
Matahari mulai menyingsing dari peraduannya, membuat kilauan cahaya kemuning yang memantul dari balik awan putih yang bergerak beriringan. Pagi itu Kezia sudah terbangun dan sedang mengepak barang-barangnya bersama Eliana. Wajahnya terlihat lebih segar dengan messy hair yang diikat menggulung di kepalanya, terlihat berantakan tapi justru itu yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
“Sayang, kita sarapan dulu yaaa… kata dokter kamu sudah boleh makan apapun. Apa kamu mau makanan dari sini atau sarapan sesuatu dari luar?” tawar Eliana sambil melipat-lipat baju yang akan mereka bawa pulang.
“Zia sebenernya pengen sarapan nasi goreng buatan mamah, udah lama banget gag makan nasi goreng…” Kezia membayangkan setumpuk nasi goreng dengan telor mata sapi di atasnya dan di beri sedikit saus. Sangat lezat. “Tapi hari ini zia masih bisa nahan, jadi sarapan menu rumah sakit aja, hitung-hitung perpisahan…” imbuh Kezia mengakhiri imajinasinya.
“Iya sayang, besok saat sarapan, kamu akan mamah buatkan nasi goreng special…” janji Eliana sambil mencubit hidung mancung Kezia.
“Makasih mah….”
“Sama-sama sayang…” sahut Eliana dengan senang.
“Ceklek” suara gagang pintu menghentikan obrolan mereka. Tampak Martin yang muncul dari balik pintu. Wajahnya terlihat bingung.
“Gimana pah, udah selesai masalah administrasinya?” Tanya Eliana dengan wajah cemas saat melihat Martin datang dengan wajah kebingungan.
“Udah mah…” papah duduk di sofa sambil memijat-mijat keningnya.
“Apa uangnya kurang pah?” selidik Kezia
“Nggak sayang, justru aneh. Kata bagian administrasi ada yang sudah melunasi biaya administrasi perawatan kamu. Malah ada lebihnya..” jawab Martin masih dengan wajah bingung.
“Apa papah gag nanya siapa yang ngelunasin?” Eliana berjalan dan duduk di samping Martin.
“Orangnya gag mengizinkan bagian administrasi untuk mencatat namanya. Bahkan dia juga tidak meminta kuitansi.” Sahut Martin. “Ya udah, ini urusan papah. Biar nanti papah cari tau siapa orang yang udah berbaik hati membayar biaya rumah sakit zia…” imbuh Martin. Kezia dan Eliana hanya terangguk menyetujui ucapan Martin.
“Ya sudah, ayo nak sarapan dulu.. setelah itu kita pulang…” tutur Eliana sambil menyiapkan sarapan Kezia.
Kezia tak berkomentar apapun. Hanya duduk manis dan membuka mulutnya saat suapan kecil memasuki mulutnya. Pikirannya masih berputar menerka-nerka siapa orang yang sudah melunasi biaya rumah sakitnya yang pasti tidak sedikit.
****
“Tok tok tok…”
“Masuk…” sahut Angga saat mendengar seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya.
“Selamat pagi tuan muda…” sapa Hendra dengan sopan.
“Iya pak, ada apa?” Angga mengalihkan pandangannya dari menatap laptop yang menyala di depannya.
“Tuan muda, hari ini non kezia akan keluar rumah sakit.”
“Lalu apa kau sudah mengurus masalah administrasi rumah sakitnya?”
“Saat saya mau mengkonfimasi tagihannya, menurut bagian administrasi rumah sakit, biayanya sudah dilunasi.” terang Hendra kebingungan.
“Hemm… apa pak martin ada meminjam uang ke perusahaan?” selidik Angga
“Tidak tuan muda.” Tegas Hendra.
“Ya sudah… mungkin mereka memang bisa mengatasi masalah ini.” Sahut Angga sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
Hendra mengangguk dan membungkuknya tubuhnya, pamit pada Angga. Angga hanya menjawabnya dengan anggukan. Tinggallah Angga yang kembali sendirian di ruang kerjanya seraya memikirkan Kezia.
****
Ekspresi senang terlihat jelas di wajah Kezia sesampainya di rumah. Suasana rumah yang sangat Kezia rindukan beberapa hari ini. Ia bersyukur masih bisa pulang ke rumah ini, rumah yang hangat bersama orang-orang tersayang.
