My First Love Story

My First Love Story
Episode 107


__ADS_3

“Hemm… Jadi gara-gara cellina kamu mencari teman laki-laki?” terka Angga. Ia berharap Kezia akan mengiyakannya sebagai bentuk ia cemburu.


“Bukan itu masalahnya kak! Aku temenan sama Fritz bukan karena kak angga punya pacar. Tapi karena kami memang sekelas. Memangnya aku gag boleh punya temen di kampus?” protes Kezia yang mulai kesal.


“Kamu bukan gag boleh punya teman key, tapi harus pilih-pilih. Fritz itu seorang don juan. Kamu mau jadi salah satu koleksinya?”


“Kak, Fritz itu gag seperti yang kakak pikirkan. Dia memang suka iseng, tapi dia menghormati aku dan dia baik sama aku…” bela Kezia.


“Kezia! Kamu baru tinggal sebentar di sini . Kamu belum tau seperti apa laki-laki di luar sana. Jauhi Fritz dan jangan sampai aku liat kalian berdua bareng-bareng lagi. Paham?!” sentak Angga.


Beberapa hari ini, Angga memang sengaja menghindar. Ia ingin meyakinkan perasaannya sendiri. Ia pun ingin memberi Kezia jarak dan melihat reaksinya saat mereka berjauhan. Namun sepertinya, perasaan Kezia memang tidak pernah berubah padanya. Dan saat ini malah melihat Kezia dekat denagn laki-laki lain, tentu saja ia tidak bisa membiarkannya begitu saja.


Kezia terdiam di tempatnya dengan air mata menetes di pipinya. Ia memalingkan wajahnya dari Angga, lagi Angga menyangsikan dirinya.


Angga benar-benar tidak sadar dengan apa yang diucapkannya. Kalimat mengesalkan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Bukankah ia tidak bisa memaksakan jika Kezia tidak bisa menganggapnya lebih dari seorang kakak?


“Schnucki,,, Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa… aku hanya….” Angga hendak menyentuh Pipi Kezia namun Kezia menepisnya.


Kezia menyandarkan kepalanya, lalu perlahan menutup matanya dan memalingkan wajahnya dari Angga sebagai tanda ia sudah tidak ingin bicara lagi. Akhirnya Angga hanya terpaku dan menatap Kezia dengan penuh sesal.


“Soryy…” lirih Angga sambil mengusap pucuk kepala Kezia, namun Kezia tidak bergeming. Angga kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan perlahan. Sesekali ia melirik Kezia yang masih memunggunginya. Pikirannya benar-benar kacau.


****


“Selamat siang tuan ryan… silakan masuk…” sapa dokter Albert.


“Selamat siang dok, terima kasih…” sahut Angga sambil mengekori dokter Albert masuk ke ruangannya. Kezia mengikuti di belakangnya.


“Bagaimana kondisi anda saat ini, apakah ada keluhan?” tanya Dokter Albert.


“Kalau keluhan tidak ada dok. Saya merasa baik-baik saja.”


“Baik, walaupun tidak ada keluhan, tuan ryan tetap harus melakukan pemeriksaan laboratorium agar kondisi anda senantiasa terkontrol.” terang dokter Albert.


“Baik dok, saya mengikuti prosedur medis yang berlaku…” tutur Angga dengan tenang.


“Baiklah, kalau begitu, mari ikut saya ke ruangan pemeriksaan.”


Dokter Albert mengajak Angga dan Kezia menuju ruang pemeriksaan.


“Papah!” seseorang memanggil dari kejauhan.


Sontak mereka menoleh ke arah datangnya suara. Seseorang berlari menghampiri dokter Albert.


“Kamu?” Kezia tersentak di tempatnya.


“Kalian? Sedang apa di sini?” Fritz balik bertanya.


“Oohh rupanya kalian sudah saling mengenal. Perkenalkan ini putraku satu-satunya, fritz!” terang dokter Albert dengan bangga.


“Iya pah, kami sudah saling mengenal, dia teman sekelasku.” terang fritz sambil tersenyum ke arah Kezia. Angga kembali merasakan kekesalan saat Fritz tersenyum.

__ADS_1


“Baguslah, fritz kamu temani dulu nona muda. Papah akan melakukan pemeriksaan dulu pada tuan ryan. Mari silakan…” tutur dokter Albert.


“Okey pah!” sahut Fritz dengan semangat.


Namun tidak begitu dengan Angga. Dia terlihat makin kesal. Dokter Albert berjalan di depan Angga.Untuk beberapa saat Angga mendekat dan memegangi bahu Fritz.


“Jangan macam-macam dengan adikku atau kau akan menyesal!” bisik Angga di telinga Fritz. Fritz malah membalasnya dengan senyuman dan anggukan seolah tidak peduli dengan kekesalan Angga.


Sambil mengikuti langkah dokter Albert, Angga berkali-kali menoleh Kezia dan Fritz. Dan Fritz sengaja mendekati Kezia dan membuat Angga semakin kesal. Rasanya sangat menyenangkan melihat kakak over protective itu menatapnya dengan tidak suka.


“Dia itu benar-benar kakakmu?” tanya Fritz, ragu.


“Yaa… Memang kenapa?”


“Tapi dia lebih terlihat seperti suamimu, sangat posesif!” keluh Fritz.


“Tentu saja, karena dia sangat menyayangiku dan tidak percaya pada laki-laki sepertimu.” sahut Kezia dengan bangga. Baginya tidak ada kakak sebaik Angga, walau terkadang sangat menyebalkan.


“Hemm… Sepertinya aku benar-benar harus menikahimu, supaya dia percaya aku laki-laki baik-baik.” cetus Fritz dengan tatapan serius.


