My First Love Story

My First Love Story
Episode 163


__ADS_3

Di ruangan dokter syifa, Kezia tengah terbaring dengan transduser yang tengah bergerak bebas memeriksa rahim Kezia. Gel yang melumuri perutnya terasa begitu dingin.


“Tuh, udah ada…” ujar dokter syifa dengan senyum mengembang.


Kezia terpekik sendiri dan masih tidak percaya ada nyawa yang sedang hidup dan tumbuh di dalam rahimnya. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan dan begitu mengharukan seperti saat ini.


“Alhamdulillah…. “ lirih Kezia yang tak bisa menahan laju  air matanya.


Rana yang berdiri di samping Kezia ikut terharu. Ia menggenggam tangan Kezia dengan erat.


“Janinnya sehat, ukurannya bagus. Usianya sekitar 5 minggu.” terang dokter syifa.


Kezia terangguk. Ia benar-benar tak bisa mengatakan apa-apa. “Jangan bayangkan morning sicknessnya yaa nikmati aja. Ini anugrah, pasti dokter kezia bisa melewati kehamilan dengan lancar kalau selalu berfikir positif. Jangan lupa, makan makanan bergizi.” lanjut dokter Syifa yang mulai membersihkan perut Kezia dari gel.


“Terima kasih dok…” Kezia mengusap perutnya perlahan. Betapa ia sangat bersyukur dengan semua yang ia dapatkan saat ini.


“Iyaaa, sehat selalu ibu dan bayinya…” tukas dokter Syifa yang diangguki Kezia dengan semangat.


*****


“Mau makan apa key?" tanya Rana yang menghentikan laju mobilnya di depan sebuah restoran.


“Apa aja kak, yang penting sehat dan bergizi.” sahut Kezia yang masih asyik mengusap perutnya yang rata. Rana tersenyum kecil melihat tingkah Kezia. Rasanya baru kemarin iapun mengalami hal yang sama debgan Kezia, perasaan tidak percaya dan bahagia yang bercampur menjadi satu.


“Mamahmu orang yang hebat dan kuat, kelak kamu akan sangat bangga terlahir dari rahimnya.” ujar Rana yang ikut mengusap perut rata Kezia.


Kezia menatap Rana yang ada di hadapannya.


“Kamu juga punya tante yang hebat, 9 bulan lagi kamu akan ketemu dia. Sehat-sehat di dalam ya kesayangan mima…” tutur Kezia dengan senyum terkembang. Mereka tertawa bersama.


“Yuk, kita makan dulu!”


Kezia mengikuti Rana yang berjalan di depannya masuk ke sebuah restoran yang tidak terlalu ramai. Rana sengaja memilih tempat ini agar Kezia merasa nyaman.


Beberapa menu telah mereka pilih. Sambil  menunggu makanan tiba mereka berbincang hangat.

__ADS_1


“Anak pertama sama anak keduaku beda banget key, hampir 180 derajat bedanya. Yang satu pendiam yang satu pecicilan. Tapi kalau udah ngumpul, rumah jadi rame banget.” ungkap Rana dengan semangat menceritakan kedua jagoan kecilnya.


“Yang mirip kak rana yang mana?” Kezia sangat antusias dengan cerita Rana.


“Emm… keduanya mirip ayahnya. Tapi kalo kelakuannya, si adik mirip banget aku.” Ujar Rana yang tergelak saat mengingat tingkah konyol putra bungsunya.


“Lain kali aku mau ketemu mereka kak…”


“Boleh, nanti aku ajak pas pesermian.”


Selesai makan siang, mereka segera menuju rumah sakit yang akan di resmikan. Kezia masih lincah mengatur pernak-pernik persiapan besok. Berkali-kali Rana mengingatkan Kezia untuk beristirahat, tapi Kezia merasa ia malah semakin bersemangat dengan adanya calon bayi di perutnya.


“Key, kamu jangan capek-capek lah… Udah duduk aja, aku yang ngecek.” Rana menarik Kezia ke sebuah sofa yang ada di sana.


“Baik tante rana….” sahut Kezia yang akhirnya menyerah.


Ia duduk di sofa tersebut dengan pandangan masih mengikuti Rana kesana kemari.


Lagi-lagi, ia mengusap perutnya yang masih rata. “Kamu mau ngemil gag sayang?” ujar Kezia seraya menatap perutnya. Dalam pikirannya, bayi kecil itu tengah menatapnya. “Kenapa mima cinta banget sama kamu nak, padahal kita belum ketemu…” lanjut Kezia.


Kezia mengambil buah potong yang dibelinya. Ia membuka plastik pembungkus dan mulai menikmati suapan demi suapan untuk mengisi perutnya yang kosong. Sungguh, ia sangat bahagia.


