
Beberapa hari berlalu sejak acara reuni. Di group virtual angkatan Kezia masih ramai teman-teman yang saling berkirim foto meski Kezia sudah lupa beberapa di antara mereka. Sejak malam itu pula, Kezia tidak lagi bertemu dengan Arland. Untuk masalah perusahaan, walaupun ada beberapa kali pertemuan, Kezia menyerahkannya pada Hendra. Ia benar-benar menghindari pertemuan dengan Arland atau pun Difa.
Ini adalah hari ketiga Kezia bekerja di rumah sakit sebagai dokter konsulan. Setelah mengantar Sean ke sekolah, Kezia bergegas berangkat ke rumah sakit karena ada 2 pasien yang tengah menunggunya.
“Selamat pagi dok…” sapa perawat asisten Kezia bernama Indri.
“Selamat pagi sus. Saya mau liat rekam medis pasien rujukan hari ini ya..”
“Baik dok, sebentar saya ambilkan.” Sahut Indri dengan sigap.
Indri bergegas menuju ruang rekam medis dan mengambil rekam medis pasien yang diminta Kezia. Tak lama Indri kembali dengan 2 tumpuk berkas. Kezia mulai membuka-buka rekam medis milik pasien tersebut.
“Pasien atas nama ramdan sudah pernah operasi kan?”
“Betul dok, cuma operasinya di rumah sakit sebelumnya.”
“Di rekam medis yang baru tidak ada hasil biopsinya, tolong segera konfirmasi ke keluarga pasien untuk membawa hasil biopsi saat datang ke sini.” pinta Kezia.
“Baik dok.” Indri mengiyakan.
“Untuk pasien yang atas nama dana, saya minta kertas pengantar lab, dia harus periksa lab secara periodik.”
Indri menyerahkan lembar ajuan pemeriksaan laboratorium pada Kezia. Ia mulai memilih pemeriksaan apa saja yang harus dilakukan untuk pasien tersebut lalu memberikan kembali lembar tersebut pada Indri untuk dilakukan pemeriksaan.
“Dok di ugd ada pasien perdarahan saluran cerna. Dari dokter dalam kemungkinan dia kanker usus dan akan mengkonsulkannya dengan dokter.”
“Saya akan memeriksanya ke UGD. Dan kabari saya kalau hasil pemeriksaan 2 pasien tadi sudah ada.”
Indri hanya terangguk sebagai bentuk paham.
Kezia segera menuju UGD tempat pasien tersebut di tangani. Suasana di UGD cukup ramai, karena ada beberapa pasien yang masuk bersamaan karena keracunan. Perawat dan dokter yang memeriksa di UGD tampak kewalahan, karena jumlah pasien yang cukup banyak.
Kezia fokus memeriksa pasien yang menjadi tanggung jawabnya terlebih dahulu. Setelah selesai dan memberi rencana perawatan, ia segera bergabung bersama dokter lain menangani pasien yang keracunan. Di sana terlihat, Rana pun sangat sibuk karena dia bertugas sebagai dokter penanggung jawab UGD. Mereka berjibaku untuk menangangi pasien yang jumlahnya lebih dari 50 orang. Beberapa petugas medis yang baru melihat Kezia merasa sangat terbantu karena Kezia dengan begitu semangat membantu tim medis UGD.
"Dok, maaf ada telpon dari suster indri, katanya hasil lab sudah ada." ujar seorang perawat wanita yang menghampiri kezia yang tengah menginfus pasiennya.
"Hem, terima kasih."
Ia segera menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas menuju ruangannya. Benar saja, dihadapannya sudah menunggu seorang laki-laki dengan diagnosis kanker getah bening. Ia tampak sangat lemah. Kezia segera memintanya untuk berbaring dan memeriksanya. Hasil pemeriksaan dia catat dengan baik dan menyampaikan hasilnya pada keluarga pasien dengan bahasa yang mudah di mengerti. Hingga tengah hari Kezia baru menyelesaikan pekerjaannya.
Kezia menggeliatkan tubuhnya yang terasa begitu kaku. Cacing di perutnya sudah berdemo meminta makanan. Kezia melepas jas putihnya lalu berjalan menuju kantin rumah sakit.
“Siang dok…” sapa seorang perawat pada Kezia.
Kezia hanya menganggukinya seraya tersenyum. Kezia segera mengambil kursi yang masih kosong dan memesan beberapa menu makanan. Sambil menunggu makanannya tiba Kezia tampak serius mengecek pesan dan email yang masuk di handphonenya.
