
“Hay Schnucki…” sapa Angga dari sebrang sana.
“Hay my kakak…” sambut Kezia dengan senyum manisnya.
“ Kamu lagi apa? Berantakan gitu rambutnya..”
“ Aku lagi baringan aja….” Kezia menyisir rambutnya dengan tangan kanannya, rambutnya memang sedikit berantakan, dan itu terlihat di kamera handphonenya. Angga tersenyum gemas melihat tingkah Kezia.
“ Gimana trip nya kemaren?”
“Heemm seru kak…” sahut Kezia dengan semangat.
“Apa se seru itu key? “ Angga sempat tercengang saat melihat ekspresi Kezia yang begitu terlihat antusias.
“Iyaaa… seru bangeett” jawabnya lagi sambil tersipu saat teringat Arland. Angga merasa ada sesuatu yang berbeda dengan ekspresi Kezia yang berlebihan bahkan sesekali wajahnya memerah.
“Apa sesuatu terjadi disana?” selidik angga. Tanpa di sangka Kezia mengangguk dengan semangat.
“ He ask me to be his girlfriend…” jawab Kezia yang kemudian menutup wajahnya yang memerah. Ekspresi Angga berubah dengan cepat. Sepertinya ada guratan kegusaran di sana.
“And u said…?” lirih Angga
“I said…." Kezia menjeda kalimatnya dengan tatapan antusias pada Angga. " Yes…” jawab Kezia tanpa suara, hanya gerakan bibirnya yang terbaca.
“DEG!!” Rasanya ada batu besar yang menghantam dada Angga.
Angga tersenyuum ketir. Kezia mulai bercerita dan sepanjang ia bercerita, Kezia selalu menyebut nama Arland, Arland dan Arland hingga membuat perut Angga terasa sedikit mual. Kezia benar-benar tidak menyadari perubahan ekspresi wajah Angga karena terlalu semangat bercerita. Angga hanya mengangguk-angguk menanggapi cerita Kezia dengan dada yang terasa remuk redam.
“Are you happy schnucki?” lirih angga.
“Yes my kakak!” seru Kezia.
“I’m happy for you…” Angga menghembuskan nafasnya perlahan. Ia berusaha nemerima kenyataan saat ini. Angga merasa, ada rasa lebih besar selain rasa sesak di dadanya, yaitu perasaan bahagia saat melihat Kezia begitu bersemangat dan bahagia.
“Pastikan dia akan selalu membahagiakanmu schnucki, karena kalau tidak, dia akan menyesal.” Batin Angga.
****
Pagi buta Kezia sudah bangun dan segera menuju dapur. Eliana sudah menata bahan makanan di atas meja makan. Mereka akan membuat sarapan sebanyak 50 porsi. Untuk anak panti , pengurus dan tetangga sekitar. Martin pun ikut terbangun saat ia mendengar suara alat masak saling beradu. Dua wanita cantik di rumah ini berjibaku dengan kesibukannya.
“Zia, apa kamu sedang berusaha memecahkan piring-piring di dapur?” ledek Martin sambil duduk di salah satu kursi.
“Hahahah papah bisa aja… namanya juga proses belajar… iya kan mah?” elak Kezia.
“Wah istri dan gadis papah terlihat lebih cantik dengan celemek dan spatula itu..” puji Martin sambil meneguk segelas air putih.
“Paahh,,, jangan ngeledek deh… mending olahraga pagi gih.” Tukas Eliana.
Martin hanya terkekeh melihat ekspresi Eliana dan Kezia.
“Ini buat kemana sih , masak banyak gini?”
“Buat ke rumah bunda nia pah, aku mau sarapan bareng anak panti…” jawab Kezia pada Martin yang sudah berdiri di sampingnya.
“Ini baru anak kebanggan papah” tutur Martin sambil mengecup pucuk kepala Kezia. Kezia tersenyum melihat sikap papahnya.
Mereka kembali melanjutkan memasak hingga tanpa terasa, cahaya matahari mulai keluar dari peraduannya.
__ADS_1
****
Pagi itu, setelah selesai berkemas, Kezia segera menuju panti. Saat ini Ada sekitar 14 anak yang tinggal di sana termasuk Dena.
“Na… bantuin gue. Ini gue di depan..” tutur kezia berbicara pada Dena lewat sambungan telpon. Tanpa menjawab Dena segera menjemput Kezia ke gerbang panti bersama anak-anak yang lain.
