My First Love Story

My First Love Story
Episode 64


__ADS_3

Malam itu, ada seseorang yang hingga larut malam belum bisa memejamkan matanya. Dialah Irene. Irene melihat postingan Arland dan Kezia di akun media sosialnya. Irene masih mondar mandir di dalam kamarnya dengan tangan Kanan memegang handphone dan mencoba menghubungi seseorang. Beberapa kali panggilan tersambung tapi tidak ada jawaban dari sana.


“Shit!!! Gag di angkat sih!” dengus Irene dengan kesal. Irene melemparkan handphone nya ke tempat tidur. Lalu mengambil bantal dan melemparnya ke cermin.


“Siaalll!!! Gue gag boleh kalah, gag boleh kalaaahhh!!!” teriak Irene.


Irene tinggal sendirian di apartemen mewahnya. Irene terlahir dari keluarga kaya raya yang mengusai perekonomian kota hampir setengahnya. Semua yang ia inginkan, bisa dengan mudah di dapatkannya, kecuali Arland.


Setelah kejadian Irene membuat perjanjian dengan Kezia, sejak saat itu Irene semakin menggila. Semua hal dia lakukan agar Arland menghampirinya dan bertekuk lutut di hadapannya. Namun sayangnya, hal itu tidak pernah terjadi. Semakin Irene menekan orang tua Arland, semakin Arland membencinya dan memilih untuk menjual aset perusahaannya yang bangkrut karena campur tangan Irene dan orangtuanya.


Irene kembali mengambil handphone yang tergeletak di atas Kasur. Dia kembali mencoba menghubungi orang yang sejak tadi tidak menjawab panggilannya.


“Hallo! Lo kemana aja beg*k, gag jawab telpon gue?!” teriak Irene dengan nada suara tinggi.


“Cukup ya ren, jangan terror gue. Udah cukup gue bantuin Lo!” seru suara di sebrang sana


“Rana, apa yang lo lakuin buat bantu gue? Gag ada! Mereka malah tambah deket.” Teriak Irene


“Ren, yang gue janjikan adalah mendekatkan kezia dengan tyo, buka ngejauhin Kezia dari Arland.”


“Oh, lo udah berani bantah gue hah? Gue bisa bikin beasiswa lo dicabut dari sekolah dan keluarga lo jadi gelandangan. Paham Lo!”


“ Lo jangan lupa ren, gue punya beasiswa dari yayasan pendidikan wibawa group, lo hancurin keluarga gue, suatu hari lo bakal nyesel.” Sahut Rana yang mulai berani melawan Irene


“Hhahahaha… bagus, lo udah berani ngelawan gue. Besok, lo liat akibatnya!” tutup Irene.


Irene melemparkan handphonenya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Semua barang yang ada di kamarnya di buat luluh lantah. Pecahan kaca berserakan di mana-mana. Irene duduk di pojokan kamarnya dengan tangan merangkul kedua lututnya. Deraian air mata menetes dari kedua matanya yang merah dan sembab.


“Kezia, lo bakal nyesel udah ngambil Arland dari gue, lo bener-bener bakal nyesel. Sekarang lo nikmati dulu, karena ini tidak akan berlangsung lama sayang, hahahha….”


Gelegar tawa Irene mengisi seluruh celah di apartemen mewahnya.


“Land… kenapa? Kenapa Lo gag bisa liat gue… gue selalu berusaha mendekati lo, tapi Lo malah milih perempuan sialan itu. Gue kurang apa? Hah, gue kurang apa land?” tiba-tiba tawa Irene berubah menjadi tangisan pilu saat memandangi foto Arland. “Kalo gue gag bisa dapetin lo, jangan harap lo bisa bersama perempuan sialan itu!” lanjut Irene sambil meremas foto Arland hingga tak berbentuk. Terlihat tatapan penuh dendam dan kebencian  di mata Irene yang menyala terang.


****


“Hay , selamat pagi mhiu…” sapa Arland pada Kezia yang mulai membuka mata bulatnya.


“Hay… pagi phiu…” sahut Kezia dengan suara serak khas bangun tidur. “ Ini kita dimana?” Kezia melihat ke sekeliling yang terasa asing baginya.


“Kita di rest area. Yuk kita turun, sarapan dulu…” Ajak Arland.


“Heemm.. aku mau ke toilet dulu. Kamu sarapan aja duluan.” Pinta kezia sambil mengambil tas kecil yang berisi alat pribadinya.


“Okeeyy, aku juga mau ke toilet dulu. Nanti aku tunggu kamu untuk sarapan.” Tukas Arland yang beranjak seraya menggenggam tangan Kezia.


Kezia mengikuti langkah kaki Arland. Mereka berpisah saat kezia menuju toilet perempuan dan Arland menuju toilet laki-laki.


Tubuh Kezia terasa sedikit tidak nyaman karena belum mandi. Tapi kondisi di rest area tidak memungkinkan untuk mandi. Akhirnya Kezia hanya cuci muka dan gosok gigi. Tidak memoles sedikitpun wajahnya dengan bedak, namun ia tetap terlihat manis seperti biasanya. Tak sampai 10 menit kezia sudah selesai bersih-bersih. Wajahnya sudah terlihat lebih segar. Kezia bergegas menuju tempat makan karena rongga perutnya sudah mulai keroncongan.