“Kamu kenal sama dokter barusan?” tanya seorang perawat yang sedang memandangi Kezia.
“Iya, dia baru. Dokter kezia kalo gag salah namanya. Emang kenapa?”
“Cakep banget ya?” sahut perawat tersebut sambil menyentuh wajahnya, membayangkan jika wajah Kezia adalah miliknya.
“Iyaa,, baik lagi. Dia lulusan Jerman. Tadi dia ke ugd periksa pasien, kebetulan di UGD banyak pasien terus tiba-tiba dia langsung ngebantuin gitu aja. Dokter asrul sampe gag ngedip ngeliatin dia. Pasien aja tiba-tiba jadi cengeng pas dia yang periksa.” kenang perawat satunya.
__ADS_1
“Pantes aja, kalo masih jomblo kayaknya di kejar tuh sama dokter asrul.” Kedua perawat tersebut terus memandangi Kezia.
Kezia tidak memperdulikan tatapan yang mengarah kepadanya. Ia menikmati makan siangnya dengan lahap. Setelah mengirim pesan pada Indri dan memastikan tidak ada pasien lagi, Kezia kembali ke ruangannya untuk berganti baju seperti biasanya. Setelah rapi dan bersih, Ia segera menuju parkiran dan menuju sekolah Sean.
****
Sebuah senyuman tergaris jelas di wajah kezia saat melihat Sean yang tengah menunggunya di atas ayunan. Ia terlihat sedang berbincang dengan seseorang yang memunggunginya.
“Mima!!!” seru Sean saat melihat Kezia yang berjalan ke arahnya. Kezia membalasnya dengan senyuman.
“Hay key…” sapa laki-laki tersebut yang ternyata Arland. Kezia hanya tersenyum, rasanya perasaannya yang tenang beberapa hari ini harus kembali terusik.
“Mima onkle Arland ngajak sean jalan-jalan dulu , apa boleh?” tanya Sean dengan antusias.
“Kita pulang dulu, jalan-jalannya lain kali.” dengan kata lain Kezia memang tidak memberinya izin.
“Tapi mima,, sebentar saja ya mima…” Sean mulai merengek dengan puppy eyes-nya.
Hal yang tidak pernah dilakukan Sean sebelumnya.
“Ayolah key, sean pasti bosan dengan suasana yang itu-itu aja. Sekali-kali gag pa-pa ngajak dia main…” bujuk Arland.
Entah apa yang membuat Sean begitu mudah di ajak oleh Arland. Padahal untuk dekat dengan Fritz saja, Sean memerlukan waktu lama.
“Ya udah, tapi kita harus pulang sebelum makan malam ya…” akhirnya Kezia luluh.
“Yeaayy!!! Ay ay mima!!” seru Sean sambil mengecup pipi Kezia dan melakukan hi 5 dengan Arland.
“Mima, ayo kita main basket!” seru Sean setibanya di wahana permainan.
“Kalian mainlah berdua, mima tunggu di sana.” tunjuk Kezia pada salah satu kursi yang tidak jauh dari tempat bermain.
“Okey mima.” Sahut Sean yang segera berlari menghampiri Arland yang tengah membeli koin untuk bermain.
Kezia memperhatikan dari kejauhan. Sean terlihat sangat gembira. Ia tertawa terbahak-bahak bersama Arland. Semua ragam permainan ia coba. Bola basket, balap mobil, balap motor, ding dong dan beragam permainan lainnya.
Ada kehangatan yang Kezia rasakan saat melihat Sean bisa tertawa bersama Arland. Sesekali Arland menoleh ke arah Kezia yang sedang memandanginya dari kejauhan. Kezia tersenyum melihat tingkah konyol Sean dan Arland yang terlihat begitu kompak. Hingga akhirnya Sean menyerah karena lelah.
Kezia menyodorkan dua botol minuman pada Sean dan Arland. Mereka meneguknya dengan semangat.
“Aahh….” Seru Sean dan Arland bersamaan. Kemudian mereka tertawa. Kezia mengusap kepala Sean yang basah karena keringat.
“Onkle, aku lapar. Mau ayam goreng…” rajuk Sean.
“Sean kok jadi manja sih?” protes Kezia yang melihat sikap tidak biasanya Sean. Biasanya ia hanya bermanja seperti itu pada dirinya atau mendiang dadanya.
