My First Love Story

My First Love Story
Episode 82


__ADS_3

Setelah sarapan, Arland memenuhi permintaan Kezia untuk jalan-jalan. Mereka mengendarai motor kesayangan Arland. Kezia duduk di belakang Arland dan melingkarkan tangannya di pinggang Arland. Pelukannya terasa begitu erat. Arland tak menyangka, Kezia bisa menunjukkan perasaannya pada Arland. Biasanya ia bersikap dingin dan acuh, namun saat ini ia begitu antusias. Bibirnya selalu tersenyum dan tak henti berceloteh.


Arland melajukan motornya dengan santai. Ia ingin menikmati setiap detik yang ia lalui bersama Kezia. sementara Kezia, ia sedang berusaha melupakan setiap kesedihannya dan menikmati sisa waktunya bersama Arland yang mungkin tidak akan ia temui lagi.


Arland memarkirkan motornya di tempat parkir Mall terbesar. Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam mall. Tiba-tiba Kezia menarik tangannya ke sebuah toko aksesoris lalu mengambil bando berbentuk telinga kelinci warna merah muda.


“Sini land…” Kezia menarik tangan Arland. Arland hanya menuruti saja.


Dipakaikannya bando tersebut pada Arland, wajah Arland terlihat kesal tapi Kezia malah tertawa puas. Ia tertawa terpingkal-pingkal melihat Arland yang begitu lucu.


“Kamu lucu banget siihhh…” Kezia mencubit pipi Arland dengan gemas. Di ambilnya handphone yang ada di saku roknya, lalu mengambil beberapa foto bersama Arland. “Hahhahahahha… kamu beneran lucuuu…” seru Kezia yang tertawa geli melihat ekspresi Arland di handphonenya.


Arland hanya menggelengkan kepala. Baru kali ini ia melihat Kezia tertawa begitu lebar. Wajah cantiknya bersemu merah, membuat Arland tak tega untuk menolak semua permintaan absurbnya.


“Okey, sekarang kamu yang pake bandonya, kita foto pake hape aku.” Pinta Arland seraya memakaikan bado pada Kezia.


Kezia tak menolak sama sekali. Beberapa foto di ambil dengan wajah mereka yang terlihat sangat ceria. Selesai dengan keisengannya di toko aksesoris, Kezia menarik tangan Arland masuk ke gedung bioskop. Matanya menatap serius daftar film yang sedang di putar.


“Kamu mau nonton key?” tanya Arland


Kezia mengangguk semangat. “Kita nonton yang itu ya, kamu mau kan?” pinta Kezia sambil menunjuk sebuah film komedi romantis karya negri paman sam.


“Boleh! Kamu tunggu sini, aku beli dulu tiketnya.” Ujar Arland.


“Aku mau ikut.” Sahut kezia seraya mengalungkan tangannya di lengan Arland. Arland tersenyum bahagia karena Kezia begitu manis hari ini.


“Silakan tuan putri…” ujar Arland seraya tersenyum.


Dengan semangat kezia melangkah di samping Arland. Setelah membeli 2 tiket, mereka membeli beberapa cemilan dan minuman khas bioskop. Kezia terlihat begitu senang.


Di dalam bioskop, Kezia begitu fokus menonton film yang sedang di putar. Sesekali ia tersenyum dan sesekali pula mengernyitkan dahinya. Begitupun dengan Arland, ia sangat antusias, hanya saja bukan pada film yang di tontonnya, ia asyik memandangi wajah kezia yang berkali-kali berubah ekspresi. Saat Kezia tertawa, ia ikut tersenyum, saat kezia ikut bersedih dengan segera Arland menutup mata Kezia dengan telapak tangannya.


“Land, gag keliatan…” protes Kezia


“Habis kamu ikutan sedih gitu, aku gag suka.” Tukas Arland.


“Hahahahha ini cuma film kali Land, aku gag beneran ikut sedih-sedihan sama mereka.” Kilah kezia yang  menurunkan tangan Arland dari hadapannya. Di genggamnya tangan Arland dengan erat, agar tak lagi menghalangi pandangannya.


