
Selesai makan malam, Kezia membantu Eliana untuk bebenah. Sean bermain di kamarnya dengan Fritz, sementara Arland tengah berbincang dengan Martin di halaman belakang. Dua Cangkir kopi menemani dua laki-laki tersebut selama berbincang.
“Nak arland, gimana kabar nak arland? Lama sekali kita gag ngobrol kayak gini…” ujar Martin sekali lalu menyeruput kopi di hadapannya.
“Kabar saya baik om..” sahut Arland seraya tersenyum.
“Om dengar, perusahaan nak arland semakin berkembang dengan baik. Om salut, nak arland bisa melewati semuanya dengan baik.” puji Martin dengan tulus.
“Iya om, hanya itu yang bisa saya lakukan. O iya om, saat ini saya kerjasama dengan wibawa group untuk pembangunan rumah sakit dan progresnya sudah 40%.” ungkap Arland.
“Iya, itu langkah yang bagus. Semoga ke depannya nak arland bisa dapat proyek-proyek yang lebih bagus lagi.” tukas Martin yang di sambut anggukan oleh Arland. “Om sudah mulai tua, masih ingin bekerja tapi kadang badan gag sekuat dulu." Martin memandangi punggung tangannya yang mulai berkerut. "Tapi memang sudah tidak ada lagi yang om kejar." kali ini pandangan Martin tertuju pada Arland. "Om juga sudah ingin melihat kezia berkeluarga. Memiliki anak yang akan menjadi cahaya di rumah ini. Om berharap kali ini ada seseorang yang benar-benar serius meminangnya." kalimat Martin terasa seperti sebuah harapan yang ia tujukan pada Arland. Tentu saja, setelah memisahkan Kezia secara paksa dari Arland, ternyata hingga saat ini hanya Arland yang membuat putrinya kembali ceria.
Sangat disadari oleh Martin, 11 tahun mendekatkan Kezia dan Angga, masih tidak cukup untuk membuat hati Kezia tersadar tapi saat bertemu kembali dengan Arland, begitu mudah hatinya tersentuh. Memang benar ia ingin melindungi putrinya tapi ia pun sadar saat itu tindakannya terlalu gegabah.
Arland menghela nafasnya dalam, tatapan Martin seolah menunggu jawaban darinya. “Saya selalu berfikir kalau cinta saat remaja bisa hilang begitu saja saat kami beranjak dewasa. Tapi hingga saat ini, rasanya tidak ada yang berubah dari perasaan saya pada kezia dan om tau itu. Jika om mengizinkan, saya ingin menjadikan kezia wanita satu-satunya yang mendampingi saya. Dan saya berharap, semoga saya layak untuk putri om.” begitu lancar kalimat itu mengalir dari sela bibir Arland.
Martin hanya tersenyum melihat ketegasan Arland yang ia yakini saat ini sangat gugup. Tentu saja tangannya mengepal sangat kuat saat mereka beradu pandang.
“Kalau begitu jangan berlama-lama, om sudah ingin menimang cucu.” timpal Martin seraya menepuk bahu Arland. Ia berlalu meninggalkan Arland dengan gemuruh di dadanya.
“Terima kasih om…” Arland menyahuti dengan penuh kesungguhan.
Wajah Arland terlihat begitu sumeringah. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan restu dari Martin.
Kezia memperhatikan Arland dari kejauhan. Ia terlihat senyum-senyum sendiri. Hal baru yang dilakukan Arland yang belum pernah Kezia lihat sebelumnya. Kezia membawa sepiring cemilan seraya menghampiri Arland.
“Kamu habis dapet lotre, kok seneng banget?” tanya Kezia yang tiba-tiba duduk di samping Arland.
“Lebih dari lotre sayang…” sahut Arland.
“Terus apa, dapet proyek lagi?” terka Kezia. Arland menggelangkan kepalanya. “Terus?” Kezia semakin penasaran.
“Papah kamu bilang, kita jangan lama-lama…” ujar Arland seraya mencubit pipi Kezia dengan gemas.
Kezia melirik jam yang ada di dinding rumahnya. Waktu masih menunjukan jam setengah 8 malam.
“Oo ya udah kalo kamu udah pengen istirahat. Udah malem juga sih.” Sahut Kezia dengan santai.
“Hah, kamu ngusir aku?” Arland keheranan.
“Lah bukannya papah yang bilang kita jangan lama-lama?” Kezia lebih keheranan.