“Ga pa-pa key, yang penting sean cuma manja sama kita, iya kan jagoan?” tutur Arland yang langsung mendapat anggukan dari Sean.
“Kita?” gumam Kezia.
Walau pelan, Arland bisa mendengarnya. Arland hanya membalasnya dengan senyuman.
Mereka berjalan beriringan menuju restoran cepat saji pilihan Sean. Sean berjalan di antara Kezia dan Arland yang mulai terlihat tidak terlalu canggung.
__ADS_1
Ayam goreng adalah menu andalan yang di pilih Sean. Arland mengantri di meja pemesanan sementara Sean dan Kezia sudah duduk lebih dulu. Tak sampai 5 menit Arland datang dengan membawa setampuk ayam dengan 3 nasi. Ada air mineral dan soda juga yang di bawanya.
“Yeaayy ayam gorengku…” seru Sean yang segera menyantap makanannya dengan tak sabar. Kezia memisahkan ayam dan nasi untuk Arland dan menaruhnya di hadapan Arland.
“Thanks…” lirih Arland.
Kezia pura-pura tidak mendengarnya. Mereka menikmati makannya bersama-sama. Rencana pulang sebelum makan malam terlewat begitu saja.
“Onkle, apa onkle menyukai mimaku?” tanya Sean di sela makan malamnya.
“Sean kamu ngomong apa? Jangan di anggap, itu hanya pertanyaan anak kecil.” Kezia segera membekap mulut Sean.
“Kalo onkle suka, apa boleh?” tak disangka Arland malah menanggapinya.
Sean dengan segera melepas cengkraman tangan Kezia. “Kata dada, kalo ada yang suka sama mima, terus sama sean juga baik, sean boleh berbagi mima dan jadi dada sean.” Sahut Sean dengan wajah polosnya. “Tapi onkle gag boleh bikin mima nangis.” lanjut Sean seraya mengarahkan telunjuknya pada Arland sebagai bentuk ancaman. Arland terangguk dan menatap Kezia. Kezia segera memalingkan wajahnya.
“Sean, habiskan makananmu. Ini udah larut malem…” kali ini kalimat Kezia terdengar tegas.
“Iya mima…” Sean menyahuti.
Seusai menghabiskan makan malamnya, mereka bergegas pulang. Belum lama melajukan mobilnya, Sean sudah tertidur pulas di jok belakang. Kezia menolehnya sambil tersenyum.
“Kamu sangat menyayangi sean key?” tanya Arland sambil menoleh Kezia. Kezia terangguk pelan. “Sepertinya dia memerlukan seorang dada…” lanjut Arland seraya tersenyum.
“Dia sudah punya seorang papih, untuk apa mencarikannya dada yang baru…” sahut Kezia dengan santai.
“Maksudmu? Bukannya dadanya sudah meninggal?” selidik Arland. Kezia tak menjawabnya. “Maaf kalau kata-kataku menyinggungmu dan tentang kejadian malam itu…”
“Aku tidak ingin membahasnya….” timpal Kezia dengan segera.
Arland mengangguk. Di genggamnya setir erat-erat dan hening kembali mengambil alih suasana. Hanya dengkuran halus yang terdengar dari mulut Sean yang terlelap begitu pulas.
Hingga sampai di rumah, Arland menggendong Sean ke kamarnya. Eliana dan Martin tercengang melihat Arland yang datang bersama Kezia. Kereka menatap Kezia penuh tanya, namun Kezia hanya mengangkat kedua bahunya, entah mengisyaratkan apa. Arland menyelimuti Sean lalu mengecup dahinya dengan hangat.
“Good night boy…” lirih Arland.
Kezia yang memperhatikannya dari pintu hanya tersenyum. Arland berjalan keluar dari kamar Sean, dan untuk beberapa saat bersi tatap dengan Kezia.
“Nak Arland mau minum apa?” tanya Eliana yang datang mendekat.
“Arland udah mau pulang mah?” sahut Kezia seraya menatap Arland. Rasanya Arland paham isyarat mata Kezia.
“Iya om, tante saya sudah harus pulang, ini sudah malam.” pamit Arland.
“Iya nak, hati-hati dijalan.” Sahut Martin. Arland hanya mengangguk lalu bergegas pergi.
“Zia, kamu nggak anter nak Arland?” tanya Eliana seperti sebuh kode.
“Gag perlu mah, dia tau pintu keluarnya.” ujar Kezia seraya berlalu menuju kamarnya.
Eliana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kezia.
****
__ADS_1