Arland hanya tersenyum. Ia ikut menonton film tersebut namun adegan selanjutnya adalah sang pemain pria mencium pemain wanita dengan begitu bergairah. Kezia meremas tangan Arland yang sedari tadi di genggamnya. Arland membalas genggaman tangan Kezia dan menatapnya seraya tersenyum.


Kezia menyadari Arland sedang menatapnya. Ia segera melepaskan genggamannya dari Arland, namun Arland tak melepaskannya. Mereka saling berpandangan. Jantung keduanya berdebar sangat kencang. Wajahnya memperlihatkan rona merah, dengan segera mereka saling memalingkan wajah. Mereka melanjutkan menonton dalam perasaan penuh gejolak.


****

__ADS_1


Film baru berakhir beberapa menit lalu. Kezia begitu asyik berceloteh mengingat kehebatan para actor dalam memainkan perannya hingga perasaannya terbawa dan Arland dengan setiap mendengarkan. Setiap gerak bibir Kezia terlihat begitu menarik bagi Arland dan ia tidak ingin menyudahi celotehan Kezia.


Kembali mereka berjalan santai di sekitar mall. Mereka kembali terdiam dengan perasaan sekelumit perasaan yang bergemuruh di dada masing-masing. Arland berusaha meraih tangan Kezia lalu menggenggamnya erat dan Kezia tidak menolaknya. Mereka saling melempar tersenyum bahkan sesekali Kezia bersandar di lengan kokoh Arland membuat Arland mengecup pucuk kepala Kezia dengan lembut.


“Okeeyy, okeeyy siapa lagi yang mau gabung…” ujar seorang laki-laki yang tengah berbicara dengan pengeras suara.


“Ada apaan tuh?” tanya Arland yang melihat kerumunan orang di hadapannya. Kezia hanya mengangkat bahunya, tak tahu.


“Kalian mau ikutan?” tawar laki-laki tadi yang kini menghampiri Kezia dan Arland.


“Ikutan apa?” tanya Kezia dengan wajah bingung.


“Kalian pasangan yang sempurna, cantik dan tampan. Ayo ikut gabung!” ujar laki-laki tersebut seraya menarik tangan Arland dan Kezia menuju sebuah panggung. Walau tidak tau apa yang akan mereka lakukan, mereka pasrah mengikuti laki-laki tersebut.


“Okeeyy, ini pasangan selanjutnya!” seru laki-laki tersebut saat sudah berada di depan sebuah panggung.


Arland dan kezia saling berpandangan. 4 pasang muda mudi lainnya telah berkumpul di hadapan mereka.


“Ayo sini gabung!” ajak seorang wanita. “Okey, kita akan mengadakan lomba make up. Yang wanita, akan mendandani yang laki-laki dengan mata tertutup. Waktunya hanya 10 menit. Siapa yang selesai lebih dulu dan hasilnya paling bagus, akan mendapatkan hadiah.” Terang wanita tersebut dengan semangat.


“Astaga, mendingan kita mundur.” Ujar Kezia dengan nyali yang menciut.


“Kenapa, ini seru kayaknya.” Sahut Arland dengan semangat.


“Land, aku dandan dengan mata terbuka aja gag bisa, apalagi dandanin kamu pake mata tertutup…” tutur Kezia yang berterus terang.


“Hey kalian, ayo duduk di sini…” ujar laki-laki tersebut seraya menepuk kursi yang ada di sampingnya.


“Naik, naik, naik…” sorak penonton yang menyaksikan lomba tersebut.


Beberapa orang mendorong Kezia dan Arland hingga naik ke panggung. Mereka hanya bisa pasrah dengan apa yang akan mereka hadapi.


“Sorry…” bisik Kezia pada Arland, karena ia mungkin akan membuat Arland malu dengan apa yang dilakukannya.


“Kita nikmati aja permainannya key, jangan mikirin menang atau kalah.” Sahut Arland , tak ambil pusing.


Dengan menarik nafas dalam, akhirnya Kezia setuju.


“Okey, di hadapan kalian, sudah ada alat make up. Nanti yang perempuan kita tutup matanya. Yang laki-laki mengarahkan yang wanita untuk mengambil alat make up yang akan di gunakan. Gimana, sudah siap?” tanya wanita tersebut.


