My First Love Story

My First Love Story
Episode 85


__ADS_3

“Sayang, jangan lupa, nanti kalau udah sampe sana kabarin mamah yaa…” lagi-lagi Eliana mengulang kata-katanya saat membantu Kezia menata barang bawaannya. Kezia kembali mengangguk seraya tersenyum.


“Mah, mamah udah 8 kali lo ngomong kayak gitu…” tutur Martin sambil tersenyum.


“Ih si papah, bukannya ngehibur mamah, malah ngeledekin.” Sahut Eliana yang kembali terisak.


“Mah, zia bukan mau pergi perang, zia mau pergi belajar. Mamah jangan sedih terus dong, nanti zia gag konsen belajar di sana…” tutur Kezia sambil menggenggam tangan Eliana yang sejak tadi menyibukkan diri dengan membuka dan menutup koper Kezia. Eliana memeluk Kezia dengan erat.


“Oohh… Bayi mamah sudah besar, dan mamah benar-benar di tinggal.” Keluh Eliana sambil terisak.


“Mah, zia bakal sering ngabarin mamah kok, mamah tenang aja yaa…” Kezia mengusap-usap punggung Eliana.


Hari itu, Kezia berangkat bersama Martin. Rencananya Martin akan di sana selama 3 hari untuk menemani Kezia dan mencari tempat tinggal. Walaupun Kezia dapat beasiswa, dia tetap harus mengikuti beberapa test awal untuk jurusan yang dipilihnya.


“Zia ke kamar sebentar ya, mau ngecek lagi takut ada yang ketinggalan…” pamit Kezia.


Eliana dan Martin mengangguk mengiyakan. Mereka menatap bahu putrinya yang semakin lama semakin menjauh. Ada rasa sedih tak terperi dihati keduanya, namun mereka akan lebih bersedih jika suatu saat mereka benar-benar tidak bisa melihat Kezia lagi.


“Pah, apa putri kita baik-baik saja?” Tanya Eliana seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang martin..


Martin mengusap pucuk kepala Eliana lalu mengecupnya dengan lembut. “Tentu akan baik-baik saja. Tapi kalau mamah bertanya seperti itu pada kezia, dia akan ragu…” sahut Martin.


Eliana hanya terdiam ia berusaha menguatkan diri agar bisa tegar seperti sang putri..


****


Kezia kini berada di kamarnya. Dia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Matanya kembali berkaca-kaca saat mengingat kembali kejadian tadi siang. Kezia segera bangkit dan duduk di tepi tempat tidurnya. Dilihatnya kebaya berwarna hijau botol dengan kain ikat yang tergantung di hanger, kebaya yang sengaja ia siapkan untuk acara perpisahan, namun sepertinya tidak akan pernah dia pakai. Pikirannya bercampur aduk dan kacau.


“Mungkin saat ini arland telah benar-benar membenciku” gumam Kezia.


Kezia berjalan menuju meja riasnya, pantulan wajahnya terlihat jelas di cermin. Kezia menggenggam kalung pemberian Arland saat ulang tahunnya. Matanya terpejam, mengingat saat indah ketika Arland memakaikan kalung ini di lehernya.


“Suatu hari, aku akan menggantinya dengan kalung yang khusus aku design buat kamu…” bisikan Arland terngiang jelas di telinga Kezia.


Di genggamnya kalung tersebut dengan erat. Kezia hanya bisa menitikan air mata, saat sadar semuanya tinggal kenangan.


****


Bias lampu mobil cukup menyilaukan mata. Beberapa kali Kezia mengerjapkan matanya saat taksi online yang di tumpanginya berpapasan dengan pengendara lain. Saat ini Kezia dalam perjalanan menuju bandara. Kezia memakai jaket yang cukup tebal untuk menghangatkan tubuhnya.


Tak berselang lama, mereka telah sampai di bandara. Martin membantu Kezia menurunkan kopernya yang berukuran tidak terlalu besar. Membawanya ke tempat pengecekan barang.


“Sayang, mamah akan sangat merindukan kamu…” tutur Eliana sambil memeluk erat Kezia.


“Zia juga mah… mamah jaga diri baik-baik ya …” sahut Kezia.


Dari kejauhan terlihat ketiga sahabat Kezia berlari menghampiri Kezia. mereka berhamburan memeluk Kezia.


“Keyy,, gue pasti bakalan kangen banget sama lo… sering-sering ngasih kabar yaaa…” lirih Kania.


