tersebut dan memukulnya. Ia hendak merebut tas Dena yang diambilnya hingga perkelahianpun tak terelakkan. Laki-laki itu menghantamkan bogemnya ke wajah sang preman dan di balas dengan hunusan pisau, dalam beberapa saat,
“Sret!” pisau yang di bawa preman tersebut melukai lengan laki-laki yang berkelahi dengannya. Darah mengucur begitu saja dari lengan kekar laki-laki tersebut.
Preman itu berhenti, ia melemparkan tas Dena kemudian kabur entah kemana.
“Astaga!” Dena segera menghampiri laki-laki tersebut dan memeriksa luka di lengannya. “Lo ga papa kan? Astaga, darahnya banyak banget…” ujar Dena yang begitu panik.
Namun laki-laki itu hanya terdiam seraya meringis kesakitan. Dena mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya. Sapu tangan itu ia siapkan jikalau ia gugup dan berkeringat saat wawancara.
Dena melebarkan sapu tangan tersebut kemudian mengikatkannya di lengan laki-laki tersebut untuk menghentikan perdarahan dengan simpul pita.
“Auuww! Shit!” laki-laki tersebut meringis kesakitan.
“Aduduh soryy.. Maksudnya biar darah lo gag keluar lagi.” Dena yang gelagapan tampak semakin tegang saat melihat laki-laki tersebut meringis kesakitan. “Ngomong-ngomong makasih udah nolongin gue. Gue dena, lo siapa?” kali ini Dena menatap laki-laki bermata biru tersebut.
Namun laki-laki itu tidak menjawab. Ia masih meringis. Dena berusaha berdiri dengan kakinya yang sakit lalu mengulurkan tangannya pada laki-laki tersebut.
“Fritz.” Sahut laki-laki tersebut sambil membalas uluran tangan Dena dengan bersalaman.
“Eh, gimana sih nih orang, tadi di tanya nama diem aja. Giliran gue bantu diri, malah di kira mau ngajak kenalan.” batin dena.
“Dena.” ketus Dena. “Ayo pindah ke sana, biar duduknya lebih enak.” Dena menunjuk bangku di tempat pemberhentian bis. Lagi-lagi Fritz hanya terdiam.
“Ni orang gag ngerti omongan gue apa ya? Apa tadi kebentur terus jadi rada telmi? Dari mukanya sih dia bule. Apa ngomongnya bahasa inggris ya? Sial, gue kan gag bisa ngomong bahasa inggris. Bisa juga cuma sebatas how do you do. Ah nyesel gue jarang masuk kelas bahasa inggris.” batin Dena mengumpati dirinya sendiri.
“English?” Dena memberanikan diri untuk bertanya.
“No I’m germany.” Sahut fritz.
“Maksud gue lo bisa bahasa inggris kan?” tanya Dena dengan sedikit nyolot. Fritz malah tersenyum. “Ih gimana sih ni orang. Gimana coba gue ngajak ngobrolnya.” gerutu Dena merutuki kemalangannya sendiri.
Ia mengeluarkan handphone dan membuka penerjemah.
“Can you speak English?” tanya dena dengan terbata-bata.
“A little bit.”
“Hahhaha gaya gue ngobrol sama bule. Dulu liat bule aja gue lari takut di tanya terus gag bisa jawab, sekarang gue duluan yang nanya. Lo emang keren na.” gumam Dena sambil terkekeh. Dena kembali mengetik kata-kata yang akan di tanyakannya.
“Where are you going?” lanjut dena.
Fritz mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya. Disana tertulis wibawa group. Dena memperhatikan penampilan Fritz yang rapi. Dena berfikir mungkin Fritz akan bekerja di sana, karena di Wibawa group memang terkenal banyak karyawan asing.
“Apa gue anterin ya, gag enak gue dia udah nolongin gue.” gumam Dena pada dirinya sendiri. Melihat Fritz yang masih kesakitan rasanya ia mulai iba. Terang saja ia harus tau diri dan tau terima kasih.
