My First Love Story

My First Love Story
Episode 116


__ADS_3

Quarter life crisis rasanya fase inilah yang sedang dialami Kezia. Ia tersemung sendirian di tepian tempat tidurnya dengan pikiran yang beranjak tidak terkendali. Ia tidak pernah membayangkan, lagi ia harus berada dalam kondisi seperti ini. Jika dulu permintaan orang tuanyalah yang membuatnya harus mengambil keputusan ekstrim kali ini pernyataan Angga barusan yang harus membuatnya memilih langkah yang mungkin  berkebalikan dengan hatinya.


Berpura-pura, tentu tidak semudah itu dua kata tersebut ia lakukan. Di satu sisi ia tidak ingin menyakiti hati seseorang dan di sisi lain, hatinya berontak membayangkan ia mulai  membuat jalan untuk sebuah kesalahan yang mungkin akan ia sesali.


Masih teringat jelas dalam ingatan Kezia saat Angga menatapnya dengan penuh harap agar Kezia membalas perasaannya. Dan tidak semudah itu pula ia menghilangkan sosok seseorang yang menjadi alasannya mengambil keputusan besar.


Arland, mengingat namanya saja membuat Kezia harus mengurut dadanya kuat-kuat. Ia pergi setelah menyakiti perasaan tulus seorang laki-laki, tentu saja waktu 10 tahun tidak bisa menghapus begitu saja penyesalannya. Tapi, ia pun tidak siap jika suatu waktu ia menyesal karena mengabaikan perasaan seseorang.


Kezia terpekik dalam tangisnya yang lirih. Mengapa ia harus berdiri di antara dua mata pisau yang keduanya akan melukainya. Bisakah ia pun memilih untuk egois?


Puas dengan tangisnya yang dalam, Kezia meraih ponsel yang berada di atas meja rias. Ia mencoba menghubungi satu nomor yang sudah sangat dihafalnya.


Panggilannya tersambung. Dengan gugup Kezia seseorang di sebrang sana menjawab panggilannya. Ia berjalan mondar mandir seraya mengigiti jarinya sendiri dalam waktu tunggu yang cukup membuatnya gusar.


"Halo.." suara seorang wanita terdengar nyaring di telinga Kezia. Kezia tercekat, wajah sendunya berubah muram. Bukan suara ini yang ingin di dengarnya.


Kezia jatuh terduduk di tempat tidurnya dengan pikiran yang mendadak kosong. Bibirnya kelu tanpa bisa mengucapkan satu katapun.


"Haloo, maaf ini dengan siapa?" ujar wanita itu membuyarkan lamunan Kezia. Kezia hanya bisa mengusap air matanya yang kembali menetes tanpa permisi. Tidak ada satu katapun yang bisa keluar dari mulutnya.


"Bu maaf ada tamu." ujar suara lain di belakang wanita tersebut.


"Sebentar saya sedang bertelpon, minta dia untuk menunggu." sahut wanita itu.


"Baik bu..." sepertinya wanita lawan bicaranya paham dengan perintah wanita di ujung telpon.


"Tina, tolong minta supir untuk mengirimkan berkas ini pada bapak. Dan sebentar, kamu juga harus membawakan handphone pribadi bapak."


Kezia menyimak setiap kalimat wanita itu dengan jelas. Rasanya sampai di sini ia sadar siapa wanita yang sedang menerima telponnya. Dengan tangan gemetar Kezia mengakhiri panggilannya. Terlalu bodoh kalau ia berharap Arland akan menunggunya dalam ketidakjelasan. Dan sangat teramat bodoh saat ia berharap Arland masih sendiri sementara jelas ia meninggalkan Arland setelah melukainya.


Kezia hanya bisa tertunduk seraya menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Tidak ada gunanya bukan kalau ia harus bertahan?


