
“Yang, kita mau makan malem dimana nih?” Tanya sherly pada Ricko yang baru selesai bertelepon.
“Kita makan seafood, deket sini ada café yang nyaman banget buat nongkrong sekaligus makan.”
“Okeeyy… ayo kita jalan.. aku udah laper banget…” Sherly segera meraih lengan Ricko dan melingkarkan tangannya seraya bersandar manja.
“Ayooo, ajak anggota gengmu sekarang yang…” tutur Ricko sambil mencubit gemas pipi Sherly.
Sherly mengangguk dengan semangat.
“Giirrllssss…..” teriak Sherly. Tak lama Kezia dan kedua sahabatnya turun. “Yuk kita makan malem!” Ajak Sherly dengan semangat.
“Okeeyy….” Sahut Dena.
“ Arland kemana, kok gag ada?” Tanya Kania yang celingukan melihat sekitar vila.
“Dia ada urusan dulu, nanti nyusul.” Jawab Ricko santai.
“Ooohhh ya udah.. yuk!” Dena segera menarik tangan Kania dan Kezia.
Ricko dan para gadis berjalan beriringan menuju café. Jaraknya memang tidak terlalu jauh walau di tempuh dengan jalan kaki.
“Wah… rame bangettt!!!” seru Sherly dengan girang.
“Tenang aja, aku udah pesen table, jadi kita gag kehabisan tempat.” Ricko menunjuk ke arah meja yang berada di tengah café.
“Ya ampunn… pacar aku keren banget sihh… tambah cinta deh…” Sherly merajuk manja pada kekasihnya.
“Jangan menggodaku, atau aku akan mengajakmu menikah besok..” bisik Ricko di telinga sherly. Sherly hanya bergidik mendengar ujaran Ricko. Dan Ricko terkekeh gemas.
Mereka duduk di meja yang telah disediakan. Tak lama seorang pelayan datang dan menyadarkan buku menu. Mereka mulai memilih menu yang dari gambarnya saja sudah terlihat menggiurkan. Beberapa menu di pesan dan di catat oleh pelayan.
“Arland biasanya makan apa ko?” Kezia tampak serius memilih menu.
“Ciieee…..” sahut ketiga sahabatnya bersamaan. Kezia tersipu sendiri. Ia benar-benar tidak menyadari kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
“Kamu pilihin aja, pasti bakal dia makan kok…” sahut Ricko sambil tersenyum. Kezia kembali terangguk dengan wajah kemerahan.
Malam terasa begitu romantis. Hembusan angin segar dari pantai berpadu alunan music indah yang disajikan pada live musik dengan penyanyi seorang wanita muda. Suaranya terdengar sangat merdu. Mereka terhanyut dalam suasana yang hangat.
Selesai 1 lagu, tampak seseorang naik ke panggung dan rasanya mereka mengenal sosok itu.
“Selamat malam, mohon maaf menganggu makan malam anda semua…” tutur laki-laki tersebut. Kezia terpaku, dari suaranya, ia yakin tidak salah lihat. Adalah Arland yang kini tengah berdiri di panggung dengan microphone di tangannya.
“Key, mau ngapain dia?” Kania menyenggol tangan Kezia dan membuat perhatiannya teralih. Kezia hanya mengangkat bahunya tanda tidak mengerti.
“Untuk gadis tercantik yang memakai dress orange," Arland menunjuk Kezia dan membuat teman-temannya bersorak riuh. Kezia berusaha menutupi wajahnya karena malu. Jelas saja, kini perhatian seisi cafe tertuju pada Kezia. "Aku minta maaf kalau selama ini banyak hal yang membuatmu merasa kesal, marah dan sakit hati. Maafkan setiap kelakuan impulsifku. Maafkan setiap kata-kata kurang baikku. Dan maafkan karena aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk mengatakan , Aku mencintaimu."
"Uuuu...." Lagi-lagi sahabat Kezia bersorak. Wajah Kezia semakin memerah, tapi ia yakin untuk menatap laki-laki yang kini terlihat salah tingkah mendapat balasan tatapan darinya.