“Gue anterin…” seru Dena dan Fritz hanya tersenyum. “Bodo amat itu gue anterin bahasa inggrisnya apaan!” imbuh Dena.
Dena memesan dua ojek online untuk mengantar mereka ke Wibawa group. Saat ini adalah jam sibuk, jalanan sudah pasti macet sehingga menurutnya menggunakan jasa ojek online lebih cepat.
Tak lama 2 orang driver ojek online tiba. Dena mengambil helm dan memakaikannya pada Fritz. Karena postur Fritz yang tinggi , Dena terpaksa jinjit, dan itupun masih kesulitan.
Dengan bahasa isyarat Dena meminta Fritz untuk duduk di boncengan dan segera mengantarnya ke Wibawa Group.
****
Dua ojek online tersebut berhenti di depan gedung megah bernama Wibawa group. Dena naik ke sepataror jalan dan membantu Fritz membuka helmnya. Kali ini tinggi mereka lumayan sejajar, sehingga Dena dengan mudah membuka helmnya.
“Thank you…” ujar Fritz seraya tersenyum.
Dena hanya mengangguk. Ia sengaja tidak menjawab karena takut percakapan berlanjut lebih rumit.
Dena menghampiri reseptionist bersama dengan Fritz.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” sapa reseptionist tersebut dengan ramah.
__ADS_1
“Saya nganter bule ini mba. Tadi bawa kertas tulisannya wibawa group. Bilangnya sih orang jerman. Coba aja mba tanya” terang Dena dengan santai. Resepsionist tersebut hanya tersenyum.
“Wen mochten sie treffen, sir? (Anda mau bertemu siapa tuan?)” tanya wanita tersebut dengan lancar membuat Dena membulatkan bibirnya seolah berkata “wah…”
“Ich habe den schonsten anfuher getroffen (Saya mau bertemu pimpinanmu yang paling cantik.)” sahut Fritz seraya tersenyum. Reseptionis tersebut tampak berfikir.
“Entschuldigung, wie heßt du? (mohon maaf nama tuan siapa??)”
“Fritz…”
Reseptionis tersebut menekan telpon dan menghubungi seseorang. Tak begitu terdengar jelas apa yang dia bicarakan.
“Lass mich dich zu einer jungen dame bringen. (mari saya antar untuk bertemu nona muda.)” ujar receptionist tersebut.
“ nimm auch die frau (ajak dia juga)” sahut fritz. Reseptionis tersebut mengangguk.
“Mari nona , ikut dengan saya…”
Dena pun mengikuti tanpa protes. Mereka di antar ke lantai 16. Seorang sekretaris menyambut dan mempersilakan Fritz dan Dena untuk masuk. Fritz segera masuk namun Dena masih mematung di pintu melihat kemewahan ruangan yang ada di hadapannya.
“Fritz!!!” seru Kezia saat keluar dari pintu ruangannya. Ia segera menghampiri Fritz dan memeluknya.
“Hay cantik apa kau merindukanku?” (Dalam bahasa Jerman) Fritz membalas pelukan Kezia dengan erat.
“Fritz aku sangat merindukanmu. Kapan kamu sampai. Kenapa nggak ngasih tau aku?” Kezia memandangi wajah Fritz yang cukup lama tidak di lihatnya.
“Pagi ini… Ya di kota ini aku dapat kejutan.” Fritz memperlihatkan tangannya yang terbalut sapu tangan.
“Astaga, kamu kenapa? Siapa yang membalutnya?” Fritz menunjuk ke arah pintu.
“Dena??!!” seru Kezia pada Dena yang masih mematung. Mendengar suara yang dikenalinya Dena segera berbalik.
“Astaga key, ini ruangan lo? Gila keren bangeett…” Dena berdecak kagum. “Eh bentar, berarti dia temen lo?” Dena baru tersadar dengan kondisi yang di hadapinya.