“Iyaa, kalian juga jaga diri baik-baik. Maafin gue kalo selama ini gue banyak salah…” tutur Kezia dengan tulus.

__ADS_1


“Lo ngomong apa sih, lo temen terbaik yang pernah gue punya. Gue bakal ngerasa kehilangan lo banget…” sahut Sherly seraya terisak.


“Kalian sahabat gue, sahabat terbaik gue. Gue harap, gag ada air mata pas gue berangkat yaa…” ujar Kezia sambil menyeka air mata di pipi Sherly. Sherly mengangguk mengiyakan.


“Key, lo dapet salam dari bunda dan anak panti. Bunda bilang, do’a bunda selalu bersama lo…” ucap Dena dengan wajah sedihnya.


“Aamiin… Do’a terbaik juga buat kalian semua.” Sahut Kezia seraya tersenyum. “Okey, gue udah harus masuk… nanti kita berkabar lagi yaa…” lanjut Kezia


“Iya, hati – hati key… Kabarin kalo lo nemu cowok bule yang cocok buat gue…” sahut Dena dengan senyum jenakanya.


Kezia mencubit gemas pipi Dena. Sementara Kania dan Sherly menghadiahinya dengan sorakan. Dipeluknya satu per satu sahabat Kezia. Meski berat, mereka tetap harus berpisah untuk sementara waktu.


Kezia tampak celingukan mencari seseorang. Ya, Arland lah yang dicarinya. Namun tidak ada sosok Arland yang menghampirinya. Kezia sadar, tidak mungkin Arland datang untuk mengantarnya. Saat ini Arland benar-benar pasti sangat kecewa pada Kezia.


Martin menggenggam tangan Kezia dengan erat.


“Aku baik-baik aja pah…” lirih Kezia. Kezia dan Martin melambaikan tangannya ke arah Eliana dan ketiga sahabat Kezia.


****


Kezia dan Martin tengah menunggu di ruang tunggu penumpang. Terlihat seseorang tersenyum pada Kezia.


“Kak Rana?” tebak Kezia pada gadis manis yang ada di hadapannya.


“Hay key, apa kabar?” sapa Rana seraya memeluk Kezia.


“Kabar baik kak, kakak kok bisa di sini juga. Mau kemana?” selidik Kezia.


“Loh, bukannya kuliah kak rana di mulai tahun ini?”


“Iya seharusnya. Tapi karena ada satu dan lain hal, aku mengundurnya dan baru bisa kuliah di tahun ini bareng kamu.”


“Wahh aku seneng banget, ternyata aku ada temennya…” Kezia terlihat kegirangan. Martin tersenyum tenang melihat ekpresi senang Kezia. “Kakak mau ngambil jurusan apa nanti?”


“Eemmm , kedokteran.” Sahut Rana.


“Loh, kok bisa sama? Aku juga mau ngambil jurusan kedokteran kok… kakak mau ngambil spesialisasi apa?”


“Aku belum tau, aku masih belum kepikiran, takutnya otak aku gag nyampe…” sahut Rana sambil menggaruk kepalanya walau tidak gatal.


“Ah kak rana, suka merendah gitu…”


Rana tersenyum malu mendengar pujian Kezia. Perbincangan mereka berlanjut. Rana pun memberitahu alasan kenapa dia menunda kuliahnya tahun kemarin. Ternyata karena Irene membuat keluarga Rana bangkrut sehingga Rana harus mengumpulkan sendiri biaya hidup untuk di kuliah di Jerman, di kampus impiannya. Kezia hanya bisa menggelengkan kepala ketika mengetahui kenyataan begitu jahatnya Irene. Kezia hanya bisa berharap pilihannya tepat untuk melepaskan Arland, agar tidak dicelakai oleh Irene.


*****


 


“Yang!” panggil Ricko saat melihat Sherly masuk kedalam mobilnya.


Saat itu Ricko baru sampai di bandara bersama Arland. Mendengar suara Ricko, Sherly segera turun kembali dari dalam mobilnya.

__ADS_1


“Kamu lagi ngapain di sini yang?” Tanya sherly dengan tatapan heran.


Ricko tidak menjawab, dia hanya menggerakkan bola matanya ke arah Arland. Sherly mengangguk-angguk paham.


“Kezia udah check in sepuluh menit lalu…” tutur Sherly dengan sesal.


Namun Arland tak menggubrisnya. Arland segera berbalik dan meninggalkan Ricko beserta teman-temannya dan kembali masuk ke mobil.