"Aku akan selalu belajar untuk menjadi seseorang yang lebih baik buat kamu. Kezia Artiandinia Fashia, ….” Arland menjeda kalimatnya lalu berjalan menghampiri kezia. Ia berlutut di hadapan Kezia. Tatapannya terasa begitu hangat membuat senyum tipis mengembang di bibir Kezia.” Could you be mine?” lanjut Arland dengan penuh keyakinan. Ia memberikan sekuntum mawar merah pada kezia.
“Cieeee……” seru Ketiga sahabat Kezia.
Kezia memegangi pipinya yang terasa panas. Semua mata tertuju padanya dan Arland.
“Terima.. terimaa…” beberapa orang berteriak meminta kezia menerima permintaan Arland.
Arland menatap kezia dengan hangat. Tatapan yang selalu membuat jantung Kezia berdetak tak beraturan seperti saat ini.
“Key, could you be mine?” Arland mengulang kata-katanya.
Pandangan mereka bertemu. Malam ini Arland terlihat sangat maskulin dengan wajah tampan dan senyum manisnya. Hati Kezia bergetar, sejak pertama bertemu Arland, ia merasa hatinya telah tercuri. Kali ini, laki-laki itu bertekuk lutut di hadapannya dengan bunga mawar merah di tangan. Hati kezia merasa hangat. Semua tentang Arland, selalu membuatnya terpukau.
Kezia tersenyum, Arland tak sabar menunggu jawaban Kezia.
“Yes!...” lirih Kezia yang dihadiahi sorakan seisi cafe.
Rasanya jantung Arland hampir copot dari tempatnya. Ia tak menyangka, setelah beberapa kali Kezia menolak bahkan menghindarinya, jawaban ini yang akhirnya ia dapatkan.
Arland segera memeluk kezia dengan erat. Kezia menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang Arland karena tak kuasa melihat tatapan orang-orang padanya.
__ADS_1
“Thanks key, udah ngasih aku kesempatan. I love you…” bisik Arland dengan lembut.
Kezia hanya bisa mengangguk. Perasaannya berkecambuk. Bibirnya tiba-tiba kelu tak bisa mengatakan apapun. Ia terlarut dalam suasana romantis ini hingga rasanya dunia hanya milik mereka berdua. Ia lupa bahwa di sekitarnya ada sahabat-sahabatnya yang mungkin sedang menertawakannya dan bersiap untuk menggodanya.
****
Kezia berjalan beriringan dengan Arland menyusuri bibir pantai. Kilauan ombak terlihat begitu indah saat bertemu dengan cahaya rembulan yang bersinar terang. Deburan ombak berkejaran menyapa kaki dua insan yang sedang bergandengan tangan. Semilir angin meniupkan hawa dingin yang membekukan setiap tulang sendi.
Arland menghentikan langkahnya. Di tatapnya wajah Kezia lekat-lekat.
“Apa kali ini aku bisa berharap waktu berhenti sejenak?” Tanya Kezia dengan senyum simpulnya.
“Aku malah berharap waktu tidak pernah berhenti.” Timpal Arland.
“Huh,,, jawaban kamu bener-bener gag romatis..” Keluh kezia sambil mengerucutkan bibirnya.
“Kalau waktu berhenti, akan semakin lama kita tumbuh dewasa dan semakin lama juga menjadikan kamu pengantinku…” bisik Arland dengan hangat. Kezia menahan senyumnya agar tidak terlihat oleh Arland.
“Key…”
“Hem…”
“Terima kasih… untuk kesempatannya…” tutur Arland tulus.
Arland menyentuh pipi kanan Kezia. ia menempatkan keningnya di kening Kezia. Arland menyentuh hidung mancung Kezia dengan hidungnya. Kezia tersenyum geli dan…
“ Cup!”
Bibir Arland menekan lembut bibir Kezia. Kezia menutup kedua matanya. Nafasnya memburu, seirama detak jantungnya. Tak ada gerakan lain, keduanya hanya terdiam menikmati sentuhan satu sama lain. sangat kaku, ya sangat kaku.