__ADS_1
Arland terkekeh mendengar jawaban polos Kezia. Ia menjentikkan jarinya di dahi Kezia yang membuat gadisnya mengaduh manja. “Maksudnya jangan lama-lama pacaran dan cepet-cepet nikah, soalnya papah kamu pengen gendong cucu.” terang Arland dengan wajah bahagianya. Kezia hanya tersipu ia tidak menyangka Martin akan mengatakan hal tersebut pada Arland. “Jadi kapan kamu mau aku lamar?” sergap Arland.
Kezia terlihat salah tingkah melihat tatapan Arland. Arland sangat tak sabar menunggu jawaban Kezia.
“Yang jelas, setelah Sherly dan Ricko.” bisik Kezia.
Arland tersenyum lega. Ia meraih tangan Kezia lalu mengecupnya.
“I've totally fallen for you…” lirih Arland.
Kezia membalasnya dengan senyuman. Kezia merasa perasaannya begitu bahagia hingga tidak ada kata-kata yang mampu mewakilinya. Begitupun Arland, ia ingin segera menghalalkan Kezia untuknya.
****
Sebuah toko buku terlihat cukup ramai pagi itu. Dena berjalan-jalan untuk mencari referensi. Hal itu sudah menjadi kebiasaan Dena, saat ia kehabisan ide tulisan, ia akan mengunjungi toko buku atau perpustakaan untuk menyegarkan pikirannya. Buku menjadi sarana Dena mencari ide.
Ia memilih-milih buku yang bisa ia baca untuk mengisi waktu senggangnya. Sekilas pandangannya tertuju pada jajaran buku puisi berbahasa Jerman. Ia mengernyitkan dahinya mencoba membaca buku yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Diraihnya salah satu buku lalu mulai membacanya. Ia pun mengeluarkan handphone untuk mencari terjemahannya. Barisan kalimat yang indah tertuang di buku tersebut. Dena mulai menikmati membaca buku sajak yang ada di tangannya. Tanpa sadar ia memilih 4 buku berbahasa jerman dan 1 buku tentang masakan.
Dibawanya kelima buku tersebut ke kasir dan ia pun membayarnya. Sang kasir sempat menatap aneh pada Dena yang begitu banyak membeli buku berbahasa Jerman tapi Dena tak memperdulikannya, ia lebih asyik memainkan handphonenya dan membuka-buka akun media sosialnya.
Sementara itu, di rumah sakit Kezia baru selesai dengan pekerjaannya. Ia membuka laptop yang dibawanya dan melihat-lihat foto yang di simpannya dalam folder khusus. Terlihat asisten perawatnya ada di pintu masuk.
“Kenapa sus?” tanya Kezia
“Öh di persilakan masuk aja sus. Saya sudah selesai kok.”
Perawat tersebut mempersilakan tamu Kezia masuk dan ternyata yang dimaksud adalah Fritz.
“Äpa aku menganggu?” sapa Fritz.
“Hay fritz, masuklah…” Kezia menyambut Fritz dengan hangat.
“Kamu masih sibuk?” tanya Fritz seraya berdiri di samping Kezia. ia menatap layar laptop yang ada di hadapan Kezia dengan mata sedikit memincing. Kezia hanya menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Fritz. “Apa mereka sahabatmu?”
“Hem...” Kezia mengangguk-angguk. “Mereka sahabat terbaikku..” imbuh kezia.
“Kamu sepertinya sangat menyayangi mereka?” selidik Fritz yang mulai menarik kursi di samping Kezia dan mendudukan tubuhnya di sana.
“Ya… Aku sangat menyayangi mereka. Aku kenalin yaa, biar kamu gag keget kalo ketemu mereka.” Sahut kezia seraya menggerakkan kursor laptopnya. Fritz mengangguk antusias. “Ini kania, si tomboy yang ngasal banget. Tapi biarpun tomboy, dia yang duluan nikah dan sekarang sedang hamil. Ini sherly, si manja yang sering berubah mood. Kalo ini, kamu udah pernah ketemu. Dia dena, anak kuat yang selalu berusaha mandiri.” terang Kezia seraya tersenyum. Fritz memandangi Kezia yang duduk di sampingnya. “Aku selalu merasa bersalah saat aku berada di antara mereka. Mereka selalu ada buatku, tapi terkadang aku hanya membawa kemalangan untuk mereka.” Imbuh Kezia yang juga menatap Fritz.