Kezia mengangguk seraya tersenyum.
“Fritz stellt vor, das ist Dena, meine beste Freundin. (Fritz kenalin, ini dena sahabat baikku.), Na kenalin, ini fritz sahabat gue waktu di jerman.” terang Kezia seraya tersenyum.
Untuk kedua kalinya mereka saling menjabat tangan. Dena merasa kali ini Fritz terlihat lebih tampan dengan senyum manisnya itu. Kezia menatap Dena dan Fritz bergantian.
“Mereka cocok, apa aku comblangin aja ya?” batin Kezia.
Selama ini Dena memang tidak pernah terdengar punya pacar. Foto laki-laki yang ada di handphonenya hanya Hyeon bin, Lee min ho atau Song Joong ki. Rasanya itu hanya pacar halunya saja.
Saking seringnya nonton film korea, dia sampai sengaja buku-buku berbahasa korea dan mempelajarinya. Saat menonton drama korea ia sengaja menyetel film tersebut tanpa subtitle. Makanya isi imajinasinya hanya tentang bahasa dan adegan romantis dengan para oppa.
“Key, dia udah nolongin gue dari penjambret. Sampein terima kasih gue buat dia.” pinta Dena.
“Lo ngomong sendiri laahh…” goda Kezia sambil terkekeh.
“Sialan lo, lo mau bikin gue malu depan bule ini?” protes Dena.
“Ya udah, gue ajarin.” Kezia mendekati Dena dan mulai membisikan beberapa kata.
Dena mulai komat-kamit untuk melenturkan otot-otot mulutnya.
“Danke gutaussehender mann…” ucap dena dengan terbata-bata namun Fritz malah tertawa.
“Kenapa dia ketawa key?” Dena tampak kebingungan.
“Dia seneng lah, lo bilang makasih.” tukas Kezia dengan keisengannya. Dena pun ikut tertawa.
Obrolan demi obrolan mengalir begitu saja. Kalau tanpa hambatan bahasa obrolan Dena dan Fritz cukup nyambung. Kezia dengan setia menjadi penerjemah. Sesekali Kezia tertawa saat bisa mengerjai keduanya. Sementara Dena dan Fritz tidak menyadarinya. Mereka malah ikut tertawa, membuat Kezia semakin semangat mengerjai keduanya.
***
__ADS_1
Waktu makan siang sudah tiba. Kezia mengajak kedua sahabatnya untuk makan siang bersama. Tapi sebelumnya Kezia berencana untuk menjemput Sean terlebih dahulu karena Fritz sangat merindukannya.
“Na, lo masih nyari penerbit?” suara Kezia mengisi keheningan selama perjalanannya menuju resto.
“Iyaa, harusnya gue hari ini wawancara, tapi malah ketemu copet.” keluh Dena mengingat kemalangannya.
“Gimana kalo lo kirim soft file cerpen lo ke gue? Nanti gue coba hubungin salah satu anak perusahaan yang bergerak di bidang jurnalistik dan hiburan. Selain itu, kalo kedepannya lo kerja bareng gue di rumah sakit, mau gag?” tawar Kezia.
“Eemm… Kalo ngasih soft file ke lo sih gue bisa. Tapi kalo kerja di rumah sakit, gue ngapain? Gag masuk sama sekali…”
“Loh kata siapa? Gue ada rencana kalo pasien gue ada pasien anak, supaya mereka gag bosen gue mau minta lo bikin cerpen atau komik yang temanya tentang perjuangan atau yang mengandung semangat. Jadi selama terapi mereka gag bosen dan termotivasi.” terang Kezia.
“Asli lo key, lo mau bikin begituan?” mata Dena terbelalak, tidak menyangka ternyata Kezia memikirkan cara untuk membantunya.
“Iya lah… Lo berbakat. Sayang kalo gag disalurin. Hak ciptanya tetep punya lo, jadi kalo pihak luar mau beli cerita lo, gue gag akan keberatan kok.” tandas Kezia.