“Ya ampun key, lo bawa apaan sih?” Dena terperangah saat melihat tumpukan nasi kotak di dalam mobil.
“Gue bawa sarapan buat kita, ayo bantuin gue turunin..” sahut Kezia dengan senyum terkembang.
“ Ya ampunn… lo emang baik banget… ini lo beli dimana key?” Dena terus berbicara sambil menurunkan makanan dari mobil.
“Ini mamah yang masakin tau…” sahut Kezia yang anteng mengoper dus makanan pada anak-anak yang ada di belakangnya.
Anak-anak panti tampak kegirangan saat melihat tumpukan nasi kotak yang ada di hadapannya.
“Wah kita sarapan enak nih…” tutur Anis dengan air liur hampir menetes.
“Anis, ini dari siapa nak?” tanya Nia yang baru keluar.
“Tuh, bidadarinya bunda yang dateng…” seru Anis sambil menunjuk ke arah Kezia yang berjalan menghampiri NIa.
Nia tersenyum menyambut Kezia.
“Anak bunda apa kabar?” rangkul Nia dengan hangat
“Kabar baik, bun… o iya ada salam dari mamah. Maaf gag bisa ikut..”
“Iya sayang, sampein terima kasih bunda buat mamah yaa..… ayo masuk nak, kita ngobrol di dalam…” ajak Nia sambil menarik tangan Kezia.
“Emmm bunda yaa,, kalo udah ada kezia lupa sama aku!” keluh Dena sambil mengerucutkan bibirnya.
“ Ayo anak-anak, kita sarapan sama-sama. Satu orang satu kotak nasi yaaa… jangan rebutan. Fadlan yang pimpin do’a yaaa..” terang Nia.
Anak-anak mulai duduk mengeliling di ruang tengah. Masing-masing memegangi kotak nasi mereka. Dengan tangan menengadah, Fadlan mulai memimpin do’a. semuanya khusu berdo’a.
“Aamiin…” seru anak-anak saat do’a selesai dipanjatkan.
“Makan dengan tenang yaa…” tutur Nia.
“Iyaa bun…” sahut anak-anak bersamaan.
*****
Anak-anak mulai menikmati sarapannya. Suasananya begitu tenang. Sesekali mereka memuji rasa masakan yang sedang ada di rongga mulutnya. Tak lama handphone Kezia berdering, sebuah panggilan video rupanya.
“Yaps!” jawab Kezia sambil tersenyum mempertontonkan gigi putihnya sepaket dengan lesung pipinya.
“Kamu lagi dimana mhiu?” tanya Arland dengan suara serak khas bangun tidur. Sebagian wajahnya tertutup guling.
“Aku lagi di panti, lagi sarapan sama anak-anak di sini. Ayo bangun tuan muda, rejekimu nanti keduluan ayam…” seru Kezia sambil terkekeh.
“Ayolah jangan meledekku. Aku gag bisa tidur dari semalem… jadi sekarang baru bangun..” keluh Arland dengan wajah manjanya.
“Emang kenapa kok gag bisa tidur segala? Kamu sakit?”
__ADS_1
“Hem ,, aku gag bisa tidur karena inget kamu terus.” Jawab Arland dengan suara manja.
“Lebay kamu phiu….” Sahut Kezia sambil tersipu. “Phiu bentar deh, foto di belakang kamu kayaknya aku kenal deh..” tutur Kezia yang melihat foto dengan pigura besar di belakang Arland, tepatnya di samping tempat tidur.
Arland melihat foto yang dimaksud Kezia dari pantulan kamera depannya.
“Foto ini maksudnya?” tanya Arland sambil memperjelas foto
“Iyaaaa… kok kamu pajang foto itu sih?” tanya Kezia sambil mengernyitkan dahinya.
Itu adalah foto saat Kezia dihukum bersama-sama Arland saat masa orientasi siswa. Pipinya merah seperti tomat matang, dengan mulut sedikit terbuka karena lelah sehabis push up dan wajah tertutupi beberapa helai anak rambut. Leher jenjangnya pun terlihat seksi dengan rambut di ikat ekor kuda. Foto tersebut di cetak dengan ukuran 16 R dan terpajang di salah satu sudut kamar Arland.
“Itu udah aku pajang lebih dari setahun… buat nemenin aku..” tutur Arland sambil tersenyum.
“Kenapa harus foto itu sih? gag control gitu mukanya…”protes kezia.
