
“Gimana rencana kuliah kamu key?” tanya Indira yang duduk di samping kezia.
“Emm… 2 minggu lagi aku test jurusan kak, do’ain supaya lulus yaa…” sahut Kezia dengan semangat.
“Tentu dong,,, aku yakin kamu pasti bisa.” Seru Indira tak kalah semangat. “Key, gimana cara kamu ngebujuk angga sampe dia mau operasi stem cell?” Indira bertanya sambil menyeruput coklat hangat di gelasnya.
“Hah? Ngebujuk gimana kak?” Kezia balik bertanya, karena tidak mengerti maksud pembicaraan Indira.
Indira menatap Kezia sambil tersenyum. Indira sadar, mungkin Angga belum menceritakan rencananya pada Kezia.
flash back on
Di Indonesia
Pagi itu setelah sarapan pagi, Indira, Anna dan Mahesa berkumpul di ruang keluarga. Anna tampak membuka-buka album lama mereka. Angga dan Indira kecil tersenyum dalam pelukannya. Ia begitu begitu merindukan masa-masa itu. Masa dimana hanya tawa dan riang canda yang mengisi hari-hari mereka.
Tapi kali ini semua berbeda. Angga dan Indira sudah tumbuh desawa dan lebih menyedihkan kesehatan putra kesayangannya menjadi ujian terbesar dalam hidup keluarga Wibawa.
Tanpa terasa air mata menetes di wajah Anna.
“Mah, mamah kenapa?” Indira merangkul Anna yang tersedu sendirian.
“Gag pa-pa sayang, mamah hanya berfikir, berapa lama lagi kita bisa bersama,terutama bersama angga…” lirih Anna.
Mendengar perkataan Anna, Mahesa segera menghampiri Anna dan memeluknya.
“Kita akan berusaha lebih keras lagi untuk meminta angga melakukan operasi dan mencari pendonor…” Ujar Mahesa yang juga merasa sedih.
Mereka terhanyut dalam rasa sedih yang tak berkesudahan.
Handphone Anna berdering, tampak nama Angga menghiasi layar handphonenya. Dengan segera Anna menjawab telponnya.
“Ya sayang….. ada apa nak?” sapa Anna dengan lembut. Dia menyalakan mode loud speaker
“Mah, minggu ini mamah bisa gag ke Jerman?” tanya Angga dengan ragu.
“Ada apa sayang, apa kamu sakit?” Anna mulai merasa panik.
“Enggak mah, angga mau melakukan stem cell minggu ini. Selain Kezia, angga juga pengen ditemenin mamah…” terang Angga dengan tenang.
Anna menutup mulutnya menahan tangis. Untuk pertama kalinya Angga mau melakukan tindakan yang selama ini sangat ia hindari. Indira dan Mahesa saling berpandangan, ada harapan baru di mata mereka.
“Iya sayang, mamah akan segera ke sana sama indira. Kamu tunggu ya nak…” tutup Anna yang tidak kuat menahan tangisnya.
__ADS_1
Tangis Anna pecah. Bahagia dan haru menjadi satu di dadanya. Di dekapnya Mahesa dan Indira dengan erat. Selama ini, Angga tidak pernah memperlihatkan rasa kesakitan yang dialaminya saat menjalani perawatan. Namun sebagai seorang ibu, Anna tahu persis penderitaan yang dialami putranya dan itu membuatnya sangat sedih. Sakit seorang anak adalah sakit bagi ibunya.
“Mah, akhirnya kita bisa bersama angga lebih lama… Terima kasih tuhan…” seru Mahesa dengan tangis tertahan.
Anna mengangguk mengiyakan tanpa suara. Indira menyeka air mata bahagia yang menetes di ujung matanya.
flash back off
“Angga bersedia untuk melakukan operasi steam cell. Dan itu akan dilakukan minggu depan.” tutur Indira dengan wajah bahagianya.
“Ya tuhan , syukurlah…..” seru Kezia dengan tidak kalah senang.
“Key, apa kamu tau, dulu aku sangat membenci angga.” Ujar Indira seraya menatap Kezia. Kezia hanya terdiam. “Aku membencinya karena dia mengambil semua perhatian mamah dan papah. Angga adalah prioritas mereka. Tapi yang terjadi sekarang, aku sangat menyesal. Aku sangat takut kalau angga meninggalkan kami. Aku sangat takut kalau suatu hari aku akan merindukan dia tapi tak bisa menemuinya…” seketika tangis Indira pecah. Kezia mendekatkan dirinya dan memeluk Indira dengan erat.
“Aku gag pernah minta maaf sama dia atas semua kesalahanku, tapi dia menganggap semuanya baik-baik saja dan tak pernah sekalipun terlihat kesal padaku. Hingga saat ini, dalam kondisi sakit sekalipun, dia selalu melindungi aku, mamah dan papah. Aku gag tau kenapa dulu aku begitu bodoh…. Kenapa sebuah penyakit serius yang baru bisa menyadarkan aku…” lanjut Indira mengupati dirinya sendiri.
“Kak, kak angga gag pernah membenci kakak, karena dia tau, di lubuk hati kakak yang paling dalam, kakak sangat menyayangi kak angga. Hanya terkadang kita tidak menyadarinya, namun orang lain bisa melihatnya….” Tutur Kezia seraya mengusap lembut punggung Indira. Indira masih menangis sesegukan.