“ Apa mereka dan laki-laki itu adalah alasan kamu pergi?” terka Fritz yang sedikit banyak tau alasan Kezia memilih sekolah di Jerman.
__ADS_1
“Salah satunya…” Kezia masih menatap Fritz dengan kepala terangguk. “Saat itu, aku gag punya pilihan lain, selain pergi agar mereka bisa hidup dengan tenang dan tanpa ancaman.” kenang Kezia dengan mata berkaca-kaca.
Tangan Fritz terangkat, ia mengusap lembut pucuk kepala Kezia. “Mulai hari ini, kamu harus membiasakan diri untuk menghadapi semuanya. Karena kamu bukan hanya memiliki mereka, akupun siap menjaga kamu key…” ujar Fritz.
“Thanks fritz…” Tersungging senyum manis di bibir Fritz.
“O iya, minggu depan aku pulang. Papah sudah memintaku untuk menemani di rumah sakit. Sangat menyebalkan, padahal aku masih ingin liburan…” tutur Fritz sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Kamu dokter yang hebat, pasti banyak yang menunggumu di sana.”
“Apa kamu tidak akan memintaku untuk tetap tinggal di sini?” tiba-tiba raut wajah Fritz mendadak serius membuat Kezia merasa canggung. Kezia hanya bisa tersenyum. “Sejak kamu pulang ke Indonesia, aku merasa sebagian jiwaku pergi. Mungkin karmaku berlaku, suatu hari aku benar-benar bertekuk lutut di hadapan seorang wanita dan itu kamu. Apa masih ada kesempatan untukku key?” di genggamnya tangan Kezia dengan erat.
Tatapan Fritz mengunci mulut Kezia membuatnya tak bisa berkata apapun. Tangan kanan Fritz bergerak menyentuh pipi Kezia dan membelainya dengan lembut. “Beri aku sedikit kesempatan, aku benar-benar akan mengejarmu key…” lanjut Fritz dengan tatapan yang begitu dalam.
Bibir Kezia mulai bergetar hendak bicara. “Fritz , aku…”
“Ehem!” sebuah deheman cukup keras mengagetkan Kezia dan Fritz. Dengan segera Kezia melepaskan genggaman tangan Fritz. Seseorang tengah berdiri di pintu yang sejak tadi memang tidak terkunci.
“Land…” ujar Kezia seraya berdiri.
Wajahnya terlihat sangat tegang. Sementara Arland terlihat mengepalkan tangannya keras-keras. Arland berjalan menghampiri Fritz. Di raihnya kerah baju Fritz dan "BUK!!!"sebuah pukulan mendarat di pipi kiri Fritz.
“Land!!” Kezia segera menarik tangan Arland agar tidak melakukan pukulan keduanya.
Darah menetes di sudut bibir Fritz. Fritz mengusapnya perlahan sambil tersenyum pada Arland dengan ekspresi meledek. “Land, kamu kenapa mukul fritz?!” Kezia segera menarik tangan Arland menjauh. Mata Arland terlihat sangat berapi-api dengan kemarahan yang mencapai ubun-ubunnya. “Fritz, kamu gag pa-pa kan?” Kezia menyentuh pipi Fritz yang kebiruan namun Arland segera menahannya.
“Jangan pernah berani sentuh kezia lagi atau kamu akan merasakan lebih dari ini.” Ancam Arland dengan wajah kemerahan karena menahan amarah.
“Land cukup, ini cuma salah paham! Aku sama fritz cuma,,”
“Cuma, cuma apa? Kamu nganggap dia temen kan, tapi dia gag pernah nganggap kamu temen!” sentak Arland yang membuat Kezia terdiam. Terlihat jelas kecemburuan yang sedang menguasai perasaan Arland.
“Tapi land, kita masih bisa omongin ini baik-baik. Gag kayak gini, gag usah main pukul.” bela Kezia.
“Ngomong baik-baik? Okey, ayo kita ngomong baik-baik.” Arland menarik tangan Kezia dan meninggalkan Fritz sendirian.
Fritz mendengus kesal. Di pukulnya meja kerja Kezia dengan cukup keras. Selalu waktunya tidak tepat untuk mendekati Kezia.
*****
Hay-haayy jangan kebawa esmosi yaaawwww, hahahaha
__ADS_1
Jangan lupa juga like komen dan vote nyaa...
Dankeee...