*****


Suasana sarapan terlihat biasa saja tanpa ada rasa canggung sedikitpun bagi Mahesa, Anna dan Indira. Mereka tentu mendengar perdebatan Kezia dan Angga semalam tapi tidak ada satupun yang mengomentarinya. Mungkin mereka tidak ingin membuat Kezia merasa tidak nyaman. Namun hal ini lah yang membuat Kezia merasa menjadi orang jahat.


Perdebatan ia dengan Angga tentu sedikit banyak mungkin melukai orang-orang di hadapannya. Tapi semuanya bersikap biasa seolah tidak ada kekesalan apapun.


“Indira, Sean mana?” tanya Mahesa yang mulai duduk di kursi favoritnya..


“Emm merekaa...”


“Pagiii momy, nena, popo dan Mima...” sapa Sean yang baru datang bersama Angga.


Ia memakai baju olahraga lengkapnya dan tampak berkeringat.


“Pagi sean...” sahut Kezia sambil membantu tubuh kecil Sean naik ke kursi.


“Kalian dari mana?” tanya Anna.


“Dada ngajak sean olahraga pagi di depan. Sangat seru nena, besok sean mau jalan-jalan lagi...” Sean terlihat ceria seperti biasanya.


“Kamu gag cape nak?” Anna mengusap bahu Angga lembut. Ia sangat khawatir pada putra kesayangannya.


“Engga mah, angga baik-baik aja. Baiklah, aku sudah lapar, bisa sarapan sekarang?” Angga menoleh Kezia yang terduduk di tempatnya. Dengan sigap kezia mengambilkan menu sarapan yang beberapa hari lalu di minta Angga.

__ADS_1


“Ini kak. Dan ini buat jagoan mima.” Kezia menaruh masing-masing satu mangkuk sarapan di hadapan Angga dan Sean.


“Thanks mima, muach!” Sean mendaratkan sebuah kecupan di pipi Kezia. Kezia mengusap lembut kepala Sean. Jagoan kecilnya memang sangat manis.


“Ahhh, kamu bikin aku iri key,,,” protes Indira.


“Sean juga sayang momy kalau momy tidak galak.” seru Sean seraya mempertontokan gigi ompongnya. Mereka tertawa melihat tingkah menggemaskan Sean. “Mima, apa mima sedang sakit?”


“Tidak sayang, apa mima terlihat sedang sakit?” Kezia balik bertanya.


“Iya, wajah mima merah seperti saat sean sakit demam...” Sean memperhatikan lekat-lekat wajah Kezia. Ia memang anak yang peka, ia bisa menangkap ekspresi tidak biasa yang di tunjukan Kezia sekalipun Kezia berusaha terlihat baik-baik saja.


“ Oh,, enggak, ini mima kepanasan aja tadi dari dapur.” elak Kezia sembarang.


Angga yang sedari tadi memandangi Kezia, juga merasakan hal yang sama. Mungkin ucapannya yang semalam telah membuat Kezia bingung dan salah tingkah. Saat ia bersitatap dengan kezia, Kezia terlihat segera mengalihkan pandangannya membuat Angga ikut merasa tidak nyaman, ia harus mengakhiri kecanggungan ini.


****


Jarak yang dibuat Kezia nyatanya tidak bisa benar-benar menjauhkannya dari Angga. Setelah hampir seharian ia tidak bertemu dengan Angga dan memilih berdiam diri di kamar, saat ini ia jelas harus menemui Angga untuk mengantarkan obatnya. Kezia terlihat ragu saat harus mengetuk pintu ruang kerja Angga yang terasa seperti jarak yang membatasi mereka.


“Masuk..” suara Angga terdengar nyaring sesaat setelah Kezia mengetuk pintu ruangannya.


Hari ini Angga memang tidak pergi ke kantor karena kondisinya yang belum benar-benar sehat sehingga ia memilih mengerjakan pekerjaannya di rumah.


Pintu terbuka, terlihat Kezia berjalan menghampiri Angga.


“Kak, ini jadwalnya untuk minum obat..”


Kezia menaruh baki yang sedari tadi dibawanya di hadapan Angga. Ia melengkapinya dengan segelas air dan cemilan yang ia siapkan agar Angga tidak merasa mual.