__ADS_1
Untuk memasukin rumah keluarga Martin memang ada beberapa undakan anak tangga yang harus di lewati dan itu membuat Kezia terpaksa harus di gendong untuk masuk ke rumah. Di dalam rumah, Kezia kembali duduk di kursi rodanya.
“Pah, apa zia sangat berat?” Tanya kezia sambil menatap wajah Martin yang berkeringat.
“Kamu tumbuh dengan sehat dan normal, tentu papah harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menggendongmu.” Sahut Martin sambil tersenyum.
“Hahahaha pastinya pah....” Tawa Kezia terdengar renyah membuat kedua orang tuanya ikut tertawa.
“Sayang, mulai hari ini, kamu tidur di kamar sebelah mamah ya…” pinta Eliana sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Kezia.
“Kalau kamu mau menata ulang kamarnya, dengan senang hati akan papah bantu…” tawar Martin dengan semangat.
“Iya mah, pah… zia gag masalah tidur di kamar bawah. Cuma mungkin warna catnya mau di samakan dengan kamar zia sebelumnya.” Sahut Kezia dengan semangat.
“Siap tuan putri… ayo kamu istirahat dulu di kamar papah sementara papah siapin semuanya.” ajak Martin sambil mendorong kursi roda Kezia menuju kamar Eliana.
“Makasih pah…” Kezia menolehkan wajahnya ke arah Martin yang sedang mendorong Kezia dari belakang.
“Sama-sama sayang…” sahut Martin sambil mengusap pucuk kepala Kezia dan mengecupnya lembut.
****
Teras belakang menjadi tempat yang nyaman bagi Kezia yang tengah membuka-buka buku pelajarannya, sementara Eliana asyik membaca buku resep. Di pangkuan Kezia ada setoples almond yang selalu menjadi favoritnya menemani belajar.
“Mah, zia besok boleh sekolah kan?”
Eliana melihat wajah Kezia yang penuh harap.
“Siap mah!” sahut Kezia sembari melakukan hormat singkat.
Eliana bisa tersenyum lega, karena putrinya yang begitu penuh semangat. Dia tidak malu untuk pergi ke sekolah walau dengan kondisinya sekarang. Padahal hal ini yang paling ditakutkan Eliana yaitu Kezia menjadi pribadi yang rendah diri. Tapi sepertinya ketakutannya tidak terbukti.
“Apa besok kamu akan ikut UN sayang?”
“Iya mah, zia akan ikut UN sesuai jadwal. Dan mungkin akan mengerjakan UN hari pertama yang gag zia ikutin.”
“Semangat ya sayang… Mamah do’akan semua berjalan lancar.” Eliana menggenggam erat tangan Kezia.
“Makasih mah, zia pasti akan melakukan yang terbaik.” Sahut Kezia, mereka tersenyum bersamaan.
“Okeeyyy ladies… kamarnya sudah selesai…” tutur Martin yang muncul dengan baju penuh noda cat warna merah muda, kuning dan biru.
“ Wah beneran pah?” Kezia segera mengarahkan kursi rodanya menuju kamar barunya. Terlihat sudah rapi dengan kombinasi warna cat yang cantik. Harus diakui, Martin memang memiliki jiwa seni yang tinggi. “Makasih banyak pah…” tutur Kezia sambil merangkul pinggang papahnya.
“Sama-sama sayang… kamu suka?”
“Yaa zia sangat suka…”
Kezia masuk ke ruang kamarnya. Ia memperhatikan setiap detail kamarnya. Lebih bagus dan lebih menyegarkan suasananya. Kali ini di kamar itupun di pajang foto Kezia saat masih kecil bersama Eliana, Martin dan almarhum kakaknya. “Pah, zia bikinin kopi ya?” tawar Kezia seraya berbalik menatap Martin.
Martin mengangguk mengiyakan. Eliana segera menghampiri Kezia dan membantunya menyiapkan kopi.
“Terima kasih tuhan, masih memberiku kesempatan melihat putriku…” lirih Martin sambil menatap Kezia yang asyik membuat kopi di dapur bersama Eliana.