“Second time…” bisik Arland.
"A thief" timpal Kezia yang membuat Arland terkekeh.
*****
“Ddrrtt… dddrttt…”
Handphone Arland bergetar. Saat di lihat ternyata Ricko yang menelponnya.
“Sorry bro, gue ganggu. Waktunya siap-siap pulang nih…” tutur Ricko sambil terkekeh.
“Hem…” Jawab Arland kembali.
Arland menutup telponnya dan memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku celana.
“Siapa?” tanya kezia sambil mendongakkan kepalanya.
“ Penganggu. Ayo kita pulang…” sahut Arland dengan malas.
Kezia hanya tersenyum mengiyakan. Mereka berjalan menuju Vila dengan ditemani cahaya rembulan yang bersinar terang.
Ditariknya ikat rambut kezia dan membuat rambut Kezia tergerai begitu saja.
“Kamu kebiasaan deh, narik-narik iket rambut aku…” keluh Kezia dengan wajah sedikit kesal
“Aku kan udah bilang, jangan mengikat rambutmu atau memperlihatkan leher kamu. Itu sangat menganggu!” cetus Arland sambil merapikan rambut Kezia. Kezia hanya terdiam tak menimpali. “Pake ini, udara tambah dingin” lanjut Arland sambil memakaikan jaketnya pada Kezia. Kezia terlihat menggemaskan dengan jaket kedodoran milik Arland namun terlihat sangat menarik bagi Arland.
“Thanks Land…” lirih kezia
“Apa?” tanya Arland
“Thanks Land…” Kezia mengeraskan suaranya.
“Apa, aku gag denger?” lagi-lagi Arland mendekatkan telinganya ke arah Kezia
“IIsshhh… Terima kasih Kak Arland….” Tutur Kezia setengah berteriak.
“Sejak kapan aku jadi kakakmu? Bukannya aku pacarmu?” cetus Arland sambil tersenyum
“Okey… terima kasih phiu….” Ulang Kezia sambil memperlihatkan senyum manisnya seraya mengusap pipi Arland.
__ADS_1
“ Apa itu Phiu?” Arland mengernyitkan dahinya
“ Panggilan buat kamu laahh….” Jawab kezia sambil memalingkan wajahnya karena malu. Arland tersenyum gemas. Ternyata ia tidak kalah dengan anak SD yang saling memanggil mamah papah.
“Hemmm… kalo gitu, aku panggil kamu… Mhiu yaaa…” sambung Arland sambil mengenggam dagu kezia agar mengarah padanya. Kezia hanya tersenyum geli. “Hahahaha ternyata kita bisa kena virus alay juga yaa….” Seru Arland sambil tertawa dengan renyahnya.
“Kita? Kamu doang, aku nggak!” seru kezia sambil mengibaskan tangan Arland. Kezia segera berlari menuju vila, dan Arland hanya tersenyum melihat Kezia yang berlarian menyembunyikan rasa malunya. Arland menyentuh dada kirinya, terasa sangat hangat dan tidak lagi merasa kosong.
*****
Jam 11 malam. Kezia dan teman-temannya sudah sampai di lobby penginapan. Masing-masing sudah membawa tas dan koper mereka. Panitia mengabsen siswa berdasarkan bis yang akan mereka naiki. Siswa yang sudah terpanggil namanya segera naik ke dalam bis.
Kezia kembali duduk di jok yang sama saat berangkat. Kali ini Difa belum ada di tempat duduknya padahal bis sudah hampir penuh. Kezia segera duduk dan mengeluarkan handphonenya, hendak menghubungi Difa.
“Brug!” seseorang menjatuhkan tubuhnya di samping Kezia.
“Kamu? Ngapain ke sini?” tanya Kezia pada Arland yang tiba-tiba duduk dan memasang senyum manisnya di hadapan Kezia.
“ Pacarnya dateng, bukannya seneng malah gitu…” keluh Arland sambil menaruh tas nya di bagasi atas.