“Key!!” panggil Kania dari kejauhan.


Kezia segera berjalan menuju teman-temannya. Disana sudah menunggu ketiga sahabatnya plus Ricko. Kezia segera duduk di salah satu kursi kosong.


“Makan junkfood ini?” tanya Kezia sambil mengernyitkan dahinya.


“Gag apa-apa kali key sekali-kali… soalnya menu yang lain lama…” sahut Sherly. Kezia mengangguk mengiyakan.


“Hay , udah nunggu lama?” tanya Arland yang membawa beberapa kotak sterofoam yang berisi buah potong.


“Belum…” sahut Kezia.


Pagi itu, Arland terlihat sudah sangat rapi. Arland duduk di samping Kezia dan menaruh bawaannya di hadapan mereka.


“Okey, makannya junk food, di temenin buah potong. Sempurna!” ejek Dena.

__ADS_1


“Daripada junk food doang, tar perut lo jadi kebas, kebanyakan pengawet dan micin.” Tutur Kezia sambil menyuapkan sepotong melon ke mulutnya.


“Good girls!” sahut Arland sambil mengusap-usap kepala Kezia.


“Eeuuuhhh yang udah resmi, gag usah pamer juga kaliiii…” seru kania dengan nada mengejek.


“Gag usah sirik , dengki, iri dan kawan-kawan kali ka…” bela Sherly yang diangguki Ricko.


“Baiqlah, ayo na, kita semangat cari gebetan..” cetus Kania dengan masam.


“Gebetan? Gue udah ada kaliiii?” sahut Dena dengan semangat.


“ Udah ada? Siapa?” tanya ketiga sahabatnya bersamaan.


“Nih…” seru Dena sambil memperlihatkan foto Hyeon Bin yang ada di wallpaper handphonenya.


“Haluuuuu…..” seru Ketiga sahabat Dena bersamaan.


“Hahahahha… sirik Lo pada!” sahut Dena sambil tergelak melihat ekspresi kesal sahabatnya yang berhasil dia tipu.


****


Tepat jam 11 Siang, para siswa sudah sampai di area parkir sekolah. Satu persatu siswa turun dari Bis.


“Aku anter pulang ya..” tawar Arland sambil membantu Kezia menggendong tas ranselnya.


“Kamu nyimpen motor di sini?”


“Iyaaa… aku titip mang ujang.”


“Hemm,, okey..” sahut Kezia.


Mereka turun bersamaan menuju tempat tinggal mang Ujang yang berada tepat di sebelah bangunan sekolah. Saat mereka tiba di rumah mang ujang, mang ujar sedang bercengkrama dengan anak-anaknya.


“Eh Den.. mau ngambil motor yaa…” sambut mang ujang yang segera menghampiri Arland dan kezia.


“Aduhh makasih banyak Den, Non…”


“Sama-sama mang…” tutup Arland.


Mang ujang segera membantu Arland untuk mengeluarkan motornya dari halaman rumah mang Ujang yang tidak terlalu luas. Anak-anak mang Ujang memperhatikan dari balik jendela. Kezia melambaikan tangannya pada kedua anak mang Ujang. Arland ikut tersenyum melihat prilaku Kezia.


Arland memakaikan helm pada Kezia saat motornya siap untuk dikendarai.


“Kami permisi dulu mang,…” ujar Kezia sambil mengangguk.


“Iya Non, Den, hati-hati di jalan…” sahut mang ujang sambil melambaikan tangannya.


Arland mulai memacu kuda besinya. Tangan Kezia memegangi tali ranselnya untuk berpegangan.


“Sesuai aplikasi non..” goda Arland sambil melirik Kezia


“Emang ojek online…” sahut kezia sambil menepuk bahu Arland.


“Ya kamu duduknya kayak lagi naik ojek online” Arland terkekeh.


Kezia memindahkan tangannya untuk berpegangan ke pinggiran jaket Arland. Arland mengambil kedua tangan kanan Kezia dan melingkarkannya di perut. Kemudian menepuk-nepuk tangan Kezia yang telah melingkari pinggangnya. Kezia hanya tersenyum melihat perlakuan Arland.


****


Cuaca terlihat sangat indah, sepulang mengantar kezia, Arland mengendarai motornya dengan santai. Terlintas dipikirannya saat tadi ia begitu menikmati kebersamaannya dengan Kezia. Sesekali ia tersenyum sendiri saat rasa bahagia itu kembali mengisi rongga dadanya.


“Keeyy, miss you…”batin Arland.


Baru beberapa menit lalu mereka berpisah, tapi Arland sudah sangat merindukan Kezia. Kezia bagaikan candu bagi Arland, karena saat berada di sampingnya ia merasa sangat damai dan bahagia.

__ADS_1


Di belakang Arland terlihat sebuah mobil melaju dengan sangat kencang, memaksa Arland untuk sedikit menepi. Namun tiba-tiba mobil itu menghentikannya dan berhenti tepat di hadapan Arland.