Sesampainya di mobil, Arland hanya terdiam dengan mata terpejam dan tubuh menyadar di jok belakang. Ia benar-benar terlambat, bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal pada Kezia. Ingin rasanya Arland menangis sejadi-jadinya, tapi semua hanya sia-sia. Tak akan merubah apa yang sudah terjadi.


Ricko kembali ke mobilnya. Melirik Arland yang duduk di kursi belakang dengan mata terpejam. Ricko duduk di balik kemudi, sesekali melirik Arland yang masih terdiam. Dia kembali teringat kejadian di apartemen tadi, saat tiba-tiba Arland keluar kamar dan mencari kunci motornya seperti orang gila. Ricko menghampirinya, ternyata Arland berencana menyusul Kezia ke bandara.


Tapi setibanya di bandara, mereka benar-benar terlambat karena jalanan macet. Sepanjang jalan Arland mengupat dan marah-marah bahkan meneriaki pengendara lain yang menurutnya menghalangi jalan mereka. Ricko hampir frustasi di buatnya. Kini mereka hanya bisa kembali ke apartemen Arland.


***


19 jam perjalanan bukan waktu yang singkat. Kezia memilih tidur selama perjalanannya. Sesekali ia bangun untuk makan dan ke toilet, sisanya hanya memejamkan mata sambil mendengarkan musik. Sekitar jam 9 pagi waktu Jerman, mereka sampai di salah satu bandara internasional  Jerman. Setelah mengambil bagasi, Martin mengambil beberapa leaflet map sebagai petunjuk.


Karena cukup lama bekerja di Wibawa group, sedikit banyak Martin memahami kosakata bahasa Jerman, karena sering berkomunikasi dengan rekan bisnis yang memegang anak perusahaan Wibawa group yang berada di Jerman. Kezia menyalakan handphonenya lalu menyetingnya sesuai perubahan operator di Jerman. Dicarinya nomor Eliana dan mulai memberitahunya kalau mereka telah sampai di Jerman. Kezia memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku coat yang di pakainya. Tanpa ia sadari , handphonenya terjatuh.


Kezia, Rana dan Martin berjalan keluar bandara. Dari kejauhan tampak seseorang memegang tulisan berisi nama Kezia dan melambaikan tangan saat melihat Kezia dari kejauhan. Kezia menoleh Martin yang tengah melambaikan tangannya pada Angga.


"Pah, kenapa ada kak angga di sini?" tanya Kezia yang kebingungan.


"Dia datang untuk menjemput kita sayang." sahut Martin seolah cukup menjawab keterkejutan Kezia.


"Kenapa harus jerman dan kenapa harus kak angga pah?" batin Kezia yang masih mematung melihat Martin menghampiri Angga. Kezia mengikutinya perlahan di belakang Martin.


“Selamat pagi tuan muda…” sapa martin pada Angga.


“Selamat pagi pak martin, Kezia dan…..” Angga tidak begitu mengenal Rana.


“Saya Rana…” sahut Rana sambil mengulurkan tangannya.


“Saya Angga.” Angga hanya menjawab saja, tanpa membalas uluran tangan Rana, membuat Rana sedikit kikuk.


“Kak angga kok tau kita sampe hari ini?” Tanya kezia yang berusaha mengusir kecanggungan.


“Iya , pak hendra yang memberitahu saya…” Sahut Angga sambil tersenyum. Ekspresinya sangat berbeda saat melihat Rana dan Rana menyadari hal itu. “Kita ke rumahku dulu yaa, kalian pasti capek, jadi istirahatlah dulu…” ajak angga.


“Baik tuan muda…” sahut Martin.


Sebenarnya Angga sudah meminta Martin untuk tidak memanggilnya tuan muda, tapi karena kali ini ada orang lain, ia tidak berani memanggil Angga dengan panggilan lain.


Mereka segera menuju mobil mewah yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar bandara. Hendra sudah menunggu di sana. Kezia duduk di belakang, ia menurunkan sedikit kaca mobilnya, agar udara bisa masuk. Selama perjalanan menuju rumah Angga, Kezia benar-benar menikmati pemandangan yang tersuguh di hadapannya.


Semilir Angin jerman menerbangkan anak rambutnya perlahan, walaupun sedang musim panas, Kezia tetap bisa menikmati hawa yang membelai lembut pipinya. Angga menoleh ke arah Kezia dan beberapa kali melihat Kezia memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam.


“Aku berharap ini bukan mimpi key...” batin Angga sambil tersenyum.


****

__ADS_1


__ADS_2