“Aku menyesal key, aku bener-bener menyesal….” Pekik Indira. Kezia hanya terdiam dan membiarkan semua rasa sedih Indira meluap agar kelak, dia bisa menghadapi dirinya sendiri yang baru.
****
“Key, kamu sudah mantap ingin menjadi dokter?” Indira sejak tadi memperhatikan Kezia membuka-buka buku kedokteran berbahasa Jerman.
“Apa kamu menganggap angga sebagai pengganti kakak kamu?” dengan serius Indira bertanya.
Kezia menggelengkan kepalanya.
“Kak angga dan kakakku 2 orang yang berbeda. Mereka memiliki tempat masing-masing di hati aku kak…” terang Kezia seraya tersenyum.
Indira termenung, ia tahu seberapa besar Kezia mampu merubah Angga dan indira pun tahu, seberapa besar rasa cinta yang Angga miliki untuk Kezia. Indira hanya berharap, suatu hari Kezia akan memandang Angga sebagai seorang laki-laki dewasa yang menginginkannya dan membuka hatinya untuk Angga.
****
Siang itu, Eliana mengajak Martin untuk berbelanja kebutuhan dapur. Untuk membantu perekonomian keluarga, Eliana membuka cathering kecil-kecilan dan menjualnya sebagian dengan cara online. Selain itu, Eliana rajin menawarkan makanan buatannya ke kantin-kantin sekolah atau perusahaan-perusahaan kecil. Usahanya berjalan cukup lancar. Saat ini Eliana sudah memiliki 4 orang karyawan yang membantunya.
Martin dan Eliana menuju supermarket terdekat, namun ternyata beberapa jenis bahan makanan tidak tersedia di sana. Setelah memilih bahan seadanya, mereka menuju ke supermarket yang lebih besar untuk melengkapi kebutuhannya karena ada pesanan yang menunggu.
“Mah, tadi yang gag ada apa aja?” tanya Martin yang mulai sibuk mencari bahan-bahan makanan di bagian sayuran.
“Sebentar pah, tadi udah mamah tandain sebagian kok…” terang Eliana yang kerepotan memegangi tas dompet dan kertas belanjaannya. Tiba-tiba kertas catatatnya terjatuh. Seseorang mengambilkannya. “Terima kasih…” tutur Eliana yang masih tertunduk.
Eliana segera memasukkan dompet kedalam tasnya dan menerima kertas yang seseorang ulurkan.
__ADS_1
“Sama – sama tante…” sahut laki-laki di hadapannya yang ternyata Arland. Eliana benar-benar tercengang.
*****
Arland terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu. Matanya terlihat celong dengan kumis tipis yang tumbuh di atas bibirnya. Wajahnya sendunya seolah menggambarkan ia tidak lagi memiliki semangat hidup.
“Apa kabar nak?” sapa Eliana sambil mengusap bahu Arland.
“Baik tante…” sahut Arland seraya tersenyum.
Martin yang melihat Eliana sedang berbicara dengan seorang anak muda, segera menghampirinya. Tak disangka Arland lah yang tengah berbincang dengan Eliana.
“Nak arland…” sapa Martin dengan wajah kagetnya. Martin hampir tidak mengenali laki-laki tampan di hadapannya. Penampilannya tidak sesegar sebelum-sebelumnya.
“Om… “ sahut Arland sambil meraih tangan Martin dan mencium punggung tangannya. Eliana dan Martin saling berpandangan.
“Kamu tinggal dimana sekarang nak?” tanya Martin yang sudah mengetahui bahwa Arland telah menjual satu-satunya rumah peninggalan orangtuanya.
Martin juga tau, bahwa keluarga Irene benar-benar telah membuat keluarga Arland nyaris menjadi gelandangan. Tapi Martin masih bersyukur, bisa melihat Arland dalam keadaan baik-baik saja walau lebih kurus dari sebelumnya.
“Saya masih tinggal di apartemen kompleks permai om…” jawab Arland dengan tenang.
“Apa kamu melanjutkan sekolahmu?” Tanya Martin dengan ragu.
“Iya om, minggu depan saya mulai kuliah. Saat ini sambil mengisi waktu luang, saya bekerja sebagai kurir di salah satu perusahaan ekspedisi…” terang Arland tanpa ragu.
Hati Martin dan Eliana merasa terenyuh melihat anak muda yang berada di hadapannya. Mereka tahu, Arland sedang berjuang keras melewati phase kehidupannya.
“Om do’akan kamu jadi orang sukses ya nak, dan jaga selalu kesehatanmu…” ujar Martin sambil menepuk bahu Arland.
“Terima kasih om, tante. Saya permisi dulu…” tutur Arland seraya berlalu.
“Nak arland, tunggu, ..” tiba-tiba Eliana menahan langkah Arland. Arland kembali berbalik.
“Sekali-kali, mainlah ke rumah untuk sekedar sarapan atau makan malam bersama kami…” tawar Eliana dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih tante, lain kali Arland mampir…” sahutnya dengan senyum tersungging.
Arland segera pamit, karena pekerjaan sedang menunggunya. Setelah Arland pergi, tiba-tiba Eliana memeluk Martin dengan erat dan terisak di dadanya. Ada rasa sakit, melihat laki-laki yang di cintai putrinya hidup seperti ini. Terselip do’a dari mulut Eliana, untuk kesuksesan Arland di masa depan.
****
__ADS_1