Terlihat seorang wanita dengan kacamata hitam turun dari mobil tersebut. Dengan segera Arland menghentikan laju kendaraannya.


“Irene?” gumam Arland saat ia melihat wanita tersebut berdiri di hadapannya.


Dengan malas Arland turun dari motornya dan menghampiri Irene.


“Mau apa lagi kamu?!” tanya Arland dengan malas.


Irene hanya tersenyum. Ia berjalan ke arah Arland dengan santai, lalu berdiri di hadapan Arland dengan jarak yang sangat dekat.


“Gimana liburannya?” tanya Irene seraya menyentuh dada Arland.


Arland segera menepis tangan Irene.


“Uuhh.. galak banget sih? Apa liburannya kurang menyenangkan karena aku gag ikut?” lanjut Irene setengah berbisik.


“Minggirin mobil kamu, jangan menghalangi jalan orang!” sentak Arland dengan kasar


“Uuhhh… kamu kok makin galak makin gemesin yaaa? Aku jadi makin cinta deh.” sahut Irene seraya mengigit tangkai kacamatanya bersamaan dengan senyuman licik yang terlihat jelas.


“Kita udah gag ada urusan apa-apa lagi. Jangan ganggu aku!”


“Sssttt…. Aku gag suka kamu ngomong gitu.”Irene meletakkan telunjuknya dibibir merahnya. “Kita diciptakan untuk selalu bersama. Apa kamu masih belum menyadari semuanya?” lanjutnya dengan tatapan lekat.


“Kamu sudah merusak hidupku dan keluargaku. Dulu aku menghormati kamu sebagai anak dari teman ibuku, tapi sekarang semua perbuatan kamu, bikin aku jijik!”


“Ck ck ck, Arland, Arland…. Kamu terlalu naif.” Irene berjalan mengelilingi Arland. “Aku jadi gini gara-gara kamu! Kamu gag pernah membalas perasaan aku, padahal aku cinta mati sama kamu.” teriak Irene


“Aku gag pernah cinta sama kamu ren!” tegas Arland


“Arland, apa susahnya kamu kembali sama aku? Aku bisa ngembaliin semua milik kamu. Kita akan hidup bahagia.”


“Apa kamu pikir dengan kekayaan orangtua kamu lantas dunia ini menjadi milik kamu? Kamu salah! Gag semua hal bisa kamu beli dengan uang kamu yang banyak! Menjauh dari hidup aku, aku gag sudi liat kamu!” tegas Arland seraya mengarahkan telunjuknya pada Irene.


Dengan segera Arland pergi dari hadapan Irene.


“Arland! Arland tunggu!”teriak Irene seraya mengejar Arland. Namun Arland tak memperdulikannya. “Kamu berani melangkah satu langkah lagi, kamu akan menyesal seumur hidup!”ancam Irene dengan amarah yang tak tertahan.


Namun perkataan Irene tak lantas menghentikan langkah Arland. Ia tetap berjalan menjauh, lalu kembali memacu motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Irene.


“Arlaaaaannd!!! Kamu akan nyesel!” teriak Irene yang masih mematung dengan amarah yang membuncah.


*****


Kezia memilih menikmati waktu senggangnya dengan bermalas-malasan di rumah. Seharian dia gunakan untuk nonton drama korea yang sedang marak dengan berbagai kisahnya. Kezia tiduran di atas sofa dengan setoples almond yang ada di atas perutnya.


“Heyy anak gadis, ini udah malem… kamu gag makan nak?” ujar Eliana yang menghampiri Kezia. Eliana duduk di sofa samping Kezia. Ia membelai rambut Kezia yang terurai panjang.


“Nggak mah, aku kenyang cemilin Almond,” tutut kezia sambil menunjukan isi toples almond yang hampir habis. “Mah, besok zia mau main ke panti yaaa… mau sarapan bareng anak-anak panti..” izin Kezia sambil mendongakkan kepala ke arah Eliana.


“Boleh sayang… Tapi apa gag sebaiknya mamah yang masak bikinin kalian sarapan?” tawar Eliana.


“Bikinnya pasti harus banyak mah… mamah gag kerepotan apa?” Kezia segera beranjak dari baringnya.


“Ya nggak dong sayang… kamu tanya aja dulu sama bunda nia, kira-kira bikin untuk berapa orang… besok mamah masakin… sambil mamah ngasah ilmu masak mamah juga…”


“Waaahhh beneran maah? Makasih mah…..” seru Kezia yang segera memeluk mamahnya dengan senang.


“ Sama-sama sayang… besok kamu bangun pagian yaa… bantuin mamah masak, sambil kamu juga belajar.” Terang Eliana


“Ay ay kapten!” seru kezia sambil melakukan hormat singkat. Eliana mencubit pipi Kezia dengan gemas.


****

__ADS_1


Haayy Reader sekalian... Yang mau ngasih like dan komen nya di tunggu yaa... Aku yakin novel ini perlu banyak masukan. Terima kasih


__ADS_2