
“Kita pulang ya sayang…” tutur Eliana sambil mendorong kursi roda Kezia. Kezia hanya mengangguk.
Melihat Kezia dan Eliana keluar dari ruang terapi, sahabat-sahabat kezia segera menghampiri.
“Key gimana terapinya?” tanya Dena dengan antusias.
“Lancar…” jawab Kezia sambil menoleh Eliana.
“Zia nya kecapean, tante sama zia pulang dulu yaa…” tutur Eliana yang mengerti isyarat kezia. Sahabatnya saling bertatapan.
“Mau sherly anter tan?”
“Gag usah sayang, tante pake taksi online aja. Tuh udah nunggu di sana…” tutur Eliana
“Lo baik-baik aja kan key?” Kania mulai cemas kaena Kezia yang tidak seceria saat datang ke tempat terapi.
“Ya , gue baik-baik aja, cuma agak capek aja.” Kezia tersenyum kelu.
“Arland bantu tante…” tawar Arland sambil mengambil pegangan kursi roda. Eliana mempersilakan Arland mendorong kursi roda Kezia sampai ke dekat taksi online. Eliana membantu membukakan pintu.
“Mhiu…” lirih Arland. Kezia mendongak kan kepalanya melihat Arland yang berada dihadapannya sambil tersenyum. “Good girl…” bisik Arland sambil mendekatkan wajahnya pada Kezia.
Mata kezia membelalak saat jarak wajah mereka sangat dekat. Benar-benar mengagetkan.
Eliana sudah membukakan pintu mobil. Dan melambaikan tangannya pada Arland.
“Aku tau, aku ganteng. Tapi jangan terpesona gitu dong…” goda Arland memperlihatkan senyum tampannya.
“Ish! Ngeselin…” sahut Kezia sambil tersenyum kecut.
“Aku gendong yaaa…”
Tanpa aba-aba Arland sudah mengangkat tubuh Kezia dengan gaya bridal style. Sejenak Kezia menatap wajah Arland yang ada di hadapannya dadanya kembali berdebar tak karuan. Arland melirik Kezia dan menyunggingkan senyum di bibirnya. Kezia menunduk karena malu.
Kezia duduk di jok belakang dan meluruskan kakinya, sementara Eliana duduk di depan.
“Arland gag nganter ya tan…” seru Arland.
“Iya nak, makasih banyak yaa…” sahut Eliana
Setelah memasukkan kursi roda Kezia ke bagasi , mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Arland melambaikan tangannya. Kezia melihat Arland dari kaca belakang dengan senyum simpul. Eliana memperhatikan Kezia sedari tadi, namun Kezia tak menyadarinya. Dalam beberapa saat rona merah terlihat jelas di wajah Kezia.
****
Ujian memang sangat melelahkan. Di hari terakhir ini, Arland kembali menjemput Kezia ke kelasnya. Dengan langkah santai mereka menyusuri lorong kelas dan melewati beberapa orang yang berada di luar kelas.
__ADS_1
"Land, kamu latian basket gag hari ini?" tanya Kezia seraya mengongakkan kepalanya menatap Arland yang ada di belakangnya.
"Ada tapi nanti sore. Aku bisa nganter kamu pulang dulu." Arland melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya.
"Aku ikut boleh?" tanya Kezia tiba-tiba.
Arland menghentikan langkahnya. Ia membungkuk di hadapan Kezia dengan garis yang sejajar. Ia bisa melihat sepasang manik hitam yang sepertinya tengah merasakan kegalauan dalam hatinya.
"Tentu! Yuk kita main bareng!" seru Arland yang kembali mendorong kursi roda Kezia menuju lapangan basket.
"Aku liatin aja land di pinggir." Kilah Kezia, namun Arland hanya tersenyum.
Lapangan basket masih sepi dan hanya ada mereka berdua. Arland menempatkan Kezia di tepian lapang basket dan mengarah ke ring basket. Ia mulai mengambil bola dan memantul-mantulkannya. Arland melakukan long short dan dengan mulus memasuki ring.
"Yeeeeeaaayyy!!!" Kezia bersorak dari tepi lapangan. Arland menoleh dan tersenyum sejenak. Rasanya ia sangat merindukan Kezia yang bisa tertawa lepas.
Arland kembali menghampiri Kezia. "Loh kok udahan?" Kezia menatap bingung.
Arland menggelengkan kepalanya. "Gag seru kalo main sendirian. Kita main bareng yuk!" ajak Arland.
"Kamu kalo ngeledek kira-kira dong!" cetus kezia dengan kesal. Raut wajahnya seketika berubah muram.
Arland hanya tersenyum seraya mengusap pucuk kepala Kezia. Ia berjongkok membelakangi Kezia lalu menepuk bahunya meminta Kezia untuk naik ke punggungnya.
"Gag mau ah, takut jatuh!" Kilah Kezia.
"Wuft! Kamu gag makan enak ya sampe enteng gini." goda Arland.
"Enak aja!" Kezia mencubit pipi Arland dengan kesal. Arland hanya terkekeh melihat tingkah menggemaskan Kezia.
Arland kembali masuk ke lapangan. Ia mengambil bola dan memberikannya pada Kezia.
"Coba shoot key!" pinta Arland
"Tapi nanti kena kepala kamu gimana?" Kezia terlihat ragu.
"Tinggal di usap aja kepalanya, nanti juga sakitnya hilang." Goda Arland yang membuat Kezia tersipu. "Okey, siap yaaa...." Arland mulai memasang ancang-ancang. Ia sedikit merunduk untuk menyesuaikan tinggi tubuhnya dengan arah ring. Kezia mulai melakukan shooting dan BINGO!!!