“Siap!” seru peserta lain. Kezia dan Arland hanya saling pandang. Mereka benar-benar tidak yakin dengan apa yang akan mereka lakukan.


Peluit berbunyi, tanda permainan telah di mulai. Para peserta mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing, begitu pun Kezia dan Arland.

__ADS_1


“Land, bedak yang mana?” tanya kezia yang meraba satu per satu alat make up dengan mata tertutup.


“Ini kali ya?” Arland menyerahkan benda yang bertuliskan compact powder.


Kezia membuka tutupnya dengan perlahan. Ia merasakan adanya tapuk bedak di sana, ia tersenyum karena Arland berhasil mengarahkannya.


Kezia mulai meraba setiap inci wajah Arland dengan lembut. Memakaikan bedak dengan perlahan di seluruh bagian wajah Arland. Arland begitu menikmati setiap sentuhan tangan Kezia, desiran halus mulai menelusuk aliran darahnya.


Sementara itu, Kezia bisa merasakan setiap bagian wajah Arland. Sepasang alis yang tebal, mata yang bulat, rahang yang kokoh, hidung yang mancung dan bibir yang tipis. Semua di sentuhnya dengan lembut.


“Lipstik land…” ujar Kezia.


Arland mengambil benda tumpul lalu membuka tutupnya. Sebuah lisptik warna nude di serahkannya pada Kezia. Kezia menyentuh bibir Arland dengan lembut, mengusapkan lipstick diseluruh bagian bibir Arland. Kezia bisa merasakan hembusan nafas Arland yang terasa hangat menerpa punggung tangannya.


“Eye shadow land…” lanjut Kezia.


“Yang kayak gimana key?” Arland memperhatikan satu persatu benda di hadapannya.


“Yang warna warni, bentuknya kotak tutupnya kaca.” Terang Kezia.


Arland mengambil barang yang di maksud Kezia dan menyerahkannya.


Kezia mulai menyentuh mata Arland yang terpejam. Ia memilih warna paling kanan dari sisi tangannya. Entah warna apa yang di ambilnya. Di usapkannya pada kelopak mata Arland. Kezia tertawa sendiri membayangkan seperti apa wajah Arland nantinya.


Sementara Arland begitu senang memandangi wajah Kezia yang berjarak beberapa senti saja darinya.


“Prriittt!!!!” suara peluit kembali berbunyi tanda permainan telah berakhir.


Walau belum selesai, mereka terpaksa berhenti mendandani pasangannya. Arland membantu Kezia membuka penutup matanya. Kezia mengerjapkan matanya karena penglihatannya sedikit buram.


“Hahahahahhahahah!!” Kezia tertawa terbahak-bahak melihat wajah Arland di hadapannya.


“Key kenapa?” Arland segera mengambil cermin kecil yang ada di dekatnya.


Mata Arland terbelalak melihat wajahnya yang sudah di rias Kezia. Ia sangat mirip dengan mamihnya.


“Kamu kok cantik siihhh, hahahha...” ujar kezia sambil mencubit gemas pipi Arland. “Ayo kita foto dulu!” seru Kezia dengan semangat.


Tanpa menunggu persetujuan Arland, Kezia mengambil beberapa foto Arland bersamanya dengan berbagai ekspresi kesal. Sementara Kezia tertawa terpingkal-pingkal.


“Seneng kamu key?” sinis Arland.


“Hahahha.. okeey, okey aku berenti ketawa.” Ujar Kezia yang membekap mulutnya dengan tangan kanannya. Arland hanya mendenguskan nafasnya kesal.

__ADS_1


Panitia mulai  mengumumkan pemenang lomba make up. Walau make up alakadarnya, Arland terlihat cantik dan menjadi juara perlombaan tersebut. Sebuah boneka tedy bear menjadi hadiah yang di terima Kezia dan Arland. Keduanya begitu senang menerima hadiah pertama mereka. Kezia mendekap boneka tersebut dengan erat dan berkali-kali menggoda Arland dengan celotehan anak kecilnya. Arland terkekeh di tempatnya.


****


__ADS_2