“Aah iya aku lupa...” Angga segera melipat layar laptopnya.


“Terima kasih Schnucki....” tutur Angga seraya menatap Kezia namun Kezia hanya terangguk pelan seraya memalingkan wajahnya dan bergegas pergi.


“Key....” Angga berusaha menahan tangan Kezia yang hendak berlalu pergi. Kezia menghentikan langkahnya, sungguh ia belum siap untuk berbicara lebih banyak dengan Angga.


"Tolong jangan seperti ini. Jangan menyiksaku karena merindukan schnucki ku yang beberapa saat lalu. Aku mohon, kembalilah menjadi schnucki seperti saat sebelum aku mengatakan aku mencintaimu. Tetaplah tersenyum dan jangan memalingkan wajahmu dari pandangaku. Aku membutuhkanmu, aku ingin kamu ada di sampingku."


"Kak, aku gag bisa seperti itu. Aku gag bisa membuat semuanya seolah baik-baik saja. Aku juga gag bisa untuk pura-pura seperti yang kakak minta. Aku gag mau kakak kecewa dan terluka." timpal Kezia dengan sebenarnya.


Angga beranjak untuk menghampiri Kezia. Ia menatap sepasang manik yang terlihat berair.


"Okey, maaf kalau aku terlalu memaksamu." tangan Angga terangkat dan menyentuh wajah Kezia. Ia mengusap bulir bening yang mulai membasahi kedua pipi Kezia. "Jangan menangis, aku tidak bisa melihatmu seperti ini." suara Angga terdengar parau. "Jika kamu tidak bisa berpura-pura, maka kasih aku sedikit kesempatan untuk membuka hatimu. Lihat aku sebagai seorang laki-laki yang mencintaimu bukan sebagai kakakmu. Aku tau itu sulit, tapi aku yakin aku bisa membuat perasaanmu berubah dan perlahan kamu akan mulai menerimaku. Aku mohon..."


Kezia hanya terdiam ia masih perlu waktu untuk mencerna perkataan Angga.


"Key, Aku tahu aku terlalu jahat kalau aku memintamu tetap di sisiku tanpa alasan apapun. Maka, menikahlah denganku. Temani aku mengisi sisa waktu hingga akhir waktuku tiba, hem...."


Mata keduanya saling bersi tatap. Kezia melihat kesungguhan dan harapan yang besar di mata Angga. Ia tak ingin membuat sinar di mata Angga menghilang. Jika memang Angga ditakdirkan untuk berada di hidupnya, ia bisa apa? Mungkin sebaiknya ia memang mulai membuka hatinya.


*****


Salju yang turun semakin deras membuat hawa dingin semakin lama semakin menyergap. Keluarga Mahesa tengah berkumpul di ruang keluarga seraya menikmati kehangatan dari perbincangan satu sama lain. Sean kecil tampak begitu asyik memainkan mobil-mobilannya kesana kemari.


Terlihat Angga menuruni anak tangga seraya menggenggam tangan Kezia yang ada di sampingnya. Tak bisa lagi disembunyikan, wajah Angga terlihat sangat bahagia saat beberapa menit lalu Kezia mengatakan ia akan membuka hatinya untuk Angga. Rasanya dunia kembali berpihak padanya, tidak peduli berapa lama sisa hidupnya asalkan ada Kezia di sampingnya ia siap kapanpun tuhan memanggilnya. Ia bahagia, teramat sangat bahagia.

__ADS_1


Indira terhenyak di tempatnya saat melihat pemandangan tak biasa tersebut. “Apa aku akan segera punya adik ipar?” terka Indira dengan mata berbinar-binar. Angga mengangguk yakin. Ditolehnya Kezia yang berdiri di sampingnya, ia tersenyum tipis mengiyakan pertanyaan Indira. “Astagaaaa… Kenapa gag dari duluuu…” teriak Indira yang kegirangan seraya berlari hendak memeluk Kezia.