"Wooowww kerreeennn!!!!" seru Arland.
"Yes yes yes!" Kezia bersorak dengan riang.
"Hahhaha tuh kan bisa!"
Kezia dan Arland tertawa bersamaan, terlihat begitu menyenangkan. Arland berlari ke sana kemari membuat Kezia tertawa renyah dan semakin mengeratkan cengkraman tangannya di bahu Arland. Arland menarik tangan Kezia dan melingkarkannya di leher. Ia kembali berlari ke sana kemari membuat Kezia ngeri sendiri dan semakin mengeratkan genggamannya.
__ADS_1
"Hahhahaha... Land nanti aku muntah gara-gara pusing kamu muter-muter." protes Kezia.
Arland hanya tergelak. "Seru kan, main basket berdua?"
Kezia terangguk. "Makasih land, kamu selalu berusaha bikin aku ketawa. Manis banget sih.." Kezia menempatkan wajahnya di bahu kiri Arland seraya menatapnya dari samping.
Sejenak Arland menoleh membuat keduanya saling bertatapan. Selalu, senyuman Kezia membuat hati Arland terasa hangat dan Arland memberi ketenangan yang berbeda saat Kezia menatapnya laman.
"Kata orang, kalau kita mencintai seseorang, buatlah dia selalu tertawa agar dia juga mencintai kita. Tapi ternyata, saat kamu tertawa malah semakin membuat aku jatuh cinta." lirih Arland yang masih bisa di dengar oleh Kezia. Kezia hanya tersenyum. Ia sadar seberapa besar kasih sayang Arland untuknya. Katakanlah ini hanya cinta anak remaja atau cinta monyet dalam salah satu bab kehidupan Kezia namun tidak salah rasanya kalau ia berharap ini akan menjadi selamanya.
"Aku laper, kita makan yuk..." Ajak Kezia.
Arland hanya terkekeh mendengar ujaran Kezia. Gadis di gendongannya memang sangat mahir mengakhiri perasaan yang tak menentu di dadanya dan ia masih sangat nyaman membawa Kezia di atas punggungnya.
****
Cafe adalah tempat yang di tuju Arland dan Kezia. Arland memesan menu kesukaan Kezia dan langsung membawanya ke hadapan Kezia yang tengah menunggu.
"Kita makan di taman, mau gag?" Tawar Arland setibanya di hadapan Kezia.
Kezia mengangguk dengan cepat. Melihat kezia yang setuju, Arland segera meminta bantuan pelayan cafe untuk membawa makanan ke taman sebelah cafe, tempat favorit mereka, sementara Arland kembali menggendong Kezia di punggungnya.
Di atas selembar karpet mereka duduk berdampingan. Menikmati makan siang di temani semilir angin yang menyapu lembut wajah keduanya. Arland memutar musik dari player handphonenya yang membuat suasana semakin hidup.
"Kayak piknik ya kita..." cetus Kezia yang di sahuti sebuah senyuman oleh Arland.
"Kamu suka kan suasananya?" Arland menatap Kezia dengan lekat.
Kezia terangguk seraya tersenyum. "Aku gag bisa ngebayangin kalo kelak taman ini di rapikan. Ada track buat olah raga, ada kolam yang indah dan ada jalur khusus buat orang-orang kayak aku. Pasti bakalan rame." Ungkap Kezia seraya menatap jauh ke sekeliling taman.
Arland ikut berfikir, sepertinya akan sangat menarik ketika harapan Kezia terwujud. Dalam beberapa saat, Arland membaringkan tubuhnya dan menjadikan paha Kezia sebagai bantalnya. Ia menatap lekat wajah yang kini berada di atasnya.
"Boleh aku seperti ini untuk beberapa saat?' tanya Arland dengan suara serak nan lirih.
Kezia terangguk seraya tersenyum. Ia mengusap kepala Arland dengan lembut dan Arland memjamkan matanya perlahan dengan garis senyum yang tidak pernah pudar dari bibirnya. Ia sangat nyaman dan sangat menikmati saat-saat seperti ini.
"Aku harap, kita akan seperti ini sampai kelak kita menua bersama." Lirih Arland yang masih bisa di dengar oleh Kezia. Kezia tersenyum kecil, tentu saja iapun mengharapkan hal yang sama. "Love you key...." imbuh Arland seraya membuka matanya.
Kezia hanya dengan gejolak perasaan yang tak bisa ia uraikan. Arland terbangun dari baringnya.. Ia duduk tegak di samping Kezia. Tatapan lekat itu kembali ia tujukan pada Kezia. Ditangkupnya sisi wajah kiri Kezia dan mengusapnya dengan lembut.
"Aku sedang berusaha untuk layak di hadapan kamu dan om martin. Aku harap, kamu bersedia berada di sampingku sampai kita sama-sama dewasa dan memulai semuanya dengan cara yang lebih baik." lirih Arland dengan penuh kesungguhan.
Kezia tertunduk dngan sejuta perasaan di dadanya. Ia berharap masa itu akan segera datang, masa di mana mereka memang sudah dewasa dan menjalani semuanya dengan cara yang lebih dewasa.
"Gag ada alasan buat aku untuk gag berada di samping kamu." timpal Kezia seraya membalas tatapan laman Arland.
__ADS_1
Arland mendekatkan wajahnya pada Kezia. Perlahan ia mengecup kening Kezia dengan penuh perasaan. Kezia hanya bisa memejamkan kedua matanya seraya menikmati deburan ombak perasaan yang mengisi hatinya. Sejenak saja waktu berhenti dan kembali saat mereka benar-benar telah dewasa. Bisakah itu tidak terlalu lama?
****