“Ya tuhan, makasih key… Lo temen terbaik gue. Gue akan ngerjain ini sebaik mungkin supaya lo gag kecewa.” sahut Dena dengan semangat.
“Okey, gue catet!” seru Kezia.
Dena memeluk Kezia , Sementara Fritz tersenyum geli melihat tingkah Dena dan Kezia. Walau Fritz tidak mengerti isi pembicaraan Kezia dan Dena, tapi rasanya ia tahu yang sedang mereka bahas adalah hal yang menyenangkan.
Kezia menurunkan Dena di salah satu Resto dan memintanya untuk memesan beberapa menu untuk makan siang. Sementara Kezia dan Fritz melanjutkan perjalanan untuk menjemput Sean. Jaraknya tidak terlalu jauh, jadi sangat tidak terasa.
Kezia turun dari mobil dan tampak sean yang sedang menunggunya bersama seorang laki-laki yang tidak lain adalah Arland. Fritz mengikuti Kezia di belakangnya. Arland tampak memincingkan matanya saat laki-laki bertubuh jangkung itu berjalan mengikuti Kezia.
“Onkle fritz!!!” seru Sean yang mengenali laki-laki itu dari kejauhan.
Sean memeluk dan mencium Fritz dengan semangat.
“Okey, ada ongkle fritz kamu lupa sama mima…” cetus Kezia memperlihatkan wajah kesalnya.
“Ayolah mima, mima tidak terganti…” rayu Sean sambil mengecup pipi Kezia.
Kezia tersenyum sekali lalu mengusap kepala Sean.
Arland menghampiri Kezia dan menatap Fritz dengan tajam. Rasanya ia tidak rela ada laki-laki lain di dekat Kezia.
“Hay land, udah lama?” sapa Kezia.
“Lumayan …” sahut Arland dengan wajah kesal dan Kezia menyadari akan hal itu.
“O iya kenalin, ini fritz temenku waktu di jerman. Fritz stellen, diese Arland vor. (Fritz perkenalkan ini arland.)” ujar Kezia.
Arland dan Fritz sambil berjabat tangan dengan senyum palsu di kedua laki-laki ini.
“Siapa dia, apa salah satu sainganku lagi?’ cetus Fritz (dalam bahasa jerman). Kezia memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Kezia sadar, Arland mengerti benar arti ucapan Fritz.
“Aku kekasihnya, ada masalah?” Arland menimpali dalam bahasa Jerman.
Fritz tersenyum, ia sadar salah bicara namun tidak memperdulikannya dan malah terkesan sengaja.
“Okeeyy, kita makan siang bareng gimana? Dena udah nunggu di sana…” tawar Kezia yang berusaha mencairkan suasana. Ia tidak bisa membiarkan kilatan petir itu saling menyambar dari mata kedua laki-laki di hadapannya.
“Aku ada rapat setelah makan siang…” sahut Arland sambil memalingkan wajah.
Dalam hatinya berharap Kezia akan membujuknya. Kezia melihat jam tangan di tangan kirinya.
“Kalau gabung makan siang dulu, kira-kira telat gag? Kamu juga belum makan siang kan phiu…” kali ini Kezia berujar dengan manja.
Mendengar nama panggilannya di sebut tentu saja Arland serasa di atas angin. Bibirnya terkulum menahan senyum.
“Tentu saja, makan siang bersamamu lebih penting” sahut Arland sambil merangkul Kezia dengan mata yang tetap menatap kesal Fritz.
“Okey, ketemu di resto biasa yaa..” sambung Kezia sambil melambaikan tangannya pada Arland.
__ADS_1
Arland memperhatikan Fritz yang berjalan di samping Kezia menuju mobilnya. Ada rasa kesal yang menghinggapi dadanya. Tangannya mengepal melihat kesayangannya di dekati orang lain. Dari matanya, Arland bisa melihat kalau Fritz sangat menyukai Kezia.
****