Anna dan Mahesa tidak  kalah bahagia. Anna menghampiri Angga lalu memeluknya dengan erat. Angga mencium pucuk kepala Anna dengan hangat dan bergantian Mahesa yang memeluk Angga sambil menepuk-nepuk bahunya.


“Apa mamah sudah boleh mempersiapkan semuanya?” Anna yang paling antusias di antara mereka.


“Apa secepat ini tante?”


“Memangnya apalagi yang kita tunggu? Tante sudah tak sabar ingin segera memiliki menantu perempuan terlebih itu kamu sayang. Tante juga sudah ingin melihat kalian hidup bahagia.” tutur Anna dengan tangis haru. Ia mengusap wajah Kezia dengan penuh kasih. Betapa ia sangat bersyukur akhirnya bisa kembali melihat gelora semangat di mata Angga.


Kezia menoleh Angga yang berdiri di sampingnya. Angga hanya tersenyum dengan sebuah anggukan kecil. Sepertinya, Kezia tak bisa menolak semuanya. Ia berharap, mungkin cintanya untuk Angga bisa tumbuh seiring waktu yang mereka lalui bersama.


“Aku belum ngabarin orang tuaku tante…”


“Jangan tunggu lama-lama, om yang akan menghubunginya…” sahut Mahesa dengan semangat.


Benar saja, Mahesa langsung mengeluarkan handphonenya dan segera melakukan panggilan video dengan Martin. Dan tidak butuh waktu lama untuk Martin menjawab panggilannya.


“Selamat pagi tuan besar… Apa kabar?” sapa Martin dengan ramah.


“Selamat pagi pak martin. Apa ibu Eliana ada?” tanya Mahesa.


“Ada tuan, tunggu sebentar…”


Martin segera memanggil Eliana yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Sepertinya Martin sedang berada di meja makan dan Eliana menghampiri dengan tubuh masih terbalut celemek.


“Halo selamat pagi bu eliana, apa kabar?” sapa Anna dengan ramah.


“Selamat pagi nyonya besar, kabar saya baik.” Eliana tampak gelagapan ia segera membuka celemeknya.


“Pak martin dan bu eliana, kami berencana mengundang pak martin dan bu eliana ke Jerman. Apakah tidak keberatan?” Mahesa langsung menyampaikan permintaannya


“Ada apa tuan, apa putri kamu baik-baik saja?”


“Tenang, putri kesayangan pak martin baik-baik saja. Kami bermaksud untuk mengadakan pertemuan keluarga di sini. Bisakah pak martin hadir?”


Martin dan Eliana saling berpandangan. Mereka tampak bingung dengan permintaan laki-laki di hadapannya.


“Bu eliana, dengan sangat kami ingin meminta putri ibu untuk anak kami, Angga….” terang Anna dengan penuh harap.


“Apa? Apakah zia kami….” Eliana tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Mahesa mengarahkan kamera handphonenya  pada Kezia.


Kezia tersenyum tipis saat melihat wajah dua orang yang sangat dirindukannya. “Mah... Apa mamah sama papah bisa ke sini?“


Buliran air mata menetes di wajah Eliana. Ia hanya bisa mengangguk sebagai respon. Ia tidak pernah menyangka hari ini akan tiba, hari di saat Kezia diminta untuk menjadi istri seseorang.


“Ya sayang, kami akan ke sana..” jawab Eliana dengan terbata-bata.


Kezia terangguk lalu tertunduk. Ternyata begitu banyak orang yang bahagia dengan keputusan yang di ambilnya. Jika sebelumnya ia mengikuti keegoisannya, mungkin ia tidak akan pernah melihat senyuman itu dari orang-orang di hadapannya terlebih Angga.


Angga menggenggam tangan Kezia dengan erat, seolah ia memang tidak akan pernah melepaskannya. Ia bersyukur, tidak lama lagi harapan terakhirnya akan terwujud.


****


 

__ADS_1


 


Yaaa gitu deehhh... Happy reading gaisss, love


__ADS_2