*****


Malam ini Arland pulang larut dari kantornya. Jam 8 malam ia baru sampai di apartemen. Sedari tadi ia menelpon Kezia namun tidak di jawab sama sekali. Pekerjaannya hari ini terasa begitu alot walaupun bisa ia selesaikan dan janjinya untuk menemani Kezia siang ini, terpaksa tidak bisa ia tepati.


“Semoga kamu gag marah sayang…” gumam Arland setibanya di depan pintu apartemen.


Arland menekan passcode apartemennya. Pintu terbuka, namun suasana sudah sangat gelap. Hanya sebuah lampu malam yang masih menyala di sudut ruangan.


Arland melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. Ia berjalan menuju meja makan dan melihat menu apa yang tersaji di sana. Perutnya sudah sangat lapar. Di meja makan ia menemukan sebuah kotak berwarna cream dengan pita ungu di pojok kanannya dengan tulisan “For you”. Arland mengambilnya lalu mengguncang-guncangkan di dekat telinganya.


“Äpa ini?” Arland bergumam dengan wajah bingung. Tidak biasanya ada hal manis seperti ini.


Setelah meneguk segelas air putih, Arland duduk di kursi meja makan lalu membuka kotak tersebut.

__ADS_1


“Waiting for you on my bed.” tulisan tersebut menjadi pengisi kotak yang ada di tangan Arland.


Arland tersenyum. Dalam pikirnya, baru kali ini istrinya menggodanya. Dengan segera ia menuju kamar.


“Ceklek.”


Saat pintu kamar terbuka, Arland di sambut oleh Kezia yang tengah berdiri dengan untaian foto usg di tangannya. Ia tersenyum dengan cerah dengan binar mata yang begitu indah.


Arland masih terpaku, ia berusaha mencerna apa yang dilihatnya.


“I’m waiting for you dada…” ujar Kezia dengan suara khas anak kecil.


“Sayang, ini?”’ Arland segera mengambil hasil USG yang ada di tangan Kezia. Di sana tertera jelas nama Kezia dan usia janin.


Rasanya ia mulai tersadar dengan apa yang tunjukkan Kezia. Tanpa terasa air mata meleleh di sudut matanya yang coba ia tekan. Dipeluknya Kezia dengan erat, Arland menangis penuh haru di pelukan Kezia.


“Sayang, terima kasih…” lirih Arland seraya mengeratkan pelukannya.


Kezia mengangguk mengiyakan. Ia membalas pelukan Arland yang selalu membuatnya nyaman. Rasa lelah yang dirasakan Arland, tiba-tiba hilang begitu saja. Ia tak menyangka, ia akan di beri kepercayaan secepat ini.


“I love you, I love you so much…” bisik Arland seraya terisak.


“I love you more dada…” timpal kezia.


Arland melepaskan pelukannya. Kali ini perhatiannya beralih pada perut rata Kezia. Arland mengajak Kezia untuk duduk di tepi tempat tidurnya. Ia bersimpuh di hadapan Kezia. Diusapnya perut Kezia dengan lembut. Ia tersenyum namun air matanya masih menetes.


“Hello baby M, apa kamu denger suara dada?” lirih Arland seraya terisak. Kezia ikut menyentuh perutnya di atas tangan Arland. “Dada sangat senang mendengar kamu ada di perut mima… Tumbuhlah dengan sehat dan kuat sayang. Kami akan setia menunggu sampai saatnya kami bisa memelukmu dengan erat. I love you….” Ujar Arland sekali lalu mengecup perut Kezia dengan penuh perasaan.


Pandangannya beralih pada Kezia yang duduk di hadapannya. Ia pun mengusap pucuk kepala Kezia dan menghadiahinya dengan kecupan di kening, kedua mata, kedua pipi hingga bibir tipisnya.


“Terima kasih sudah mau menjadi istriku. Terima kasih sudah mau menjadi ibu dari anak-anakku. Terima kasih sudah mau menjadi temanku melewat sisa hidup kita. Kelak, di dunia sana pun, kita akan selalu bersama zia…” ungkap Arland dengan penuh haru.


Kezia hanya bisa tersenyum merasakan kebahagiaan yang menyeruak di dadanya. Rasanya tidak ada kalimat yang bisa menjabarkan perasaannya saat ini. Ia merasa begitu beruntung karena memiliki laki-laki yang begitu mencintainya. Tatapan yang Arland berikan, masih selalu membuat jantung kezia berdebar kencang seolah ia jatuh dan jatuh cinta lagi berkali-kali.


*****

__ADS_1


__ADS_2