***
__ADS_1
Suasana sekolah tidak seramai biasanya, karena hari ini yang masuk hanya anak-anak kelas 3 yang sedang UN. Martin membantu Kezia turun dari mobil dan mendudukannya di kursi roda.
“Kamu udah siap sayang?” Tanya Martin yang berlutut di hadapan Kezia.
“Iya pah…” sahut Kezia tidak ada keraguan sama sekali.
“Okeyy goodluck yaaa… nanti siang papah jemput lagi.” Tutur Martin sambil meraih dan mengecup pucuk kepala Kezia. Kezia mengangguk seraya tersenyum.
Martin meraih pegangan kursi roda Kezia dan mendorongnya perlahan. Namun dari kejauhan tampak seseorang berlari ke arah Kezia dan Martin.
“Selamat pagi om, pagi key…” sapa Arland dengan sopan.
“Selamat pagi nak Arland. Sudah tiba di sekolah rupanya...”
“Iya om... Boleh saya bantu antar kezia ke kelas om?” tawar Arland dengan sigap.
“Oh okey, om titip zia sama kamu yaaa... Nanti siang om jemput. Semoga ujian kalian lancar.” Martin menepuk bahu Arland dengan bangga. Rupanya, anak muda di hadapannya memang sangat bisa di andalkan.
"Siap om!" sahut Arland dengan segera
Kezia melambaikan tanganya ke arah Martin yang berlalu dengan mobil sedan hitamnya.
“Kamu udah siap key?” Arland menatap manik hitam di mata Kezia dengan hangat.
“Yaaa.. Ayo aku udah gag sabar pengen ujian…” sahut Kezia seraya mengepalkan tangannya dengan semangat di hadapan Arland.
“Ya tuhan… semangat kamu itu sangat mengerikan…” jawab Arland sambil tergelak. Kezia hanya membalasnya dengan senyuman.
Arland mendorong kursi roda Kezia menuju kelas. Beberapa pasang mata siswa yang sedang berada di koridor kelas, tampak memperhatikan Kezia yang baru masuk ke sekolah. Kezia menoleh ke arah Arland, ada sedikit keraguan di hati Kezia saat melihat tatapan orang-orang disekitarnya. Kezia berusaha tersenyum dan Arland membalasnya dengan sepenuh hati.
"Mereka peduli sama kamu." lirih Arland yang ingin menguatkan Kezia. Kezia hanya terangguk dan kembali menatap kedepan dan meyakinkan dirinya sendiri kalau dia baik-baik saja.Memang tidak bisa di tebak pikiran apa yang ada di kepala orang-orang yang menatapnya tapi kita bisa mengatur pikiran kita untuk selalu memikitkan hal positif seperti yang Arland lakukan.
“Hay key…” sapa Difa saat Kezia sudah sampai di mulut kelasnya. “Gimana kabar kamu?” Tanya Difa sambil mengajak Kezia cipika-cipiki.
“Alhamdulillah aku udah baikan…” sahut Kezia dengan riang.
“Fa, gue titip kezia ya…”
“Pasti dong… Lo tenang aja…” sambut Difa. “Ayo key…” Difa menggantikan Arland mendorong roda Kezia. Arland melambaikan tangannya pada Kezia, pun Kezia melakukan hal yang sama.
Tak lama berselang, bell tanda masuk sudah berbunyi. Semua siswa sudah duduk di kursi masing-masing. Seorang pengawas ujian masuk dengan membawa amplop coklat tebal di tangannya.
“Selamat pagi anak-anak….”
“Pagiii bu….”
“Ujiannya akan segera dimulai. Silakan matikan handphone dan siapkan alat tulis kalian.” Pinta Ratih yang saat itu bertugas jadi pengawas ujian.
Dia merobek sebagian kecil amplop dan mengeluarkan lembaran soal. Ketua kelas Kezia maju ke depan dan membantu membagikan soal.
“Silakan untuk mulai mengerjakan, ingat kerjakan dengan teliti…” titah Ratih
“Iyaaa bu…” sahut para siswa bersamaan.
Para siswa mulai fokus dengan pekerjaan di hadapannya. Mereka membaca petunjuk dengan seksama dan suasana mulai hening dengan para siswa yang mulai fokus mengerjakan soalnya.
****
__ADS_1