“Land, ini tempatnya Difa, nanti dia duduk dimana kalo kamu duduk di sini?” Kezia celingukan mencari keberadaan Difa
“Mhiu… dia dengan senang hati ngasih kursinya ke aku. Dan dia duduk di depan sana tuh…” tunjuk Arland pada seorang gadis yang sedang melambaikan tangan ke arah mereka. Kezia membalas lambaian tangan Difa.
“Kamu yaaa…” Kezia mencubit tangan Arland dengan gemas. Arland pun mengaduh manja, namun Kezia mengabaikannya begitu saja.
“Sakit sih cubitannya. Ya ampun sampe berdarah gini." tutur Arland dengan hiperbol.
Kezia segera menarik tangan Arland dan memeriksanya dnegan seksama. Tapi sepertinya tangan Arland baik-baik saja.
“Ngeselin!” Kezia segera mengibaskan tangan Arland. Arland hanya terkekeh karena berhasil menggoda pacarnya.
Arland mengeluarkan handphonenya dan mempotret Kezia yang sedang marah. Lalu mempostingnya di akun medsosnya.
“ Gilaaa… langsung banyak aja yang like sama komen.” Seru Arland.
“Kamu ngapain sih?” Kezia mengintip handphone Arland.
“Iihhh hapus gag!” seru Kezia yang tidak terima. Ia segera meraih tangan Arland dan berusaha merebut handphonenya.
“Hapus aja sendiri. Nih hp nya…” tutur Arland dengan santai
“Apaaan, orang di password..” gerutu kezia
“Okey, bentar…” Arland mengotak atik handphonenya. “Senyum..” pinta Arland sambil menunjukkan wajah Kezia dengan kamera depan.
“Password nya pake muka aku?”
“Iyaaa.. sama tanggal jadian kita.” Sahut Arland sambil tersenyum
“Astaga… kamu alay banget phiu… ckckck… kalo kita putus, kamu harus ganti password dan nyari muka lain dong…” seru Kezia sambil terkekeh.
“Kok kamu ngomong gitu sih. Kita gag akan pernah putus!” elak Arland dengan tatapan serius seraya menggengam tangan Kezia erat. Kezia merinding sendiri melihat tatapan dingin Arland.
“Okeeyy,, maaf aku becanda… jangan gitu lah liat akunya….” Kezia lantas menunduk.
“Lain kali, jangan becanda kayak gitu, aku gag suka…” lirih Arland sambil menyandarkan tubuhnya. Kezia mengangguk paham.
Sejenak Kezia melirik Arland. Wajahnya terlihat sangat tampan saat memejamkan matanya.
“Jangan liat lama-lama, nanti kamu gag bisa tidur..” lanjut Arland sambil menutup mata Kezia dengan tangannya.
Kezia segera memalingkan wajahnya dan tersipu malu. Pantulan wajah Kezia samar terlihat dari kaca Bis. Kezia tak berani melihat Arland lagi. Dia tau Arland akan menggodanya habis-habisan. Kezia mengeluarkan handphonenya dan memposting sebuah foto. Foto jarinya yang terbalut kasa dan diikat dengan simpul pita. Arland melihat ekspresi Kezia yang senyum-senyum sendiri. Arland pun membuka handphonenya dan memposting foto yang hampir sama dengan Kezia.
Kezia melirik Arland yang ada disampingnya. Ternyata ia masih memperhatikan Kezia.
“Tidurlah, jangan main hp terus,…” tutur Arland.
Kezia mengangguk mengiyakan. Kezia mematikan handphone dan menaruhnya kembali di dalam saku jaketnya.
“Nite…” ujar Kezia dengan suara parau.
__ADS_1
Arland membalasnya dengan senyuman. Diusapnya kepala Kezia perlahan. Kezia mulai memejamkan matanya. Tak lama berselang Kezia sudah masuk ke alam mimpinya. Arland pun mulai menutup matanya, berharap bertemu Kezia di dalam mimpinya.
******