“Ya karena aku suka…” jawab Arland sambil tersenyum. Kezia tersipu malu. Pagi ini Arland terlihat sangat tampan. Rambutnya yang berantakan membuatnya terlihat semakin menggemaskan. “Kamu suka dateng ke situ mhiu?” lanjut Arland yang menyadari Kezia kehabisan kata-kata.
“Iyaa… aku suka ngumpul di sini… aku bisa ada temen dan lebih banyak bersyukur saat bertemu mereka.” Terang Kezia dengan mata berbinar.
“Good girl… lain kali ajak aku main ke sana…” sahut Arland
“With my pleasure…” tutup Kezia.
****
“Bun, gimana kondisi anis sekarang?” Kezia memulai pembicaraan dengan Nia.
Saat ini anak-anak sedang melakukan gerakan bersih-bersih yang dimulai dari kamar mereka masing-masing.
“Anis, masih harus chemo. Jadwalnya seminggu 2 kali.” Tutur Nia dengan tatapan sendu.
“Apa anis tau penyakitnya bun?” selidik Kezia. Nia mengangguk.
“Setiap sebelum tidur, Anis selalu minta maaf sama bunda. Katanya, dia merepotkan bunda. Dia tau biayanya sangat besar untuk pengobatannya. Sesekali, bunda ngeliat dia sedang menangis di bawah selimutnya. Tapi di hadapan bunda dia selalu tersenyum… tapi justru itu yang membuat bunda gag tega ngeliatnya. Setiap chemo, dia selalu berdo’a supaya tidak ada yang mengalami sakit seperti dia….” Tutur Nia dengan diiringi isakan.
Kezia merangkul Bunda Nia dari samping. Dena yang sejak tadi ikut menyimakpun ikut terlarut dalam kesedihan. “Bunda sedih, karena bukan hanya anis yang kesakitan saat dia menjalani chemo, hati bunda juga sakit melihat anak bunda kesakitan walau dia coba tutupi. Dan anak-anak bunda yang lain juga merasa mereka mulai dibedakan. Hanya Anis yang menjadi kesayangan bunda. Padahal bagi seorang ibu, semua anak sama pentingnya…” Lanjut Nia sambil kembali terisak.
“Maafin dena yang gag bisa bantu apa-apa bun…” lirih dena.
“Tidak nak, kamu adalah kakak mereka, kamu sudah menjaga mereka dengan baik saat bunda gag bisa menjaga mereka. Dan itu sudah lebih dari cukup…” sahut Nia. Nia melepaskan rangkulannya. “Kalian, jadilah anak-anak yang sukses, yang sehat, yang selalu menyayangi sesama. Itu sebuah kebanggan buat bunda…”tutup Nia sambil mengelus pucuk kepala Dena dan kezia bergantian. Kezia dan Dena mengagguk bersamaan.
Kezia mengambil tas selendangnya. Dikeluarkannya sebuah amplop.
“Bun, ini ada sedikit rejeki buat adik-adik di sini, dan semoga bisa sedikit membantu pengobatan Anis…” tutur kezia sambil menyerahkan amplop coklat.
“Apa ini nak?” tanya Bunda Nia sambil membuka amplopnya.
Di dalam amplop tersebut berisi selembar cek dan surat dari yayasan pendidikan yang menyelenggarakan olimpiade. Dan nominal yang di cantumkan tidaklah sedikit. “Key, bunda gag bisa terima ini… Ini uang beasiswa kamu kan?” lanjut Nia dengan air mata berurai.
“Bukan bunda, itu uang hadiah juara saja. Kalo beasiswanya tidak berupa uang….” Tutur Kezia sambil membenamkan cek itu di tangan Bunda Nia.
Saat ini Kezia memilih untuk memberikan hadiahnya pada Nia untuk pengobatan Anis, karena Anis lah yang saat ini lebih membutuhkan. “Key tau biaya pengobatan Anis tidak sedikit, tapi kita juga tidak bisa menyerah. Hanya ini yang bisa key lakukan untuk membantu bunda dan Anis…” tutup Kezia.
“Ya Tuhan…. Terima kasih engkau telah mengirimkan seorang malaikat cantik dalam hidup kami…” Batin Nia dengan tatapan sendu. Ia tak kuasa menahan air matanya. Dipeluknya Kezia dan Dena dengan erat.
“Terima kasih nak, terima kasih banyak…. Semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya…” Lirih Nia dengan nafas tersengau.
__ADS_1
Kezia hanya mengangguk mengamini.
*****