“Kamu, menikahiku? Mimpi!” tegas Kezia yang dibalas gelakan tawa dari Fritz.


“Key, apa keinginanmu menjadi dokter karena dia?”


“Salah satunya…”


“Wah… kau benar-benar adik yang berbakti yaaa….” Goda Fritz. Namun Kezia hanya tersenyum.


****


Dengan perut kenyang rasa kantuk dengan mudah menyergap mata.


“Dia wanita yang meninggalkanku…” tiba-tiba suara Angga memecah keheningan sepanjang perjalanan.


“Maksud kakak?” Kezia menoleh. Ucapan Angga berhasil mengusir kantuk Kezia begitu saja.


Angga terlihat serius menatap jalan yang ada di depannya. Sementara tangannya terlihat sangat kuat mencengkram setir.


“Kamu ingin mengetahuinya kan, tentang cellina …” tutur Angga sambil melirik Kezia. Kezia membenarkan posisi duduknya ia bersiap untuk menyimak dengan baik.


# Flash Back on


“Sayang, ada apa? Kenapa tiba-tiba nangis?” tanya Angga yang tiba-tiba kedatangan Cellina di kantornya dengan kondisi menangis.


Angga menghampiri Cellina dan memeluknya dengan erat lalu mengajaknya duduk di sofa.


“Heyy… ayo katakan padaku, ada apa? Kenapa kamu menangis…” suara Angga yang lembut kembali mengisi rongga telinga Cellina .


“Papah, papah akan menjodohkanku. Aku gag mau sayang, aku gag mau….” Isak Cellina yang menutupi wajahnya denagn kedua tangan.


“Kapan? Kenapa kamu baru bilang sekarang?”

__ADS_1


“Tadi aku mendengar pembicaraan papah dengan orang tua laki-laki itu. Dan malam ini kami di undang makan malam.” terang Cellina .


“Sayang sepertinya  aku harus menemui orang tuamu dan memberitahukan hubungan kita.” tutur Angga sambil menggenggam tangan Cellina. Tentu saja ia tidak mau kehilangan gadis yang menjadi cinta pertamanya.


“Iya sayang.. Aku gag mau dijodohkan dengan laki-laki penyakitan itu. Aku akan hidup seperti di neraka kalau menikah dengan laki-laki itu!” rengek Cellina sambil memeluk Angga.


“Tenanglah sayang, itu tidak akan terjadi.” Angga berusaha menenangkan Cellina padahal hatinya sendiri gundah tidak menentu. Membayangkan Cellina bersanding dengan laki-laki lain tidak pernah sekalipun terlintas di pikiran Angga, apalagi jika itu menjadi sebuah kenyataan. Ia tidak siap kalau harus kehilangan Cellina.


Angga dan Cellina memang sudah berhubungan cukup lama. Tapi mereka menyembunyikannya dari orang-orang bahkan keluarganya. Hal ini karena Cellina yang seorang aktris baru yang berusaha menjaga agar tidak kehilangan pamornya saat orang-orang tau bahwa Cellina sudah memiliki pacar.


“Tenanglah sayang, sepulang kerja, aku akan menemui papahmu. Kamu tunggulah di rumah. Dan sekarang pulanglah, maaf aku tidak bisa mengantarmu, karena ada rapat penting.” Angga berusaha meyakinkan kekasihnya.


“Iya aku pulang dulu, aku tunggu di rumah.” Cellina mengusap air mata di pipinya dan kembali merapihkan penampilannya.


Begitulah seorang Cellina , penampilannya adalah nyawanya. Ia tidak akan mau keluar rumah tanpa riasan lengkap yang sempurna.


Merasa penampilannya sudah rapi kembali, Cellina segera meninggalkan ruangan Angga. Tinggalah Angga yang termenung sendirian di ruangannya dengan pikiran yang tidak menentu.


“Ddrrtt… ddrrttt…” sebuah panggilan masuk di handphone Angga. Dengan malas Angga menjawabnya.


“Ya kak…” sahut Angga pada Indira.


“Ga, cepet pulang. Mamah bilang mau ada tamu…”


“Tamu siapa? Aku ada urusan sepulang kerja.”


“Ayolaahh, mamah bilang sebentar saja.”


“Hem ya sudah, sebentar lagi aku pulang.” Angga mengakhiri panggilannya dan merapihkan pekerjaan yang sejak tadi ditinggalkannya.


Angga berjalan keluar kantornya dan mengajak Hendra untuk segera pulang. Agendanya hari ini benar-benar hancur setelah mendapat kabar tidak menyenangkan dari Cellina. Ia harus menyelesaikan satu per satu masalahnya dan memulainya dengan menemui kedua orang tuanya.


Hendra segera menuju tempat parkir sesaat setelah mendapat perintah dari Angga. Sementara Angga menunggu di lobby dan segera naik mobil saat Hendra sudah berada di hadapannya. Angga memijat pelipisnya yang terasa begitu pening.


“Apa tuan muda baik-baik saja?” tanya Hendra yang melirik Angga dari spion tengah.


“Hemm.. aku baik-baik saja.” jawab Angga. Tentu saja ia tidak baik-baik saja. Wajahnya terlihat pucat seperti biasanya.


“Pak hendra, sudah berapa kali saya pingsan?”


“Eemm.. Empat kali tuan muda.”


Angga menghembuskan nafasnya kasar. “Lalu apa pihak rumah sakit sudah menghubungi untuk hasil pemeriksaannya?”


“Belum tuan muda…”


“Sebenarnya aku sakit apa? Kenapa mereka lama sekali memberikan hasil pemeriksaannya?” keluh Angga yang merasa gamang di antara ketidakpastian.


Hendra tidak berani menjawab, ia hanya terdiam seraya terus memperhatikan Angga.


*****

__ADS_1


__ADS_2